
"Oh iya, tentu. Silakan, Pak." Rizki menyilakan Zahn masuk ke dalam ruangan tersebut.
Rizki mengetuk pintu ruang kerja Antonie.
"Masuk!" ucap pria berkaca mata yang berada di dalam ruangan tersebut.
Rizki membuka pintu ruang kerja Amar dan memberi kode kepada Antonie.
[ Seseorang dengan DNA yang sangat dekat dengan Anda, berada di sekitar sini. ]
degh
Tiba-tiba jantung Antonie berdenyut dengan hebat membuatnya mengernyit karena rasa sakit yang membuncah.
"Bang, lu kenapa?" Rizki bergerak cepat memasang wajah khawatir mendekati Antonie. Ia mengmbil air mineral yang terletak di atas meja, membuka tutup dan menyerahkannya kepada Antonie.
"Makasih." Antonie meneguknya sebanyak tiga kali lalu menekan bagian dada yang berdegup dengan cepat. Lalu, ia memandangi seorang pria paruh baya yang berdiri tepat di pintu menatapnya dalam diam.
Antonie pun menatapnya panjang. Pria itu perlahan mengulas senyuman di bibirnya. Ia memandangi pria muda berkaca mata, memakai jubah berwarna putih, menatapnya dengan dingin. Ia merasakan desiran hebat di dalam dada.
"Apakah kamu yang menjadi dokter di klinik ini?"
Antonie memalingkan wajah, menyandarkan diri pada sandaran kursi yang bisa bergerak dan berputar. "Jika Anda tidak memiliki kendala tertentu dalam kesehatan, Anda bisa meninggalkan tempat ini dengan segera."
Rizki bergantian menatap wajah Antonie dengan pria paruh baya yang masih berdiri tenang pada pintu ruangan tersebut. "Sepertinya saya harus keluar." ucap Rizki tidak kuat menghadapi suasana canggung seperti itu.
Setelah Rizki pergi, Zahn memasuki ruangan itu sembari mengedarkan pandangannya pada ruangan sempit tersebut. Bibirnya terulas sebuah senyuman tulus, menatap segala yang ada di sana.
"Syukur lah, kamu baik-baik saja."
Namun, Antonie masih hening tanpa berkata. Ia kembali menatap pria itu. "Seperti yang telah saya ucapkan tadi, jika tidak memiliki kendala dalam kesehatan Anda, lebih baik, tinggalkan tempat ini."
Zahn memutar tubuhnya saat ini lurus menatap Antonie. Begitu jelas terlihat raut kebencian yang tak terucap tergambar dalam tatapannya. Zahn mengerutkan dahi, membuat lipatan di dahinya yang telah banyak, menjadi semakin bertambah.
"Apa kamu mengenal saya?"
Antonie tersentak menyadari dirinya yang terlalu berlebihan dalam bersikap. "Maaf, Pak. Saya sedang sibuk. Mungkin Anda bisa datang lain kali di saat saya sedang tidak bertugas."
Zahn kembali bergerak menatapi sepanjang jengkal koridor klinik yang tidak besar ini. Belum ada satu pun yang hadir di pagi ini selain dia.
"Sepertinya, kehadiran saya saat ini membuatmu menjadi terganggu. Baik lah, saya akan menunggu di masa kamu tidak sibuk dengan pekerjaanmu." Zahn mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Sepertinya, kamu tidak membutuhkan uang yang keluar dari dompet ini." Zahn mencoba berkelakar, tetapi raut Antonie sama sekali tidak berubah.
Zahn menarik satu lembar kartu pengenal dari kumpulan kartu yang ia miliki. Secara perlahan, Zahn menaruhnya di atas meja.
"Semoga kamu mau menghubungi saya kembali. Saya akan menunggu waktu itu hingga kapan pun."
Antonie melirik kartu yang diletakkan oleh Zahn, tetapi ia masih dalam diam berkepanjangan.
"Sepertinya kamu sangat mirip dengan kembaranmu."
Antonie menegakkan kepalanya, sebelah alis naik menatap pria itu dengan panjang.
"Kamu pasti terkejut mendengar memiliki saudara kembar kan? Jika kamu benar-benar ingin tahu dengan kisah yang seharusnya kamu tahu, Saya akan menunggumu." Zahn menggoyangkan ponselnya.
"Baik lah, sepertinya saya harus kembali. Semoga harimu menyenangkan." Zahn melangkah kan kakinya menuju ke pintu keluar dari ruangan ini.
Wajah memasang raut sendu dan tangan memegangi dada melirik Antoni sejenak. Lalu terdengar helaan napas yang panjang dan ia bergerak dengan langkah pasti meninggalkan ruangan itu.
Rizki melihat pria paruh baya tadi keluar dari dalam ruang kerja Antonie. "Bagaimana, Pak? Semua baik-baik saja kan?" Rizki mendekati pria itu.
