Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 82


__ADS_3

*Maaf sekali ya Kakak, Abang ... beberapa hari menghilang gara-gara ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggal 🙏🤭*


"Kamu semakin tampan saja. Wajahmu sangat mirip dengan orang yang mencarimu."


Antonie mengangkat wajahnya memperhatikan kembali wajah Bunda Wulan yang tidak heran sama sekali meski wajahnya mungkin berubah.


"Bunda, kenapa langsung mengenal aku?"


Bunda Wulan membuka kaca matanya mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"


"Oh ... hmmm ...." Antonie menggaruk pelipisnya merasa bingung dengan apa yang akan diucapkannya.


"Kamu memang tidak banyak berubah. Hanya saja, kamu terlihat lebih tampan dibanding sebelumnya? Kamu pakai skin care apa?" Bunda Wulan mengusap wajahnya yang telah lusuh oleh kerutan dimakan usia.


"Aku tidak menggunakan apa-apa." ucap Antonie dengan wajah kakunya.


Hal ini membuat dua dari tiga orang yang menemaninya tersenyum. Bunda Wulan juga memperhatikan orang-orang yang hadir bersama Antonie. Rizki pun segera mengejar wanita lanjut usia itu, diikuti oleh Liana dan Leon.


"Waah, sekarang kamu telah memiliki banyak teman ya?" gumam kepala panti asuhan itu.


"Maksudnya gimana, Bunda?" sela Rizki penasaran.


Bunda Wulan tersenyum teringat bayang masa lalu Antonie yang cukup arogan. Hingga tidak satu pun yang mau bermain bersama Antonie. Antonie selalu sendirian, hingga saat tamat SMA, dia memutuskan keluar dari panti asuhan. Tanpa dia ketahui bahwa p


"Tidak apa, hanya saja, itu menjadi bagian yang membuat Bunda selalu mengingat Antonie."


Beberapa waktu, suasana menjadi hening karena masing-masing yang berada di dalam ruangan tersebut sibuk dengan pikirannya.


Sementara itu, Antonie sibuk memperhatikan kondisi wanita yang sudah menjadi ibunya semenjak kehadirannya di tempat ini. Pada matanya, terlihat beberapa penyakit yang sedang terpendam di dalam organ tubuh wanita Lansia tersebut.


"Bagaimana keadaan Bunda akhir-akhir ini?" tanya Antonie.


Bunda Wulan hanya memberikan senyuman, tetapi sejenak Antonie menangkap gerakan mata wanita lansia itu terlihat sedikit berbeda. Meski sejenak, Antonie bisa membaca ada yang dipendamnya. Dia sendiri sudah melihat apa yang sedang diderita oleh Bunda Wulan.


"Kalau boleh Bunda tahu, apa kegiatanmu setelah keluar dari panti asuhan ini?"


"Dulu, aku hanya lah seorang pemulung miskin. Aku tidak sanggup membiayai diri sendiri, apalagi orang lain. Makanya, aku belum berani menampakkan wajah ke panti ini."


Mendengar penjelasan dari Antonie, membuat Liana merasa terharu dan sedih. Dia seakan teringat bagaimana perjuangannya saat mencari biaya untuk perawatan Leon, ketika kedua orang tuanya baru saja meninggal dalam waktu bersamaan, sebelum mendapat Sistem Pencuri Handal.


Jangankan untuk mendapatkan biaya perawatan Leon yang sangat mahal, mendapat uang untuk makan sekali sehari pun terasa sangat sulit baginya. Tanpa disadari, air mata mengalir begitu saja di pipinya.


Rizki melirik Liana dan mengerutkan keningnya. "Kakak cantik kenapa menangis?" Rizki menarik selembar tisu yang terdapat di atas meja menyerahkan kepada Liana.


Liana menerima tisu tersebut, berusaha untuk tersenyum dan mengusap air matanya dengan tisu tersebut.


Bunda Wulan melirik Antonie dengan sendu. "Tidak apa, yang penting saat ini kamu sudah menjadi orang sukses dibanding masa sebelumnya."


Bunda Wulan mengulas bibirnya dengan senyuman tulus. "Semoga saja setelah perjuangan selama ini, kesusksesan akan selalu mendampingi dirimu.


"Lalu, saat ini apa kegiatanmu?"

