Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
Bab 72


__ADS_3

"Bang, lu pinter banget nyembunyiin identitas ya?"


Pada dinding rumah sederhana itu terlihat begitu banyak foto seseorang yang sangat mirip dengan Antonie, tetapi dia tidak menggunakan kaca mata.


Bagi Antonie, ini kali pertamanya melihat orang sedemikian rupa mirip dengannya, tentu setelah dia bertransformasi memiliki God System.


"Saat ini dia berada di mana?" tanya Rizki masih asik melihat koleksi kemesraan wanita muda itu dengan kekasihnya lewat foto yang dia miliki.


"Dia bekerja pada sebuah perusahaan." Green menghela nafas teringat akan kejadian yang menimpanya tadi malam.


Padahal dia baru saja usai kencan dengan kekasihnya, Andika. Akan tetapi seorang aneh yang gila tiba-tiba saja mengikutinya ke mana pun dia berada.


Green kembali memejamkan matanya mencoba berkomunikasi dengan System yang dia miliki. Namun, dia hanya bisa merasakan kekecewaan karena dia mulai menebak apa yang telah terjadi dengan dirinya tadi malam.


Green bergantian melirik Antonie dan Rizki. Namun, saat netranya bertemu dengan Antonie, Green merasa sedikit kalut. Dia memutar bola mata menyembunyikan apa yang sedang terjadi.


Antonie tidak bisa berbicara dengan panjang karena di sisinya ada Rizki yang terus mengikuti setiap gerak-geriknya.


[ Biar kan saja, Tuan. Perlahanan dia akan sadar bahwa pada tubuhnya sudah tidak memiliki System lagi. ]


"Baik lah, kalau begitu kami pulang dulu. Jika kamu membutuhkan kami, bisa hubungi ke kontak yang ada pada lembaran kertas ini." Antonie menyerahkan kontak yang sudah dia salin pada sobekan kertas yang entah diambil dari mana.


Green menganggukan kepala dan mengantarkan dua orang yang telah membantunya ke luar menuju kendaraan.


Antonie segera melajukan kendaraannya ke klinik yang berada di sebelah rumah sakit. Rizki disuruh untuk merapikan dan membersihkan ruangan. Sementara dia berdiri di bagian atas bangunan klinik tersebut.


Antonie memejamkan mata merasakan pancara energi yang begitu besar.


[ Demon System akan semakin kuat jika dia berhasil mendapatkan satu mangsa. Kekuatannya meningkat berkali lipat dibanding sebelumnya. ]

__ADS_1


[ Namun, Anda jangan khawatir, Tuan. Kali ini Anda pun jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. ]


Dari sisi lain, Sony merasakan pancaran energi hebat yang telah muncul pada bangunan sebelah. Namun, dia sedang bertugas sebagai dokter yang dipercaya menggantikan ayahnya yang masih belum terlalu stabil.


"Kak, pasien yang ini harus kita apakan?" tanya Sonya menyerahkan data beberapa pasien yang dinyatakan tidak memiliki biaya lebih jika dipaksa menambah waktu untuk menginap menjalani perawatan.


Surai seringai Sony mengembang membuat Sonya tampak cukup ketakutan. "Biar kan dia! Kau boleh melakukan apa pun yang kamu ingin kan. Kamu bisa menjadikan dia sebagai objek latihanmu dalam bereksperimen untuk mengembangkan kemampuan medismu!"


Sejenak Sonya tampak tertegun teringat akan nasib seseorang yang telah kehilangan nyawa akibat ulahnya dulu. Kali ini, sang kakak sengaja memberi kesempatan kepadanya untuk mengotak-atik nyawa pasien miskin itu.


Namun, tanpa disadarinya kali ini batinnya mulai menolak. Dia tidak ingin hal itu kembali terulang. Sonya segera keluar mencari para dokter praktik yang bersama dengannya.


Saat ini hanya tinggal Cika dan satu lagi teman yang telah mengkhianatinya. Denish sudah cukup lama tidak hadir untuk melaksanakan kewajiban yang diberikan pihak kampus terhadap dirinya.


