
Pada pagi hari Berta membuka pintu kamar Antonie. Pria yang baru saja diangkat menjadi anak ini terlihat tidur dengan sangat pulas.
"Antonie, kenapa saat tidur begini, masih memakai kaca mata sih?"
Berta menarik kaca mata itu, tetapi tak kunjung lepas. "Aneh? Ini kaca matanya sengaja dikasih lem apa ya?"
Lalu Berta membangunkan Antonie. Antonie tak kunjung bangun, karena dia baru tidur semenjak satu jam yang lalu. Apalagi dia baru saja menghadapi perlawanan sengit dengan musuh yang cukup tangguh.
"Antonie, bangun dulu! Udah pagi. Mama baru aja memasak sarapan bersamal Rizki." ucap Berta.
Namun Antonie tidak bergemin, membuat Berta merasa gemas. Netra milik Berta berpindah saat melihat sesuatu yang sedang digenggam oleh Antonie. Karena merasa penasaran, Berta membuka genggaman tersebut. Alangkah terkejutnya dia melihat sebuah kepingan emas yang berkilauan berada dalam genggaman itu.
Jangan-jangan, anak ini tadi malam pergi merampok kali ya? Pantas saja dia tidur begitu pulas, karena baru beraksi tadi malam.
Oh ya, dia mampu membeli mobil sport yang sangat mahal, pasti karena karena hasil mencuri? Mana ada orang yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan bisa sekaya raya ini?
Ini tidak boleh dibiarkan!
Berta semakin semangat membangunkan Antonie. Berta menggelitik Antonie membuat pria yang selalu menggunakan kaca mata itu menggeliat. Meresa terganggu, tanpa disadari Antonie mengibaskan tangan tersebut.
Hal ini membuat Berta terdorong hebat hingga tubuhnya membentur dinding. Rizki mendengar ringisan Berta mengintip wanita paruh baya tersebut sudah lunglai terduduk di lantai tersandar di dinding.
"Mama, apa yang terjadi?" Rizki bergerak cepat memapah Berta.
"Mama ketemu ini dalam genggaman Antonie." Memamerkan barang temuannya pada Rizki yang masih memapahnya.
"Saat Mama bangunkan, dia ngelindur dan membuat Mama terdorong seperti ini." Berta merasa seluruh tubuhnya menjadi sakit karena benturan barusan.
"Dia emang gitu, Ma. Jangan dibikin kaget, sentilan kecilnya aja membuat kita kesakitan. Mama pasti pegel banget ya?"
Rizki memapah ibu angkatnya itu keluar kamar. "Biasanya kalau dia udah tidur kayak gitu. Dia bakalan lama bangunnya, Ma. Jadi, kita biar kan saja."
Lalu Rizki mengerutkan kening saat baru menyadari Berta tidak tersentrum ketika emas yang diambilnya dari Antonie berada di tangan wanita yang paling tua di rumah ini. Berta duduk di atas sofa yang baru dibeli Antonie. Saat ini, perkakas rumah sudah cukup hingga mereka bisa duduk di kursi.
"Ma, apa aku boleh pinjam emas itu?"
Berta melihat benda yang ada di dalam genggamannya. "Nah, ini yang Mama mau tanyakan sama kamu." Menyerahkan emas itu ke tangan Rizki.
zzzzzttt
"Aaaaggh!" Rizki langsung melempar emas yang membuatnya tersentrum.
Mendengar teriakan Rizki, membuat Fanya keluar dari persemayamannya. "Ada apa teriak begitu?"
Rizki meniup tangannya yang terasa kesemutan usai mendapat sentruman dari emas tadi. "Itu, benda itu! Selalu saja semena-mena sama gue!" rutuknya menunjuk kepingan emas yang berkilau sudah terlempar cukup jauh.
Fanya bergerak menunduk memungutnya dengan santai. "Bukannya ini milik Kak Antonie?"
Berta mengerutkan keningnya. "Dari mana kamu tahu itu milik Antonie?"
"Ini ciri-ciri khas emas khusus milik dia, Ma." Fanya duduk di sebelah Berta. "Lihat ini, mereknya ada nama dia, meski ukirannya sangat mini." Memamerkan ada ukiran nama Antonie pada emas tersebut.
