Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 32


__ADS_3

"Apa gunanya jadi System canggih tapi tidak bisa menyelamatkan gue dalam keadaan terjepit kayak gini?" rutuk gadis pencuri yang bernama Liana itu.


[Sepertinya God System yang digunakannya memiliki kekuatan tanpa batas, Nona. Tali ini akan terlepas dengan sendirinya dalam waktu enam jam kemudian.]


"APAAAAA?"


*


*


*


Antonie sudah berada di lokasi toko yang diceritakan oleh orang-orang yang ada di dalam busway tadi. Namun, siang ini belum ada tampak toko yang tutup. Tentu saja Antonie tidak menemukan para tuna wisma tersebut.


"Kak, kenapa harus dicari sih? Jangan bilang mereka mau diajak tinggal di rumah singgah kita juga?" sungut Fanya.


Rizki mendelik. "Kenapa elu yang sewot? Itu kan sengaja dibuat untuk menampung orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, seperti kita! Lu dan gue!" terang Rizki.


Namun, Fanya kembali memasang muka bebek. "Aku bukan gelandangan. Aku ini sengaja kabur dari rumah—"


"Tapi, nggak ada yang nyari lu lagi kan? Sama aja lu dianggap nggak ada! Gembel! Tak ada bedanya dengan mereka!" sarkas Rizki.


"Sudah! Jangan meributkan hal yang tak penting. Intinya saat kita semua memiliki nasib yang tak jauh berbeda!" ucap Antonie lagi menengahi pertengkaran mereka.


"Kamu, jangan menganggap bahwa rumah itu hanya untuk kita bertiga saja. Rumah itu masih cukup besar untuk menampung banyak orang lagi. Aku berencana akan menempatkan empat orang dalam satu kamar. Jadi, mau tidak mau kalian harus menerima dan berlapang dada!"


"Tapi—"


"Nanti kasur yang lain akan aku tambah jika penghuni lainnya telah bertambah." sela Antonie menyela bantahan Fanya.


Fanya hanya bisa menghentakan kakinya karena tidak setuju dengan rencana Antonie. Saat ini, baginya sudah cukup nyaman dengan keadaan yang ada.


Namun, Antoni tidak memedulikan rajukan Fanya. Tanpa sengaja, dia melihat seseorang yang tersandar di dinding ujung toko dengan mata yang terus mengawasi kiri kanan. Pakaiannya terlihat sangat lusuh dan kotor.


Kaki Antonie bergerak mendekati karena merasa penasaran. Dia berjongkok tepat di hadapan seorang wanita sekitar empat puluhan dengan rambut terikat, tetapi rautnya penuh dengan rasa takut.


Netranya mulai fokus menatap Antonie orang yang asing baginya. Wanita itu terlihat semakin ketakutan lalu bangkit dan mencoba untuk beranjak.

__ADS_1


"Bu, kenapa terlihat cemas seperti itu?"


Namun, wanita tersebut terus melangkah meninggalkan Antonie. Antonie bangkit dan menatap kepergiannya. Wanita itu terus terkaget sendiri melirik ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa dengan Ibu itu?" tanya Antonie.


"Silakan mencari jawaban sendiri, Tuan. Ini adalah tugas Anda untuk mencari jawabannya." ucap System lalu hening kembali.


Antonie mengikuti Ibu yang terus terlihat ketakutan. Dengan berlari kecil, Antonie mendekat membuat wanita itu semakin lari dan mencoba untuk kabur.


"Ibu ... Ibuuu ... tunggu!"


Namun, wanita empat puluh tahun itu mempercepat langkahnya. Dia tampak semakin ketakutan berlari membawa karung usang di tangan.


Antonie bagai teringat pada masa lalunya dulu yang selalu membawa karung ke mana pun dia pergi demi sesuap nasi. Terjadi lah aksi kejar-kejaran antara Ibu tersebut dengan Antonie.


"Bu ... jangan takut! Aku tidak akan melakukan hal buruk."


Namun Ibu itu menutup telinga dan terus berlari. Akhirnya, mau tidak mau Antonie mempercepat gerakannya. Antonie telah berdiri di hadapan Ibu itu dan menangkapnya.


"Aggghhhh ... jangaaan! Jangaaan! Saya masih memiliki anak dan suami." Wanita itu berteriak tak karuan, tetapi Antonie membiarkannya.


