
Si ibu menatap Sonya dengan wajah tak suka. "Oh ... yakin sekali kamu? Bagaimana kemampuanmu melayani orang yang sakit? Bahkan jika pasien tersebut sudah sekarat? Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu memperlancar ke ma ti an nya?"
Mendengar sang ibu ini seperti meremehkan dirinya, Sonya menghela nafas, kesal. Namun, demi menggaet ibu yang tak dikenalnya ini, Sonya melempar harga dirinya sejauh mungkin.
"Ya, nggak munggkin dong, Bu? Saya akan berusaha sebaik mungkin dan semampu yang bisa saya lakukan."
Sonya berjalan mendorong kursi roda tersebut, tetapi meletot dengan bibir sedikit miring gigi tertaut mengutuk ibu itu dari belakang.
"Kita mau ke mana?" bentak ibu tersebut mendengkus.
"Kita akan langsung memeriksa Ibu, kok. Tidak perlu mengantri."
Tiba-tiba saja di tangan Ibu itu sudah terdapat pulpen dan block notes. Kening Sonya berkerut melihat dua benda itu datang entah dari mana.
"Jadi, di rumah sakit ini tidak mai melayani pasien kurang mampu dengan baik." Ibu itu bergumam sembari menulis di catatan itu.
Sonya tersentak melihat ibu itu mencatat keburukan rumah sakit ini. 'Jangan-jangan, Ibu ini salah satu tim auditor khusus?'
Sonya berhenti mendorong kursi roda tadi. Lalu berdiri di depan Ibu tersebut dan menarik pulpen yang ada di tangannya.
"Siapa yang bilang begitu, Bu? Mana mungkin kami seperti itu?"
"Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri. Di sana ada pasien miskin diusir lewat pintu belakang."
"Mungkin Ibu salah lihat kali ya? Mana mungkin kami begitu." elak Sonya.
Ibu tersebut menengadahkan tangan meminta pulpen yang direbut Sonya. "Kembalikan pulpen saya? Kalau tidak nanti catatan buruk rumah sakit ini akan semakin bertambah! Kepala rumah sakit ini memiliki anak yang tidak sopan!"
__ADS_1
Sonya menjadi semakin gelagapan menyerahkan kembali pulpen tersebut. "Ayo dorong lagi! Saya buru-buru!" bentaknya kembali.
Sonya mendorong kursi roda tersebut. Mukanya mendelik kesal melihat ibu itu dari belakang. Kembali gumaman yang menambah catatan buruk pada buku kecil tersebut.
Mata ibu tersebut melihat seorang anak kecil menangis di samping brangkar yang berada di luar ruangan rawat. Di atas brangkar ada seorang ibu muda meringis dengan tubuh yang sangat kurus.
"Nah, itu ... Kenapa ada pasien terletak di sana? Kenapa tidak dimasukan ke dalam ruang rawat?"
"Ee—ooo ... Ibu itu—"
Antonie yang mengubah wujud menjadi ibu-ibu sosialita turun begitu saja dari kursi roda yang masih didorong oleh Sonya.
Sonya mengerutkan kening melihat aksi yang terlalu maskulin dan gaya jalan Ibu yang terlihat aneh. 'Bukannya seperti jalan kaum lelaki?' batinnya.
"Selamat pagi, Bu. Apa keluhan yang Ibu rasa? Kenapa berada di koridor begini?"
"Kenapa ada anak kecil sendirian begini?" tanya ibu itu lagi.
"Sa-saya sakit, Bu. Sementara di rumah hanya kami berdua. Tidak ada tempat untuk menitip Reina." Wanita itu terlihat begitu kurus. Hingga seluruh tulang di tubuhnya terlihat menonjol keluar dari kulit.
"Ibu ini mengalami kanker esofagus stadium empat, Tuan. Biasanya penyakit ini diderita oleh kaum pria." terang System setelah memindai tubuh ibu tersebut.
"Kalau boleh saya tahu, siapa nama Ibu?" tanya Ibu mode samaran dari Antonie.
"Sa-saya Ima, Bu. Apakah Ibu, dokter di rumah sakit ini?" Ima menggenggam tangan Antonie.
"Aah, akhirnya ... Ada juga dokter yang mau menemui saya. Kartu asuransi kesehatan saya tidak menerima pengobatan untuk penyakit kanker, Dok. Karena itu mereka menempatkan saya di sini."
__ADS_1
"Uhuuuk ...." Ima terbatuk dan merasa sesak, meniringkan tubuhnya.
Sonya mulai menarik wanita dengan dandangan terhormat itu. "Tadi Ibu mengatakan sedang buru-buru bukan? Ayo, saya antarkan menemui dokter untuk memeriksa keadaan Anda. Biarkan saja tim lain yang merawat wanita itu." ucap Sonya tak acuh tanpa prihatin sama sekali.
Wanita tua menolak tangan Sonya, setelah itu mengusap punggung Ima. Ima merasa nyaman dan entah kenapa tenggorokannya terasa lebih lega.
"Apa yang dokter lakukan?" tanya Ima merebahkan diri terlihat lebih tenang.
"Apa Ibu tidak mendapat perawatan baik di rumah sakit ini?" tanya Ibu sosialita tersebut.
Ima terdiam beberapa saat. Sonya kembali menarik wanita yang disangkanya tim Auditor. Dia merasa khawatir wanita miskin itu melaporkan macam-macam hal yang mencemarkan nama baik RS ini.
"Sepertinya saya yang kurang paham prosedurnya, Dok." ucap Ima pasrah membuat Sonya sedikit lega mendengarnya.
"Saya sudah tahu, harapan saya untuk hidup sangat lah tipis. Namun, saya sudah memohon agar mereka mau merawat saya. Setidaknya hingga anak saya mandiri, saya masih bisa menemaninya. Suami saya sudah meninggal karena penyakit yang sama. Dia perokok berat, dan saya ikut terkena imbasnya."
Air mata Ima terjatuh, melirik ke bawah melihat Reina anaknya yang masih balita. "Bu, tolong lah saya. Berikan lah saya kesempatan hidup lebih lama lagi. Anak saya, masih sangat kecil. Saya tidak tega menjadikannya yatim piatu di usia ini."
Sonya semakin menarik Ibu penyamaran dari Antonie. Dia tidak memedulikan apa pun yang dikeluhkan oleh Ima. Dia mengetahui hidup wanita ini hanya tinggal menghitung hari. Pihak rumah sakit sudah menyuruh Ima pulang, mereka lepas tangan.
Akan tetapi, Ima ngotot untuk diberi perawatan. Namun, pihak rumah sakit tidak memberi tindakan apa-apa padanya hingga hari ini. Reina, anaknya mendapat makanan dari perawat yang merasa kasihan.
Namun, jika di rumah, mereka tidak memiliki siapa pun yang bisa membantu. Jadi, Ima merasa lebih baik berada di rumah sakit meski ternyata asuransinya tidak berlaku, dan tidak mendapat apa-apa selain menumpang tidur.
Seorang pria berjas putih datang. Mata Antonie yang dalam tubuh berbeda langsung membesar. Dia teringat pada pria ini. Pria yang menjadi kepercayaan pimpinan rumah sakit, yang akan melaksanakan pengambilan organ tubuh seorang gadis bernama Fanya.
Dia tersenyum membelai kepala Reyna. Sebuah senyuman misterius tersungging di bibirnya. "Bagaimana kabar Reina? Sudah makan belum? Kamu harus sehat ya ...." Lalu dia pergi dengan lirikan di ujung mata menatap Ima, sang ibu.
__ADS_1