
"Kau!" Tangan Sonya meronta ingin lepas dari genggaman Antonie. Dia memukul-mukul dada Antonie.
Antonie masih menjepit pipi Sonya, garis biru yang ada di dalam kulitnya, menyembul keluar dari posisi semula. Sonya mendorong tangan itu agar terlepas dari wajahnya. Antonie pun tersadar, melepaskan jepitan pada wajah wanita itu.
Antonie memutar tubuhnya, memejamkan mata, menenangkan diri.
[ Bagus, Anda masih bisa mengendalikan diri. System tidak menyarankan Anda berlaku kasar kepada wanita meskipun Anda membencinya. ]
[ Laki-laki sejati tidak akan main tangan pada seorang wanita. ]
[ Apalagi Anda adalah kesayangan Dewa. ]
Antonie membuka mata memutar kembali tubuh dan mendekap kedua tangan di dada."Katakan padaku! Apa yang kau lakukan padanya! Jika saja berani jujur, aku akan mempertimbangkan sesuatu untukmu."
Sonya menatap Antonie nanar, mengusap kedua pipinya menyemburat semakin merona di balik riasan yang ia kenakan. "Jika kau ingin tahu, silakan cari tahu sendiri!"
Sonya sedikit mundur dan memutar badan balik kanan meninggalkan Antonie. Antonie menunjuk Sonya, menaikkan jari kanan dan membauat gadis itu berjalan semakin mundur kembali. Semakin ia mencoba melangkah maju, semakin cepat juga langkahnya untuk mundur menabrak Antonie di belakangnya.
Antonie memainkan rambut panjang berwarna coklat milik gadis itu. "Kau belum kuberi kesempatan untuk pergi! Jangan coba-coba untuk lari."
Sonya mengerutkan keningnya. "Apa maumu?" bentaknya.
"Mauku? Hmmm, hanya sedikit saja yang aku mau. Aku ingin melihat kejujuranmu! Apa yang sudah kamu lakukan pada pemulung itu?!" Suara Antonie, terdengar sedikit menggelegar.
"Setelah aku jujur, kamu mau apa?" Sonya tak kalah mengaumkan dirinya yang juga tak gentar dengan wajah dingin itu.
Antonie menjentikkan jemarinya. Sonya seketika rebah ke tubuh Antonie. Pria itu meletakkan tubuh Sonya yang tertidur pada lantai di ruang tempat mereka berdiri.
*
*
*
Sonya terbangun, suasana di sana terlihat sangat gelap. Tiba-tiba, ia merasakan sesak. Tubuh Sonya bergetar dan ia bangkit dan meringkuk menyembunyikan wajah dalam dekapan.
Sonya teringat akan masa lalunya yang kelam. Di mana ibu kandungnya selalu mengurung dirinya di dalam ruangan gelap. Sonya kecil memukul-mukul pintu dengan mata dibanjiri oleh air yang mengalir tiada henti.
duk
duk
duk
"Buk, keluarkan Sonya, Buk? Sonya takut."
duk
__ADS_1
duk
duk
"Ibuuuuk, Sonya janji tidak akan nakal lagi."
Namun, teriakan dalam tangisan gadis kecil itu tidak dihiraukan oleh wanita yang telah melahirkannya. Sonya meringkuk mendekap dirinya dalam kelamnya ruangan sepanjang malam.
Sonya menangis sesegukan, bayangan masa kecil terus membuatnya terpaku tidak mampu untuk bergerak.
"Apa yang kau tangiskan?"
Sonya mengangkat kepalanya. Ia merasa sedikit lega karena mendengar suara seseorang. Namun, ia hanya melihat bayangan tanpa rupa di antara kegelapan.
"Siapa itu? Apa kamu bisa menolongku?"
Bayangan itu terlihat mendekat. Terdengar langkah demi langkah yang diseret oleh seseorang yang tidak terlihat itu. Sonya memasang indera pendengarannya dengan jelas, suara desis langkah yang berat.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sonya lagi.
"Sepertinya kakimu tidak dalam keadaan baik."
Seretan langkah gontai terdengar mendekati dirinya. Namun, lama kelamaan membuat perasaan Sonya jadi semakin ragu. Sonya yang masih gontai, turut menyeret tubuhnya mundur menjauhi orang, ah, makhluk yang ia takutkan bukan manusia biasa.
"Si-siapa kamu?" Sonya terus mundur melirik kiri kanan tidak tahu harus sampai mana.
Lalu, Sonya bangkit dan berlari tanpa arah di ruang kosong itu. Namun, sebuah benda yang tak terlihat, membuat ia tersandung. Ia jatuh pada benda yang tidak diketahui apa.
Sonya mulai meraba setiap inci bagian benda itu. Benda itu terasa dingin bagai es, tetapi ia yakin dengan tekstur yang ia pegang. Rabaannya mulai terhenti saat menyentuh sebuah cairan kental.
Cairan itu bukan hanya berada pada satu titik saja, tetapi hampir di seluruh bagian benda dingin itu. Tubuh Sonya semakin bergetar dan tersentak tak berani menbenarkan dugaan-dugaan apa yang baru saja ia sentuh.
