
"Kalian beli ponsel tidak minta izin kepadaku? Ck ... Anggap saja itu sebagai hukuman sebagai anak bandel." Lalu Antonie mulai menyantap sarapan yang disiapkan Rizki.
Namun, kedua remaja itu terus menatap Antonie dengan wajah kesal. Mereka melihat Antonie seolah tak memedulikan apa yang terjadi pada mereka. Antonie mengangkat piringnya, lalu makan sambil membelakangi kedua adik angkatnya itu.
Kedua adik angkatnya itu menjadi semakin geram dan gemas pada sikap Antonie.
*
*
*
Hari ini Antonie memutuskan untuk mendatangi rumah sakit itu kembali. Namun, ada hal yang tak biasa dia lihat.
Rumah sakit itu terlihat lebih sibuk dibanding biasanya. Entah sedang mempersiapkan apa. Sembari menyelidiki, dia juga ingin menguji pelayanan rumah sakit yang sedang diterpa isue miring ini.
Antonie pun mengubah dirinya menjadi seorang yang berpenampilan sangat lusuh. Pakaiannya pun compang camping. Satu tangan memegang sebuah tongkat.
Dia berjalan terengah menuju tempat untuk mendaftar pasien rumah sakit tersebut. Dia berencana mendaftar sebagai pasien tanpa jaminan pemerintah.
Tampilannya saat ini bagaikan orang tua, dengan rambut memutih seluruhnya. Dengan terengah, dan terlihat ngos-ngosan, perlahan dia berjalan dibantu oleh tongkat menuju tempat pendaftaran pasien.
"Uhuk ... Uhuuuk ..." Mendengar dia terbatuk, membuat orang yang antri di depannya merasa risih.
__ADS_1
"Uhuuk ... Uhuuuk ...."
"Uhuuk ... Uhuuuk ...."
Tak beberapa lama, beberapa security datang mendekatinya. Membimbing pria tua hasil penyamaran Antonie dengan lembut. Antonie menikmati alur yang sedang terjadi. Dia merasa penasaran akan dibawa ke mana setelah ini.
Setelah sampai di pintu belakang yang sepi, para security itu saling memberi kode lalu mendorong pak tua yang terlihat menjijikan dengan kasar. Sehingga, pria tua itu jatuh tersungkur di atas rerumputan belakang gedung yang tidak terawat.
"Kau tua bangka! Enyah lah!" ucap mereka berlalu.
"Heeeyy ... Uhuuk ... Uhuuuk ... Aku ingin berobat di sini. Kata orang rumah sakit ini sangat bagus."
Para security itu saling berpandangan menyunggingkan senyum sinis dan meremehkan. "Iya ... setelah kau punya banyak uang, kembali lah ke sini!" lalu mereka meninggalkan pak tua itu.
Antonie tersenyum tipis. Dia menghilang dan kali ini muncul menjadi ibu-ibu berpenampilan mewah. Namun, gaya jalan kelelakiannya belum bisa diubah.
"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dari mereka.
"Begini, kepala saya sakit, nafas saya sangat sesak, jantung saya debarannya tidak karuan. Saya harus ke mana?"
Security itu menundukan kepala dengan hormat, yang satunya lagi menuju ruangan khusus tempat menyimpan kursi roda. Dengan sumringah mendorong kursi roda tersebut menyilakan sang Ibu duduk di sana.
"Silakan duduk, Bu. Apa Ibu datang berobat sendirian saja? Apa ada yang menemani?"
__ADS_1
"Tidaak, saya hanya sendirian. Saya tiba-tiba pusing saat menyetir mobil, makanya saya langsung berbelok ke sini karena mendapat kabar bahwa pelayanan rumah sakit ini sangat memuaskan."
Par security itu menganggukan kepala. "Lain kali, Ibu jangan menyetir sendirian lagi ya? Minimal menggunakan jasa supir, karena usia Ibu sudah lanjut—"
Ibu itu tiba-tiba bangkit memukul security yang baru saja bicara. "Jadi kamu meremehkan saya karena saya tua?" Lalu security itu dipukul kembali.
"Berani sekali kamu ya? Awaas yaaaa!" sang Ibu sosialita itu heboh dan terus memukul security. Yang satunya lagi mencoba melerai.
"Kamu juga?" Dipukul lagi yang satu lagi.
Mendengar keributan di aula depan, membuat Sonya yang sedari tadi bete, mendekat.
"Maaf, Bu ... Apa yang terjadi?" tanya Sonya pura-pura akrab.
Senyuman tipis mengembang di bibir ibu yang tak lain adalah Antonie. "Ini, Dek. Mereka sungguh sangat tidak sopan. Mereka menghina saya karena saya sudah tua!"
Sonya bersidekap dada mendelik pada para security tersebut. "Kalian, nanti temui saya lagi. Cepat panggil perawat!" titah Sonya dingin.
Lalu ekspresi Sonya berubah dengan seketika. "Apa ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya Sonya seramah mungkin.
"Saya ingin berobat, tetapi saya akan ada pertemuan. Jadi bagaimana caranya agar saya segera ditangani, Dek Koas? Waktu pertemuan dengan istri presiden negara ini sudah sangat dekat. Saya tidak mau terlambat."
Sonya tercenung mendapat pasien yang memiliki hubungan dengan presiden negara ini. Namun, dia merasa risih dengan sapaan tersebut. Dia merasa tidak nyaman dipanggil dengan sapaan seperti itu.
__ADS_1
"Saya adalah putri dari pemilik rumah sakit ini. Ibu bisa memanggil saya Sonya saja. Memang, saat ini gelar saya belum dokter, tetapi beberapa saat lagi, saya akan menjadi dokter."
Si ibu menatap Sonya dengan wajah tak suka. "Oh ... yakin sekali kamu? Bagaimana kemampuanmu melayani orang yang sakit? Bahkan jika pasien tersebut sudah sekarat?"