
"Mama?" Antonie sedikit tersentak salah tingkah.
Berta masuk ke dalam kamarnya, membuat Antonie refleks menutup lemarinya. Berta mengecek jendela, beliau melongo mendapati bahwa kenyataannya jendela ini ditutupi oleh terali. "Lalu kemarin itu kamu dan kakak Leon bernama Liana keluar masuk kamar ini lewat mana?"
"Dari pintu dong, lalu dari mana lagi?" Antonie tersenyum kikuk.
Berta terlihat berpikir sejenak. "Mama ini memang sudah tua, tapi Mama ini belum pikun. Mama merasa sangat yakin bahwa kamu tidak menuju luar sama sekali." Berta terus menodong Antonie dengan rasa pertanyaannya.
Antonie mengambil handuknya. "Ahh, aku mandi dulu." Antonie bergerak dengan langkah robot, melirik sejenak ke Berta lalu beranjak menuju kamar mandi yang ada di bagian dekat dapur.
Berta sedikit menelengkan kepala, dia masih merasa bingung dan heran, tetapi akhirnya memilih untuk beranjak keluar kamar sang Tuan Rumah.
Di tempat lain, seorang gadis muda merasa cukup puas dengan hasil yang dia bawa. Dia mendapat satu tas penuh emas yang diam-diam dicuri dari lemari Antonie. "Anggap saja kita impas. Gue udah kehilangan sembilan milyar gara-gara dia." Gadis itu segera menemui penadah yang menerima barang curian darinya.
Sang penadah tersebut sangat terkejut melihat kualitas emas yang didapatkan Liana kali ini memiliki standar kemurnian yang sangat tinggi.
"Harga biasa ya?" tawarnya.
"Enak aja! Gini-gini gue juga tahu mana barang bagus dan mana yang biasa!" tolak Liana.
"Hmmm ... Kalau gitu gue gak bisa ambil semua. Untuk sementara hanya bisa mengambil setengahnya aja." ucap penadah mulai menghitung.
"Ambil aja semua! Gue males bawa-bawa ini. Gue mau balik kampung, rempong banget nggak sih, bawa ini ke mana-mana?" Liana memanyunkan bibirnya.
Sang penadah melirik gadis itu di ujung kaca matanya. Sebenarnya dia pemilik toko emas dan perhiasan. Hanya saja, jika dia memungut dari Liana, dia mendapat modal jauh di bawah harga pasaran.
"Kalau harga biasa gue borong semua!"
Liana akhirnya memilih pasrah. "Ambil lah! Tapi kasih lebih di totalannya! Gue mau buru-buru balik kampung, ucap Liana."
"Adik lu gi mana? Masa ditinggal?" Mulai menghitung lembaran uang yang akan diberikan pada Liana.
"Adik gue dah bangun tadi malam."
Penadah sedikit tersentak lalu menganggukan kepala. Lalu pada layar televisi toko perhiasan milik sang penadah menayangkan berita kehilangan berlian langka dengan harga sembilan miliar.
__ADS_1
"Gue kira lu yang akan ambilnya. Ternyata enggak? Padahal kalau lu bisa dapatkan itu, gue berani bayar harga tinggi." gumamnya.
Sang penadah masih menghitung uang yang cukup banyak. Mata Liana terbelalak melihat tumpukannya melebihi biasa. Dia melihat tas yang tidak terlalu besar, merasa tidak cukup untuk menampuang semua.
"Om, via transfer aja!"
"Gak mau! Nanti jejak gue terekam jadi penadah barang curian." tolaknya.
"Laah? Kan emaang bener?" kelakarnya.
"Tapi tetep harus bermain cantik. Tidak boleh meninggalkan jejak. Nah, barang-barang lu ini mau gue lebur lagi sebelum dijual, jadi gak akan ada yang tahu gue ini seorang penadah." Masih belum menyelesaikan penghitungan. Liana hanya bisa mengernyitkan bibirnya kesal.
Setelah selesai dia sendiri menghitung jumlah uang yang dia dapat. Matanya terbelalak. "Bisa beli sawah yang banyak di kampung nanti." ucapnya menyatukan semuanya.
"Sawah? Kolot banget lu! Zaman now mainnya saham!" imbuh Kang Tadah.
