
Hehehe ... Boleh pamer nggak ya sama readers tercinta. Tiba-tiba karya receh aku mendapat tempat di headbanner. Ini pertama nulis karya fantasi pria, yang masih sangat kacau, malah diberi kesempatan untuk di posisi yang gak pernah Author bayangkan. Soalnya Author ini memang sukanya nulis thriller sebenarnya. Jadi system—nya berasa berat ya???
Ooh iya ... di sini MC kita seorang Healer ya Kak-Bang ... Healer ini artinya penyembuh ... Jadi hatinya baik dan bersih. Yang harap-harap MC kita jadi pem bu nuh, mungkin boleh diurungkan dulu harapannya. 😂😂😂 Tapi boleh lah nanti dibuat saat melawan musuh besar.
...****************...
Leon patuh mengikuti dan mendekati Berta. "Aku Leon. Aku sembilan tahun. Mamaku masih hidup, Tante bukan mamaku."
Berta membelai kepala Leon. "Iya ... Tapi Leon boleh memanggilku Mama juga kok. Mama merasa senang jika memiliki banyak anak."
Rizki menyerahkan air putih kepada Mama Berta, dan dia langsung memberinya pada Leon. Saat pertama kali meneguk air itu, Leon tersedak.
"Uhuk ... huk ... huk ... huk ...."
Antoni segera mengusap punggung Leon. "Hati-hati dan pelan-pelan saja. Kamu sudah lama tidak minum secara langsung kan?" ucap Antonie.
Leon melihat Mama Berta dan melirik Antonie. Berta tersenyum bersahaja mengusap kepala Leon.
"Ini Kak Antonie, pemilik tempat ini. Leon jangan takut sama Kak Antonie, dia orangnya baik kok."
Leon kembali melihat ke arah Antonie. Antonie yang diperlakukan seperti orang aneh, menjadi merasa kikuk.
"Mana Mama, Papa, dan Kakak Leon?" tanyanya setelah meneguk air putih.
"Kita tunggu kakakmu saja. Biar dia yang menjelaskan semua." ucap Antonie.
"Kak Liana di mana?"
"Kamu tunggu sebentar, aku akan mencari dia." Antonie masuk ke kamarnya dan tidak keluar-keluar lagi.
"Bang, katanya mau nyari Kakak anak ini? Kenapa malah masuk ka—" Rizki tertegun menyadari kamar itu telah kosong.
"Dia udah hilang," ucap Rizki cuek. "Cah, kamu udah makan?" tanya Rizki si penanggung jawab dapur. Leon menggelengkan kepala.
Sementara Fanya memilih masuk ke kamarnya. Lalu melirik ke arah Leon dengan mata melotot. "Jangan nangis, Bocah! Aku mau tidur lagi! Awas kalau kedengeran lagi tangisnya!"
Leon menggenggam tangan Berta merasa ketakutan. Berta menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, dia baik kok."
__ADS_1
Rizki tanpa menunggu perintah, langsung bergerak begitu saja menuju dapur. Dia sudah ditunjukan menu-menu sehat oleh Antonie. Rizki melirik Leon sejenak. "Sepertinya buat dia saat ini sangat cocok makan sop ayam."
Sementara itu Antonie sedang berjongkok di belakang Liana. Liana belum menyadari kehadiran seseorang. Hingga saat ini dia masih belum juga menemukan berlian langka itu.
Tanpa memberitahukan Liana, Antonie langsung melakukan teleportasi tubuh gadis yang masih merangkak mencari-cari benda kecil tersebut. Sekian detik kemudian, Liana sudah berada di dalam kamar antonie masih posisi mencari benda kecil itu.
Antonie ikut menundukan kepala. "Cari apa?"
Liana tersentak dan kepalanya membentur dagu Antonie dengan sangat keras.
"Aaagghhh ...." ringis mereka serempak.
"Lhoh? Gue di mana? Kenapa tiba-tiba gue ada di sini?" Liana langsung hendak melayangkam tendangannya.
"Gue itu sedang mencari benda penting tau gak!" Kakinya hampir mengenai kepala Antonie. Namun dengan gampang Antonie menangkap kaki itu dan ditahan. Membuat Liana sedikit oleng berdiri dengan satu kaki terjinjit.
"Bisa tenang dulu? Apa kamu tidak pernah merasa lelah?"
