
Antonie sedang duduk di ujung beranda Rumah Sehat yang didirikannya bersama Angela. Dia merasakan sesuatu yang aneh yang sangat kuat berada di sana. Suasana sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"System, ada apa dengan tempat itu saat ini?"
"Sepertinya ada pengguna System lain sedang berada di sana, Tuan. Sesuatu yang sangat kuat, kelam, dan mengerikan. Sepertinya System harus mengurai energi agar tidak bisa dirasakan oleh pemilik System itu."
Antonie mengangguk, tiba-tiba saja tubuh nya terasa menjadi sangat ringan dan mengambang. Namun dihiraukannya, kali ini Rumah Sehat sedang mengurus izin praktik dan surat yang dirasa perlu.
Angela tengah berbicara dengan badan hukum yang mengurus segala hal yang dibutuhkan untuk memberikan layanan gratis kepada masyarakat nantinya.
Antonie berjalan mendekati kedua orang tersebut. Dia merasa sedikit oleng karena tiba-tiba massa otot pada tubuhnya berkurang dengan drastis. Dia seperti berjalan di ruang hampa udara yang membuat dirinya seakan mengambang.
"Kamu kenapa?" tanya Angela melihat Antonie berjalan dengan gaya aneh. Antonie hanya memberi aba-aba bahwa dia baik-baik saja.
"Oh, begini ... Mas Naga membutuhkan tanda tanganmu sebagai pemilik Rumah Sehat ini supaya bisa diajukan kepada pihak yang berwenang." terang Angela menyerahkan beberapa berkas dari konsultan hukum yang dia minta.
"Tanda tanganmu aja. Ini milikmu. Aku hanya menjalankan kewajibaku saja."
Angela menarik tangan Antonie lalu menyerahkan pulpen. "Cepat tanda tangani! Ini kewajibanmu saat ini! Bertanggung jawab sepenuhnya dengan tempat ini dan mungkin setelah ini, aku tidak mampir dulu. Aku akan ke luar negeri menuju induk perusahaan yang aku pimpin. Jadi setelah izin keluar, kamu bisa melakukannya sendiri."
"Apa kamu membutuhkan karyawan untuk administrasi?"
"Tidak usah, Rizki dan Fanya sudah cukup." tolak Antonie.
"Oh ya udah, aku setuju jika itu keputusanmu."
*
*
*
Dua orang yang menggunakan pakaian lusuh tengah tertatih berjalan menuju bagian informasi gedung rumah sakit itu. Namun, pegawai rumah sakit tersebut sudah terlihat mendelik melihat dua orang renta terlihat hendak berkeluh kesah tentang penyakit di rumah sakit ini.
"Ma-maaf, Mba ... Ba-bagaimana cara agar kami bisa berobat di rumah sakit ini?" tanya pria yang terlihat cukup renta.
Mata perempuan bagian informasi terlihat sedikit mendelik. "Apa kalian memiliki jaminan kesehatan dan rujukan dari faskes sebelumnya?"
Pria tua itu terlihat mendiskusikan sesuatu dengan wanita tua seperti dirinya dalam beberapa saat. Setelah itu dia kembali berbicara. "Kami tidak memiliki itu. Dulunya memang ada, akan tetapi kami tidak sanggup membayar biaya bulanannya. Jadinya kami tidak menggunakan yang seperti itu."
Mata wanita yang di bagian informasi sedikit mendelik. "Silakan Bapak dan Ibuk duduk di sana menunggu panggilan." Menunjuk beranda bagian depan.
"Ba-baiklah."
Lalu dua orang tua renta tersebut berjalan tertatih berpegangan tangan duduk di bagian tangga beranda depan. Namun, saat security melihat dua orang tersebut, dengan gusar berjalan menghampiri mereka.
"Bapak dan Ibu jangan duduk di sini! Nanti kalian bisa menghalangi masyarakat lain yang membutuhkan penanganan cepat!" hardiknya.
zzzzzztttt
__ADS_1
Telinga Antonie seakan berdengung membuat dia segera mencari sumber yang membuat dia merasa tidak nyaman. Saat mencoba teleportasi, dia sama sekali tidak berpindah.
"Sistem, apa yang terjadi?"
"Kita sudah sepakat untuk menurunkan performa tenaga yang Anda miliki agar tidak terendus oleh pengguna System yang lain." terang System.
"Yaaah? Harus jalan kaki dong?"
"Ya." jawan System singkat.
Dengan sedikit malas, Antonie mulai melintas lewat gerbang rumah sakit itu. Saat berjalan memutar seperti ini, rumah sakit itu terasa cukup jauh. Antonie hanya bisa berdecak di dalam hati.
Lalu dia melihat dua orang tua sedang dimarahi oleh sang satpam. Antonie sedikit berlari menengahi keadaan.
"Kenapa memarahi orang tua seperti ini?" ucap Antonie dingin.
"Kamu jangan ikut campur. Jika bukan pasien, silakan meninggalkan tempat ini dengan segera."