__ADS_1


"Saat ini Bang Antonie menjadi orang yang sukses, Bun ... Dia menjadi penyembuh hebat yang tak akan pernah Bunda sangka sebelumnya." terang Rizki.


Bunda Wulan terlihat menghembuskan nafas dengan sedikit berat. "Apakah Bunda bisa disembuhkan penyakit karena usia ini?"


"Tidak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan di dunia ini, Bunda." Antonie menarik tangan Bunda Wulan. Setelah itu, satu tangan lagi membelai punggung Bunda Wulan.


"Sekarang kamu sudah pintar berbicara ya?" Bunda Wulan tersenyum membuat semburat kerutan yang ada di sudut bibir dan di bawah mata, terpampang dengan nyata.


"Aku bisa mengetahui keluhan yang Bunda rasakan meskipun tidak menceritakan apa-apa. Aku hanya ingin meminta izin kepada Bunda, apakah Bunda bersedia aku bantu mengatasi keluhan yang Bunda alami?"


Bunda Wulan terlihat tertawa. "Sekarang kamu sudah benar-benar berubah. Bisa bercanda seperti ini?"


"Aku tidak bercanda."


Antonie langsung mengalirkan energinya lewat telapak tangan dan punggung tangan Bunda Wulan. Bunda Wulan tersentak menyadari ada sesuatu yang hangat merasuk mulai dari telapak tangannya.


Rasa hangat itu terus menjalar naik ke atas menuju bagian dadanya. Bunda Wulan menderita hypertensi di kala usianya semakin bertambah. Sehingga, membuat Bunda Wulan harus melakukan kontrol rutin setiap bulan.


Rangkaian obat-obatan yang dikonsunsi secara rutin, tidak boleh terputus sedikit pun. Hal ini telah terjadi semenjak Antonie keluar dari panti asuhan. Mengonsumsi obat-obatan jangka panjang tanpa henti, membuat ginjal Bunda Wulan turut mengalami masalah.


Bisa dikatakan, Bunda Wulan telah mengalami komplikasi ringan, yang masih bisa diatasi medis. Hanya saja, semakin tinggi usia beliau, membuat jantung Bunda Wulan bekerja lebih keras dibanding sebelumnya.


Lewat tangan Antonie, beliau merasa semakin baik dan detakan jantungnya yang lumayan cepat, perlahan menurun hingga kondisi normal. Tidak hanya itu, kerutan-kerutan yang terdapat di sekujur tubuh Bunda Wulan, perlahan mulai memudar dan menghilang. Bunda Wulan belim menyadarinya karena beliau memejamkan mata menikmati reaksi yang ia rasakan dari dalam tubuh.


Setelah selesai, Antonie melepaskan genggamannya terhadap Bunda Wulan. "Sekarang bagaimana perasaan Bunda?"


Bunda Wulan membuka mata secara perlahan. Dia belum menyadari apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Sementara itu, Rizki, Liana, dan Leon sedanh terpana memperhatikan dirinya.


Bunda Wulan menatap Antonie dengan seksama. "Apa benar ini Antonie yang yang pernah menjadi anak Bunda dulu?"


Bunda Wulan menepuk lengan Antonie. Lalu, tanpa sengaja melihat tangannya. Keningnya yang telah licin, kini mengerut dengan alis hampir saja menyatu. Bunda Wulan melihat tangannya kini tak lagi terisi oleh kerutan. Diperhatikannya kedua punggung tangan kini terlihat lebih cerah.


"Apa yang terjadi?" Bunda Wulan meraba wajahnya. Kulit wajahnya begitu halus dan kenyal.


Bunda Wulan bangkit menuju sebuah lemari kaca, yang masih bisa memantulkan bayangan dirinya. Bunda Wulan meraba wajahnya memandangi diri dari pantulan lemari kaca yang berisi berbagai macam tropi anak-anak panti yang berprestasi.


"Antonie, apa yang kamu lakukan kepada Bunda?"


Bunda Wulan masih memandangi diri tidak percaya. Antonie mendekati kepala panti asuhan yang berusia enam puluh tahun itu dan merangkul pundaknya dari belakang.


"Bunda berhak mendapatkan umur yang panjang atas segala kebaikan kepada kami, anak-anak panti di sini."