Zahn menepuk lengan Rizki, tersenyum lirih dan menganggukkan kepala. "Apakah kamu adalah orang yang selalu menemaninya?"
"Iya, Pak. Selama beberapa bulan ini saya tinggal bersama Bang Antonie."
Pria paruh baya itu kembali mengulas senyum lirih di raut wajahnya. "Ceritanya sangat panjang. Saya tidak bisa menceritakan semuanya dalam waktu sekejap." Zahn kembali mengeluarkan dompetnya.
Ia mengeluarkan kartu dan sejumlah lembaran uang berwarna merah dari dompetnya. "Mungkin kamu tidak membutuhkannya, tetapi terima lah. Anggap saja sebagai bayaran atas jasamu yang telah menemani harinya."
Rizki menggelengkan kepala keberatan. Ia mendorong kembali uang tersebut. "Pak, selama saya hidup bersama Bang Antonie, saya tidak pernah mengalami sesuatu yang namanya kekurangan. Bapak ambil lagi saja."
Zahn tersenyum dan menggelengkan kepala. "Sepertinya dia memperlakukanmu dengan baik. Syukur lah!" Akan tetapi Zahn mendorong tangan Rizki kembali.
"Ambil lah, bisa kamu gunakan untuk apa pun. Di sana juha ada kartu nama saya. Apa pun yang terjadi dengannya, kamu bisa menghubungi saya lewat kontak yang tertera di sana."
Rizki masih belum bisa menerima. "Tapi, Pak? Saya kan nggak kenal Bapak. Lagian, nanti Bang Antonie bisa tahu. Dia bisa salah paham dan menyangka saya menerima pungutan liar."
Bahu Zahn bergerak beberapa kali, dia menaham tawa mendengar ucapan Rizki yang menurutnya sangat lucu. "Tinggal diam saja kan? Kamu tidak perlu mengatakan apa pun kepadanya."
"Tapi, Pak ... Meskipun dia tidak diberi tahu, dia tetap akan ta—"
"Saya adalah ayah kandungnya." Zahn menyela ucapan Rizki.
__ADS_1
Rizki membulatkan bibirnya dan mengaggukkan kepalanya. "Waaah, pantas saja wajah kalian sangat mirip."
Zahn kembali terkekeh menepuk bahu Rizki beberapa kali. "Jadi kamu simpan saja! Anggap sebagai uang jajan dari seorang ayah."
Rizki menggenggam uang itu menganggukkan kepala dan wajahnya terlihat begitu sumringah. "Terima kasih, Pak." Rizki langsung menyimpan uang tersebut masuk ke dalam kantung di celananya.
"Baik lah, saya tidak bisa berlama-lama. Ingat! Jika ada informasi apa pun yang terjadi dengannya, sampaikan kepada Saya. Saya akan sangat berterima kasih karena kamu bersedia menjadi jembatan penghubung antara saya dan Antonie, anak saya yang hilang semenjak ia lahir.
Rizki tersentak mendengar pintasan cerita singkat itu. "Jadi dia hilang, Pak? Bukan dibuang?" Rizki keceplosan karena Antonie selalu menceritakan bahwa ia hanya lah anak panti asuhan yang ditemukan pada pembuangan sampah umum.
"Makanya, ceritanya sangat panjang. Nanti, di saat dia mau membuka hati, ayo kita bertemu kembali! Saya akan mempertemukan kalian dengan kembaran Antonie bernama Andika."
Rizki membulatkan matanya benar-benar terkejut dengan informasi barusan. "Andika?" Rizki merasakan nama itu tidak asing lagi di telinganya. Namun, ia masih cukup lupa di mana nama itu ia dengar.
"Baik lah, Pak. Semoga hari Anda menyenangkan."
"Tidak ada yang lebih menyenangkan bila semua anggota keluarga berkumpul." Zahn melambaikan tangan dan pergi.
Rizki masuk ke dalam ruang kerja Antonie, menemukan pria itu meringis kesakitan di bagian dada.
...****************...
Yuhuuu, seperti biasa ... Hingga beberapa waktu kemudian, Author akan memperkenalkan karya fantasi milik teman Author di sini. kuuuyy, kepoin juga yah ....
Napen: ZidniNeve
Judul: My Love King Of Darkness
blurb:
Dari ketidak-sengajaan Silvana melepaskan rantai dan anak panah yang menancap pada sebuah patung tua. Hal itu justru mengubah seluruh kehidupannya. Bagai cerita dongeng zaman dahulu kini di rasakan oleh Silvana.
Kehidupan Silvana yang awalnya masih terbilang baik-baik saja kini berubah menakutkan karena banyak yang mengincar nyawanya.
Siapa pria itu?
Apa yang diinginkannya?
Kenapa banyak yang ingin membunuh Silvana?
__ADS_1
Baca langsung aja ya!!