Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 25


__ADS_3

Antonie menyadari arti tatapan tajam itu. Dia melirik anak kecil balita yang terlihat sangat sehat.


"Sepertinya saat ini Anda sudah mengetahui misi selanjutnya. System menyerahkan semuanya kepada Anda, dengan kemampuan dewa yang Anda miliki!"


Zzzttt


Zzzttt


Listrik di rumah sakit itu padam dengan tiba-tiba. Antonie menjentikan jemarinya di depan Sonya yang terlihat bingung. Sonya, Ima, dan Reina, pingsan dengan seketika, dan dia berubah kembali menjadi Antonie, menghitung jumlah CCTV yang telah menampilkan dirinya.


Antonie mengedipkan mata, membuat CCTV itu rusak, lalu membawa Ima dan Reina pergi saat itu juga. Tanpa disadarinya, aksi dirinya terpergok tak sengaja oleh Angela.


"Dewa itu—"


Listrik menyala kembai dengan tiba-tiba. Tadi, Angela, Dilla, dan bagian alat medis di rumah sakit ini tengah mengadakan meeting perjanjian kerja sama dengan perusahaannya. Kebetulan karena listrik padam dengan tiba-tiba, membuat Angela merasa kepanasan berada di ruang meeting.


Saat itu dia keluar dan saat itu pula, dengan jelas Angela melihat perubahan sosok Ibu paruh baya, menjadi sosok yang akhir-akhir ini terus muncul dalam ingatannya. Antonie menghilang membawa wanita yang ada di atas brangkar dan anak kecil di sampingnya.


"Siapakah gerangan dewa tampan itu?" gumamnya.


Suasana rumah sakit langsung heboh melihat Sonya tertidur di lantai koridor. Para security memindahkan gadis itu ke atas brangkar dan mendorong brangkar itu ke sebuah ruangan. Mereka melupakan bahwa seharusnya di sana ada pasien yang diabaikan.


Angela merasa takjub bisa melihat semua di mata kepalanya sendiri. Senyuman terkulum di bibirnya saat membayangkan masa dia mengalami hal yang sama.


*


*


*

__ADS_1


Antonie membawa Ima dan Reina ke rumah singgahnya. Rizki dan Fanya yang berada di sana, tentu saja sangat terkejut dengan kemunculan Antonie secara tiba-tiba bagaikan hantu.


"Bang ... Bang ... Kenape lu tibe-tibe muncul? Ini beneran lu, Bang? Kenape bawa emak dan anak itu?" tanya Rizki dengan wajah bingungnya.


Berbeda dengan Fanya yang mengetahui segala, dengan santai menanggapi apa yang baru saja dilakukan oleh Antonie. Dia mengetahui segala, dan mengingat semua yang pekerjaan Kakak angkatnya ini.


"Rizki, cepat bawa anak ini tidur di kamar Fanya!" titan Antonie.


Mata Fanya membesar, mulutnya membulat, keningnya berkerut. Dia merasa sangat tidak setuju dengan keputusan Antonie ini.


"Jangan di kamar ku! Kamar Rizki saja! Nanti dia ngompol gimana?" ucap Fanya menolak.


"Eh, elu ... Ini rumah singgah! Bukan rumah pribadi Bapak elu! Suka-suka yang punya lah!" ucap Rizki tetap membawa Reina ke kamar Fanya.


Sementara Ima, dibawa ke kamar kosong yang disiapkan untuk anggota baru lainnya. Antonie mengunci pintu, dan kaca mata System langsung memindai tubuh Ima melebihi kecanggihan CT scan.




Mendengar penjelasan System, membuat Antonie merasa kesal. "Rumah sakit semakin hari membuat manusia yang masuk ke sana benar-benar menjadi sakit!" rutukya marah.


"Tenang lah, Tuan! Anda harus tetap berkepala dingin!"


Tanpa bicara lagi, Antonie memulai melakukan penyembuhan pada dengan meletakan dua jarinya pada leher Ima. Dalam beberapa waktu lewat jemari Antonie mengeluarkan pancaran cahaya bewarna merah demi mem bu nuh sel kanker yang terus merambat pada esofagus Ima.


Setelah sel-sel tersebut dipastikan tidak hidup lagi, Antonie mengeluarkan sel-sel tersebut lewat mulut Ima dengan menariknya lewat energi yang diberikan oleh System.


Sebongkah benda lembek bewarna hitam saat ini telah berada di tangan Antonie. Lalu dia membakar benda itu hingga tak bersisa.

__ADS_1


Setelah itu, Antonie memperbaiki setiap bagian organ yang sudah dirusak oleh sel kanker ganas tersebut. Perlahan, tubuh Ima yang kurus kering, terlihat sedikit berisi, hingga tulang tidak terlalu menonjol lagi di bagian kulitnya.


Antonie melihat kedua tangannya. Dia tidak merasa lelah sama sekali.


"Selamat, Anda berhak mendapatkan reward karena telah menyelesaikan misi level tiga dengan baik. Anda terlihat baik-baik saja."


Secara mendadak, Emas telah berada dalam genggamamnya. "Terima kasih." ucap Antonie mendapat emas seberat seratus gram. Dia sudah memikirkan anggaran berikut pengembangan rumah singgah yang sedang dibangunnya.


Rizki dan Fanya mendelik melihat Antonie keluar dari kamar itu. Lalu leher mereka berdua panjang mencoba mengintip ke arah bagian dalam.


"Kalian jangan berpikir macam-macam! Aku ini pria baik-baik!" ucap Antonie tanpa ditanya.


*


*


*


Dokter Bagas merasa panik saat mengetahui bahwa pasien Ima dan anaknya tiba-tiba menghilang. Dia tidak rela, bila Reina calon mang sa selanjutnya turut raib bersama Ima.


Tiba-tiba dia teringat akan sosok wanita yang sedikit lebih tua darinya. Dokter Bagas segera mencari pusat keamanan untuk mengecek CCTV. Dia sangat terkejut dan marah saat mengetahui CCTV itu rusak.


"Guuuoooblok! Ini saja kalian tidak bisa mengaturnya!" marah Dokter Bagas.


Dia kembali teringat pada CCTV halte busway dekat Mall M yang diminta pada salah satu anak buahnya. CCTV di sana juga rusak.


"Siapa wanita itu? Apakah, dia memiliki hubungan dengan semua yang terjadi?"


Ponsel Dokter Bagas bergetar. Di layar terdapat tulisan Dr. Hardan. Keringat pum bercucuran di dahi Dokter Bagas.

__ADS_1


__ADS_2