
Antonie ambruk tak sadarkan diri dengan hidung terus mengalirkan da rah yang banyak. Sementara ibu tadi yang menyambut si bayi membersihkan bayi yang baru lahir tersebut lalu membungkusnya.
"Sepertinya kita harus ke bidan minta tolong untuk memotong tali pusar." ucap Ibu tersebut.
Dedi dan istrinya mengangguk dan merasa terharu melihat bayi mereka lahir dengan selamat. Dedi mengecup kening istrinya. "Terima kasih sudah bertahan, Sayang."
"Ini semua berkat dia yang sudah menyelamatkan bayi kita. Coba periksa dia dulu, kenapa dia pingsan begitu?" pinta sang istri.
Dedi beralih memeriksa keadaan Antonie. "Dia mimisan?"
"Sepertinya dia gak kuat melihat da rah." ucap sang Ibu hendak membawa bayi mereka keluar.
"Jangan, Bu. Jangan dibawa keluar. Biar aku yang carikan bidan." Setelah memperbaiki posisi Antonie tidur di atas tikar yang ada di lantai.
Dedi berlari mencari bidan yang sudah angkat tangan menghadapi kasus istrinya. Tak lama kemudian, Dedi datang membawa bidan tersebut.
Bidan itu tidak percaya saat Dedi mengatakan bahwa istrinya melahirkan di rumah. Ternyata setelah melihat semuanya, bidan tersebut tak bisa berkata apa-apa. Dia langsung memotong tali pusar lalu menyerahkan pada sang ayah. Melakukan sesuai dengan kepercayaannya kepada bayi baru lahir.
Setelah menyelesaikan kewajibannya kepada bayi kecil tersebut, baru lah dia mencoba membangunkan Antonie yang diketahui membantu persalinan istri Dedi.
Sang Bidan membersihkan bekas da rah yang mulai mengental. Setelah itu, dia membuka kaca mata Antonie yang terasa cukup mengganggu. Namun, nyatanya dia tak mampu untuk melepaskannya karena terasa begitu melekat.
"Aneh banget kaca mata ini, kenapa menempel kayak dikasih lem begini ya?"
"Biarkan aja, Bu. Bantu buat bangunkan saja. Kasihan sekali dia." ucap Dedi.
__ADS_1
Setelah itu, bidan tersebut menuangkan minyak angin pada sebuah kapas dan melakukan sedikit pemijitan ringan pada tangan antara jempol dan telunjuk Antonie.
Tak beberapa lama, Antonie membuka matanya langsung menekan hidung. Dia terlihat lega dan bangkit melihat semua orang tersenyum padanya.
"Bagaimana bayinya?" tanya Antonie dengan refleks.
"Dia baik-baik saja. Terima kasih sudah membantu kami, Antonie. Jika kami dipaksa ke rumah sakit, tidak mungkin prosesnya secepat ini." ucap Dedi menyelipkan sesuatu ke dalam tangan Antonie.
Saat menyadari yang diselipkan adalah uang, Antonie segera menolaknya dan bangkit. "Syukur lah jika semua baik-baik saja. Saya kembali dulu ke rumah singgah." ucap Antonie.
Dedi kembali memaksa menyerahkan uang tersebut. "Ambil lah! Kami akan sangat merasa berhutang jika kamu tidak mengambilnya!"
Antonie melihat bidan yang berada di sana terus memandang heran kepadanya. "Berikan saja kepada Mbak Bidan itu. Aku pulang dulu." Antonie sejenak mengintip bayi yang sudah dalam bedongan hangat.
Setelah itu Antonie menganggukan kepala pamit kepada semua orang yang ada di sana dan pergi. Selama perjalanan, Antonie merasakan tangannya terasa begitu lengket.
Sisa darah belum sempat dia cuci, dan sebuah sinar muncul pada telapak tangan dan mendapat empat keping emas murni, dengan berat masing-masingnya seratus gram.
"Terima kasih, System. Kenapa aku tidak langsung dipindahkan?" tanya Antonie.
"Terlalu ramai yang melihat Anda, Tuan. Jika dipindahkan saat itu juga, maka akan menimbulkan kehebohan pada warga sekitar."
Antonie mengangguk dan segera pulang dan menyimpan emas-emas yang baru saja dia dapatkan.
Di suatu tempat, System Pencuri Handal tengah memberi alert kepada seorang gadis yang mendapat kuasa.
__ADS_1
ding
ding
Seorang gadis menggeliat terbangun karena mendengar bunyi peringatan dari System yang dia punya.
"Ada apa?" tanyanya ketus.
[Anda baru saja kehilangan emas seberat seratus gram.]
"Hah? Kenapa bisa hilang? Gue gak ke mana-mana ini lho?"
[Emas tersebut kembali kepada pemiliknya.]
"Awas kau pria culun mesum! Gue akan mengambil benda itu kembali!"
...****************...
Haloo kakak readers semua.. Mampir juga yuk pada karya temen author.
Napen: Neng Syantik
Judul: Gairah Istri Simpanan
__ADS_1