
*Jangan lupa bagi vote dan gift yaahh*
"Kenapa membawa orang dewasa? Saya meminta kalian membawa anak-anak!" ucap Dokter Bagas melihat Antonie yang terlelap di atas brangkar.
"Sebenarnya tadi kami sudah mendapatkannya, Boss. Hanya saja, ada orang aneh yang mengganggu kami. Lalu anak yang kami bawa menghilang begitu saja."
Dokter Bagas mendengkus kesal. Namun, melihat ada seseorang lain yang bisa menjadi stok berikutnya, membuatnya terbungkam.
"Kami akan membongkar organ milik dia. Setelah ini kalian bisa mencari kembali! Kami sudah membayar mahal pada kalian semua." ucap Dokter Bagas.
"Baik, Boss." Lalu Antonie dibawa ke ruang bawah tanah yang ada di rumah sakit ini.
Orang-orang biasa yang melakukan pekerjaan ini pun segera menyiapkan diri untuk melaksanakan pembongkaran.
Antonie merasa kedinginan karena pakaiannya sudah dilucuti oleh orang-orang tersebut. Ruangan operasi ini benar-benar sangat dingin, membuat Antonie menggigil.
'Bantu aku System.' batinnya.
"Peningkatan suhu tubuh, siap!" terang System.
Beberapa waktu kemudian, tubuh Antonie terasa hangat. Dia mendengarkan para mafia organ tubuh tersebut masih tahap persiapan. Setelah mereka siap, satu persatu dari mereka datang mengelilingi Antonie, mengambil posisi masing-masing.
"Kita harus cepat! Sebelum dia benar-benar tidak bernafas, organ utamanya harus sudah berhasil kita ambil." ucap Dokter Bagas, dan semua mengangguk.
Denish yang terakhir muncul berdiri di samping sang ayah. Namun, Dokter Bagas menahan dan menyuruh Denish untuk kembali.
"Kamu jangan meniru Papa! Kamu harus jadi dokter yang baik!"
"Tapi aku sudah terlanjur bergabung. Jangan halangi aku." Denish sudah siap dengan pakaian sterilnya untuk melaksanakan pembedahan.
Mata Denish terbelalak melihat siapa yang berada di atas meja operasi tersebut. Dia membuka masker yang tadi menutupi wajahnya.
'Bukan kah ini ... Tidak mungkin! Dia sudah mati.' Denish bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Siapa dia?" tanya Denish.
"Seperti biasa, dia hanya seorang gembel yang ditemukan mereka." ucap Dokter Bagas.
Denish menurunkan selimut yang menutupi tubuh Antonie. Dia menggelengkan kepala. Dia yakin tubuh ini adalah milik seseorang yang mereka buang pada pembuangan sampah akhir dulu.
Denish menggeleng cepat, tanpa dia sadari sudah mundur beberapa langkah. Dokter Bagas menyadari keanehan anaknya. "Kamu kenapa?"
"Apakah dia ini mayat hidup?" tanya Denish dengan wajah sedikit pucat.
__ADS_1
Dokter Bagas memeriksa denyut nadi Antonie. "Dia ini manusia sehat."
Dokter bagas merasa suhu tubuh Antonie tidak selayaknya tubuh orang normal. "Dia ini sedang demam?"
Dokter Bagas menempelkan telapak tangannya pada kening dan pipi Antonie. Lalu diperiksa denyut jantung Antonie menggunakan stetoskop.
"Normal." ucapnya heran. Lalu mengambil termometer dan ujungnya dimasukan ke mulut Antonie.
Setelah beberapa waktu kemudian dia melihat batas angka pada termometer tersebut. Dengan wajah heran membersihkan kaca mata, lalu memasangnya kembali. Keningnya berkerut, memperlihatkan hasilnya kepada Denish.
Denish melepaskan termometer teresebut dan mundur menggelengkan kepala. "Dia ini bukan manusia, Pa. Dia pasti hantu! Dia ini sudah mati." ucap Denish berjalan mundur.
"Kamu bercanda! Mana ada orang yang sudah mati bisa hidup kembali? Lagian, tubuh orang mati itu dingin! Bukan panas macam ini!"
Antonie yang masih memejamkan mata terduduk bagai robot dengan kedua tangan terbentang lurus ke depan. Semua yang ada di sana terkesiap.
Antonie membuka mata dan menyeringai kepada semua orang yang ada di sana. Hal ini sontak membuat semuanya lari tunggang langgang.
