
Sonya berjalan memasuki beranda rumah sakit. Dia terus melihat ke arah bangunan di sebelah rumah sakit ini. Jantungnya terasa berdebar.
bruuuuk
"Aaghh ... Jalan itu—" Melihat siapa yang baru saja ditabraknya, Sonya menghentikan ucapan.
"Kakak?" ucapnya tertunduk tidak mau melihat ke arah Sony.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Sony dengan wajah dinginnya.
Sonya hanya bisa menggelengkan kepala dengan cepat. Semenjak dia ditempatkan di rumah Dokter Hardan, setelah diserahkan oleh ibu kandungnya, Sonya tidak berani melawan Sony.
Dia selalu memilih mengurung diri di dalam kamar untuk menghindari Sony. Setiap Sony lewat di hadapannya, Sonya selalu menundukan kepala karena merasa takut pada tatapan mata sang kakak tiri. Semenjak kembali dari luar negeri, menurutnya Sony terasa semakin menakutkan.
"Cepat katakan! Apa yang kamu lihat di sana?"
"Tak ada, Kak." Sonya salah tingkah memutar mata. "Aku ke sana dulu." ucapnya berlalu tanpa menunggu jawaban.
Dara dan Cika yang memperhatikan tingkah Sonya pun saling bertatapan. Mereka melihat punggung pria yang dulu pernah ditemui saat main di rumah Sonya.
Dara dan Cika menghampiri Sony untuk sekedar menyapa. "Halo, Kak Sony." sapa Cika.
Orang yang disapa hanya melirik sejenak lalu kembali menatap ke arah bangunan yang ada di samping rumah sakit milik ayahnya.
"Kakak masih ingat dengan kami?" tanya Cika lagi.
Namun, Sony tak menyahut sama sekali. Sehingga membuat Cika merasa cukup malu. Dara menarik Cika yang sudah cukup malu untuk menjauh.
"Aku jadi nyesel nyapa dia," ucap Cika. Lalu mereka menuju unit rawat jalan. Kali ini mereka bertugas di sana.
Sony bersidekap dada penasaran pada tempat itu. Lalu memanggil salah satu security menanyakan apa yang ada di sebelah sana.
"Mereka itu membuka klinik kesehatan, Mas."
Kening Sony berkerut, "Lalu bagaimana reaksi Dokter Hardan? Masa dibiarkan begitu saja seseorang membuka praktik kesehatan di sebelah rumah sakit ini?"
Tanpa menunggu jawaban, Sony berjalan cepat mencari ayahnya. Namun, ternyata sang ayah sedang tidak berada di tempat. Sony memejamkan matanya, dia melihat ayahnya sedang memantau sesuatu di luar rumah sakit.
Dia melangkah kan kaki dan langsung sampai ke tempat ayahnya berdiri memantau para kuli melakukan sesuatu. "Apa yang Daddy lakukan?"
Dokter Hardan tersentak. "Oh, kenapa ada kamu di sini?" Mata pria paruh baya itu liar menatap ke segala arah.
"Siapa yang memberitahumu Daddy ada di sini?"
Sony mengulas senyum tipis kembali. "Daddy, tak perlu merasa khawatir begitu. Bagaimana pun aku adalah anak yang pasti akan selalu membela ayahnya."
__ADS_1
Dokter Hardan tersenyum menepuk pundak Sony beberapa kali. "Apa kamu ingin bicara denganku?"
"Kenapa Daddy mengizinkan orang lain membuka klinik praktik kesehatan di sebelah rumah sakit ini?"
Dokter Hardan bersidekap dada, matanya mengawang menatap jauh entah ke mana. "Biarkan saja. Biarkan orang-orang miskin yang datang ke sana."
Sony melirik dingin. "Jadi di tempat ini tak menerima pelayanan pada masyarakat tidak mampu?"
"Begitu lah."
"Kenapa tidak diberi gratis saja?" ucap Sony juga bersidekap dada.
"Kita tidak mampu memberi pelayanan gratis. Karena rumah sakit ini memiliki banyak karyawan, perawat, dokter, dan lainnya. Di sana lah sumber keuangan kita ... Huuuuufftt ...."
Dokter Hardan menghela nafas panjang teringat sosok anak yang koma tiba-tiba menghilang begitu saja. Padahal, sudah banyak yang menjanjikan bayaran tinggi akan organ anak itu jika berhasil diambil.
"Jadi mereka dibiarkan begitu saja?"