Rizki tak percaya apa yang dilihatnya. Fanya sama sekali merasa tidak masalah saat memegang benda kuning bercahaya itu. Bahkan dia tahu ciri khas emas tersebut.
"Loh? Lu sama Mama kok nggak kesentrum? Kenapa Bang Antonie nggak adil kayak gini? Kenapa gue aja yang kesentrum megang itu?" rutuknya.
Fanya mencabikkan wajah. "Mungkin benda ini tahu yang mana orang yang hatinya benar-benar bersih. Dia tahu kamu mau mencurinya, makanya kamu aja yang kena sendiri." nyinyir Fanya merasa puas.
"Jadi sebenarnya Antonie ini juragan emas atau apa? Mama heran, kenapa dia seperti memiliki uang yang sangat banyak."
"Akan tetapi, dia tidak terlihat melakukan pekerjaan berarti. Mama kira dia itu malam-malam keluar rumah buat mencuri, ternyata pergi ke tambang emas ya? Di mana lokasinya?"
Rizki dan Fanya saling bertatapan. Dia juga tidak tahu dari mana emas-emas itu. Yang jelas, datang begitu saja dan selalu saja bertambah setiap ada yang meminta jasanya menyembuhkan penyakit.
*
__ADS_1
*
*
"Haaah, bagaimana Leon? Kamu sudah siap?" tanya Liana bersiap untuk berangkat menuju kampung halaman sang Ibu. Dengan berbekal satu buah tas travel bag, dan masing-masing punggung telah memakai ransel, mereka telah siap untuk hijrah.
Leon hanya diam. Dia belum ingin beranjak dari kota ini, tempat di mana orang tuanya dimakamkan. Namun, saat melihat ekspresi Liana begitu bersemangat, mau tak mau Leon harus ikut bersama sang kakak. Dia tidak memiliki keluarga, selain Liana di kota ini.
Leon memegang tangan Liana, lalu mengangguk meski wajahnya tertunduk. Liana yang menyadari perubahan raut wajah sang adik pun merasa heran.
"Kamu kenapa? Apa kamu gak mau kita pergi?"
Leon menggelengkan kepalanya. Padahal memang itu lah yang dirasakan oleh Leon yang sebenarnya. Namun, Leon merasa tidak enak jika harus berkata jujur kepada sang kakak yang sudah berusaha keras untuknya.
Liana langsung merangkul Leon keluar dari rumah, lalu mengunci pintu rumah tersebut. Liana menggandeng tangan sang adik keluar dari pekarangan rumahnya. Mereka akan berjalan kaki menuju stasiun kereta yang tidak jauh dari lokasi kontrakannya.
"Hmmmfff ... uuhhhhkk ...."
Liana mendengar suara seseorang tengah meringis. Akan tetapi dia tidak melihat siapa pun, di sana. Sedikit mengedikan bahu, Liana melanjutkan perjalanan.
"Tooolooong." ringis seseorang.
Liana menghentikan langkahnya, memasang indera pendengarannya dengan baik.
"Tooolooong."
Sekarang Liana merasa sangat yakin bahwa itu adalah suara seseorang yang meminta pertolongan. Kepala Liana mulai liar berputar ke kiri dan ke kanan. Sembari melihat ke segala arah, Liana terus memasang alat pendengarannya dengan baik.
"Toooloong."
Liana melangkah kan kaki ke arah yang menurutnya sesuai dengan sumber suara.
"Toooloong."
Di samping sebuah bangunan, suara permintaan pertolongan itu semakin jelas. Liana menggandeng sang adik dengan langkah perlahan.
Liana merasa bimbang, apakah dia harus menolong orang itu atau tidak? Sementara kereta menuju provinsi tujuannya akan berangkat sebentar lagi.
Liana pun memilih untuk meminta pertolongan kepada orang yang juga lewat di sana. Namun, tak ada satu pun yang bersedia untuk membantu. Apalagi, aroma pria itu sudah bercampur dengan bau sampah yang berada di samping tempat dia tergeletak.
Dia adalah pria yang tadinya berusaha berteleportasi untuk kembali ke rumah. Namun, karena kehabisan tenaga, dia malah terjatuh ke dalam bak sampah yang cukup besar. Dengan susah payah Sony berusaha keluar dari dalam bak sampah dan menyandarkan diri pada dinding bangunan tersebut.