Bunda Wulan meneteskan air mata. Dirinya yang telah berusia enam puluh tahun, kini tampil layaknya gadis yang masih berusia dua puluh tahunan.


"Terima kasih, Antonie. Kamu membuat Bunda menjadi muda kembali."


Beberapa waktu mereka melanjutkan mengobrol, dan beberapa pengurus panti asuhan lainnya tampak sangat terkejut melihat Bunda Wulan yang baru. Sehingga, para pengurus yang telah sepuh tersebut meminta Antonie meremajakan mereka kembali.


Di saat Antonie dan yang lain ingin kembali, mereka dilepas dengan lambaian tangan para wanita muda.


"Nanti, Bunda akan memberikan kontak ponsel kamu jika ada yang datang mencarimu kembali. Kamu harus jaga kesehatan ya? Kata Rizki, kalau kamu sendiri yang sakit, kamu tidak bisa menyembuhkan diri sendiri."

__ADS_1


Antonie menahan senyuman di bibirnya dan menganggukan kepala. "Sepertinya nanti aku akan mendapat undangan pesta pernikahan dari para Bunda yang ada di sini."


Bunda Eni, menepuk pundak Antonie dengan memasang wajah sedikit genit. "Bagaimana jika kamu saja yang menjadi suami kedua Bunda? Biar anak Bunda bisa menjadi setampan kamu juga."


"Eheem ...." Liana sengaja berdehem melirik ke atas melipat kedua tangannya.


"Siapa dia?" bisik Bunda Eni.


Antonie hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia sendiri merasa heran dengan perubahan besar pada Liana dibanding saat pertama kali berjumpa.


"Hati-hati sama dia ya? Kalau kamu menikah dengannya, kehidupanmu tidak akan bahagia. Soalnya dia itu galak banget. Lihat aja tuh, tampangnya judes sekali." bisik Bunda Eni lagi.


"Bunda bisa saja? Kalau begitu, kami pergi dulu. Jika ada kesempatan lagi, aku akan kembali."


*


*


*


Malam hari di rumah singgah, Antonie berdiskusi dengan system. "Apa kamu mengetahui bagaimana kehidupanku sebenarnya?"


[ Ya ... Tentu ... System mengetahui siapa ayah dan ibu kandungmu. ]


"Apakah kamu mau menceritakannya kepadaku?"


[ System mengembalikannya kembali kepada, Tuan. Apakah Anda telah siap mendengar apa yang sebenarnya? ]


[ System akan menceritakannya jika Anda tidak membenci mereka kembali. Namun, saat ini rasa benci Anda kepada orang tua kandung Anda memiliki persentase yang tinggi. Yakni 98% ]


Antonie menghela nafas tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh System. "Mungkin hari ini belum saatnya."


"Lalu, sampai kapan aku harus menunggu agar diberikan emas kembali?"


[ Seperti yang telah System katakan, Anda akan mendapat emas kembali setelah menyembuhkan 1000 manusia. ]


"Aku tidak menghitung berapa jumlah pasien yang telah disembuhkan. Apakah kamu tahu berapa jumlahnya? ]


[ Saat ini Anda telah menyembuhkan manusia sebannyak 899 orang. Jadi, setelah menyembuhkan 111 orang lagi, maka, Anda akan mendapatkan emas kembali. ]


Antonie menganggukkan kepalanya. Sementara itu di sebelah kamarnya, Liana menempelkan telinganya pada sebuah gelas kaca yang ditempelkan pada dinding kamar yang menyatukan kamarnya dan kamar Antonie.


"Kakak lagi apa?" tanya Leon penasaran dan heran melihat tingkah saudaranya itu.


"Kamu tidur aja!"


Leon memanyunkan bibirnya setelah mendapat bentakan dari sang kakak. Dia langsung naik ke atas ranjang dan tidur seperti perintah Liana.


Liana merasa sangat penasaran karena setelah beberapa waktu tinggal bersama Antonie, tak satu pun ditemukannya keberadaan emas yang dulunya berlimpah di sana.


Dia mendapat misi dari system yang ia miliki, jika tidak mencuri dalam beberapa waktu yang lama, maka dia akan mendapat hukuman pengurangan masa hidup di dunia.

__ADS_1


[ Jika tidak ditemukan, kamu bisa mencari ke tempat lain! ]


__ADS_2