
"Dia?"
Sonya terus memperhatikan Antonie yang berjalan dengan orang yang tidak dikenalnya. Tiba-tiba, Sonya merasa wajahnya menjadi panas sendiri. Sonya menggelengkan kepala.
"Tidak mungkin!"
Lalu, dia menyalakan kendaraan dan menginjak gas melewati dua orang tersebut.
"Apa Anda merasakannya, Tuan?" ucap System.
Antonie memandang panjang kendaraan yang terus bergerak menjauh. Seseorang di dalam kendaraan pun memperhatikannya lewat spion kendaraan itu.
"Kenape berhenti, Bang?" tanya Rizki yang melihat Antonie mematung.
Antonie melanjutkan perjalanannya berjalan kaki. "Sepertinya, kita juga butuh kendaraan seperti itu." ucap Antonie kembali.
"Hape juga Bang. Masa satu pun di antara kita gak ada yang punya hape? Hari gini gitu lho?"
"Baik lah." ucap Antonie.
Tanpa babibu mereka langsung menaiki busway menuju tempat langganan Antonie menjual emas-emasnya. Antonie disambut hangat oleh pemilik toko karena setelah dibentuk menjadi perhiasan, toko miliknya menjadi semakin ramai. Kata para pelanggannya emas tersebut memiliki warna yang sangat cantik, dibanding perhiasan lainnya.
Antonie menyerahkan emas yang lebih banyak lagi untuk dijual dipindah langsung ke tabungannya. Setelah itu mereka langsung menuju showroom mobil sport yang cukup terkenal.
"Gila lu, Bang. Gue nggak nyangka lu sekaya ini? Tapi kenapa dulu tinggal di gubuk?" celetuk Rizki merasa heran.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam kendaraan tersebut. Rizki menggaruk kepalanya melihat kendaraan ini hanya memiliki dua pintu yang dibukanya ke atas bagai sayap. Kursi penumpang pun hanya dua biji.
"Bang, apa ini nggak kekecilan? Sayang banget beli mahal-mahal cuma muat dua orang?"
Antonie mematung sejenak menatap Rizki. Lalu kembali mencari posisi kunci untuk menyalakan. Antonie kembali melihat Rizki, dia menggaruk tengkuk merasa cukup bingung. Setelah itu, dia menghitung jumlah pedal yang ada di bawah.
Rizki yang tadinya sempat sumringah terlihat mulai was-was. "Bang, lu bisa bawa mobil nggak sih?" Antonie tersenyum kikuk menggaruk kepala bagian belakang.
"???"
Beberapa menit kemudian.
"Aaaaaggh, kiri! Kiri! Kanan! Jangan terlalu kanaaan!" Rizki berteriak-teriak tak karuan duduk di samping Antonie yang mengendarai mobil sport tersebut.
"Pelankan! Kurangi kecepatan!" teriak Rizki.
Teriakan Rizi membuat Antonie semakin salah tingkah dan panik. Saat dia ingin menginjak rem, yang terinjak malah pedal gas.
"Aaaaaggghhh!" Rizki semakin berteriak berpegangan dengan apa pun dengan yang dia bisa.
"Tuan, Anda harus fokus!" System mulai mengomandoi Antonie.
"Izinkan System untuk mengendalikan tubuh Anda!" Antonie pasrah dan jadi lah dia mengikuti gerakan tubuhnya sendiri dan membuat kendaraan tersebut bergerak semakin stabil.
Rizki yang sudah pucat pasi dengan tubuh sudah dipenuhi keringat dingin perlahan mulai mengatur nafasnya dengan pelan. "Aah, akhirnya lu bisa juga, Bang?"
"Gue tiba-tiba teringat pada masa kelam saat ditabrak dulu." desisnya.
Antonie juga sekedar mengembangkan senyum tipis memperhatikan Rizki. Namun, tangan dan kakinya masih bergerak dengan sendirinya.
"Lihat jalan!" bentak Rizki, Antonie mengangguk kaku.
Kendaraan ini mulai memasuki area pinggir kota kawasan mereka tinggal. Semua mata memandang ke arah kendaraan tersebut yang dirasa tidak mungkin dimiliki oleh warga kampung sini.
Mata mereka berbinar terus menatap kendaraan yang bisa dibilang sangat keren itu. Lalu mereka memastikan di mana berhentinya.
"Itu kan rumah singgah—" ucapan salah satu warga terhenti saat melihat siapa yang keluar dari mobil sport bewarna putih itu.
