Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 86


__ADS_3

Antonie menatap Liana dalam diamnya, ia seaka bisa membaca apa yang dilakukan oleh gadis ini kepadanya.


"Sudah lah! Jika kamu tidak memiliki pekerjaan, lebih baik pulang saja."


Liana mencabik, tetapi tidak dipedulikan oleh Antonie. Antonie menatap Sonya. "Jika kamu tidak berkepentingan, boleh kembali ke rumah dengan segera."


"Aaa—" ucapan Sonya terhenti. Antonie tak mempedulikan keberadaannya masuk ke dalam ruangannya kembali.


Sonya melirik Liana dengan tautan gigi mengeluarkan gemeletuk dan kedua alisnya terlihat mengerut. Liana mengangkat dagu melipat kedua tangan tak gentar sama sekali pada gertakan tanpa suara itu. Liana dengan sengaja melewati Sonya menyenggol bahu calon dokter itu dan pergi.


Sonya membelalakkan mata dan mulutnya menganga. Tak lama bibir itu. Berubah bentuk menyatu, dengan gemeletuk di dalam mulutnya. Dengan cepat ia memutar tubuh mengejar gadis yang sengaja mencari gara-gara dengannya.


"Sini kau bocah tengil! Aku akan mengajarkanmu bagaimana cara menghormati orang tua!" gerutunya.


[ Awas dari belakang! ]


Sistem pencuri memberi peringatan tanda bahaya tipe ringan kepada Liana. Sebuah tangan yang akan menangkapnya, lebih dahulu ditangkap oleh Liana yang ada di belakangnya. Tanpa ampun, Liana menarik tangan Sonya tersebut, lalu menarik tangan wanita yang lebih dewasa darinya menghempaskannya ke tanah.


"Aaaaghhh!" Sonya meringis mendapat serangan tiba-tiba. Sonya menggeliat duduk mengusap punggunya yang mendapat hempasan yang cukup keras.


"KAU!?" Sonya menggerutu dan marah.


"Apa?" tantang Liana sama sekali tidak merasa gentar. Ia beranjak pergi tanpa peduli keadaan Sonya dengan senyuk sinis.


"Aww, aaww, aaaww!" Sonya sengaja mengeraskan suaranya melirik ke arah dalam.


Akan tetapi, tak ada siapa pun yang keluar. Sonya merasa sangat kecewa dan mencoba bangkit menuju kendadaannya. Ia memukul-mukul setir mobil, kesal karena gagal mendapat perhatian pria yang akhir-akhir ini menguasai pikirannya.

__ADS_1


Sore harinya, sesaat akan kembali pulang, Antonie kedatangan pasien seorang wanita yang belum terlalu tua, menderita diabetes. Kulit wanita itu mengelupas dan mengeluarkan air dan nanah. Beberapa luka di telapak kaki kiri menganga dan basah, sehingga tak ada mengeluarkan bau amis. Pada kaki sebelah kanan, empat jemari selain jempol telah hilang hanya menyisakan bekas luka yang juga bernanah.


"Saya tidak memiliki anak, Dok. Sementara, suami saya pergi karena merasa tidak sanggup lagi merawat saya." Air matanya mulai menetes dengan wajah kuyunya.


"Hampir saja saya melakukan bunuuuh diriii karena merasa dunia ini telah hancur berkeping-keping. Namun, beruntung, seorang yang begitu saya kenal, beliau jauh lebih tua daripada saya, kini memiliki penampilan jauh lebih muda. Apa kamu ingat?"


Antonie mulai bingung, sudah terlalu banyak yang ia kembalikan menjadi muda. Bukan satu atau dua orang lagi, tetapi hampir semua lansia yang mengadu padanya, dan ia mampu mengatasi masalah pada mereka.


"Ibu jangan pernah berputus asa begitu. Setiap masalah pasti memiliki jalan keluar. Ibu tenang saja, setelah ini semua akan baik-baik saja." Antonie memulai ritualnya dalam penyembuhan.


"Sekarang, Ibu pejamkan mata hingga aku meminta untuk membukanya."


Wanita itu memejamkan mata, menyiratkan kerutan di sepanjang bagian wajah. Dia terlihat begitu lelah dengan kenyataan yang ada. Antonie merasa terenyuh melihat keadaannya.


[ Pasien ini adalah orang yang keseribu dalam penyembuhan tanpa reward.]