Saat ini dia benar-benar kehabisan tenaga. Dia melihat gadis yang sedang menggandeng anak kecil mencari orang lain untuk menolongnya.
Bukan kah anak kecil itu adalah anak yang hilang di rumah sakit Papa?
[ HAHAHA ... SEPERTINYA KITA SEDANG BERUNTUNG. DIA ADALAH PENGGUNA SYSTEM. CEPAT AMBIL SYSTEM YANG DIA MILIKI! ]
Sony berusaha bangkit dengan kaki yang masih bergetar. Dia terus memaksakan dirinya yang harus memenuhi permintaan Demon System.
Sony berjalan mendekat, langkahnya seakan tertatih ingin menangkap gadis yang sedang mencarikan pertolongan untuknya.
Merasakan sesuatu yang janggal dan aroma busuk yang semakin tercium, Leon melihat ke arah belakang. Dia tersentak dan terkejut. Namun laki-laki dewasa itu sudah begitu dekat dengan mereka.
Sony perlahan mengangkat tangannya yang bergetar seakan tak sanggup lagi untuk digerakan.
haap
Tangan Sony sudah terparkir di bahu Liana, membuat gadis itu terperanjat dan ... bruuuukkk ... Sony ambruk menimpa Liana dan gadis itu ikut terjatuh.
*
*
*
__ADS_1
"Too~loong!" teriak salah satu security yang sudah mulai pasrah dengan apa yang mereka takutkan.
"Tooo—"
Seseorang menyumpal mulutnya menyuruh untuk berhenti berteriak.
"Ta akan ada yang mendengar!"
"Siapa tahu ada seseorang yang berniat ke sini kan?" ringisnya.
"Padahal istriku sedang hamil tua, kami sedang menantikan kelahiran anak pertama. Namun, ayahnya harus pergi meninggalkannya." gumam security pertama.
"Anakku ada empat, masih kecil semua. Kamu bayangkan beban yang akan ditanggung oleh istriku jika kita berempat mati konyol di sini." ucap yang lain.
"Aku memang belum menikah, tetapi orang tuaku sangat bergantung padaku. Jika aku mati, maka tak ada lagi yang bisa membahagiakan mereka." ucap security terakhir.
Di dalam ruang sempit yang semakin lama semakin pengap ini, hanya Dokter Hardan lah orang yang paling mampu. Lalu, semua security melihat ke arah Dokter Hardan. Kepala mereka semua masih tertunduk karena ruangan yang sangat rendah. Tengkuk mereka mulai terasa lelah, tetapi memang hanya seperti itu yang bisa mereka lakukan.
"Dok, jika kami meninggal di sini, apa kami akan mendapat lencana tanda bakti? Apakah nasib keluarga kami akan dijamin?"
Dokter Hardan tak bergeming. Dia masih sibuk memikirkan upaya agar dia bisa keluar dari kedaan ini.
*
*
*
Malam pun datang, Antonie belum juga terbangun. Berta mulai merasa khawatir. "Apa tidak masalah jika dia dibiarkan terus tidur seperti itu?"
"Tidak apa, Ma. Dia memang sering begitu. Tapi, kalau nanti dia udah bangun, harus siapkan semuanya. Nasi satu bakul itu sekali lahap buat dia." terang Rizki yang telah menyiapkan makanan di bawah tudung saji.
tok
tok
tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Fanya yang berada di posisi yang tidak terlalu jauh langsung menuju pintu. Sejenak dia intip, ternyata wajah itu tidak dikenalnya.
Namun, salah satu dari orang yang mengetuk pintu tersebut, terlihat melongo. "Ka-kamu?"
Dia teringat bahwa gadis yang membukakan pintu ini adalah calon donor paksa yang tiba-tiba menghilang saat akan dibedah dulu.
"Siapa?" seperti biasa Fanya berlaga cuek, seperti gaya andalannya.
...****************...
Yuuuk, mampiir yuuuk ... Siapa yang suka cerita fantasi Isekai (Transmigrasi ke dunia novel)?
Mampir yuk pada karya sahabat Author yang selalu kece badai.
Napen: MOM AL
Judul: Lady Devil
Napen: ingflora
Judul: Siluman Putri Duyung
Napen: ingflora
__ADS_1
Judul: Temukan Aku 1000 Tahun Lagi