Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 26


__ADS_3

Dengan perasaan ragu Dokter Bagas menjawab panggilan tersebut. "Ha-halo, Dok."


"Kenapa kau lepaskan anak itu? Kau sudah berjanji membawa pengganti. Tapi, mana buktinya?!" bentak seseorang di ujung panggilan.


"Ma-maafkan saya, Dok. Hanya saja semua ini di luar kendali saya."


"Di luar kendali? Kau tinggal cu lik saja anak itu! Lalu ibunya tibgga dibiarkan tak bernyawa lagi apa susahnya? Kamu harus segera mencari dia! Jika begini terus, lebih baik saya mencari orang lain yang lebih diandalkan! Setelah itu anakmu yang akan—"


Lagi ... dan lagi, Dokter Bagas menjadi tempat pelampiasan amarah sang pimpinan. Ponsel tersebut di turunkan meskipun seseorang di balik panggilan masih berkoar penuh amarah.


Wajah Dokter Bagas menjadi datar. Giginya bergemeletuk karena merasa kesal luar biasa melirik pada ponsel yang masih terdengar ada yang bicara.


Dokter Bagas melempar ponsel tersebut pada sofa yang ada di ruangannya. Lalu matanya nanar mengambang memikirkan sesuatu.


*


*


*


Sonya tersadar saat malam hari. Dia merasa heran mengapa bisa menginap di ruang rawat rumah sakit? Di sana, dia melihat Denish, pria yang didapatinya berselingkuh dengan teman baik, secara diam-diam. Denish sedang tertidur di sofa yang ada di kamar kelas VIP tersebut.


Perasaan kesal dan benci berubah menjadi satu. Pada nakas samping brangkar tempat dia tidur, ada sebuah keranjang buah dan pisaunya. Dengan amarah Sonya menggenggam gagang benda tajam itu bergerak turun ke bawah dan mendekati Denish secara perlahan.


'Beraninya sekali kau berpura-pura padaku selama ini haaa?'


Namun, Denish terlihat mulai menggeliat membuat Sonya terkesiap. Pisau di tangannya terjatuh, membuat Denish semakin terbangun.


Denish langsung duduk dengan segera. "Kamu mau makan buah?" tanya Denish memungut pisau itu.


Sonya menganggukan kepala duduk disamping Denish. "Kenapa aku bisa tidur di sini?"


"Tadi kamu pingsan di koridor. Makanya kamu dibawa ke sini." Denish mengambil buah tadi dan mengupasnya.

__ADS_1


Sonya bersidekap dada memperhatikan tingkah Denish yang membuat dia merasa sangat muak. "Denish, kita putus!"


Denish mengangkat kepa. "Kenapa tiba-tiba?"


*


*


*


Sementara di rumah singgah, Ima dan anaknya, Reina, sedang menyantap makanan yang dimasak Rizki dengan lahap. Dia baru saja bangun, dengan perut yang sangat lapar.


Sebelumnya dia merasakan begitu susah menelan makanan. Setiap menelan, dia pasti akan memuntahkannya kembali. Sehingga membuat dia malas melanjutkan makan.


Setelah selesai makan, Ima baru memperhatikan segala hal di sekelilingnya. Dia baru menyadari saat ini bukan berada di rumah sakit. Menu yang dia makan pun bukan menu taraf gizi yang ada di rumah sakit.


Setelah selesai memperhatikan segala, Ima beralih pada tiga orang asing yang duduk di hadapannya. "Kalian ini siapa? Kenapa aku bisa berada di sini?"


Sementara Antonie masih tenang memikirkan jawaban yang akan diberikannya. "Mba masih ingat Ibu yang tadi di rumah sakit?" tanyannya.


Mata Ima membulat dan kaget. "Ooh, Ibu Dokter yang tadi?" Ima berpikir sejenak dan meperhatikan Antonie. "Emangnya tadi ada kamu juga?"


"Enggak sih. Hanya saja tadi beliau cerita dan menitipkan Mba untuk tinggal sejenak di sini hingga kondisinya pulih." bohong Antonie.


Antonie beralih pada gadis kecil yang terlihat mulai ceria. Sebelum Ima bangun, mereka bertiga telah mengajak Reina bermain saat gadis kecil itu terbangun lebih dulu. Hingga berhasil membuat gadis kecil itu tak lagi merasa canggung.


"Reina udah kenyang belum?" tanya Antonie.


"Udah, Om. Masakan Om Iki enak bangeeet. Ga sama kayak makanan yang ada di tempat kemaren." ucapnya polos.


"Reina suka tinggal di sini?" tanya Rizki.


Reina melirik ibunya. "Reina suka karena ada Ibuk. Kalau gak ada Ibuk, Reina gak suka. Reina mau pulang ke rumah sama Ibuk aja."

__ADS_1


Semua tersenyum mendengar jawaban gadis kecil itu. Ima kembali merasa bingung, dia merasa tubuhnya sama sekali tidak lemas lagi.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku merasa berbeda dengan keadaanku yang tadi? Bahkan untuk bergerak saja, semua terasa sulit."


Antonie menggelengkan kepala. "Kami juga nggak tau Mbak. Tiba-tiba, seorang ibu-ibu menitipkan Mbak untuk dirawat di sini. Ya, berhubung masih ada kamar kosong, bagi kami tak masalah."


Rizki dan Fanya saling bertatapan mendengar pernyataan Antonie. Mereka saling membesarkan mata, bertanya di dalam hati, dan saling menggelengkan kepala.


"Bagaimana keadaannya, Mbak? Apa ada yang sakit?"


Ima meraba lehernya, dengan sedikit menelengkan kepala. "Aku tak pernah merasa sebaik ini sebelumnya setelah aku dinyatakan kanker esofagus. Apa yang terjadi denganku? Apakah aku sudah sembuh?"


"Saya rasa, Mba sehat-sehat saja kok." Antonie masih menanggapi dengan tenang.


Lalu Ima berdiri dan dia kembali memasang wajah heran. "Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sudah lama rasanya tidak bisa berdiri sendiri seperti ini karena aku tidak kuat menopang beban tubuhku sendiri."


Reina ikut bangkit lalu memeluk ibunya. "Horee, Ibuk udah sembuh." ucapnya dalam pelukan sang ibu.


"Iya, Nak. Ibuk udah sembuh. Ini sungguh sebuah keajaiban yang luar biasa, Nak. Tiba-tiba, Tuhan memberikan kesembuhan ini kepada Ibu. Apa Dia mendengar doa Ibuk untuk bisa menemanimu hingga kamu dewasa, menikah, dan ibu memiliki cucu." Ima memeluk anaknya dengan wajah haru.


Rizki ikut terharu, teringat pada orang tuanya yang ada di kampung. "Gue jadi kangen sama, Mak." celetuknya melirik Fanya.


Hal berbeda pada Fanya, wajahnya terlihat merah memendam amarah. "Aku ingin melihat wanita itu hancur!"


*


*


*


Keesokan harinya, Antonie pergi ke toko langganannya hendak menjual emas yang baru saja didapat. Akan tetapi entah kenapa tiba-tiba dia kehilangan logam mulia itu.


Dia memeriksa tas kecil tempat benda berharga itu disimpan, tak ada tanda-tanda bolong maupun dicuri. "System, apa yang terjadi? Kemana emas yang baru saja kamu berikan kemarin?"

__ADS_1


__ADS_2