
*Maaf telat up y kakak dan abang semua. Authornya lagi nyari Antonie dulu. Lagi kurang sehat, bawaannya megang hape malah jadi pusing."
...****************...
"Oleh karena itu, kualitas perawatan Leon akan kami tingkatkan. Hal ini tentu juga akan berkaitan dengan peningkatan harga biaya perawatan."
Wajah Liana mendongak cepat. "Maksudnya?"
"Biaya perawatannya bertambah menjadi 25 juta rupiah per malam." ucap dokter itu.
"A-apa?" Otak gadis itu langsung menghitung kisaran dana mingguan yang harus dia setorkan. Hasil akhirnya menuju pada angka 175 juta rupiah setiap minggu nya. Liana tiba-tiba merasa tubuhnya lemah dengan seketika.
Apakah aku dipaksa untuk mencuri lebih banyak lagi? Liana melihat ke arah kaki yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana, Mbak Liana? Mau lanjut atau kita hentikan saja?"
"Tu-tunggu dulu, Dok. Tadi Dokter baru saja mengatakan perkembangan Leon sudah semakin pesat. Masa dihentikan begitu saja? Aku yakin, adikku pasti bisa disembuhkan. A-aku akan berusaha mencari uang-uang tersebut. Perawatannya harus dilanjutkan! Jangan pernah coba-coba untuk menghentikan pengobatan Leon!"
Dokter tersebut menganggukan kepala dan memberi catatan mengenai beberapa hal. Setelah usai konsultas, dengan perasaan gamang, Liana berjalan tertatih menarik kaki yang terseok keluar sembari menopangkan dirinya pada dinding, berjalan perlahan kembali pada posisi keberadaan Leon.
Tak jauh dari lokasi tersebut Antonie bersama Angela dan Dilla tengah membicarakan sesuatu di sebuah bangunan kosong.
"Jika kamu mau, gedung ini akan aku beli untukmu." ucap Angela.
Antonie tersentak, begitu juga dengan Dilla yang tidak mendapat kabar apa-apa sebelumnya. Tiba-tiba saja sang atasan memberi kabar yang menurutnya cukup mengejutkan.
"Jangan, jika kamu mau beli, lebih baik untuk dirimu saja! Jangan pernah mengatakan untukku atau pun atas namaku. Ini akan membuatku merasa terbebani."
Angela melebarkan senyumnya. "Bukan untukmu secara khusus. Aku ingin menyumbangkannya sebagai tempat yang nantinya bermanfaat bagi semua orang. Gedung ini bisa kamu jadikan tempat untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan."
Antonie merenung, mengangkat kedua tangannya melirik kiri kanan secara bergantian. "Aku rasa itu terlalu berlebihan. Ekspektasimu terlalu tinggi terhadapku."
Lalu seorang yang membawa ember kecil, berpakaian sangat lusuh dengan tubuh kurus, berjalan mendekat pada mereka. Ember itu dihadapkan pada mereka tanpa mengatakan apa-apa.
Tanpa ragu, Angela mengeluarkan uang dan memberikan sejumlah yang dirasa pantas bagi pengemis itu. Sementara, Antonie mengeluarkan sekeping kecil emas yang dia punya dimasukan ke dalam ember milik sang pengemis.
Angela tertegun atas aksi yang dilakukan Antonie. Dia merasa, bahwa Antonie ini begitu berbeda.
"Kamu tahu, sebelum bertemu denganmu, aku hanya lah wanita penyakitan. Namun, setelah kamu menyembuhkan aku dengan total, aku tak pernah lagi merasakan keluhan pada alat pernafasanku."
"Oleh karena itu, aku juga ingin orang lain yang mengalami hal sama sepertiku ingin mengenalmu, dan mereka bisa sembuh berkat kamu."
__ADS_1
Angela merentangkan kedua tangannya. "Dulu aku tak pernah merasa sebebas ini. Kemana-mana aku harus sedia sesuatu, karena sewaktu-waktu aku bisa mengalami sesak."
"Sekarang, semua sirna. Aku tak perlu lagi membawa apa pun, kemana-mana." terang Angela dengan penuh semangat.
Dilla menahan senyumnya. Dilla merasa ada satu yang khusus dimiliki oleh atasannya ini kepada pemuda bernama Antonie.
"Aku rasa, jika kamu menerima ini semua, maka orang lain yang membutuhkanmu, bisa dengan mudah menemukanmu di tempat ini. Mereka tidak perlu lagi membayar mahal untuk biaya pengobatan, dan mereka tidak perlu lagi bergantung pada bahan kimia yang notabenenya menyembuhkan, tetapi akhirnya .... Kamu tahu sendiri."
Antonie hening, di dalam pikiran dia tengah sibuk bertanya-jawab dengan System. Menanyakan pendapat System apa yang harus dilakukannya. Jikan diterima, pasti tentu sangat sulit baginya.
