Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 91


__ADS_3

Halusinasi yang dibuat Antonie perlahan mulai retak, semakin lama retakannya menjadi semakin banyak dan ... Praaaaaang ... Semua pecah menyisakan suasana ruangan yang tadi didatangi oleh Antonie saat menarik Sonya.


Liana mendengar suara pecahan kaca dari arah dalam restauran. Lalu ia berlari menuju arah tempat Antonie menarik wanita tadi. Saat berjalan melewati pintu, Antonie gegas melewati dia. Lalu menghentikan langkah tanpa menoleh sedikit pun.


"Kenapa memata-mataaiku?"


Liana terperenjat menutup mulut tanpa menjawab pertanyaan Antonie. Antonie pergi meninggalkan lokasi begitu saja. Liana memandangi punggung pria itu yang terus menghilang.


Tiga orang lainnya, Denish, Dara, dan Cika akhirnya menghela napas panjang. Mereka bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Memikirkan bagaimana cara menyampaikan semuanya agar masalah ini benar-benar jelas.


"Kamu pernah mendengar kabar tentang penemuan mayat di sana nggak sih? Seharusnya heboh dan masuk berita, minimal berita online." tanya Dara.


Cika membulatkan bibirnya dan menganggukkan kepala. "Benar juga sih. Aku rasa tidak ada sama sekali berita tentang mayat pria yang ditemukan pada pembuangan sampah itu."


Denish kembali berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita mencari tahu pada lokasi tersebut esok? Berhubung esok adalah hari minggu, ayo kita cari informasi."


Dara dan Cika saling berpandangan. Setelah itu mereka mengangguk dengan serempak.


Liana hendak meninggalkan resatauran tersebut, tetapi seorang berpakaian seragam menarik pakaian Liana dari belakang. "Mau ke mana Mba? Pesanan yang di sana udah dibayar apa belum?" sang pramu saji menunjuk meja yang dipenuhi pesanan Liana.


"Oh, eh, maaf Mas. Hampir saja lupa." Liana tersenyum kikuk dan segera menuju kasir.


Setelah urusan pembayaran usai, Liana mempercepat laju langkah memperkirakan posisi Antonie saat ini. Liana akan menggunakan mode lari secepat kilat, tetapi sistem pemandu miliknya menahan langkah Liana.


[ Kenapa kamu pergi? Di atas meja ada tas milik wanita tadi sedang menganggur. Cepat ambil! ]


"Aaah, kamu ini memang tidak pernah melewatkan kesempatan sedikit pun, ya?" Liana bersungut pura-pura lewat pada meja tempat tiga orang tersebut masih duduk menikmati sajian meski Sonya belum juga kembali.


Liana menggunakan kemampuan kecepatan kilatnya dan membawa pergi tas milik Sonya tanpa ada yang menyadarinya.


"Anak itu di mana sih? Kok lama amat? Itu si cowok kaca mata udah cabut sejak tadi, dia belum juga muncul." tanya Dara.


"Padahal tas nya masih ...." ucapan Dara terhenti dan mengerutkan kening.


"Lhoh? Mana tas anak itu? Bukannya tadi ada di sini?" Dara membolak-balikkan benda lain yang berada di atas meja.


"Kayaknya memang ada si sini sih? Kenapa hilang ya?" Cika menimpali menggaruk dagu dalam kebingungan.


"Hmmmff, ini pasti ada yang nyuri." tambah Cika.


"Tapi nggak ada yang lewat di sini lho? Kamu lihat sendiri nggak ada orang lain selain kita kan?" terang Dara.


"I-iya sih. Tadinya ada satu di sana." Cika menunjuk lokasi Liana duduk.


"Tapi, orangnya udah pergi. Lalu siapa lagi dong yang lakuin?"


Denish tidak mengubris obrolan dua gadis itu. Dia hanya terpaku pada pintu di mana Antonie menarik Sonya tadi. Denish mengecek jam tangannya.

__ADS_1


"Ini sudah cukup lama setelah kepergian Antonie. Aku akan mengecek ke sana dulu." Denish bangkit dan bergerak menuju ruangan di balik pintu tersebut.


"Tadi, mereka ke mana?" Denish terus menelusuri bagian reastaurant itu hingga hanya menemukan meja dan kursi yang kosong. Tidak satu pun seseorang berada di sana.


Akhirnya, Denish memilih bertanya kepada pramusaji di restaurant tersebut. Jawaban dari sang pramusaji membuat Denish tercengang.


"Masa sih? Bukannya tadi ada teman kami di dalam sana? Dia belum keluar lho?"


"Bener, Mas. Tidak ada lagi yang ada di sini. Mas bisa cek sendiri kalau begitu."


Denish kembali memeriksa setiap sudut restaurant tersebut. Memang benar adanya tidak satu pun ditemukan di sana termasuk Sonya. Denish kembali ke meja yang diisi oleh Dara dan Cika.


"Kenapa, Beb?" tanya Dara melihat wajah Denish yang terlihat sedikiy tegang.


"Sonya nggak ada di dalam."


Dara dan Cika saling berpandangan. "Masa sih? Bukannya cuma si pria kaca mata itu yang baru keluar?" tanya Cika.