Seperti biasa dengan wajah angkuhnya, Sonya menemui kedua temannya ini. Kali ini dengan tekanan lebih serius, Sonya meminta agar pasien tersebut harus dilayani semaksimal mungkin. Setidaknya dia menganggap bahwa ini adalah pembuka kariernya sebagai dokter yang sesungguhnya.


Akan tetapi, Sonya berjalan menuju jendela itu melihat Antonie yang memandang lurus ke arah gedung rumah sakit ini.


Apa perasaanku saja? Kenapa dari jauh begini saja dia terlihat tampan? Sepertinya aku sudah gila.


Sonya menepuk pipi dengan kedua tangan berharap sadar dari halusinasi akan bayangan pria bernama Antonie itu. Sonya menarik kakinya bergerak menuju ruangan tempat kedua kawan membawa pasien tadi.


Kali ini aku harus membuktikan kepadanya bahwa aku benar-benar bisa menjadi dokter yang sesungguhnya.


Pada bagian depan klinik, sebuah kendaraan roda empat berhenti di parkiran. Antonie menyadari kedatangan seseorang memilih untuk langsung turun dan menyambutnya. Karena dia tahu, yang datang adalah pengacara yang mengurus izin praktik klinik tersebut.


Antonie langsung menyambut pengacara tersebut berdiri di koridor depan. Pengacara bernama Edward dengan sumringah berjalan dan menjabat tangan kepada Antonie.


"Selamat siang, Pak Antonie." sapanya dengan ramah.

__ADS_1


"Selamat siang juga, Pak Edward. Sepertinya ada berita bagus yang Anda bawa hari ini."


Senyum pada pengacara itu semakin merekah. Dia menepuk pundak Antonie beberapa kali. "Waaah, tubuh Anda benar-benar kekar ya Pak Antonie. Tidak seperti terlihat."


Antonie menepis tangan itu, merasa risih. "Ekhemm, jadi bagaimana, Pak? Kapan klinik ini bisa beroperasi?"


"Anda tahu saja apa yang akan kita bicarakan."


Antonie mempersilakan Edward masuk ke dalam klinik. Rizki langsung menyiapkan minuman kepada pengacara yang dicarika oleh Angela ini.


"Kebetulan sekali, izin praktik klinik ini sudah keluar, Pak. Hanya saja Dinas Kesehatan akan mengecek kelengkapan syarat lain yang harus dipenuhi sebagai orang yang bertanggung jawab untuk menyembuhkan pasien."


"Jujur, saya terkendala saat dimintai identitas Anda sebagai orang yang akan bertanggung jawab pada klinik kesehatan ini."


"Saat saya akan menghubungi Ibu Angela, dia sedang sibuk tidak bisa diganggu. Makanya saya langsung datang ke sini untuk bertanya kepada Anda."


Antonie menyimak penjelasan panjang lebar yang diberikan oleh Edward. "Kira-kira, apa yang harus saya miliki agar Dinas Kesehatan tidak mencekal saya membuka praktik kesehatan d sini?"


Edward terlihat sedikit ragu. Namun, karena ini adalah hal yang penting, maka dia harus menyampaikannya. "Saya dengar dari Bu Angela, Anda sangat pintar menyembuhkan seseorang. Apakah Anda memiliki ijazah kedokteran?"


Antonie tersentak mendapat pertanyaan seperti itu. Antonie hanyalah seseorang yang hanya memiliki ijazah SMA dan benda itu pun sudah hilang entah di mana.


"Apakah menyembuhkan seseorang harus memiliki ijazah? Jika tidak memiliki benda itu nanti risikonya bagaimana?"


Edward mengusap dagunya memasang wajah serius. "Jika Anda tidak memiliki ijazah kedokteran, setidaknya Anda memiliki sertifikat keahlian terntentu yang memiliki lisensi."


Edward terdiam sejenak. "Jika Anda tidak memiliki satu pun dari benda itu kemungkinan izin praktik ini akan ditangguhkan bahkan dibatalkan."


Antonie dan Rizki tercenung mendengar penjelasan Edward. Karena mereka sama-sama tahu, bahwa Antonie tidak memiliki apa pun untuk itu. Dia hanya bermodal nekat dengan keahlian penyembuhan karena paksaan Angela.

__ADS_1


__ADS_2