
Telinga Sonya dan Liana langsung berdiri tegak. Liana menyibak surat kabar yang ia gunakan tadi menurunkan kaca mata hitam yang melekat.
Liana memasang pendengarannya dengan sebaik mungkin. 'Semudah itu jadi istrinya? Mencari orang? Haha, gampang sekali.'
Sementara Sonya mengambil kembali foto-foto itu. "Apa hubunganmu dengannya?"
"Dia, adalah saudaraku yang hilang."
Wajah Sonya menegang, karena ia tahu sendiri siapa yang dimaksud di dalam foto tersebut. "Kamu jangan bohong begitu! Mana mungkin dia jadi saudara kamu?"
Cika yang semenjak tadi ketakutan, menegakkan kepalanya. Ia menatap pria berkaca mata di samping Sonya. Ia pun melihat foto pria yang ada di atas meja. "Di-dia saudaramu? Apa kamu yakin?"
Cika, Dara, dan Denish melirik pada Sonya. Jelas sekali dari bahasa tubuhnya, Sonya memperlihatkan bahwa ia menyukai pria berkaca mata yang duduk tepat di sampingnya. Setelah itu, ketiga orang tersebut saling berpandangan.
Liana menggunakan menarik satu foto tersebut dengan kemampuan ajaibnya, tanpa ada yang menyadari bahwa satu lembar foto telah menghilang. Foto yang telah berada di tangan diamatinya dengan sebaik mungkin.
"Dia siapa ya?" Liana mengusap dagunya, memandang wajah pria kurus, ceking, dan kotor.
[ Kau bercanda ya tidak mengenal dia? ]
"Emangnya kau tahu dia siapa?"
[ Ya tahu lah. ]
"Emangnya siapa?"
[ Silakan menyelesaikan teka teki ini sendiri! ]
Liana mencabikkan bibirnya.
Sementara sekelompok orang yang berada dalam meja yang sama, tampak menegang. Sonya menyadari tatapan tiga orang yang bersama dengannya itu.
"Apa?" bentaknya kepada ketiga orang yang ada di balik meja.
Sonya memutar tubuhnya ke samping. "Kamu nggak bercanda kan?"
"Apa kamu lihat ada tanda aku sedang bercanda?" Suara dingin itu masih mengintimidasi suasana mencekam bagi keempat orang tersebut.
"Soalnya dia itu udah ...." Sonya menggaruk pelipisnya.
__ADS_1
"Udah apa?"
"Seandainya tidak ada yang bisa menemukan seseorang di dalam foto itu, apa kamu tidak akan pernah menikah dengan siapa pun?"
"Jangan mengalihkan pertanyaanku! Aku serius bertanya, apa ada yang melihat dia? Dia sudah sangat lama menghilang tanpa kabar dan jejak."
Sonya melirik ke arah tiga orang tersebut. "Kenapa ya? Kok bisa hilang jejak ya?"
"Sudah lah! Kalian jujur saja! Apa kalian tahu apa yang terjadi padanya?"
Sonya bangkit, menarik tali tasnya dan meletakkan pada bahu kanannya. "Sepertinya aku ada urusan. Aku harus pergi dulu. Setelah ini, mungkin kita tidak akan bertemu lagi."
Sonya beranjak melangkah kan kakinya dengan cepat. Antonie memainkan jemarinya, menggerakkan telunjuk bagai menarik sesuatu, hingga membuat Sonya berjalan mundur.
Sonya mengerutkan kening, karena setiap langkah malah membuatnya bergerak mundur ke posisi semua. "Loh? Kenapa malah ke sini sih?" sungutnya.
"Tidak boleh ada yang pergi dari sini sebelum semuanya jelas!"
Sonya melirik Antonie. "Jadi, kamu yang—"
"Selagi masih berpikir dengan jernih, aku ingin mendengar langsung kejadian yang sebenarnya! Dia ada di mana? Aku tahu, kalian mengetahui kisah di balik ini semua."
Semua mata kembali melirik ke arah Sonya. Sonya tidak menerima tatapan tuduhan tersebut. "Apa yang kalian lihat? Aku tidak mengenalnya."
Namun, Sonya mendorong bahu Cika. "Sebenarnya apa? Hah? Apa lihat-lihat?"
Denish bangkit menenangkan Sonya. Namun, tangan Denish ditepis oleh Sonya. "Jangan pegang-pegang! Aku tak sudi bersentuhan dengan penghiaaanat macan kau!"
"Lebih baik kamu jujur padanya, Sonya! Jika kamu jujur, mungkin tidak akan membuatnya marah."
