Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 38


__ADS_3

"Beres, Boss ... tak akan ada yang tahu keberadaan jasad Dokter Bagas. Dia sudah ditempatkan di lokasi yang tak akan bisa digali oleh manusia." ucap orang tersebut lalu bergabung membersihkan segala kehancuran di dalam ruang bawah tanah itu.


Dokter Hardan diam tak bergeming lalu pergi. Antonie teringat seseorang yang bernama Dokter Bagas, adalah orang tua salah satu yang membuang tubuhnya di pembuangan sampah akhir. Orang yang memimpin di setiap kegiatan ilegal di ruang bawah tanah ini.


Antonie melintasi dinding mencoba melihat sesuatu yang ada di balik pintu itu. Ternyata, tampak sebuah ruang yang cukup luas berdindingkan tanah. Dia melangkah pelan dan matanya liar mencari sesuatu.


Pada salah satu bagian dinding tanah, tampak bekas semen yang masih basah. Antonie menembus dinding tersebut melihat apa yang ada di dalam sana. Ada sebuah tubuh yang sudah tak bernyawa berdiri terikat oleh tali.


"Apa kamu bisa membantuku mencari alamat orang ini? Keluarganya pasti merasa sangat khawatir."


"Apa Anda masih memedulikan orang seperti dia, Tuan? Bukan kah dia sudah banyak menghilangkan banyak nyawa manusia?" tanya System sembari mencarikan informasi tentang Dokter Bagas.


Antonie hanya bisa tersenyum tipis. "Bahkan pada orang yang membuatku kehilangan nyawa, aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Apa kamu lupa, dewa menitipkanmu kepadaku menjadi seorang penyembuh setelah kejadian itu?"


"Benar sekali, Tuan. Saya merasa beruntung berada di tangan Anda."


Alamat Dokter Bagas telah ditemukan. Antonie pun mengecek bagian tubuh dokter bagas yang sudah kehilangan organ penting. Antonie memejamkan mata dan tak lama benda kehidupan itu sudah berada di tangannya.


"Kembali lah. Semoga Tuhan memaafkan segala dosamu!" Organ tubuh Dokter Bagas masuk kembali ke dalam tubuhnya.


Antonie mengirimkan tubuh Dokter Bagas langsung ke rumahnya, dan meletakannya pada ranjang di sebuah kamar. Terdengar sebuah pintu yang dibuka dari luar, Antonie kembali menggunakan mode tak terlihat.


Ternyata yang masuk ke dalam kamar tersebut adalah Denish. Denish sangat terkejut melihat sang ayah telah berada di dalam kamarnya.


"Papa? Kapan Papa pulang?" Denish duduk di bagian lain ranjang yang luas itu.


"Aah, Papa membuatku dan Mama khawatir saja. Ternyata diam-diam sudah tiduran di kamarku."


Kening Denish bergerak, tak ada tanda sang ayah menjawab ucapannya. "Pa?" Denish pun mendekat, dan dia meihat ada lobang di bagian kepala sang ayah. Tangannya yang akan mengecek luka itu, bergetar.


Denish pun memeriksa bagian lain pada tubuh ayahnya. Ternyata, suhu tunuh ayahnya telah sangat dingin, Denish terhening sejenak. Air matanya pria muda itu jatuh begitu saja, dia menggelengkan kepala tidak mau percaya dengan simpulan yang ada di dalam benaknya.

__ADS_1


"Tidak mungkin! Tidak mungkin!"


Denish memeriksa bagian tubuh sang ayah. Ada rasa khawatir yang bergelayut di dalam benaknya. Akan tetapi, tak ada tanda-tanda sisa pembongkaran pada tubuh ayahnya. Dengan cepat dia turun dari ranjang dan mencari sang ibu.


'Setidaknya, sekarang dia tahu bagaimana rasanya ketakutan dan bagaimana rasa kehilangan. Dia lebih beruntung, cepat diketahui.' Antonie pun kembali ke rumah sakit, mencari informasi yang lain.


*


*


*


Di suatu tempat, terlihat seorang mengusap pergelangan tangan dan kakinya. Wajahya terlihat memendam amarah. "Gue akan mencari dan membalasnya."


Gadis itu berjalan cepat kembali ke tempatnya bernaung. Dia menempati sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Meski tidak terlalu besar, di dalamnya terdapat alat-alat yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.