Pak RT yang juga penasaran menghampiri Antonie dengan wajah sumringah. "Waaah, pulang-pulang bawa mobil keren kamu?" ucap Pak RT.
"Iya, Pak. Tadi Mba Angela memberi fasilitas ini kepada kami jika mau bekerja dengannya." ucap Antonie sekadar mengarang cerita.
__ADS_1
Pak RT pun terperangah dan kembali memulai senyum sepuluh sentinya, menepuk pelan bahu Antonie. "Waah, kamu beruntung sekali bisa mengenal dia, kelihatannya dia menyukaimu. Kamu nikahi saja!"
Antonie tersentak dan tersenyum kaku. "Saya baru mengenalnya, Pak. Masih membutuhkan banyak waktu untuk menata masa depan. Masa langsung main nikah begitu saja."
"Saya tak lebih baik dari siapa pun di sini. Dia pantas mendapat pria yang lebih mapan dan tampan. Saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa." ucap Antonie sedikit canggung.
Pak RT mengerutkan kening memperhatikan Antonie dengan lekat. Wajah Antonie terlihat memikirkan sesuatu dengan serius.
"Cakep kok! Pede dong!" Pak RT kembali menepek punggung Antonie beberapa kali.
"Oh, iya ... Tadi kata Bu Berta, Fanya terpeleset di kamar mandi, sampai pingsan juga. Tolong kamu cek kondisi adikmu itu ya. Kasian juga Bu Berta sampai gendong-gendong Fanya waktu dibawa ke bidan."
Rizki sedikit tersentak kaget. "Lalu keadaan Fanya sekarang bagaimana, Pak?"
Antonie sudah melihat sendiri tadi, tetapi tidak mengatakan apa-apa kepada Rizki. Karena pria muda itu pasti akan heboh seperti ini.
"Kalau begitu saya melanjutkan pekerjaan. Cepat tengok Fanya, kasihan dia dan selamat menggunakan fasilitas mewah yang diberikan Boss cantik." Pak RT berlalu, Antonie mengangguk tipis.
Rizki mendekat dan berbisik. "Kenapa tidak bilang ini beli pakai uang sendiri?"
"Jika berkata demikian, semua orang akan iri. Kalau tahu ini sekedar pinjaman, orang lain tidak akan terlalu iri meski pun tetap akan ada yang iri, tetapi itu hanya segelintir." terang Antonie.
Rizki dengan wajah sumringah langsung merangkul Antonie dan mendorongnya masuk ke dalam rumah singgah mereka.
Di dalam rumah, tampak Mama Berta sedang sibuk mondar-mandir kamar Fanya. "Hey, kalian udah pulang?"
"Ma, coba lihat apa yang kami bawa?" adu Rizki mendekati Berta.
"Emangnya apa?" tanya Berta.
Rizki langsung menarik Berta memamerkan kendaraan yang sudah terparkir di depan rumah tersebut. "Lhoh? Kok beli yang itu sih? Kenapa bukan yang besar? Biar bisa menampung penghuni rumah singgah ramai-ramai."
Ternyata reaksi Berta berbeda sekali dengan pandangan orang lain. Berta seakan tidak terlalu tertarik kembali masuk menuju kamar Fanya.
"Lhoh? Gitu aja, Ma? Kenapa gak histeris kayak yang lain?" tanya Rizki sedikit penasaran.
Rizki duduk di bagian pinggir ranjang Fanya. "Kenapa lu sampai jatuh? Jangan-jangan kualat ya gara-gara tidak sopan sama Mama Berta?"
Lalu kaki Fanya melayang di mulut Rizki.
*
*
*
ding
ding
ding
"Berisik!" rutuk Sony di kamarnya tengah malam. Sony terbangun dari tidurnya karena notifikasi yang begitu keras bergema di telinganya.
[ Segera cari pengguna System lain untuk peningkatan level selanjutnya! ]
"Ah, bukan kah sebelum ke negara ini sudah dikasih ja tah?"
[ System beradaptasi dengan negeri dan wilayah yang baru. Segera laksanakan atau Anda yang akan sengsara? ]
Sony menendang selimutnya dan langsung bergerak turun. Membuka lemari mencari sesuatu dan memakainya.
"Tunjukan lokasi terdekat!"
...
...
...
__ADS_1
Beberapa waktu Demon System milik Sony mendeteksi seorang driver pengguna System.
