Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 43


__ADS_3

"Saya berada di mana?" tanya Berta, mama Denish.


"Ibu sudah aman bersama kami. Apa yang terjadi? Kenapa Ibu dibawa oleh orang-orang itu?" tanya Antonie.


"Tadi kami baru saja memakamkan suami saya. Sorenya anak saya pamit ke suatu tempat. Terus ada yang datang katanya anak saya mau bu nuh diri. Makanya saya ikuti mereka. Ternyata, mereka hanya mengelabui saya agar mau ikut dengan mereka."


"Beruntung kamu menolong saya. Terima kasih. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Sepertinya kamu sepantaran dengan anak saya, Denish." ucap Berta.


"Denish? Yang calon dokter itu?" Antonie teringat pada ayah dan anak yang berada di ruang operasi.


"Iya, Denish. Dia mengikuti jalan ayahnya." Air mata Berta terjatuh.


"Tadi malam mendiang suamiku tertidur lelap begitu saja di kamar Denish. Ternyata dia sudah meninggal di sana." tangis Berta.


Antonie langsung teringat bahwa suami wanita ini adalah jasad yang diantarkannya pulang tadi malam. Namun, Antonie tak sampai hati menceritakan wanita yang ditolongnya dari tindak pencu likan.


"Apa Ibu sudah menghubungi anak Ibu kembali? Dia pasti merasa sangat khawatir." ucap Antonie.


"Tapi saya tidak memiliki ponsel. Ponsel saya diambil oleh orang-orang itu."


Antonie sendiri tidak memiliki benda itu. Dia merasa tidak membutuhkannya sama sekali. Kendaraan pun begitu juga. Semua begitu mudah semenjak dia mendapat System.


Namun, demi bisa menghubungi anak dari Ibu Berta, Antonie menyulap cermin kecil milik Fanya menjadi sebuah ponsel android.


"Ibu coba hubungi dia, biar tidak khawatir lagi. Setelah ini akan saya akan langsung mengantarkan Ibu ke sana." ucap Antonie.


Lalu, Berta menyalin nomor kontak sang anak yang sudah dihafal di luar kepalanya. Beberapa waktu menunggu, akhirnya dijawab juga.


"Halo, ini siapa?" tanya seseorang di seberang dengan nada terburu-buru.


"Halo Denish, ini Mama."


"Mama? Mama di mana? Aku sudah mencari Mama di mana-mana, tetapi tak satu pun yang aku temukan. Mama baik-baik saja kan?"


"Kamu jangan khawatir, Mama baik-baik saja. Kalau yang lain, memang Mama suruh pulang. Mama sedang ingin menyendiri. Lalu malam harinya ada yang bilang kamu mau bu nuh diri. Jadinya Mama ikut, ternyata mereka hanya mengelabui dan men cu lik Mama."

__ADS_1


"Mereka bawa Mama ke mana? Kami akan menjemput Ma ... ma."


"Kita tak ada waktu lagi. Kita harus melanjutkan penyelidikan!" ucap seorang pria yang berada di dekat anaknya. Berta melirik pada ponsel tersebut, dan menempelkan kembali ke telinga.


"Mama baik-baik saja? Mereka bawa Mama ke mana?" suara Denish terdengar cukup terburu-buru.


"Mama baik-baik saja. Ada pemuda baik yang menolong Mama. Saat ini Mama di rumahnya."


"Kalau dia memperlakukan Mama dengan baik, Mama mungkin lebih aman bila berada di sana dulu. Mama jangan pulang dulu sampai aku menjemput Mama ke sana. Aku harus menuntaskan kasus Papa. Aku akan menjebloskan orang itu."


"Orang itu sia ... pa?" Panggilan telah terputus. Berta terlihat bingung, menatap Antonie.


"Ada apa, Bu? Ada masalah?" tanya Antonie lagi.


"Hmmm ... sepertinya anak saya belum bisa menjemput saya." ucap Berta lagi.


Antonie memejamkan matanya. Dia melihat langsung apa yang terjadi dengan Denish. Denish terlihat mengikuti orang-orang tersebut, tetapi tangannya sedang terborgol. Antonie membuka mata, tidak tega mengatakan apa yang terjadi secara langsung kepada ibu ini.


"Mungkin sebaiknya Ibu tinggal bersama kami dulu." ucap Denish, dan Rizki memberi anggukan. Sementara Fanya bersikap seperti biasanya, cuek tak memedulikan siapa pun.