"Mana laku saham di kampung? Bagai daun kering yang nggak ada guna di sana."
"Ngapain lu balik kampung? Di sini aja lu udah kayaa!" seloroh Kang Tadah.
"Mencuri itu suatu penyakit. Gue gak yakin lu bisa merubah sikap begitu aja." selorohnya dengan muka jenaka.
Liana bangkit. "Dah gue cabut dulu. Thanks ya." ucapnya berlalu dan bergerak cepat menuju bank menyimpan semua yang didapatnya ke dalam rekening tabungan.
Sepanjang perjalanan Liana melihat banyak sekali polisi yang mondar mandir di jalanan. Liana tersenyum tipis menduga apa yang sedang terjadi. "Mereka pasti nyari gue. Eh, berliannya udah ditemukan apa belum ya?"
[ Sepertinya belum, Nona. ]
"Bagaimana keadaan di sana?"
[ Pada lokasi hilangnya berlian, keadaan sepi, Nona. Mereka tidak tahu bahwa berlian tersebut tercecer sekitar sana. ]
"Ya udah, kita ambil lagi. Mayan buat koleksi kalau duit hasil penjualan emas milik si cupu itu habis, gue bisa jual itu. Mayan banget tuh, sembilan miliar."
*
__ADS_1
*
*
Di rumah sakit, tangan seorang pria paruh baya tengah bergetar. "Kenapa semua orang yang bekerja denganku tak ada yang becus?" Dia murka, karena kehilangan anak kecil yang akan menjadi uang untuknya.
"Kami tidak melihat siapa pun yang datang, Boss. Kami juga tidak tahu bagaimana cara orang tersebut keluar membawa anak itu. CCTV di ruangan penting, rusak semuanya."
Dokter Hardan menggenggam tangannya erat penuh amarah. Lalu, pintu terlihat dibuka dari arah luar tanpa diketuk terlebih dahulu.
"Siapa yang tak so—?" Dokter Hardan tercenung, melihat seseorang yang meneleponnya kemarin mengatakan akan pulang, sekarang sudah hadir di sini.
Dokter Hardan langsung bangkit mendekat dan raut wajahnya yang dingin tadi berubah ramah. Dia melirik sejenak sang putra sulung tampak sedikit berbeda. Namun, dengan hangat Dokter Hardan memeluk anaknya Sony yang baru saja sampai dari perjalanan jauh.
"Waah, syukur lah kamu sudah kembali. Sekarang Papa tidak akan khawatir lagi dengan keadaan rumah sakit ini. Kamu sudah hadir untuk membantu Papa dalam mengurus masalah rumah sakit ini bukan?"
Sony dengan wajah datar dan dingin tidak memberi jawaban apa-apa. Matanya liar melihat segala sisi dan tampak satu orang sedang tertunduk karena sesuatu.
"Apa yang terjadi?"
Dokter Hardan melepaskan pelukannya. "Hanya masalah kecil." Lalu mengajak Sony yang masih menarik koper duduk di sofa empuk yang ada di dalam ruangannya.
Dokter Hardan memberi kode pada orang kepercayaannya itu untuk keluar dari ruangan ini. Setelah menganggukan kepala, pria itu keluar dari ruangan dan Sony terus menatap pria itu hingga menutup pintu kembali.
"Nama dia John, dan Papa baru saja memarahinya karena membiarkan satu pasien anak kecil hilang begitu saja dari rumah sakit ini." Sony menutup matanya sejenak.
"Papa pasti heran, kenapa pasien Papa tersebut bisa hilang begitu saja?" Sony menyeringai dingin.
Dokter Hardan menelengkan kepala dengan dahi sedikit mengerut. Dia tidak menceritakan masalah apa pun tentang perbuatan dan apa pun yang dilakukannya kepada keluarga. Namun, kenapa Sony bisa mengetahui.
"Bagaimana ruang bawah tanah? Sudah direnovasi?" tanya nya lagi.
"Sony, kamu ini bicara tentang apa?" tanya Dokter Hardan.
Sony menyurai senyum dingin, menyandarkan diri pada pucuk sandaran sofa empuk itu. 'Ada pengguna God System di sini,' ucapnya dalan hati.
__ADS_1
[ Kita lihat, siapa yang lebih tangguh? Dia atau Anda, Tuan? ]