[ Lokasi telah ditemukan! Segeralah bersiap! ]
Namun, belum sempat bergerak pergi, pintu kamar Sony telah diketuk oleh sang ayah. "Sony, kamu belum tidur?"
Sony melepas sesuatu yang menutupi wajahnya. Dia bergerak membuka pintu. Dokter Hardan melihat putra sulungnya dari atas hingga ke bawah.
"Kamu berbicara dengan siapa?" Sementara Dokter Hardan terlihat sangat rapi.
"Daddy mau ke mana?" Sony malah balik bertanya.
"Ada pekerjaan mendadak yang harus diurus di rumah sakit." ucapnya.
"Aku ikut." Sony bergerak tetapi dia bagai mendapatkan sengatan listrik.
"Aaagghh!" teriaknya terkejut.
[ Kewajiban Anda saat ini mencari pengguna System! ]
[ Jangan coba-coba lari! ]
Dokter Hardan bergerak cepat mendekati sang anak yang tiba-tiba berteriak dan merengkuh kesakitan di atas lantai.
"Kamu kenapa?"
Sony menepis tangan ayahnya menggeleng kepala. "Aku tidak jadi ikut. Sepertinya aku lelah." Sony bergerak naik ke atas ranjang membiarkan ayahnya termangu dalam heran.
Beberapa waktu dalam hening akhirnya Dokter Hardan bangkit. "Baik lah, Daddy pergi. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh."
Namun, Sony tak bergeming tanpa jawaban. Membuat Dokter Hardan menghela nafas melangkahkan kaki keluar ruangan dan menutup pintu.
[ Jangan coba-coba mengelak dari kewajiban Anda! ]
[ System sudah memberikan fasilitas yang tidak bisa Anda dapatkan di dunia nyata. ]
[ Kali ini Anda harus memberikan timbal balik berupa tumbal kepada Demon System. ]
Sony hening tak bergeming. Beberapa saat setelah memastikan sang ayahnya telah pergi, dia mengayunkan tangan dan berganti pakaian dengan seketika. Sony berjalan dan melompat begitu saja berdiri di sebuah bangunan yang tidak terlalu tinggi.
Beberapa meter di area jalan raya, tampak sebuah kendaraan super canggih melaju. Pengendaranya adalah seorang driver pengguna System Kekayaan. Sony menyeringai melihat kendaraan itu.
Sementara di tempat lain, Antonie kembali menyusup ke dalam Rumah Sakit Harapan Kita. Karena saat ini aura rumah sakit tersebut sudah kembali seperti biasa.
Hal ini mengartikan bahwa tak ada pengguna System yang dihindari Antonie. Di dalam rumah sakit tersebut, masih banyak pasien yang mendapat perawatan eksklusif.
"Kita tidak bisa membuat rumah sakit ini hancur, System. Jika dihancurkan, maka pasien yang berada di dalam rumah sakit akan ikut terseret. Mereka tidak salah dan tidak tahu apa pun."
"Benar sekali seperti apa yang Anda ucapkan, Tuan. Jika kita tidak bisa menjebloskan mereka ke dalam penjara, sebaiknya beri sesuatu yang bisa membuat mereka terkejut." ucap System.
Antonie berpindah pada ruang bawah tanah. Dia menemukan sebuah lorong yang sedang dibangun sebagai akses pintu lain masuk ke tempat itu.
"System, kamu tahu apa yang aku pikirkan?"
"Laksanakan jika itu demi kebaikan bagi seluruh umat manusia, Tuan." ucap System.
Antonie menghentakan kakinya. Membuat bumi sedikit bergetar. Hal ini juga dirasakan oleh semua orang termasuk pasien yang sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
"Gempa?" teriak mereka.
"Sepertinya Anda membuat semua orang menjadi panik, Tuan." ucap System.
"Ups ... Maaf!" Antonie menenangkan kembali getaran tersebut, tetapi orang-orang yang menghuni rumah sakit malam ini mulai berhamburan.
Antoni mulai mengendalikan tanah-tanah bekas galian, dan membuat tanah itu bergerak memasuki ruang bedah yang mulai mereka persiapkan kembali.
Semakin lama, ruangan tersebut mulai penuh oleh tanah hingga tidak bersisa sedikit pun. Antonie juga menutup terowongan yang masih dalam tahap pembangunan.
Sementara Dokter Hardan baru saja sampai di area rumah sakit. Dia terlihat heran melihat pasien berhamburan keluar dari gedung rumah sakit.
__ADS_1