Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 28


__ADS_3

Beberapa orang tengah menelusuri wilayah kumuh dan ada yang menelusuri pinggiran toko di tengah malam. Mencari-cari gembel yang tidur di pelataran toko yang tertutup.


"Sepertinya dia cocok." bisik salah satu dari mereka.


Lalu sebuah sapu tangan yang dibubuhi oleh obat bi us, langsung dibekap pada gembel tersebut. Setelah dirasa benar-benar tidak sadarkan diri, mereka mengangkat orang tersebut masuk ke dalam van yang mereka gunakan.


Kendaraan itu melaju menuju Rumah Sakit Harapan Kita, mengangkat gembel yang mereka tangkap tadi ke ruang bawah tanah yang tersedia.


Kedua tangan dan kakinya diikat dan mereka semua melaksanakan aksi yang beberapa hari ini terus tertunda.


*


*


*


tok


tok


tok


Terdengar ketukan pintu di rumah singgah yang mereka tempati saat malam hening. Dengan segera, Antonie keluar mengecek siapa yang berada di luar. Saat Antonie membuka pintunya, tampak pria sekitar berumur tiga puluh tahunan tengah menunggunya.


"Iya, Mas ... Ada apa gerangan?"


Pria itu segera menarik Antonie tanpa mengatakan apa-apa. Antonie menggerakan jemarinya naik membuat pintu tertutup dan terkunci dengan sendirinya.


"Apa yang terjadi, Mas?" tanyanya lagi.


"Saya membutuhkam bantuanmu." ucap pria yang belum dikenalnya ini.


"Kalau boleh tahu, bantuan apa yang kamu butuhkan?" Antonie masih terlihat bingung.


"Nama saya Dedi. Istri saya mau melahirkan."


Antonie menahan tubuhnya. "Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit, Mas? Atau kenapa tidak mencari bidan?"


"Saya mendapat rekomendasi dari Pak RT, katanya kamu bisa membantu masalah semua orang." ucap pria bernama Dedi itu.

__ADS_1


"Ta-tapi, Mas ... sa-saya ...."


Dedi kembali menarik Antonie. Antonie yang tadinya belum memasang alas kaki, mengedipkan mata hingga saat ini sendal telah terpasang dengan sendiri di kakinya.


Mau tidak mau Antonie terpaksa mengikuti langkah kaki orang tersebut. Tak beberapa jauh dari rumah Pak RT, Antonie masuk ke sebuah rumah yang sederhana. Dari dalam rumah kecil tersebut, terdengar rintihan seorang wanita yang sangat kesakitan.


Mata Antonie seakan menembus dinding melihat wanita yang duduk tersandar di atas tempat tidur, kedua tangannya menggenggam sprei yang sudah berantakan.


Pria yang bernama Dedi itu berlari kecil menuju pintu kamarnya. Sementara Antonie menelan salivanya, karena tidak pernah membayangkan sebelumnya bagaimana membantu seseorang dalam proses melahirkan.


Di dalam kamar kecil itu, ada seorang ibu yang sudah cukup berumur terlihat khawatir memijit-mijit pinggang sang calon ibu.


"Iiiiih ... Bang ...?" rintih wanita hamil itu.


"Kamu tenang ya, Sayang. Aku sudah membawakan dokter kepadamu untuk membantu persalinan anak kita." ucap Dedi.


System secara otomatis memindai keadaan bayi di dalam rahim itu. Selain bayi sungsang, dia terlilit tali pusar di bagian leher.


"Kenapa tidak meminta bantuan pada bidan? Kondisi bayi dalam rahim istrimu ini sangat lah riskan. Ini bisa membahayakan istri sekaligus anakmu, Mas."


Dedi menggelengkan kepalanya. "Namamu Antonie bukan? Aku dengar dari Pak RT kamu bisa membantu kami semua. Sebelumnya, kami sudah konsultasi ke rumah sakit, hanya saja untuk memangani istriku, biaya yang dibutuhkan sangat besar."


"Aku hanya tukang kebun, yang menerima upah kecil. Jangankan untuk biaya jaminan kesehatan yang rutin tiap bulan, biaya makan kami hanya pas-pasan."


