Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 54


__ADS_3

Akan tetapi, kaca mata tersebut tak kunjung lepas dari wajah pria yang sedang memejamkan mata ini.


"Kok susah amat ya narik kaca matanya? Lu kasih lem apa sih?"


Antonie menyentil tangan Rizki, tangan pria muda itu seperti terbanding oleh seperti mendapat puku lan yang sangat keras.


"Aih ... aaagh! Gilak, sakit banget sentilan lu, Bang?" Rizki mengipaskan tangannya yang langsung terasa keram.


"Kalau tangannya gak mau patah, jangan sembarangan!" Antonie memperbaiki posisi kaca matanya.


"Gue penasaran pengen lihat tampang lu tanpa kaca mata," ringisnya.


"Udah lihat tadi kan?" Antonie kembali menikmati makanannya.


"Sekejap doang, ga fokus juga karena jauh beda. Kenapa pintunya ditutup, Bang? Gak dibiar buka aja?" Rizki kembali melihat sekeliling klinik yang sudah rapi itu.


"Nanti pasien tiba-tiba datang. Gawat juga tiba-tiba ramai tapi izin praktik klinik ini gak ada."


"Ooh, gitu? Terus, Abang punya ijazah atau sertifikat tentang kesehatan?"


"Enggak." jawab Antonie dengan santai terus menyuapi makanannya dengan cepat.


"Terus nanti kalau ada sidak dan sejenisnya gimana?"


"Ya, bilang aja sejujurnya. Ini kan klinik kesehatan tanpa menggunakan obat, dan tidak ada takaran-takaran mengikat lainnya. Ya, jalani aja dulu. Kalau ada sidak-sidakan, nanti pasti ada jalan keluarnya. Selagi tak ada pasien yang mengeluh dan menuntut, kayaknya tak ada masalah." Antonie teah menyelesaikan makan.


Rizki melongo melihat rantang yang sudah kosong dalam waktu sekian detik. "Lu laper apa doyan sih, Bang? Makanan segini banyak bisa hilang begitu aja."


"Haaagh!" Sendawanya tepat di wajah Rizki.


Rizki mengibaskan aroma yang keluar dari mulut Antonie. "Lu sekate-kate sama gue, Bang? Untung aja gue numpang hidup sama lu, kalau tidak, mungkin pisau udah melayang masuk mulut lu!" rutuknya menjauh.


"Sorry ... Kelepasan! Masakanmu tak pernah mengecewakan." ucapnya.


Tubuhnya mulai terasa lebih nyaman karena perutnya telah terisi. "Nanti, kalian berdua sekalian menjadi bagian administrasi tempat ini ya? Aku merasa sedikit kurang nyaman jika ada orang baru."


"Alaah, bilang aja malas menggaji orang. Maunya yang gratisan, makanya kita dikerahkan." seloroh Rizki.


Raut wajah Antonie seketika berubah. "Jadi kamu tidak mau?"


Melihat raut wakah Antonie menjadi dingin seperti itu membuat Rizki berkeringat dingin. "Gu-gue bercanda kok. Mau kok ... mauuu ... Masaaa gak mauuu." ucapnya gugup dan takut.

__ADS_1


Antonie bangkit dan kembali menatap ke arah jendela. Dia memikirkan bagaimana cara agar saat praktik nanti, energinya tidak terendus oleh pemilik System.


Dia juga ingin membuat segala kegiatan ilegal yang ada di balik jas putih itu segera dihentikan. Namun, dia belum bisa membuat yang berwenang mengendus apa yang terjadi di balik ini semua.


'Oh, ya ... Denish ... Bagaimana dengan dia? Apa dia bisa membantuku untuk membongkar segala kebusukan yang ada?'


Rizki pun ikut berdiri menatap gedung rumah sakit swasta yang terlihat megah itu. "Kok bisa-bisanya ya Mbak Angela mengambil lokasi ini sebagai klinik untuk lu ya, Bang?"


Antonie hanya bisa memberikan senyuman tipis. "Ya, semua sudah ada yang mengatur. Tentunya ada rahasia di balik ini semua." ucap Antonie lagi.


*


*


*


Angela sedang berjalan di bandara meski ada sedikit perasaan tak rela meski meninggalkan negara ini hanya beberapa waktu. Dia baru merasa sedikit dekat dengan pria bernama Antonie, tetapi sudah ada panggilan yang harus membuatnya jauh kembali dari pria tersebut.