Mendengar ucapan yang mengesalkan tersebut, Antonie ingin memberi sedikit pelajaran.
"Tuan, jangan lakukan apa-apa!" System memperingatkan membuat Antonie membatalkan rencananya.
Akhirnya Antonie membantu dua orang renta itu bergerak menuruni tangga. "Apa yang terjadi?"
"Istri saya sedang sakit pinggang. Katanya sakit sekali, makanya kami ke sini biar mendapat pengobatan." ucap sang pria tua.
"Ayo ke sana dulu sejenak ya, Mbah. Biar aku periksa kondisi Mbah Uti."
Akhirnya mereka sampai juga dan membawa kedua orang tua tersebut masuk ke dalam bagian pemeriksaan. Antonie membantu si nenek berbaring di atas brangkar.
Sistem memindai kondisi wanita yang sudah sangat sepuh ini. Setelah itu System memberikan keterangan apa yang sedang dialami oleh nenek ini.
"Wanita ini berusia enam puluh lima tahun. Dia mengalami gangguan pada tulang belakang."
"Salah satu gangguan pada tulang belakang yang cukup sering menjadi penyebab sakit pinggang pada orang tua adalah herniasi diskus. Herniasi diskus merupakan kondisi yang terjadi apabila diskus, atau bantalan yang berada di antara susunan tulang belakang, bergeser posisinya."
"Hal ini mengakibatkan tekanan pada saraf di sekitar area. Saraf yang tertekan ini kemudian menyebabkan timbulnya rasa nyeri pada punggung, pinggang, hingga kaki."
"Lansia rentan terkena kondisi ini, karena diskus bisa terkikis seiring bertambahnya usia." terang System dengan sangat panjang lebar.
Sementara pria tua yang tadi mendampinginya berdiri di samping brangkar tersebut. Wajahnya terlihat lelah dan tentunya turut sedih melihat kondisi sang istri terlihat sangat tidak berdaya.
Padahal sebenarnya sang istri merasa tidak kuat untuk bangkit dan berjalan, tetapi dipaksakan menuju rumah sakit. Namun apa yang terjadi, pihak rumah sakit yang terkenal itu memperlakukan mereka dengan cara yang tidak manusiawa.
Antonie menyadari kesedihan pria tua itu, lalu mengusap punggung si Mbah menenangkannya. "Tidak apa, Mbah. Semoga setelah ini Mbah Uti sembuh ya?"
Pria tua itu menganggukan kepala dan menepuk bahu Antonie. "Mbah duduk aja pada bangku yang ada, ini tidak lama kok."
"Tapi, saya ingin memastikan keadaan istri saya jadi lebih baik."
__ADS_1
"Mbah jangan khawatir. Lebih baik istirahat sejenak." Antonie memapah pria tua itu untuk duduk.
Setelah itu Antonie menggesekan kedua telapak tangan. "Mbah Uti bisa memiringkan posisi tidurnya?"
"Sakiit," ucap nenek itu.
"Biar aku bantu." Lalu membantu wanita tua itu memiringkan badan ke arah kanan. Telunjuknya diarahan pada titip yang terlihat menghitam.
"Tahan dikit ya, Mbah?" pinta Antonie. "Ini akan sedikit sakit, tapi hanya sebentar."
Antonie mulai memfokuskan energi pada telunjuk. Energi itu membantu meluruskan tulan-tulang yang sudah tidak rata ini kembali ke bentuk semula.
"Aaaggghhh ...." ringisnya.
"Apa istri saya tidak apa-apa?" tanya sang suami kembali bangkit.
Antonie tidak menjawab lalu memberikan tembakan terakhir.
"Aaagh." pekik nenek itu kaget. Lalu matanya terbuka dengan lebar, bangkit dengan dengan sendirinya tanpa bantuan lagi.
"Pak, udah nggak sakit." ucap sang istri menggoyangkan tubuhnya.
Antonie memberika satu pil bulat bewarna hijau tua pada kedua orang tersebut masing-masing satu biji. "Ayo, langsung diminum." ucap Antonie mengambilkan air mineral yang memang disediakannya.
Setelah meminum pil yang diberikan Antonie, tulang belulang kedua orang ini bergemeletuk. Antonie bisa mendengarnya dengan jelas. Terlihat perubahan gestur tubuh mereka. Keriput yang ada di tubuh mereka menghilang.
"Pak?"
"Buk?"
Mereka berdua sama-sama terpana melihat pasangan masing-masing.
*
*
*
Seorang berwajah dingin baru saja merasakan adanya sebuah tembakan energi yang sangat besar tetapi hanya sekejap.
"Kau tahu apa yang aku pikirkan?"
Pria itu berjalan menuju jendela, menatap sebuah bangunan yang ada di sebelah rumah sakit tempat dia pijaki saat ini.
...****************...
Jangan lupa mampir juga pada karya author kece di bawah ini yaaa...
Napen: Rifah_Musfi
__ADS_1
Judul: Gugatan Satu Miliar