Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 35


__ADS_3

"Maaaamaaa ..." Anak itu berlari kecil memeluk sang ibu.


Wanita yang mencarinya sedari tadi memeluk anaknya yang dipanggil Dede dengan tangisan. "Kemana saja kamu, De? Kenapa menghilang begitu saja? Mama sangat khawatir."


"Tadi Dede dibawa sama Om yang ..." Ana kecil itu ingin menunjuk seseorang yang tadi mengantarnya menemui sang ibu, tetapi ternyata orang yang dimaksud sudah tidak ada.


Sementara, orang yang dimaksud saat ini berada di halaman rumah sakit menjadi Antonie sang pemulung. Dengan pakaian lusuh dan kotor, Antonie berpura-pura mencari-cari sesuatu di dalam bak sampah di area rumah sakit.


Dengan bermodalkan karung lusuh, Antonie membongkar-bongkar tong sampah tersebut. Padahal, semenjak hidup kembali setelah kematiannya, Antonie tak pernah lagi mengais sampah.


Dia sudah tidak kuat lagi menahan aroma sampah yang dulu setiap hari menjadi bagian hidupnya. Namun, bagaimana lagi. Kali ini dia ingin tahu reaksi pihak rumah sakit ini, jika mengetahui ada seorang gembel yang masuk ke dalam kali yang penuh lintah ini.


Antonie berpindah dari satu tempat ke tempat lain membongkar-bongkar bak sampah yang ada di sana. Ternyata, Sonya yang berada di balkon lantai dua memperhatikan dirinya.


"Kenapa ada gembel masuk ke rumah sakit ini? Aah, orang-orang boodoh itu memang boodooh!!!" rutuknya gusar turun mencari para satpam.


Lalu dia meihat beberapa security tengah duduk dengan santainya di dalam sambil nonton TV. Hal ini tentu saja membuat Sonya semakin naik darah. Melihat Sonya muncul dengan muka masam, para security berdiri salah tingkah dengan wajah tertunduk.


"Heh, manusia tak berguna. Jadi ini aja pekerjaan kalian kalau tidak diawasi?" Sonya berkacak pinggang dengan muka sangar. Para security masih menunduk belum berani mengangkat wajah.


"Jadi, gak heran kalau ada gembel yang bisa masuk ke area rumah sakit. Semua petugasnya molor seperti ini!" hardiknya dengan sangat garang.


Denish mendengar teriakan garang Sonya. Dengan wajah dinginnya, Denish melakukan senam wajah, lalu berusaha untuk tersenyum. "Ada apa ini? Kenapa kamu marah-marah?"


Sonya mendelik saat melihat Denish tiba-tiba muncul, tetapi dia memilih untuk tidak peduli. "Cepat urus gembel itu!" perintahnya kepada orang-orang yang sudah ketakutan.


"Ba-baik Nona." Para security tersebut berlari tunggang langgang menuju area luar gedung.


Setelah itu, Sonya bergerak beranjak ingin melanjutkan pekerjaan tanpa memedulikan Denish. Denish hanya menyunggingkan senyum sinis atas reaksi yang diberikan oleh Sonya dan dia pun melanjutkan pekerjaannya.


Para security tersebut segera mencari-cari orang yang dimaksud oleh putri dari orang yang mempekerjakan mereka. Namun, tak ada yang menemukan gembel yang dimaksud.


"Berpencar! Kita harus segera menemukan orang yang dikatakan Nona Sonya!" titah seseorang yang terlihat seperti pimpinan di antara mereka.


Lalu para security membagi wilayah pencarian di area rumah sakit yang luas tersebut. Saat pencarian, sebuah mobil van dengan beberapa orang sedang meringis kesakitan, memasuki pelataran parkir di rumah sakit.

__ADS_1


Sementara, salah satu tim pencarian dari gembel tersebut akhirnya menemukan seseorang yang dimaksud oleh Sonya. Lalu melaporkan kepada semua anggota yang mencari lewat jaringan HT.


"Heh, kamu! Kenapa mulung di sini?"


Dengan cuek, Antonie terus mengeruk tong sampah tersebut. "Sayang banget ini, Pak. Ini banyak banget yang bisa dimanfaatkan kembali." Memasukan beberapa benda ke dalam karungnya.