"Aah, seandainya saja dia yang mengantarku ke bandara, mungkin aku memilih untuk tidak berangkat saja." gumamnya.


"Apa, Bu? Anda mengatakan apa?" tanya Dilla berjalan di sampingnya.


"Ah, bukan sesuatu yang penting." ucap Angela mengelak.


"Perasaanmu aja. Aku baik-baik saja." ucap Angela menuju ruang tunggu penumpang.


*


*


*


Di sebuah rumah bidan, Berta melihat Fanya yang terus mengawang. "Apa yang kamu pikirkan?"


Fanya melirik Berta masih dengan wajah yang kaku lalu pandangannya tertunduk. Ada perasaan bersalah menggelayuti hatinya.


"Katakan lah, kamu sedang memikirkan apa? Memikirkan keluargamu?"


Fanya mencoba bangkit, Berta langsung membantu dan mengubah posisi bantal agar Fanya bisa duduk dengan nyaman. Hal ini membuat Fanya merasa kikuk dengan perlakuan baik yang diberikan oleh Berta.


"Ma-makasi, Tante." ucapnya sedikit sungkan.

__ADS_1


"Tak masalah." ucap Berta tanpa beban.


"Kenapa Tante baik padaku? Padahal aku selalu jahat sama Tante?"


Berta hanya tersenyum. "Tak ada yang jahat di dunia ini. Kamu hanya berlaku sesuai dengan usiamu saja." ucap Berta.


Fanya kembali tertunduk. "Sebenarnya, aku tidak suka dengan semua wanita yang menjadi kaum ibu." gumamnya.


Berta mulai mendengarkan dengan seksama. Akhirnya dia memiliki kesempatan untuk mengetahui alasan mengapa sikap Fanya seperti itu semenjak bertemu dengannya.


"Aku hanyalah anak yang tak diharapkan. Ibuku bilang, aku adalah aib yang tak harusnya hadir dalam hidupnya."


"Ayah kandungku kabur saat ibuku dinyatakan hamil. Semenjak kecil aku selalu disik sa. Padahal aku selalu berusaha menjadi anak yang baik untuk ibuku. Akan tetapi, apa pun yang aku lakukan selalu salah di mata ibuku."


"Suatu hari di puncak frustrasi, aku tak sanggup lagi menerima kelakuan ibu, aku pun memutuskan untuk bu nuh diri. Aku mengalami koma selama satu bulan. Padahal aku berharap untuk tidak pernah hidup lagi."


"Bahkan, hingga hari ini ibu tak pernah mencariku. Tidak pernah mengkhawatirkanku, dan di sini lah aku bersama Kak Antonie dan Rizki."


"Kami bertiga memiliki nasib yang sama, meski Rizki sedikit lebih beruntung. Dia masih memiliki orang tua meski pun berada di tempat yang jauh."


Berta mengusap bahu Fanya dan menganggukan kepala. "Mungkin ini lah cara Tuhan mempertemukan kita semua. Pertemuan yang tidak disengaja, tetapi sungguh sangat berarti." Berta memeluk Fanya.


Fanya masih merasa cukup kaki, perlahan membalas pelukan itu dan membenamkan wajahnya Berta. Tubuh Fanya terlihat mulai bergetar.


"Maafkan aku, Tante—maksudku, Mama." tangisnya dalam pelukan Berta.


Berta membelai rambut Fanya dan menganggukan kepala. "Ternyata, begini lah rasanya jika memiliki anak perempuan."


*


*


*


Di kantor polisi, Bagus—saudara dari ayah Denish membawa pengacara untuk usul pembebasan keponakannya ini.


Setelah membayar denda, Denish dinyatakan bebas bersyarat, tidak boleh keluar kota selama lima bulan ke depan. Denish segera mencari sang ibu, menghubungi ibunya pada kontak terakhir dulu.


Namun, panggilan tersebut tidak terdaftar. "Aah, aku harus mencari Mama ke mana?"


Saat sore hari, Antonie dan Rizki merapikan kembali segala yang ada di klinik tersebut. Setelah semua terasa tak ada kendala, mereka berencana untuk pulang dan mengunci semua pintu dan jendela.

__ADS_1


Saat berada di beranda depan, ternyata ada kendaraan roda empat yang memantau mereka dari jauh. Memperhatikan dua pria yang terlihat sedikit gembira saat meninggalkan klinik itu.


"Dia?"


__ADS_2