"Terima saja! Kita tidak akan tahu jawabannya jika belum mencoba!"
Akhirnya, Antonie berbincang kembali dengan wanita eksekutif itu, dan menerima penawaran Angela. Dia setuju karena bujukan System. Dia juga ingin tahu seberapa batas maksimal kemampuan God System dalam membantunya menyembuhkan orang lain.
Di gedung sebelahnya, Sonya baru saja turun dari taksi online yang disewanya karena ditinggalkan oleh sang ayah. Dengan kasar dia berjalan menyerobot yang ada.
bruuuuk — Liana ambruk.
Dia menabrak Liana yang berjalan terseok. "Heh, bisa jalan pakai mata gak?" bentaknya sarkas.
Liana tidak menerima dan bangkit cepat meski kakinya terasa semakin sakit. Liana menarik bluss hitam yang dikenakan Sonya yang baru saja balik dari rumah suka.
"Seharusnya gue yang bilang begitu!" Liana membelalakan matanya dengan gigi-gigi tertaut karena merasa geram.
Kaki Liana kembali terasa nyeri, tubuh Liana menjadi limbung. Sonya pun ikut ambruk karena kedua tangan Liana masih erat menggenggam pakaian Sonya. Dengan kasar, Sonya mendorong Liana sampai benar-benar jatuh.
"Aaagghh!" Liana benar-benar semakin kesakitan.
Zzzzztttt
Telinga Antonie bagai berdengung mendapat peringatan ada seseorang yang merintih kesakitan. Dia merasa bingung dan menekan bagian telinga yang berdengung itu.
"Aku harus pergi!" Tanpa menunggu jawanan Angela, Antonie bergerak ke arah belakang mobil Angela, dan dia menghilang di sana.
"System, apa yang terjadi padaku?"
"Anda sudah upgrade System, jadi akan membuat Anda lebih sensitif lagi dengan lingkungan sekitar yang terdekat."
Saat ini dia melihat Liana sedang terduduk meringis kesakitan. Sonya mengelilingi Liana dengan muka masamnya.
"Apa yang terjadi di antara mereka?"
__ADS_1
buugh
Sonya melayangkan kakinya pada kaki Liana. Sehingga Liana semakin meringis merasakan sakit luar biasa. Tidak hanya itu, Sonya menginjak pergelangan kaki gadis pencuri dan menekannya dengan kuat, membuat segala tenaga yang dimiliki Liana terkuras.
Antonie melayangkan tem bakan angin untuk menghentikan kelakuan Sonya. Sonya merasa tubuhnya tiba-tiba terdorong dan dia ambruk kembali.
Bengkak pada pergelangan kaki Liana terlihat semakin jelas. Sonya memberikan senyum sinisnya terhadap Liana.
"Masih berani macam-macam?" sinisnya.
Sonya mencoba bangkit, tetapi hak pada sepatunya patas saat diinjakan. Hal ini membuat kaki Sonya terkilir.
"Aaaaghht!" pekiknya kesakitan.
Liana tersenyum melihat apa yang ditimpa oleh wanita ke jam ini. "Tuhan itu Maha Adil! Gue gak perlu membalas lu, tapi cukup karma yang datang sendirinya untuk membalas lu! Lu pernah dengar, doa orang-orang teraniaya itu didengar oleh Tuhan?"
"Ternyata, gadis bodoh itu masih memercayai adanya Tuhan?" gumam Antonie menahan senyumnya.
Liana bangkit dengan menoyor kepala gadis sombong itu. "Apa sih kerja Bapak lu bisa punya anak gak ada otak kayak gini?" rutuknya.
Sonya tak mau kalah, mencoba bangkit tetapi kakinya kembali terasa sakit. Liana tersenyum puas melihat apa yang dialami oleh lawan yang tiba-tiba muncul ini.
"Mampuuuus!" ucapnya berlalu keluar dari gedung.
Matanya menangkap Antonie yang diam berdiri memperhatikannya. "Wah ... Waaahh! Ini dunia apa sih? Kenapa baru bebas dari mulut harimau, malah masuk mulut buaya?" rutuknya menunjuk Antonie.
Antonie berjongkok terfokus dengan pergelangan kaki gadis itu yang bewarna merah kebiruan. Dia tidak memedulikan omelan gadis yang tidak diketahui namanya. Antonie hendak menyentuh kakinya untuk melakukan penyembuhan lewat energinya.
Namun, Liana mendorong Antonie dengan kasar. "Jangan sekali-kali menyentuh gue! Jangan mentan-mentang gue lagi lemah, lu bisa memanfaatkan ini? Tidak, lu salah!" Liana mengayunkan kakinya kembali.
kreeeekk
Terdengar gemeletuk yang berasal dari pergelangan kakinya. "Aaaarrrgght!"
...****************...
Mampir di sini juga yuk ...
Napen: Triple.1
Judul: 336 Hours
__ADS_1