Denish menggelengkan kepalanya bingung.


Setengah jam kemudian, Denish, Dara dan Cika telah berada di halaman rumah Sonya. Mereka datang untuk sekedar mengecek keberadaan Sonya yang tiba-tiba menghilang. Mereka merasa sedikit berat memasuki rumah yang besar itu.


"Selamat siang, Tante. Sonya nya ada?" tanya Denish berusaha memasang wajah ramah meski ia merasa enggan.


Namun, demi jawaban yang pasti, mereka terpaksa menginjakkan kaki ke rumah ini. Akan tetapi, hal yang mereka khawatirkan pun terjadi. Yakni, tatapan tak bersahabat milik ibu tiri Sonya.


Denish merasa canggung dan kikuk. "Soalnya dia tiba-tiba saja menghilang."


"Dia sudah berada di rumah. Kalian sudah boleh pergi."


"Tapi, Tante ...." Denish menatap punggung milik ibu tiri Sonya yang semakin menjauh.


Denish menggaruk tengkuknya mendapat perilaku seperti biasa bila mampir ke rumah ini. Dia berjalan kikuk ke arah Dara dan Cika yang menunggu dengan harap-harap cemas.


"Bagaimana ... Bagaimana?" tanya Cika penasaran.


"Kata Tante, dia udah di rumah sedang tidur," ucap Denish.


"Oh syukur lah," ucap Dara terlihat lega.


Sementara Cika memasang wajah kebingungan. "Kok bisa? Kapan pulangnya?"


*


*


*

__ADS_1


[ Bagaimana perasaan Anda, Tuan? ]


Antonie masih terlihat kesal menyandarkan dirinya pada ranjang di dalam kamarnya. "Aku masih belum bisa membuang rasa benci di hatiku. Aku bukan orang sebaik itu."


[ System memahami bagaimana perasaan Anda. Akan tetapi, Anda harus bisa mengendalikan diri. ]


[ Jangan sampai kebencian menguasai diri, karena akan berakhir fatal. ]


Antonie merebahkan dirinya masuk ke dalam selimut. Iya mencoba memejamkan mata mengistirahatkan diri dari segala yang telah berlalu.


Sementara itu, di tempat lain terdengar sebuah jeritan dengan nada tinggi. "JANGAN MENDEKAT! KAU SUDAH MATI! PERGIIIII!" Mata Sonya masih terpejam, keringat dingin membasahi dahi meski kamarnya AC menyala dengan sejuknya.


Pintu kamar gadis itu dibuka oleh seseorang yang sedang membawa ember berisi air. Tanpa pikir panjang, wanita paruh baya yang membawa ember tersebut melemparkan isi yang ada di dalam ember kepada gadis yang terus meracau dalam tidurnya.


Sonya langsung gelagapan dan duduk mengusap tubuh dan selimutnya yang basah karena serangan air yang tiba-tiba.


"Anak sialan! Masih berani mengganggu orang tidur? Sudah tak membantu sama sekali saat prosesi berkabung, kali ini kau hanya akan menyusahkan aku?"


"Mo-Mommy?" Sonya mengusapkan semua air yang masih membasahi wajahnya. Dia turun dari tempat tidur dan menggigil kedinginan karena temperatur kamar itu yang cukup sejuk.


"Sekarang kau keluar dari kamar ini! Aku sudah tidak sudi menganggapmu sebagai anakku! Aku sudah muak!" teriakan sang ibu tiri membelah sunyinya malam.


"Lalu, aku harus tidur di mana Mom?"


...****************...


Kuy, mampir yuk ...


Napen: EL


Juduk Karya: MAHLIGAI CINTA Sang Dewi Rembulan



Blurb:


Musim paceklik sedang melanda negeri, rakyat sedang menderita akibat dari kekeringan sumber mata air mulai mengering, sedangkan hujan tak turun-turun, tiap malam Kaisar Chimera memandang langit berharap hujan deras mengguyur negerinya. Kesekian kali purnama ia juga memandang langit malam nampak rembulan bersinar terang,


“Huh,... Kau malah selalu tersenyum rembulan, kenapa kau tidak berubah menjadi awan hitam saja?” Gerutu Kaisar Chimera geram.


Tanpa Kaisar Chimera ketahui, rembulan yang ia pandangi setiap malam itu, juga sebenarnya seseorang wanita yang suka menatapnya dari kejauhan langit. Wanita itu adalah Dewi Rembulan, ia terpesona pada sosok seorang pemuda yang selalu memandang kearahnya.


“Siapakah pemuda itu? Dia sangat tampan dan berwibawa,” gumam Dewi Rembulan tersenyum.


Namun syarat Dewi jika ingin berubah jadi manusia agar bisa berjumpa dengan pemuda idamannya, haruslah menunggu selama 5000 tahun agar kesempurnaannya menjadi seorang manusia perempuan dapat terlaksana, sedangkan itu sosok Kaisar Chimera berenkarnasi dari generasi ke generasi.


Dapat kah Dewi Rembulan menemukan cinta sejatinya ? Mampukah ia memikat hati seorang Kaisar Chimera?

__ADS_1


__ADS_2