
"Sayaaang, akhirnya aku menemukanmu."
Antonie refleks melepaskan pelukan itu. "Maaf, Mba. Sepertinya kamu salah orang." ucap Antonie.
Wanita itu melihat Antonie dengan lekat. Dia mengernyitkan dahinya kembali memperhatikan Antonie. Sejenak dia merogoh kantong celana, tetapi dia menepuk jidatnya.
"Sepertinya ponselku terjatuh saat pria jahanam itu mengejarku," sungutnya nyaris tidak terdengar.
"Apa yang terjadi?" tanya Antonie lagi.
Wanita muda itu memejamkan matanya sejenak, lalu dia terlihat sedikit panik melihat kiri kanan dan orang-orang yang sedang berkeliling menunggu kabar tentang keadaanya.
Namun, dia tidak bisa mengatakan apa pun yang saat ini tertulis di dalam benaknya. Dia memilih memendam apa yang saat ini dia rasakan. Namun, wajahnya tak putus memandang wajah Antonie.
"Setelah aku pikir kembali, kamu memang bukan orang yang aku kenal. Hanya saja kamu terlihat sangat mirip dengan kekasihku. Namun, pria yang mirip denganmu itu sudah berusia tiga puluh lima tahun."
"Apa mungkin dia saudaramu?"
__ADS_1
Antonie menggelengkan kepalanya. Dia tidak mengenal siapa pun menjadi saudaranya selain keluarganya di panti asuhan dulu dan dua adik angkatnya yang sekarang.
Sekali lagi wanita yang belum diketahui namanya itu memejamkan matanya kembali, kali ini lebih lama dari sebelumnya. Antonie menyadari apa yang sedang dilakukan oleh wanita ini. Dia sedang mencoba berkomunikasi dengan System miliknya. Namun, wanita itu tidak mendapat sahutan dari sesosok yang sudah bersemayam dalam jiwanya beberapa tahun terakhir.
Wanita itu terlihat sedih dan berputus asa, melihat kedua telapak tangannya yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia kembali melirik ke arah Antonie. Wanita itu mengulurkan tangannya dengan sangat ramah.
"Namaku Green, siapa namamu?"
"Antonie." ucapnya singkat
Rizki yang sedari tadi diam di belakang Antonie, turut mengulurkan tangan berkenalan sedikit memaksa pada wanita cintik berpakaian latex ini.
Green melirik Rizki sejenak, dan wajah bingung pun terukir dalam rautnya. "Beneran saudara?"
"Kami saudara angkat, Mbak." guyon Rizki membuat wanita bernama Green tersenyum kikuk.
Setelah beberapa waktu berbincang dengan Pak RT, akhirnya Green memutuskan pulang, diantarkan oleh Antonie dan Rizki. Rizki berceletuk di belakang, mendapat posisi yang selalu sama terselip pada posisi yang tidak menyenangkan tanpa jok.
__ADS_1
Namun, apa daya, mobil mewah ini memang hanya dijatahkan untuk dua orang saja. Orang ketiganya minggir mengatu posisi sebisanya saja.
Antonie melirik Green yang kembali memejamkan mata mencoba berkomunikasi dengan System pemandu yang seperti kehilangan signal, tak memberi sahutan.
"Apa yang membuatmu gelisah?" tebak Antonie langsung tepat sasaran.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kamu tahu, kamu itu benar-benar sangat mirip dengan Andika, kekasihku. Kalian bagai pinang dibelah dua, hanya saja dia adalah seorang yang sangat kaya raya. Namun, sikap kalian yang dingin ini begitu cocok dengan sifatnya."
Rizki merasa geli mendengar cerita Green ini. Dia teringat orang tuanya sering berkata sesuatu yang antara bisa dipercaya, dan tidak bisa dipercaya.
"Itu kata orang ya Mba, manusia di bumi ini memiliki kembar identik sebanyak tujuh orang meski beda orang tua. Mbak percaya, nggak?"
Green terkekeh mendengar banyolan Rizki barusan. Dia kembali melirik Antonie, kali ini dia mengangguk. "Bisa jadi, bisa jadi. Bahkan aku hampir terkecoh meski aku sudah sering bertemu dengan Andika."
Seperti biasa Antonie memilih tidak berkomentar dengan sesuatu yang dianggapnya tidak penting. Lalu, Antonie mengantarkan Green ke rumahnya.
Ternyata Green tinggal di sebuah yang sederhana, berbanding terbalik dengan tampilan luarnya yang begitu perfecto. Rizki tertarik pada sebuah foto.
__ADS_1
"Bang, lu pinter banget nyembunyiin identitas ya?"
...**************...