Tubuh Antonie seakan kaku, hatinya terasa melemah. 'Apa yang harus aku lakukan?' batinnya.


"System yakin, Anda pasti bisa. Coba lah. Jika Anda berhasil membantu ibu ini, emas yang dicuri tadi akan kembalikan kepadamu, ditambah dengan reward sesuai dengan levelmu."


Antonie berjalan mendekat secara perlahan. Dengan jelas dia melihat bayi yang berada di dalam rahim itu. Bayi laki-laki yang terlihat sehat, tetapi posisinya terlihat cukup berbahaya.


"Apa saya boleh meminta air dan sabun untuk mencuci tangan? Karena saat menangani bayi, kita semua harus dalam keadaan steril."


Dedi mengangguk dan hendak bergerak. "Tunggu! Biar Ibu saja yang mengambilkannya!" ucap Ibu yang tadinya terus memijit pinggang istri Dedi.


Posisi pun beeganti, kini giliran Dedi yang berada di belakang istrinya memijit pinggang sang istri. "Kamu pasti bisa, Sayang. Aku yakin itu." ucap Dedi.


Sang istri yang telah basah oleh keringat dingin, menganggukan kepalanya. Antonie benar-benar luluh oleh pemandangan yang memilukan ini.


Tak lama kemudian, Ibu tadi sudah membawakan sabun dan air hangat untuk mencuci tangan. Antonie pun mulai duduk di atas ranjang itu.

__ADS_1


Meski merasa sedikit ragu, ditambah rintihan derita dari istri Dedi, membuat perasaan Antonie seakan menciut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika menerima bayi itu lewat pintu lahir.


"Coba perbaiki posisinya, Mba." ucap Antonie.


Dedi menyusun beberapa bantal agar kepala sang istri berada pada posisi yang cukup tinggi. Antonie menggaruk sedikit pelipisnya karena merasa sangat sungkan mengangkat pakaian istri Dedi.


"Jika Anda menyelesaikan misi ini, baik pingsan maupun tak pingsan, Anda akan mendapat reward 300 gram emas murni 24 karat!" ucap System membuat semangat Antonie sedikit bertambah.


'Jadi, 400 gram dong sama yang dicuri cewek kemarin?' tawar Antonie.


"Baik lah." ucap System.


Mendengar harapan harga tinggi untuk menolong melahirkan ini, membuat Antonie lebih fokus. Awalnya Antonie membuat lilitan tali pusar terlepas dari leher sang bayi.


"Aaaghh ..." rintih pilu istri Dedi.


Setelah itu, Antonie memutar posisi bayi yang sungsang tersebut. Membuat istri Dedi me re mas paha suaminya dengan sangat kuat. "Aaagghhh ...." teriaknya menarik kemeja sang suami hingga terlepas kancing-kancingnya.


Tulang pinggul istri Dedi tadi yang belum terbuka dengan semburna, dibuat terbuka dengan lebar. Sehingga Istri Dedi berteriak-teriak tak karuan menarik rambut Dedi.


"A-apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya Dedi.


Namun, Antonie masih diam, dia akan mulai pada fase yang paling sulit baginya. Mau tidak mau dia harus melihat tempat kelahiran bayi.


Dia merasakan ada sesuatu di hidunya. Da rah sudah mulai menetes dan pikiran Antonie mulai bercabang. Dia berusaha untuk menghirup lagi da rah tersebut masuk kembali ke dalam. Namun, alirannya terasa semakin kencang.


'System, tolong aku! Aku harus menyambut bayi ini!' batin Antonie kembali.


"System akan mencoba dengan sebaik mungkin." Beberapa waktu aliran da rah di hidung Antonie berhenti.


Lalu Antonie mulai meminta istri Dedi untuk menarik nafas dalam-dalam. "Lepaskan!"


Dengan bantuan Antonie, bayi itu keluar dengan lancar diiringi teriakan istri Dedi yang memilukan. "Aaaaaagghhhh ...."


Antonie menyambutnya, dan langsung disambut oleh ibu paruh baya tadi.


bruuughh


Antonie ambruk tak sadarkan diri dengan hidung terus mengalirkan da rah yang banyak.

__ADS_1


__ADS_2