Dokter Hardan masih diam. Dia merasa tidak memiliki pilihan lain. "Jika mereka memiliki izin, biar kan saja. Anggap saja kita berbesar hati mengizinkan mereka praktik dan itu juga bisa menjadi acuan bagi masyarakat bahwa rumah sakit ini cukup baik menerima adanya persaingan."
"Baik lah." Sony langsung memutar badan dan pergi. Dia menyunggingkan senyum tipis.
"Jadikan aku sebagai gembel, Demon System!"
"Kenapa?"
"System akan mengurai energi. Anda lepaskan kaca mata dan bersikap lah sebiasa mungkin jika orang tersebut memaksa. Akan ada seorang pengguna System datang menguji Anda."
Antonie menganggukan kepala, membuka kaca mata, dan menyimpannya di dalam kantong. Antonie melihat pantulan wajahnya di dalam cermin dan tersenyum kecut.
"Sepertinya aku mulai melupakan rupa asliku." dia bermonolog sendiri mengambil sapu.
tok
tok
tok
Terdengar pintu klinik diketuk oleh seseorang. Antonie sengaja tidak memberi jawaban dan terus menyapu lantai.
tok
tok
tok
__ADS_1
Antonie masih teringat pesan System untuk tidak membukakan pintu. Lalu tidak terdengar lagi ketukan tersebut. Antonie menyapu membersihkan lantai yang tidak kotor. Indera pendengarannya terus dipasang dengan baik memastikan orang di luar sana sudah tidak ada.
Antonie pun kembali menuju ke bagian dalam dan dia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di bagian pintu belakang yang lupa ditutup.
"Si-siapa?" tanyanya gugup. Di luar sana terlihat seseorang yang berpakaian lusuh dengan badan terbungkuk berpegangan pada sebuah tongkat.
"Tolong saya anak muda." ucap pria terlihat tua itu.
Antonie mengerti, orang ini lah yang dimaksud oleh God System. Tidak mungkin seseorang berpindah dalam waktu hitungan detik berputar menuju ke bagian belakang.
"A-ada a-apa, Pak?" tanya Antonie dengan gaya yang dibuatnya.
"Saya sedang sakit. Tapi rumah sakit sebelah tidak mau mengobati saya." ucap pria tua itu lagi.
"Ta-tapi ma-maaf, Pak. Kli-klinik ini be-belum bu-buka. Sa-saya ha-hanya di-diberi tu-tugas o-oleh pe-pemi-milik u-untuk me-mem-be-bersih-kan te-tempat i-ini se-setiap ha-hari. Ba-bapak li-lihat se-sendi-diri kan? Di-si si-sini se-sepi."
Pak tua itu terlihat memasang muka sedihnya. "Aku mendapat kabar di sini bisa berobat. Makanya aku ke tempat ini." ucapnya lagi.
"Ma-maaf ya ya, Pak. Ka-ka-lau su-surat i-izin pe-pe-prak-tik su-sudah ke-keluar, kli-klinik i-ini ba-baru bi-bisa di-di-bu-buka."
Wajah pria tua lusuh itu terlihat memelas. "Baik lah." Dia pergi dan Antonie segera menutup pintu bagian belakang.
"Huuufft ...." dia menghela nafas.
'Auranya begitu kuat dan sangat kelam,' batinnya lagi.
Antonie segera menuju ke ruang tempat dia tadi tidur-tiduran. Dia kembali melihat pantulan bayangannya di dalam cermin. Namun, yang dilihat bukan dirinya, melainkan ada wajah pria tua tadi menyeringai padanya.
"Aaagghh," teriak Antonie terduduk menyembunyikan dirinya dalam pangkuan.
"A-a-ampun!" Dia masih bisa mengendalikan diri dalam dramanya. Hingga suasana terasa benar-benar hening, tak ada lagi tanda keberadaan siapa pun di sana.
Seorang pria tua lusuh berjalan menembus dinding tinggi yang menjadi pembatas. Saat muncul di bagian parkiran rumah sakit, dia sudah kembali menjadi seorang Sony.
Kepalanya meneleng membayangkan sesuatu di balik dinding itu. "Kenapa tidak merasakan apa-apa? Apa pemilik God System itu sudah pergi?"
...****************...
Promo terakhir ... Ayoo kakak, mampir pada karya temen Author juga yaa ...
Napen: nazwa talita
Judul: Terpaksa Menikahi Suami Sahabatku
__ADS_1