"Apa Ibu sudah makan?" tanya Rizki.


Antonie memahami apa yang dirasakan oleh wanita paruh baya ini. Dengan sedikit kode, membuat Rizki bergerak menuju dapur untuk memasak buat ibu yang baru saja dibawa Antonie.


"Fanya, tolong bersihkan kamar yang kosong itu, ya? Ibu ini akan tinggal beberapa waktu di sini hingga batas waktu yang tidak bisa ditentukan."


Tanpa jawaban, Fanya bergerak mengambil sapu dan sprei yang baru mengganti alas yang bersih. Sementara Berta menatap Antonie dengan wajah herannya.


"Saya hanya sebentar saja kok. Mungkin esok hari Denish menjemput saya."


Antonie memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, dia mengangguk berusaha mengulas bibirnya dengan senyuman yang sangat tulus.


Antonie teringat saat kupingnya berdengung mendengar teriakan kesakitan dari Berta saat tangannya ditarik oleh orang-orang suruhan itu. Antonie langsung teleport dan melihat sebuah mobil melaju kencang. Suara teriakan itu berasal dari sana.


Antonie menjentikan jemarinya membuat keempat roda kendaraan tersebut kempes dengan sendirinya. Kendaraan yang melaju kencang seketika oleng berjalan tidak semestinya menabrak pembatas jalan dan kendaraan itu terbalik.

__ADS_1


Semua yang ada di dalam kendaraan mengalami cidera. Tampak seorang wanita paruh baya pingsan. Antonie langsung membawa wanita yang tak lain adalah Berta ke rumah singgah dan memulihkan kondisi Berta.


Seperti biasa, jika dia berhasil, menyembuhkan orang tanpa masalah, dia mendapat emas seberat seratus gram. Emas itu langsung disimpan dalam cincin ajaibnya, tempat paling aman di dunia ini. Dan hari ini, dia sudah mendapatkan emas yang banyak, termasuk menyembuhkan Liana tadi siang.


Berta, ibu dari satu pria yang membuatnya meregang nyawa, terlihat makan dengan sangat lahap. Ya, terakhir kali makan, malam tadi bersama Denish sebelum menemukan suaminya dinyatakan meninggal.


Di tempat lain, Denish bersama tim penyidik melanjutkan menyelidiki lift yang tidak mau bergerak itu. Mereka tengah berupaya mencari sambungan listrik alat tersebut.


Di tempat lainnya lagi, seorang berpakaian serba hitam, mengenakan topi, hodie, dan masker berada di sebuah bangunan. Bangunan tersebut merupakan area penjualan perhiasan terbesar dan termewah di kota ini.


Liana duduk bersila menarik tali yang tak terlihat yang membuat perhiasan di sana bergerak dengan sendirinya ke puncak bangunan.


"Ayooo ... Datang lah!" seringai Liana.


Namun, emas yang ditarik secara ajaib itu mengenai pengaman infra merah yang tidak terdeteksi oleh Liana. Alarm keamanan pun menyala dengan suara yang sangat nyaring.


"Sssiiaaal!" rutuknya.


Liana menarik paksa benang halus tersebut, tetapi pihak keamanan yang mengecek keadaan, melihat perhiasan sudah beriringan melayang naik ke atas.


Security tersebut menarik perhiasan itu. Hal ini membuat tali ajaib yang tak terlihat menjadi putus dan menghamburkan perhiasan yang terbuat dari emas dan berlian tersebut di atas lantai.


"Ooh shiiiiit!" Liana langsung bergerak berlari dan melompat dari bangunan satu ke bangunan lain.


"Ini gara-gara cupu sia*lan itu! Gue jadi gagal terus gak dapat apa-apa. Mana biaya perawatan Leon sangat mahal lagi." Liana terus berlari melompati bengunan-bangunan tersebut.


Dia berlari di dinding gedung pencakar langit menuju ke puncaknya. Setelah sampai di puncak, Liana membuka masker merebahkan diri menopangkan kepala pada kedua telapak tangannya.


"System ... Tolong cari lokasi si cupu itu! Gue mau membuat perhitungan dengannya. Oh, maksud gue mau mengucapkan terima kasih dengannya!" Liana menyeringai sembari menatapi bulan yang sepi tanpa ditemani bintang.


...****************...


Mampir juga ya kak, karya sahabat aku yang tak kalah kece.


Napen: Nezha Ageha

__ADS_1


Judul: Because I See Only You



__ADS_2