
"A-apa yang kau lakukan? SAKIT!" Liana menolak tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat.
"A-air." rintih pria itu.
"Tunggu!"
Liana segera mengambilkan air untuk pria asing itu, membantunya untuk duduk. Setelah meneguk beberapa kali, dia beringsut duduk menyandarkan diri.
"Pakai ini! Baju kamu bau banget, makanya aku buka aja." Liana menyerahkan pakaian yang tadi baru dibelikannya, dengan gerakan lambat langsung dipakai untuk menutupi tubuhnya.
"Sekarang, bagaimana keadaanmu?"
Namun, pria itu masih terlihat cukup lemah, dia terlihat tak berdaya. Pria itu belum bisa menguasai dirinya.
"Siapa namamu?"
Namun, masih belum ada jawaban. Matanya liar melihat kiri dan kanan, dan dia terpaku ketika melihat sebuah roti yang ada di meja kecil yang tak jauh dari tempat dia berada.
Liana melihat ke arah mata pria itu menghadap. "Jadi kamu sedang lapar?" Liana mencari makanan yang tadi sudah disiapkannya.
"Apa kamu bisa makan ini?" Liana memperlihatkan nasi goreng kepadanya. Pria itu mengangguk langsung merebut nasi goreng tersebut menyuapi makanan itu dengan kecepatan kilat. Liana memperhatikan itu tanpa berkedip.
Tak sampai satu menit, makanan itu telah berpindah ke dalam perutnya, tetapi dia masih terlihat kelaparan. "Kamu masih mau lagi?" Pria asing itu mengangguk cepat.
Kali ini Liana mengisi piring tersebut dengan sangat penuh hingga tumpah. Pria itu melirik Liana.
"Ikhlas nggak?" tanyanya dengan dingin.
"Sangaat ikhlaaaaasss." ucap Liana sedikit mencabikan bibirnya.
"Makan aja! Jangan banyak bicara!" tambah Liana lagi.
Tak sampai dua menit, makanan itu sudah berpindah tempat. Dia melirik Liana kembali.
"Masih mau lagi?" Liana mulai menatapnya dengan sebelah mata.
Dia menggeleng dan meraih gelas sisa minumannya tadi. Saat Liana kembali setelah meletakan piring kotor di dapur, Liana dikejutkan Leon yang berlari ke arah belakangnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Om itu bikin aku takut." ucap Leon menyembunyikan wajahnya.
Liana segera mencari pria itu, dan saat ditemukan dia telah berdiri dengan sangat tegak, semua luka dan lebam pada tubuhnya seakan menghilang tak berbekas.
"Kamu udah sembuh aja? Hebat banget obat yang aku beli tadi ternyata." celetuk Liana.
Pria itu menatap Liana dengan sangat panjang.
[ TUNGGU APA LAGI? ]
[ AYO SIKAT! ]
[ JIKA KAMU BERHASIL MEREBUT SYSTEM MILIKNYA, KAMU AKAN SEMAKIN MUDAH MENGGENGGAM DUNIA ]
Demon System sudah mulai memberi komando. Sony bergerak mendekat pada Liana.
[ Nona, berhati-hati lah! ]
System Pencuri mulai memberikan aba-aba. Liana menarik tangan Leon dan berjalan mundur beberapa langkah. Namun, pria itu memiliki kaki yang panjang hingg dia sudah bersiap menangkap Liana.
[ SEKARANG ]
Tangan Sony bergerak akan menangkap Liana. Leon menyembunyikan wajahnya dalam rangkulan sang kakak.
*
*
*
kruuuuucuuuk
Kruuuuucuuuk
Nyanyian perut dari manusia-manusia yang terjebak pada lift bawah tanah, sudah tidak bisa dihentikan lagi. Mereka semua sudah merasa sangat lapar, dan tidak kuat lagi menahan rasa haus.
__ADS_1
Bau keringat dan bau pesing bercampur aduk di tempat sempit itu. Bagi mereka tidak bisa menahan buang air kecil, terpaksa meneembakannya di mana pun asalkan hajat mereka berhasil dikeluarkan.
"Ini keeencing lu pesing banget! Seharusnya lu ke ujung sana!" rutuk security kedua.
"Gimana lagi, Bang. Ini sudah tidak tahan!" ucap security paling muda.
"Aaah, gini amat rasanya mati secara perlahan. Gimana nih? Rasanya gue mau boker." ucap security pertama.
"JANGAAAN!" teriak dua orang lainnya.
Dokter Hardan masih tak bergeming berharap keluarganya mulai mencari keberadaannya.
Di permukaan, di dalam rumah sakit, Sisilia, istri Dokter Hardan dan Sonya tengah pusing mencari kepala keluarga mereka.
"Kamu sih percuma saja diambil dari wanita ja—lang itu. Namun, tetep aja nggak ada guna. Daddy kamu tidak ada di rumah sakit malah santai-santai aja." Sisilia terus memberikan cecarannya kepada Sonya.
Semenjak tadi malam ke rumah sakit, suaminya tidak bisa lagi dihubungi. Sementara orang-orang di rumah sakit juga tidak tahu keberadaan sang pimpinan rumah sakit ini.
Saat dicek rumah CCTV, Dokter Hardan memang dipastikan masuk ke dalam gedung. Namun, kenapa tidak terlihat lagi? Dokter Hardan seakan hilang ditelan bumi.
"Jangan-jangan ada yang menculik suami saya. Saya harus segera melaporkan kepada pihak kepolisian!"
"Ini Sony juga entah ke mana, nggak ada kabar. Mereka menghilang begitu aja tanpa pamit sama sekali." Sisilia masih mengomel tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Berbeda dengan Sonya, dia tak memedulikan dan sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan oleh ibu tirinya. Dia terus melihat ke arah klinik yang seharian ini ditunggu untuk buka, tetapi tak kunjung buka.
Dia merasa begitu ingin melihat wajah pria berkaca mata itu.
...****************...
Ayooo..ayooo..
Wkwkwk ... Promo lagi ... Promo lagi...
Napen: The Biggest
Judul: Pesona Istri Yang Terabaikan
__ADS_1