[ Karena, System sudah tidak lagi bekerja dalam membantu penyembuhan. ]


Antonie menyimak penjelasan System dengan seksama. Senyum tipis terhias di bibirnya teringat akan mendapatkan benda-benda itu kembali. Kali ini dia berjanji akan bekerja dengan semaksimal mungkin.


Dari balik kaca matanya itu, tampak organ hati dari pasiennya kali ini. Tangannya diarahkan pada perut yang wanita yang berkisar empat puluh tahunan itu. Antonie membuat organ hati wanita tersebut bekerja dengan maksimal dalam membersihkan gula darah.



Perlahan, gula dalam darah sang pasien berkurang dengan signifikan. Luka pada kulit ibu itu perlahan mulai mengering dan kulitnya meregenerasi dengan baik.


Jemari kaki yang tadinya sudah hilang, perlahan muncul dengan sempurna. Wajahnya yang berkerut kini kembali mengencang dan berbinar. Rambut yang tadinya memutih, bukan karena usia, tetapi beban pikiran dan hidup yang membuat ketakberdayaannya, kini kembali menghitam.

__ADS_1


Wajahnya terlihat menjadi cantik, mungkin seperti ini lah wanita lusuh dengan banyak luka tadi, pada masa mudanya. Ia sempurna laksana gadis belia awal dua puluh tahunan. Setelah merasa proses yang diberikan cukup untuk wanita ini, Amar menarik tangannya dari perut sang pasien.


"Sebelum Ibu membuka mata, apakah yang ibu rasakan?"


"Ah, sebelumnya aku merasakan gatal di seluruh tubuhku. Rasanya aku tak tahan untuk menggaruknya. Namun, harus aku tahan karena jika kuikuti keinginan menggaruknya, maka akan muncul luka yang baru. Namun, sekarang rasa gatal itu seolah mengilang. Aku tak perlu lagi tersiksa menahan jemariku untuk tidak menggaruk tubuh ini."


Pasien muda itu terdiam sejenak. "Entah kenapa aku merasa suaraku berubah juga?"


Antonie tersenyum puas, dengan hasil maksimal yang ia berikan kepada pasien gratisan yang terakhir ini. "Sekarang, Ibu bisa membuka mata."


Wanita yang tampak muda itu perlahan membuka mata. Dia duduk secara perlahan bertopang pada tangan. Keningnya mengerut, saat melihat tak ada bekas sedikit pun pada tangan yang biasanya dipenuhi luka bernanah.


"Ini?" Dia mulai membolak-balikkan tangan berpindah pada kakinya yang sempurna.


"Ah, apakah saya sedang bermimpi?" Ia meraba wajahnya yang mulus tanpa kerutan.


Kali ini matanya menatap cermin yang tepat berada di hadapannya. Wanita itu turun dan ia tercenung melihat pantulan bayangan akan dirinya.


Dengan refleks, ia mendekat dan langsung memeluk tubuh Antonie. "Ternyata, apa yang dikatakan oleh saudara saya itu benar adanya. Saya, kembali seperti dulu. Di mana jauh hari sebelum mengenal pria yang meninggalkan saya." Air matanya terjatuh dalam pelukan Antonie.


Sementara, Antonie kaku tiba-tiba mendapat pelukan dari wanita ini. Akhirnya, pelukan pun dilepas. Wanita itu menggenggam tangan Antonie dengan mata berbinar. "Terima kasih, Dok. Terima kasih."


Ia segera mencari sesuatu dari dalam tas nya. Antonie masih kaku dan membisu dengan posisi yang sama sebelum dipeluk. "Aku hanya memiliki ini, mungkin bagimu ini sangat tidak berarti. Namun, benda ini adalah satu-satunya harta yang saya miliki."


Pasiennya itu memberikan sebuah lionti kuno berwarna emas langsung ke tangan Antonie. Antonie masih kaku, dan liontin itu dikalungkan langsung pada lehernya.


"Ini adalah peninggalan nenek moyangku. Semoga bermanfaaf." ucapnya lagi.

__ADS_1


"Sekali lagi, terima kasih, Dokter tampan. Saya tidak akan melupakan semua jasamu." Wanita itu menyentuh pundak Antonie, dan pria itu tersentak dan sadar dari renungan panjangnya.


__ADS_2