"Kamu hebat! Ternyata masih teringat padaku!" Antonie menatap Denish dengan sayu.
Denish mundur menarik ayahnya mengkuti yang lain keluar. Antonie mengedipkan mata, kali ini dia menggunakan jubah hitam dengan sebuah arit bertangkai panjang di tangannya.
Pintu lift yang akan mereka naiki, tak kunjung terbuka. Semua yang ada di sana sudah bergetar hebat dengan apa yang dilakukan oleh Antonie di meja operasi tadi.
Ada yang berlutut menangkupkan tangan memohon ampun. Ada yang sudah basah karena ketakutan hingga terkencing di celana. Ada juga yang perlahan tak sadarkan diri karena ketakutan sudah memuncak sampai ke benak.
Denish menundukan kepalanya dengan tubuh masih bisa berdiri dengan tegak. Sementara Dokter Bagas, bersidekap dada menantang seseorang yang sudah persis bagai malaikat maut yang bersiap mengibaskan senja ta nya kepada mereka.
"Siapa kamu? Kamu hanya orang yang memata—matai kami kan?"
Antonie membuka jubah yang tadinya menutupi kepala hingga wajah. Antonie memasang wajah dingin dan menatap Denish yang sudah tidak sanggup menegakan kepala.
"Kalian harus membalas semua perbuatan yang kalian lakukan di dunia ini."
Denish tersentak menegakan kepala menatap pada wajah pemulung dulu yang tidak berhasil dia selamatkan. "Kenapa hanya aku yang kau balas? Sonya lah yang mem bu nuhmu!"
Dokter Bagas melirik anaknya. "Apa maksudmu?"
"Ini bukan waktu untuk bertanya-jawab!" Antonie melibaskan benda ta jam itu ... daaan ... Mereka semua pingsan.
Senyum sinis menghiasi bibir Antonie. "Kali ini, segitu dulu."
__ADS_1
Antonie kembali masuk ke dalam ruang operasi tadi. Dengan menjentikan jemarinya, pakaiannya telah berganti dengan busana sehari-hari yang dia kenakan. Proses terakhir adalah memasang kaca mata System kembali.
Antonie menarik kembali senjata tadi yang belum disimpannya. Senjata mematikan ala malaikat maut yang sengaja dia siapkan. Antonie menebaskan senjata itu pada peralatan canggih yang ada di dalam ruangan itu dengan kecepatan kilatnya.
brak
brak
brak
sret
sret
Zzzzttt
zzzzttt
zzzzttt
Tampak pancaran dari listrik peralatan yang telah dirusak oleh Antonie. Setelah memastikan semua benda di dalamnya tidak dapat berfungsi dengan baik lagi, senjata yang digunakanya menghilang. Antonie bergerak pada benda besar tempat menyimpan organ yang dibongkar oleh orang-orang itu.
"Apa benar cincin ini bisa menyimpan segalanya?" tanyanya kepada System.
"Benar sekali, Tuan."
Semua organ tubuh manusia yang ada di sana, dihisap oleh cincin itu. Antonie merasa takjub melihatnya. Organ yang terdiri dari beberapa tempat penyimpanan tadi, begitu mudah masuk ke dalam cincin tersebut.
*
*
*
Saat ini, Antonie berada di sebuah area yang cukup jauh dari rumah sakit. Di mana, manusia-manusia yang tidak memiliki hati itu menguburkan para korban. Antonie menghentakan kakinya ke tanah tempat dia berdiri.
Beberapa waktu, tanah di sana bergetar dan ratusan benda keluar dari dalam tanah. Ternyata, mereka memakamkan mereka hanya menggunakan kantong jenazah. Lalu, Antonie mengeluarkan organ-organ yang tersimpan di dalam cincinnya.
"Kembali lah pada pemilik kalian!"
Organ-organ yang terbungkus pada benda khusus itu berpencar mencari tuannya masing-masing dan masuk kembali ke tubuh mereka. Namun, organ yang ada, tidak sebanding dengan jumlah jenazah yang keluar.
"Semoga kalian tenang di alam sana. Anggap saja kalian sudah memiliki amalan yang akan membawa kalian ke surga."
__ADS_1
Antonie mengangkat kedua tangan menarik nafasnya dalam-dalam dan dihentakan ke bawah dengan cepat. Semua kantong jenazah itu masuk ke tempat semula.
Antonie meninggalkan sebuah pengumuman yang cukup besar terpancang di atas tanah kuburan masal itu.