"Sebelum saya berbuat kasar, lebih baik kamu pindah lokasi mulung di tempat lain!" ucap security dengan tegas.


"Tapi, Pak—"


"Tak ada tapi-tapi!" sela security tersebut.


"Saya butuh uang, Pak. Anak saya sedang sakit keras di kampung dan membutuhkan banyak uang. Makanya saya terpaksa masuk ke area ini."


"Saya tidak mau tahu!"


Para security lainnya telah datang berbondong-bondong langsung menarik karung Antonie dan melemparkannya kembali pada bak sampah yang ada.


"Sebelum kami berbuat kasar, silakan tinggalkan tempat ini!"


"Pergi lah! Jangan membawa apa-apa dari tempat ini!"


Antonie tidak mengubris dan menarik kembali karungnya. Melihat Antonie begitu keras kepala, membuat salah satu security geram dan maju mendorong Antonie hingga jatuh.


"Jadi ini yang namanya pelayanan rumah sakit bintang lima?" rutuk Antonie meringis melihat darah di sikunya.


"Pergi lah!"


Antonie bangkit mendekati bak sampah itu, menarik karung miliknya tadi.


"Sudah kami bilang, pergilah tanpa membawa apa pun dari rumah sakit ini!"


"Ini kan hanya sampah, Pak?"


Antonie tetap menarik karung itu. Sebenarnya dia sengaja menyulut kemarahan para satpam itu. Dia ingin mengulur waktu.

__ADS_1


tiiiiin


Terdengar klakson mobil yang baru saja memasuki area parkiran. Pengemudi seakan menemukan sesuatu yang menarik dan keluar dari dalam kendaraanya. Matanya terfokus pada gembel yang sedang dikerumuni oleh para security tersebut.


"Ada apa ini?"


"Ini, Mas. Ada pemulung masuk ke sini buat nyari-nyari rongsokan di sini." terang salah satu security.


"Biar kan saja!" ucap pria suruhan Dokter Bagas.


"Tapi kami dimarahi oleh atasan." ucap nya lagi membela diri.


"Eh, kamu?" panggilnya pada sang pemulung. Antonie menatap pria yang ditunggu-tunggu sedari tadi.


"Kenapa mulung di rumah sakit? Padahal sudah ada larangan mulung di layanan umum kan?"


"Saya butuh uang, Pak. Anak saya sedang sakit di kampung. Jadi, saya harus menjual rongsokan yang banyak, agar bisa dikirim kan pada istri buat berobat anak saya di sana."


Sebuah senyuman muncul dengan sekilas di bibir pria suruhan Dokter Bagas ini. "Kemari lah! Berapa uang yang kamu butuhkan?"


Antonie bergerak mendekat. "Kalau orang bilang tidak banyak, Pak. Tapi bagi saya itu jumlah yang sangat banyak."


Pria berpakaian hitam itu membuka pintu belakang penumpang dengan memberi kode dengan mata pada seseorang yang duduk di sana. "Kamu masuk lah! Saya akan memberikan uang yang kamu butuhkan."


"Benar kah? Lalu kita mau ke mana, Pak?" Namun, Antonie tetap bergerak masuk.


Penumpang lain sudah memberikan posisi untuk Antonie duduk. "Apakah mereka adalah orang-orang yang Bapak tolong juga?" Di sana terlihat ada yang babak belur.


Setelah masuk ke bangku pengemudi, dia bergerak dengan senyum miring di bibirnya. "Begituah." jawabnya singkat.


Tiba-tiba, tubuh Antonie ditahan oleh penumpang yang muncul begitu saja dari bangku paling belakang membekap mulut Antonie dengan sapu tangan yang dibubuhi obat bius dengan kadar yang sangat tinggi. Tubuh gembel tersebut sudah lemas tak bergerak.


"Meski kita tidak mendapatkan yang diminta si Boss, yang penting kita memiliki ganti yang lain." ucap sang pengemudi melaju ke area biasa mereka memarkirkan kendaraan.


Antonie membuka sedikit matanya, melirik orang-orang tersebut yang menyiapkan sesuatu untuk mengangkatnya. Antonie menahan senyum tipisnya kembali beraksi bagai seseorang yang tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2