
Sebuah tangan mengambang tepat di depan wajah Liana, tangan itu bergerak seakan ingin mencengkeram wajah Liana. Liana sudah bersiap memainkan kakinya, tetapi tangan itu bergetar seperti bergejolak melawan diri sendiri.
Wajah pria tak di kenalnya ini terlihat menahan rasa sakit yang luar biasa. Seakan memaksakan diri, pria itu bagai menyeret tubuhnya untuk pergi menjauhkan diri dari gadis yang sudah menolongnya ini.
"Kali ini kamu kubebaskan. Namun, belum tentu akan sama jika kita bertemu di lain waktu. Jika kamu melihatku dari jauh, lari lah sejauh kamu mampu! Ini sebagai tanda terima kasihku karena telah menyelamatkan nyawaku."
Sony menyeret tubuh memaksakan diri untuk pegi. Dia menghilang begitu saja tepat di hadapan mata Liana. Liana mengerjapkan kedua mata manyadari apa yang baru saja terjadi.
Sistem, barusan itu apa?
[ Dia adalah pengguna Demon System, Nona. ]
[ Dia akan berubah menjadi sangat kuat jika dia berhasil merebut System yang didapatkan oleh manusia-manusia beruntung sepertimu. ]
[ Seperti apa yang dikatakan pria tadi, kita harus lari jika melihatnya. ]
[ System akan memberikan peringatan, mulai jarak satu kilo meter. ]
[ Kita harus segera menghindar! ]
Liana sedikit tersentak mendapat penjelasan dari System pemandunya. Padahal di dalam kantong celana sudah terselip dompet milik pria itu. Liana melirik sang adik yang masih menyembunyikan wajah di belakangnya. Liana menarik Leon langsung memindahkan Leon yang ketakutan ke dalam pelukannya.
"Kamu takut banget ya?" Liana mengusap punggung Leon agar merasa lebih tenang. Leon menganggukan kepala dalam dekapan sang kakak.
"Tenang lah! Dia sudah pergi. Kakak akan selalu menjagamu. Kamu tidak perlu khawatir. Bahkan, nyawa pun akan Kakak berikan untuk memastikanmu selamat dari berbagai macam marabahaya. Karena kamu, adalah satu-satunya yang Kakak miliki di dunia ini."
Leon memeluk Liana semakin erat. "Kakak jangan mati! Jangan tinggalkan Leon seperti Mama dan Papa yang telah tidur di dalam tanah."
__ADS_1
Liana tersenyum tipis menyugar rambut Leon menganggukan kepala. Setelah itu, Liana mengeluarkan dompet tersebut mengecek informasi dari pria tersebut.
"Jadi namanya Sony Hardan Bramantyo." Wajahnya terlihat datar melihat foto yang ada di kartu identitas tersebut. Karena dia sangat mengetahui nama Hardan Bramantyo, adalah nama pemilik Rumah Sakit Harapan Kita.
Keesokan paginya, Liana kembali menarik Leon dan memasangkan tas di kedua pundak Leon. "Kita tidak boleh berlama-lama di kota ini. Kita harus pergi!"
"Kita tetap pergi?" Wajah Leon terlihat kecewa.
"Kita harus pergi. Jika kita berlama-lama di kota ini, apa kamu mau bertemu lagi dengan orang tadi malam?" Dengan yang terdengar sedikit membuat Leon takut. Hingga membuat sang adik mengangguk cepat menggenggam tangan kakaknya.
Setelah itu mereka segera menuju stasiun kereta menunggu keberangkatan paling awal, agar bisa menjauh untuk selamanya dari kota ini.
*
*
*
"Aku udah selesai," Fanya beranjak menuju ke kamarnya.
"Lu habisin Bang! Kalau nggak habis, gue gak mau lagi masak!" Rizki pun pergi menuju keluar rumah.
Antonie yang merasa tidak begitu lapar, tentu tidak sanggup menghabiskan semuanya. Dia langsung menyulap makanan tersebut masuk ke dalam box makananan. Antonie berencana akan memberikan makanan-makanan ini kepada orang-orang yang membutuhkan.
Setelah itu, makanan tersebut dimasukan ke dalam cincin dan Antonie pun bersiap untuk keluar. "Siapa yang mau ikut? Ayo, kita beli hape!"
Wajah Rizki seketika berbinar, dan Fanya yang tadinya berada di dalam kamar melonjak mengejar Antonie.
__ADS_1
"Ayoo Kak ... Ayooo!" Langsung menarik Antonie menuju kendaraan roda empat yang sedang terparkir di depan rumah.
Rizki segera mengunci pintu rumah tersebut. Mereka naik kendaraan dan Rizki dipaksa duduk di bagian belakang yang tidak memiliki jok.
"Seharusnya gue yang di sana! Lu yang di sini!" rutuk Rizki dan Fanya hanya mencabik mengeluarkan lidah.
"Kalian pegangan yang erat!" titah sang supir.
Antonie menyerahkan kendali diri kepada System. Saat telah memasuki jalan raya, ternyata sedang terjadi razia pengecekan kelengkapan surat pengendara. Antonie tidak memiliki apa pun kecuali surat pembelian mobil.
"Bang punya SIM dan lainnya nggak?" tanya Rizki. Antonie hanya tersenyum kikuk meggelengkan kepala.
"Ini adalah kali keduaku mengendarai mobil. Jangan kan kendaraan roda empat, SIM untuk roda dua pun aku belum punya."
Seorang berseragam coklat dengan segala lambang pangkat terpasang mendekati kendaraan mereka.
"Bang, kabur Bang! Kabuur!" ucap Rizki menepuk cepat lengan Antonie.
...****************...
Ayooo Kak, Author kenalin lagi pada karya teman yang kece badai.
Napen: Santi Suki
Judul: Bukan Istana Impian
__ADS_1