Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 84


__ADS_3

*Maaf ya Kakak, Abang .. author nulis sekuel Sistem Pengendali Waktu, jadi makin keteteran Bang Antonie. Authornya mewek kena hempas ke dasar ... Aaaiiihh..*


Keesokan hari, ketika Antonie sedang proses penyembuhan pada pasien lanjut usia, Antonie dikejutkan oleh getaran ponsel yang terletak di atas meja kerja.


"Maaf ya, Nek? Saya menjawab panggilan dulu."


Pasien menganggukkan kepalanya dan Antonie segera mengecek ponselnya. Namun, kening pria tampan berbalut kaca mata itu terlihat berkerut karena dalam layar ponselnya tertulis dengan 'Panggilan Private' alias tidak ditampilkan oleh si penelepon.


Antonie menggeser tanda hijau lalu menyapa orang yang ada di seberang panggilan. Namun, orang yang di balik panggilan hanya bergeming tanpa sahutan.


"Halo? Jika tidak berkepentingan, saya tutup panggilannya."


"Tunggu!" Terdengar suara bariton dari ujung panggilan ini.


deegh


Jantung Antonie seketika berdebar. Ada rasa yang tak biasa tiba-tiba meraup di hatinya. Ada kedekatan yang entah kenapa begitu terasa meski ia tidak mengenal siapa orang di balik panggilan ini.


"Halo?" jawab Antonie, tetapi kali ini dengan nada dingin.


"Saya mendapat kontak dari Ibu Wulan, di Panti Asuhan tempat kamu dibesarkan."


"Ya."

__ADS_1


"Hmm, sepertinya kamu sedang sibuk. Saya hanya ingin sekedar memastikan bahwa kamu adalah seseorang yang bernama Antonie."


"Ya, benar sekali. Nama saya Antonie, dan ditemukan pada sebuah bak sampah yang dilempar ke sebuah panti asuhan. Memang sangat benar seperti yang Anda katakan, saat ini saya memang cukup sibuk, panggilan saya tutup terlebih dahulu."


Tanpa menunggu jawaban, Antonie menekan tombol merah dengan raut datarnya. Pasien yang melihat ekspresi pemuda ini berubah dengan tiba-tiba, mencoba bangkit dan mengganti posisi duduk di atas brangkar. Orang yang setengah jalan dalam menyembuhkannya ini menatap ponsel yang ada di tangannya dengan kosong.


"Apa yang terjadi, Dok? Apa Dokter baik-baik saja?" getaran suara dari pria tua itu menyadarkan Antonie, dari lamunan sesaatnya.


Antonie melirik pria dengan rambut yang telah memutih itu, semburat kerutan yang tak menghilang meski tak mengatakan apa pun, menyiratkan kekhawatirannya kepada seseorang yang akan merawatnya ini.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya, Pak. Saya baik-baik saja." Antonie kembali mengajak pria tua itu untuk merebahkan diri pada brangkar yang telah disiapkan, melanjutkan pekerjaannya dalam memberikan penyembuhan.


Sementara itu, seseorang yang sedang duduk sendirian di belakang kendaraan yang ia tumpangi, melirik sebuh klinik dengan palang nama 'Sehat Tanpa Kimia' dengan wajahnya yang datar.


Seseorang dengan setelan jas, teringat akan sebuah panggilan seluler mengatakan bahwa orang yang ia cari setelah bertahun lamanya akhirnya muncul. Wanita yang dipanggilnya dengan Bu Wulan, memberikan kontak Antonie via pesan chat.


"Benar sekali, Mad. Dia adalah kembaran Andika yang diculik oleh Ronz yang dendam karena dendam kepada aku dan mendiang istriku."


Pria dengan sedikit kerutan di bawah matanya teringat pada kisah 25 tahun yang lalu, di mana ketika istrinya sedang berjuang melahirkan putra kembar mereka. Saat itu, pria paruh baya ini sedang melakukan perjalanan keluar negeri.


Zaman yang belum secanggih saat ini, menyulitkannya dalam mendapat informasi. Telepon satelit yang ia miliki pun, sengaja ditinggal karena dianggap menyusahkan dalam perjalanan.


Sehingga, ketika kembali pulang, ia sangat terkejut mendapat berita bahwa istrinya meninggal dalam proses melahirkan. Putranya yang kala itu diberi nama Andika, mendapat perawatan intensif karena mengalami bobot di bawah standar.

__ADS_1


Sementara, putranya yang satu lagi hilang tanpa kabar. Tas kerja yang ada di tangan Pria bernama Zanh itu pun terlepas. Pria yang kala itu berumur tiga puluh tahum melemah dengan getaran hebat terduduk mendapati istrinya telah tiada tanpa sempat melihatnya terakhir kali.


"Tidak! Tidak mungkiiiiin!" teriaknya tidak memercayai apa yang telah terjadi.


Selama beberapa tahun, Zanh mengalami depresi hebat tanpa memikirkan siapa pun juga. Ia merasa sangat terpuruk, hingga lebih banyak mengurung diri sendiri mengabaikan Andika yang berjuang sendirian dengan kondisinya yang sulit.


Dia tidak memedulikan apa yang terjadi pada putranya yang hilang karena masih sulit menerima bahwa istri yang sangat ia cintai telah pergi untuk selamanya. Hingga akhirnya, Andika tumbuh tampa perhatian darinya, diausuh oleh pengasuh yang dibayar oleh Zahn.


Setelah sepuluh tahun, akhirnya Zahn mulai membuka diri kembali. Andika yang selama ini tumbuh tanpa perhatian darinya pun tak ingin lebih dekat lagi dengannya.


Berbagai macam cara dilakukan agar Andika benar-benar mau menerima dirinya sebagai ayah, yang telah mengabaikannya dalam sekian tahun.


Setelah mendapatkan hati Andika, Zahn mulai mencari kembaran anaknya hingga menyewa detektif swasta paling mahal yang ada di negara ini. Saat itu lah ia mendapatkan informasi bahwa Ronz, musuh dalam bisnisnya menculik anaknya dengan menyamar menjadi tenaga medis.


Ketika kondisi istrinya tidak stabil, membuat para nakes sibuk memangani berupaya dalam penyelamatan nyawa istri dari konglomerat bernama Zahn.


Saat itu pula, Ronz mengambil salah satu dari kembar itu dibawa pergi lalu diletakkan di bak sampah. Zahn mendapatkan informasi bahwa anaknya yang dibuang ke dalam bak sampah dibawa ke sebuah panti asuhan.


Namun, kenyataan yang membuat dirinya menjadi semakin pilu ialah, anaknya yang diberi nama Antonie oleh pihak panti asuhan, keberadaannya tidak diketahui semenjak keluar dari sana.


Zahn segera memerintahkan detektif itu menyelidiki keberadaan Ronz dan setelah menemukan musuh lamanya itu, Ronz menyeringai.


"Kau terlambat!"

__ADS_1


Zahn menarik kerah bulat baju milik Ronz. "Kau akan segera membusuk di penjara!"


Ronz menyeringai mendengar ucapan Zahn. "Setelah itu, kau akan membusuk di dalam tanah! Hahahaha!"


__ADS_2