Antonie bangkit dan berjalan mendekat. "Apa maksudmu?"
"Maafkan kami, ada sebuah ketidaksengajaan yang kami lakukan dan berakhir fatal." ucap Denish.
Antonie melangkah sedikit menjauh melipat kedua tangan di dadanya. "Hah, ketidaksengajaan. Apakah ada kaitannya dengan pria yang ada di dalam foto?" Antonie melirik di ujung mata dengan tatapan dinginnya.
"Sebenarnya ada. Ini memang berkaitan dengan kami berempat." ucap Denish.
Wajah Cika mengerut dan menggelengkan kepala. "Tidak! Tidak! Bukan berempat! Ini murni kesalahan So—"
__ADS_1
"Diam kau!" Sonya menyela ucapan Cika dengan cepat.
Antonie memutar badannya kembali. Dia tersenyum tipis. Di ujung matanya melihat seorang gadis menggunakan topi, hodie, dan kaca mata hitam, menyembunyikan diri di balik surat kabar yang dikembangkan selebarnya.
"Cerita kan lah yang sebenarnya! Agar aku bisa melihat kesungguhan hati kalian dalam sebuah penyesalan."
Cika mendekati Antonie menangkupkan kedua tangannya. "Aku bersumpah, kami bertiga tidak melakukan apa-apa. Ini semata benar-benar kesalahan So—"
Ucapan Cika kembali terhenti karena Sonya menarik tangan Cika, menahan bahunya, dan menunjuk Cika dengan membesarkan mata. "Coba ulangi lagi! Ini kesalahan siapa?"
Antonie menarik tangan Sonya. "Kamu bereaksi seperti ini sudah seperti tikus yang terjepit tak bisa lari ke mana-mana. Hal ini justru membuatku menangkap sesuatu yang kamu sembunyikan."
Wajah Sonya menegang, lalu ia mundur melepaskan diri dari Antonie. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kalian bicarakan."
"Sudah lah! Sonya! Kamu jujur saja! Aku udah muak untuk berdiam melihat dram yang terus kamu putar-putar ini!" Akhirnya Dara angkat suara. Dara yang selalu memilih diam, kali ini tidak bisa membendung perasaannya yang telah memuncak.
"Sebenarnya, orang yang di dalam foto itu sudah tiada!" ucap Dara dengan lantang.
"Diam kau pengkhianat! Kau tidak memiliki hak satu pun untuk bersuara di sini!" bentak Sonya menggenggam erat lengan Dara.
Dara menepis tangan Sonya dengan kasar. "Selama ini aku diam bukan karena aku takut! Aku menghargaimu sebagai kawan, tapi nyatanya kamu hanya menganggap kami tak ada beda dengan budak-budak yang bisa kau atur."
"Sang pengkhianat berkata menghargaiku sebagai kawan? Sungguh sangat manis sekali," Sonya tersenyum sinis menatap tajam kepada Dara.
Antonie menarik Sonya, membuat gadis itu meringis. "Awww! Sakit! Lepas!"
"Ternyata, kamu tahu bagaimana rasanya sakit." Antonie terus menariknya menjauh dari tempat itu. Sonya meronta mencoba untuk terus melepaskan diri.
Setelah sampai pada pojok lokasi restaurant tempat mereka berkumpul tadi, Antonie melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Sonya. Gadis itu mengusap pergelangan tangan yang terasa perih dengan wajah meringis.
"Apa mau mu sebenarnya? Katakan saja terang-terangan sejak kemarin tanpa perlu repot-repot mengumpulkan kami berempat!" cecarnya.
"Menurutmu sendiri aku akan melakukan apa?"
Sonya tersenyum sinis. Dia memikirkan kembali pada masa lalu yang telah ia alami. Pertemuan pertama mereka di rumah sakit, saat Antonie duduk di atas mobilnya. Berani menciumnya dengan kasar, dan ia semakin sadar akan sesuatu. Sonya menarik lengan Antonie menengadah menatap Antonie penuh amarah.
"Katakan padaku! Selama ini kau sengaja membuatku jatuh cinta kan?"
Antonie tersenyum tipis. "Oh, jadi sekarang kamu sudah mengakui sudah jatuh cinta kepadaku?"
__ADS_1
Tangan Sonya bergerak ingin menampar Antonie, tetapi ditahan. Antonie menjepit kedua pipi Sonya membuat bibir gadis itu membulat. Tangannya bergetar menahan amarah yang terus semakin memuncak.
"Kau ......"