Antonie melepaskan kaki Liana. Liana akan bergerak, tetapi dua bahu Liana ditotok oleh Antonie. "Aku tak habis pikir, apakah kamu tidak bisa duduk dengan tenang?"
"Lepas!" Liana tidak bisa bergerak, tetapi dia masih sadar dan masih bisa bicara.
"Aku akan melepasmu jika kamu berjanji untuk tenang. Jika tidak, biar aku keluar saja." Antonie langsung membuka pintu akan keluar kamar.
"Bisa diam?"
Liana memasang muka kesal dan mulutnya masih bungkam. Antonie tidak bertanya lagi dan langsung keluar.
"Dah pulang, Bang?" tanya Rizki masih sibuk menyiapkan makanan untuk Rizki.
"Buatkan untuk dua orang ya? Satu dewasa, satu lagi buat Leon." titah Antonie.
"Mau makan lagi?"
"Bukan buatku." Antonie memberi kode ada seseorang di dalam kamarnya.
Rizki meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk mengintip siapa yang berada di dalam. "Waaah, ternyata Kakak pencu—" Rizki menutup mulutnya melihat ada Leon di sana.
Rizki kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya. "Oke, berarti porsi kita tambah." Rezki mencincang bahan dengan gesit.
__ADS_1
Antonie duduk di samping Leon yang langsung membisu melihatnya. "Jika aku membawa kakakmu, kamu mau kasih aku apa?" tanya Antonie menatap lurus pada Leon.
Leon melihat Mama Berta, bergantian melihat Antonie. "Aku akan jadikan kakakku." ucapnya dengan wajah polos.
Antonie tersenyum bangkit dan mengulurkan tangannya. Leon seakan de javu melihat tangan itu. Setelah dalam genggaman Antonie, mereka berjalan menuju kamar pria berkaca mata itu.
Di dalam sana terlihat seorang gadis berdiri kaku. Mata gadis itu membulat tidak percaya melihat siapa yang dibawa oleh Antonie.
"Le-Leon?" wajah merahnya tadi berubah menjadi saya. "Leeeon?" ucapnya mulai terbata.
"Ini beneran kamu, Dek?" tanya Liana kembali.
Leon langsung berlari memeluk kakaknya yang berdiri kaku. "Kakaaaak ... Kakak ke mana aja? Leon bangun tidur tidak ada siapa-siapa. Di sini nggak ada Mama kita. Hanya Mama Berta." tangisnya terisak.
Antonie menotok kembali titik tubuh Liana yang tadi, seketika Liana memeluk adiknya yang sudah setahun tidak pernah memanggil dan memeluknya.
"Syukur lah ... syukur laah. Leooon, akhirnya kamu bangun juga. Kakak sudah lama menantikan ini." tangisnya memeluk sang adik dengan rasa haru.
Antonie keluar dari kamar dan membiarkan suasana haru itu mereka lewati. Mama Berta masih bingung dengan yang terjadi.
"Kenapa Mama mendengar suara wanita di dalam?" tanyanya dengan nada curiga.
"Itu kakaknya Leon, Ma."
"Jadi kamu keluar masuk lewat jendela?"
*
*
*
Setelah drama panjang antara dua adik kakak itu, akhirnya mereka semua beristirahat. Beruntung rumah yang dijadikan tempat singgah bagi mereka masih bisa menampung dua orang lagi.
Liana berpamitan untuk pulang keesokan siangnya. Antonie memeriksa lemari tempat penyimpanan emasnya. Ternyata benda-benda itu sudah raib setengahnya dibawa si Nona Pencuri.
Antonie hanya menggelengkan kepala, tetapi membiarkannya emas itu dibawa oleh Liana. Emas yang dimilikinya sudah sangat banyak. Dia sendiri mulai bingung cara untuk menyimpannya.
"System, apa cincin ini bisa menyimpan semua yang ada di dalam lemari ini? Aku ingin menjual mereka semua dan membeli rumah singgah ini sama Pak RT."
__ADS_1
"Oh, tentu saja Tuan. Semuanya bisa Anda simpan di dalam sana. Bahkan Anda bisa menyimpan banyak manusia di sana." ucap System yang terdengar sedikit bercanda.
"Antonie, kamu bicara dengan siapa?" Ternyata Mama Berta sudah berada di balik pintu yang dibuka. Wajah Berta terlihat bingung tak satu pun tampak lawan bicara anak angkatnya ini.