Setelah itu Liana membersihkan diri dari debu-debu yang menempel. Selama enam jam, dia terikat di sebuah tempat yang menurutnya sangat tidak nyaman. Semua orang yang melihat dia terikat pun mencoba melakukan segala hal untuk memutuskan tali bewarna emas yang mengikat kaki dan tangannya menjadi satu. Namun, benda itu tak kunjung putus juga.


Karena putus asa tak berhasil melepaskan gadis cantik itu, warga yang prihatin mencoba untuk memindahkan Liana dari posisi itu. Akan tetapi, tak ada juga yang berhasil memindahkan merasa bobot Liana begitu berat. Jadi lah dia menjadi tontonan semua orang hingga membuat Liana membuang rasa malu sejauh mungkin.


"System, apa kau tahu nama dia siapa?"


[ Pria yang menggunakan God System itu, Nona? ]


"Ya, siapa lagi?"


[ Mohon tunggu sejenak! ]


Liana menunggu dan terus menunggu, tetapi pencarian System Pencuri tak kunjung usai juga. "Dah ketemu? Ini sudah lebih dari lima belas menit gue nunggu!"


[ System tidak berhasil menemukan data orang yang dimaksud, Nona. Tak ada wajah seperti itu di catatan data penduduk di wilayah ini. ]

__ADS_1


"Gimana sih? Masa seorang cupu ngeselin itu aja gak berhasil ditemukan?" rutuknya.


"Baik lah, bagaimana jika kita lakukan pencarian berdasarkan posisi emas seperti sebelumnya? Sepertinya dia menjadi kaya karena God System yang dimilikinya."


[ Baik lah, Nona. Mohon tunggu sejenak! ]


Liana menopang dagunya menunggu hasil pencarian. "Udah belum? Lama amat?"


[ System tidak menemukan manusia membawa emas satuan seperti waktu itu, Nona. ]


"Ck ... Dasar System guooblok!" umpaatnya.


Liana bergerak keluar rumah dengan membawa beberapa benda yang berhasil dicurinya di toko perhiasan. Hari ini dia akan menjual emas yang dia dapat. Liana akan ke rumah sakit untuk melakukan pembayaran pengobatan pada adik lelakinya yang koma semenjak satu tahun lalu.


Hingga hari ini, Leon, satu-satunya yang tersisa dalam keluarga tak kunjung bangun juga. Karena itu lah dia pontang-panting mencuri demi membiayai Leon bertopang pada alat di ruang ICU setelah kecelakaan bersama kedua orang tuanya.


Setelah menjual emas curian pada penadah langganannya, Liana langsung bergerak menuju Rumah Sakit Harapan Kita. Liana lagsung menuju administrasi dan membayar biaya yang tidak sedikit itu.


Biaya perawatan Leon di ruang ICU, sebanyak lima belas juta per hari. Dia harus menyetor uang tersebut minimal sekali seminggu. Semenjak satu tahun lalu, Liana berhenti kuliah demi mengumpulkan uang untuk perawatan Leon.


Usai pembayaran, Liana menuju ruang ICU. Dia duduk di bangku sebelah brangkar menggenggam jemari adiknya yang baru berumur sepuluh tahun.


"Leon, kamu harus bangun! Jangan biarkan usaha kakak selama ini sia-sia!" Sejenak Liana membelai rambut Leon yang sudah mulai memanjang.


Liana mengeluarkan gunting dan alat cukur rambut sederhana. Mencukur rambut Leon adalah rutinitas Liana setiap sekali dua bulan.


"Kakak tidak tahu sampai kapan harus mencuri seperti ini. Namun, jika kamu sembuh, ayo ... Kita pulang ke kampung halaman Ibu kita. Kakak rela mengolah sawah di sana, demi menyekolahkanmu. Ayo! Bangun lah!"


Beberapa saat gadis itu terdengar hening. Lalu membelai kepala Leon yang sudah botak usai dicukur habis oleh Liana. Liana memasukan rambut-rambut Leon ke dalam kantong dan membuangnya ke dalam tong sampah yang ada. Setelah itu dia keluar.


Liana merasakan ada pergerakan cepat yang muncul dari suatu tempat di rumah sakit ini. Liana mengikuti dengan kecepatan yang sama. Orang yang diikuti menyadari kehadirannya pun menghentikan larinya.

__ADS_1


"Kau?"


"Wah ... Wah ... Wahhh ... benar sekali seperti kata orang-orang di luar sana. Dunia ini hanya selebar daun kelor."


__ADS_2