Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 46


__ADS_3

Setelah Fanya menghilang, Antonie memulai pembicaraan yang serius dengan Berta. "Sebenarnya, Denish sedang melakukan misi penting demi menyelamatkan negara. Mama jangan khawatir, mungkin dia akan lebih aman saat berada di sana." ucapnya sengaja membohongi ibu kandung Denish ini.


Mata Berta pun membulat. "Misi apakah gerangan? Semacam misi kemanusiaan kah?"


"Iya, seperti itu lah kira-kira. Mama jangan terlalu mengkhawatirkan dia. Dia akan aman di sana."


Berta menundukan wajahnya. "Tak akan ada Ibu yang tak mengkhawatirkan anaknya." Menggenggam tangannya.


Antonie menggenggam tangan ibu angkatnya ini dan mengangguk kembali. "Semua akan baik-baik saja."


"Sepertinya gue melewatkan moment penting nih?" Rizki telah muncul dengan membawa kantong berisi makanan. Di belakang Angela menyusul dengan senyum manis.


*


*


*


Tengah malam Antonie kembali duduk di ujung beranda Rumah Sehat yang akan menjadi tempat praktik kesehatannya. Di sana ada arwah bocah bernama Leon masih duduk berjongkok di tempat yang sama.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Aku, menunggu kakak. Katanya, malam ini dia akan mencari uang lagi."


Antonie bangkit menengadahkan tangannya. Leon melihat tangan itu memasang wajah heran. "Ayo kita kembalikan jiwamu ke tempat seharusnya."


Leon pun ikut bangkit berpegangan pada Antonie. Mereka langsung melompat ke ruang di mana Leon tadi di rawat. Leon membulatkan mulutnya mendapat pengalaman yang terasa luar biasa.


Akan tetapi, ekspresi kekaguman itu berubah jadi ekspresi kebingungan. Mereka tidak lagi melihat tubuh Leon.


"Apa kakak sudah membawaku pulang?"


Antonie memaksakan senyumnya, lalu memejamkan mata melihat ke mana Leon dibawa. Dia melihat Leon sedang tergeletak di sebuah ruang bedah, tetapi bukan di bawah tanah. Ruang bedah bawah tanah dipastikan telah hancur, dan mereka belum selesi mengganti peralatan yang baru.


"Ayo, pegang aku lagi!" Antonie menengadahkan tangan dan Denish segera menggenggam jemari Antonie.

__ADS_1


Mereka melompat ke tempat di mana Denish telah disembunyikan di ruang bedah lain. Tak ada siapa pun di sana, meski peralatan masih melekat di tubuhnya.


"Kenapa kamu dibawa ke sini?"


"Tadi, dokter mengatakan agar kakak harus membawa sisa perawatan minggu ini secepatnya. Setelah itu kakak langsung pergi dan tidak tahu pergi ke mana." terang Leon.


"Apa saat ini kamu benar-benar ingin kembali pada tubuhmu?" tanya Antonie.


"Iya, Kak. Aku ingin sembuh, aku ingin bangun membuka mata dan menemani kakak. Kami akan kembali ke kampung halaman ibu dan hidup berdua di sana." ucap Leon mantap.


"Bagus! Itu baru lelaki!" Antonie mengepalkan tinjunya ke arah Leon, dan Leon mengadu kepalan tangannya.


Antonie mengecek CCTV di ruang tersebut dan merusaknya kembali. Setelah itu, tubuh Leon diangkat dalam Antonie memberi kode agar jiwa Leon mendekat padanya. Leon mencoba memegang jaket Antonie, tetapi tangannya tidak bisa memegan benda.


Antonie menundukkan tubuhnya. "Ayo! Kamu naik!"


Leon sumringah melompat langsung memeluk leher Antonie.


"Eit, jangan terlalu erat." Antonie hampir dibuat tercekek.


"Aku mau diapain, Kak?" tanya Leon.


"Katanya mau kembali dalam tubuhnya? Aku akan membuatmu kembali berbicara dengan kakakmu."


Leon sumringah dan terlihat bersemangat. Dia berdiri di samping ranjang memperhatikan apa yang dilakukan oleh pria yang baru dikenalnya tadi.