Sonya menarik tangan dengan ragu mencoba untuk mencium aroma cairan itu. Saat itu juga, perut sang gadis bergejolak dengan seketika. Sonya bangkit, berlari menjauh.
"Huweeek ... Huweeek ... Huweeek."
Sonya memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Aroma busuk dan amis tercium menjadi satu. Sonya mengusapkan tangan itu pada ujung gaun yang ia kenakan hari ini.
klik
Sebuah lampu menyorot pada benda yang ia pegang. Melihat apa yang ada membuat Sonya muntah sejadinya. Hal yang terus ia sangkal kini terpampang denngan nyata di hadapannya
Ia melihat sebuah tubuh yang telah membiru dan busuk. Tangan dan kakinya terlihat lari dari posisi seharusnya. Sonya menggelengkan kepala.
"Tidak! Tidak mungkin!" Degup jantung yang telah melebihi standarnya, terus meningkat membuat tarikan nafas Sonya semakin berat.
Lalu, benda yang ia lihat itu bergerak mencoba untuk bangkit dan berdiri.
__ADS_1
"Aaaaaaaaggghhhhh!" Jeritan Sonya mencapai sepuluh oktaf, dan terulang beberapa kali.
"Kamu masih ingat pada gembel busuk ini?" ucap benda itu yang terseok terus mendekati Sonya.
Ternyata, benda yang mengejarnya adalah jasad yang hidup mirip pemulung yang ia tabrak dulu. Sonya terus menggelengkan kepala. Akhirnya ia memutar tubuh dan berlari menjauhi benda itu.
klik
Lampu sorot kembali berada di hadapannya memperlihatkan mayat hidup yang terus terseok mendekat padanya. Sonya tersentak dan memutar tubuhnya kembali.
Ternyata, dari arah sebelumnya mayat hidup itu masih bergerak mendekat padanya. Sonya tidak kehabisan langkah, mencoba berbelok ke sisi kanan.
klik
Langkahnya kembali terhenti, karena di sisi kanan makhluk yang sama kembali bergerak mendekat padanya. Belum usai Sonya berpikir, dari sisi kiri yang tadinya kosong, lampu sorot kemhali muncul menerangi area tersebut memperlihatkan keberadaan makhluk itu.
Ada empat jasad hidup yang mendekatinya dari segala sisi. Sonya menangis menangkupkan kedua tangannya. "Ampuun! Ampuuuun! Jangan mendekat! Aku mohon! Jangan dekati aku!" Sonya berjongkok ketakutan menyembunyikan wajahnya.
Keempat tubuh tanpa nyawa itu mulai menggerogoti Sonya. Salah satunya mulai menarik tubuh Sonya, membuat gadis itu terduduk.
"Aaaaaagggghhh." Teriakannya kembali menggelegar mengisi suasana malam kelam itu.
Yang satu menarik tangan kiri, satu lagi tangan kanan, dan satu lagi memegangi kami Sonya. Yang berada di belakang menarik kasar rambut gadis itu membuat Sonya terlentang di atas lantai.
Benda-benda kecil yang biasa ditemukan dalam ruang bedah melayang berputar putar tepat di atas tubuh Sonya. Sonya mengernyitkan dahi menggelengkan kepalanya.
"Kamu ingat alat-alat ini? Kamu yang tidak kompeten berani melakukan pembedahan pada seseorang yang bukan apa-apa. Karena apa? Takut nama baik rumah sakit milik ayahmu tercoreng bukan?"
"Lalu bagaimana setelah rumah sakit milik ayahmu hancur?"
Pisau, gunting, pingset, scalpel bergerak berputar-putar lalu beriringan masuk ke tangan terbuka yang telah dilapisi sarung. Mata Sonya semakin nanar melihat wajah pemulung itu
...****************...
IZIN PROMO YA KAKAK & ABANG. KALI INI HINGGA BEBERAPA WAKTU KE DEPAN, AUTHOR MASUK MASA PROMOSI KHUSUS KARYA KAWAN-KAWAN LAINNYA BERGENRE FANTASI. AYO, MAMPIR JUGA YUK ... KEPOIN ... SIAPA TAHU KAKAK DAN ABANG-ABANG SUKA 😇
Napen: Chika Ssi
Judul: Luna and The Dire Wolf
blurb:
Pernahkah kalian mendengar dongeng Gadis Bertudung Merah? Di dalam kisah itu, si gadis dimakan oleh seekor serigala ketika mengunjungi rumah sang nenek. Bagaimana jadinya jika gadis bertudung merah sekarang berteman dengan serigala?
Gadis itu bernama Luna Garcia yang kehidupannya berubah drastis setelah bertemu dengan sosok Dire Wolf bernama Balkon. Mereka berteman dan bahkan menjalin hubungan asmara. Luna juga membantu sang serigala agar bisa menjadi manusia seutuhnya.
__ADS_1
Bagaimana kisah mereka akan berjalan? Akankah Luna berhasil membantu Valko untuk kembali menjadi manusia seutuhnya? Apakah mereka bisa bersatu di kemudian hari?