Antonie menyunggingkan senyuman setulus mungkin, berharap agar ibu ini tidak takut lagi kepadanya. "Aku Antonie. Aku melihat ibu terlihat cemas begitu, apa yang terjadi?"


Dia menggeleng cepat, metanya melirik ke kiri dan ke kanan tiada henti. "Apa kamu adalah salah satu dari penculik-penculik itu?"


Antonie mengerutkan keningnya, dia seperti mendapat celah misteri yang ingin dia ungkap. "Siapa yang mau menculik Ibu?"


Antonie memindai keadaan Ibu tersebut. Degup jantungnya cepat tak beraturan. Tubuhnya memang berkeringat, bisa jadi karena setelah lari atau bisa jadi karena faktor tertentu. Antonie menarik tangan ibu tersebut dan mencoba menilik dengan cermat. Telapak tangannya memang cukup berkeringat.


"Bu ... Ibu bisa mempercayai aku. Aku tidak akan berbuat jahat kepada Ibu, atau siapa pun."


Dalam beberapa waktu kemudian, Ibu yang diketahui bernama Tasnim, duduk di samping Antonie di sebuah taman kota. Antonie mengajak kedua adik angkatnya juga untuk memgikutinya. Namun, Fanya dan Rizki memilih jalan-jalan mengintari taman kota tersebut.


Saat ini, Antonie sudah menyiapkan nasi bungkus beserta minum di hadapan Bu Tasnim. Namun, beliau tidak mau menyentuhnya semenjak mereka duduk bersama.


"Makan lah, Bu. Bu Tasnim pasti sangat lapar." tawar Antonie.

__ADS_1


Namun Ibu itu diam tak bergeming. Dia terlihat melirik Antonie di ujung mata.


"Ibu jangan khawatir. Aku tidak melakukan apa pun pada makanan itu. Ibu lihat sendiri bukan? Makanan itu masih terbungkus dengan rapi semenjak dari warungnya?"


kruuuucuuuk


Terdengar suara gemuruh yang bukan berasal dari perut Antonie. Ibu Tasnim memegang perutnya menatap nasi yang masih terbungkus dengan baik, bergantian dengan menatap Antonie.


"Makan lah, Bu." Antonie membuka nasi bungkus itu dan menyerahkannya kepada Bu Tasnim. Setelah itu menyerahkan air mineral dengan botol yang paling besar.


"Jangan lupa, tangannya dicuci dulu!" Membantu membuka tutup botolnya. Dari dalam kantong jaket yang dia kenakan, Antonie mengeluarkan hand sanitizer.


Setelah ibu itu mencuci tangan dengan air mineral, Antonie menuangkan hand sanitizer pada telapak tangan Bu Tasnim. Antonie pun menuangkan pada telapak tangannya.


"Gini caranya, Bu." Pria berkaca mata itu memberikan contoh membersihkan hingga ke sela jari, ditiru oleh Bu Tasnim.


"Silakan makan dulu. Nanti, bila Ibu merasa lebih lega, aku ingin mendengar cerita Ibu. Apa yang membuat Ibu merasa cemas seperti ini?"


*


*


*


"Kami sudah menemukan lokasi tempat tinggal pria ini, Bu." ucap seorang pria bertopi menaruh hasil lukisan yang diminta oleh Angela.


"Di mana lokasinya? Siapa namanya? Apa pekerjaannya?"


Ternyata Angela sengaja menyewa seorang detektif swasta untuk mencari keberadaan Antonie.


"Namanya Antonie, dia pendiri rumah singgah di wilayah pinggir sungai di kota ini." terang sang detektif.


"Antonie ... Antonie ...." Angela menatap Antonie yang divisualisasikannya dalam bentuk lukisan.


"Tolong antarkan saya ke sana. Bila saya berhasil menemuinya, maka sisa uang akan saya berikan." ucap Angel.


Sang detektif menyetujui dan mereka langsung bergerak menuju tempat itu. Dalam waktu tiga puluh menit, mereka sudah meninjau rumah singgah yang ditempati oleh Antonie. Namun, dia tidak menemukan siapa pun yang berada di sana.

__ADS_1


Pak RT mengamati orang asing yang belum pernah ditemui ini pun tergerak hatinya untuk menuju ke rumah yang disewakan kepada Antonie.


"Maaf ... ada apa ya?"


__ADS_2