System sedang memindai penyebab Leon koma. Ada bekas luka di bagian kepala Leon dulu terbentur dengan hebat membuat trauma pada otak kecil Leon. Keadaan jantung Leon berdetak mulai tidak beraturan, karena alat pacu yang digunakan terlepas.


Antonie bergerak tanpa menunggu lagi. Dia memancarkan energi memperbaiki kerusakan sel yang ada pada otak kecil Leon. Leon terus menengadahkan kepalanya melihat Antonie.


"Kamu jangan khawatir, kamu akan kembali terbangun."


Leon menganggukan kepala tersenyum. "Aku percaya pada Kakak."


Pada suatu tempat, Liana tengah merayap pada langit-langit gedung yang melaksanakan pameran berlian langka di kota ini. Liana bagai cicak tengah memperhitungkan ketepatan sasaran sesaat akan membidikan tembakan ajaibnya pada berlian lima puluh karat dengan ukuran lima puluh gram.

__ADS_1


Harga ditaksir pada berlian tersebut sekitar sembilan miliar. Hal ini membuat Liana nekat untuk mencoba mencuri benda yang diberi perlindungan yang luar biasa itu. Dalam ruangan tersebut, dipenuhi oleh cahaya dari lampu led bewarna merah dan biru sebagai detektor keamanan, mengelilingi berlian langka tersebut.


"Setidaknya, gue bisa istrirahat satu bulan sebelum ada target baru jika berhasil mendapatkan berlian itu." gumam Liana sembari mengunyah permen karet yang diberikan oleh System.


Pekerjaan pertama Liana ialah membuka mini laptop yang telah dia siapkan untuk mengalihkan gmbar pada CCTV gedung itu. Liana membelokan gambar CCTV diubah menjadi tanggal sebelumnya.


Meski CCTV tetap menyala, tetapi dia tidak terekam oleh kamera pengaman bangunan itu. Setelah itu Liana kembali merayap menuju sisi di mana berlian langka dengan harga fantastis tersebut berada.


Setelah memastikan tepat berada di atasnya, Liana mengeluarkan permen karet tersebut dari mulutnya. Sisa permen karet tersebut ditarik sedemikian rupa hingga panjangnya sampai menyentuh kaca yang menutup berlian tersebut.


Setelah dirasa sampai, Liana menyentakkan permen karet tersebut, membuatnya menjadi kaku dan kuat. Liana menelan permen karet tersebut pada kaca menutup, dan sedikit mengangkatnya hingga sedikit menjungkat. Liana menempelkan permen karet yang sudah kaku ke langit-langit bangunan tempat dia merayap.


Setelah itu Liana menarik sesuatu dari dalam mulutnya. Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata awam, tetapi dia berfunsi bagai benang. Liana biasa menyebutnya dengan invisible thread.


Benang tak terlihat itu dibidik tepat pada berlian langka yang menjadi target.


"fuuuh."


Liana menem ba kan dengan mulutnya dengan berlian menjadi sasaran. Benang tak terlihat itu meliuk melewati cahaya merah berbelok-belok dan menyelip lewat penutup yang terbuka.


Akhirnya benang itu mencapai target, berlian terlihat terangkat dengan sendirinya. Benda mahal tersebut mulai bergerak mengikuti liukan benang tadi. Liana menarik permen karet tadi yang melekat pada penutup kaca. Namun, dengan sedikit ceroboh membuat tutup kaca itu mengeluarkan suara.


bruuuk


zzzzztttt


Terdengar suara yang tak tahu dari mana. Lalu sirine dalam ruangan itu bergema mendapatkan bahwa berlian langka tersebut sudah tidak ada ditempat.


Liana yang gampang panik, menarik kasar benang tak terlihat agar berlian yang ada di ujung benang tersebut cepat sampai pada tangannya. Namun, nahas. Tali tersebut mengenai cahaya merah dan biru yang mengelilingi area keberadaan berlian tersebut.


Hal ini membuat sirine yang lain berbunyi. Terdengar suara sedikit berdengung muncul sebuah speaker yang tergantung di pojok ruangan. Liana semakin menarik benang itu dengan cepat dan —tap— berlian tersebut berhasil berada di tangannya.


"System keamanan telah menemukan pencuri berlian."


Muncul moncong sen jata dari langit-langit yang langsung membidik tepat ke arah Liana.

__ADS_1


__ADS_2