
"Tapi kamu tidak bisa menolak keinginan Juragan Beno." wajah pelayan yang tadinya ramah, kini berubah menjadi serius.
"Tidak mau! Gue gak mau nikah! Gue mau adik gue! Mana adik gue?"
Semua pelayan saling bertatapan. Namun memilih bungkam dan mulai membersihkan wajah Liana meski dalam keadaan terikat.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Kami akan membersihkan tubuhmu."
"Lepaskan! Lepaskan!" Liana terus berteriak-teriak dan memberontak berharap ada yang mendengarnya.
"Leon? Leooon? Di mana Leon?"
Liana terus meronta tidak ingin dsentuh oleh para pelayan itu. Dengan perasaan kesal, akhirnya juragan walet yang bernama Beno itu mengintip dengan menarik Leon yang sudah kaku karena takut.
"Sialan! Tua bangka! Bini Lu udah banyak, kenapa masih mau nambah? Gue akan kembalikan sarang walet itu! Tapi lepaskan kami!" Liana terus meronta, tetapi dia tak berdaya.
"Sudah terlambat, Sayang! Kali ini aku tak tertarik lagi dengan sarang walet itu. Aku lebih tertarik padamu, pada tubuhmu!"
"Keparat! Sialan!" Liana berteriak meronta.
"Ka-kak ...." Leon menangis dalam genggaman Juragan Beno.
[ Nona, minta tolong lah pada Antonie! Dia pasti akan menolongmu. ]
Tapi terakhir kali gue udah ngerjain dia. Dia pasti tak mau nolong gue lagi, sesalnya dalam hati berdialog dengan System pemandunya.
[ Coba lah, dia pasti akan menolongmu. ]
Liana tidak memiliki pilihan lain, dan memejamkan mata berkonsentrasi memanggil Antonie.
Di tempat lain Antonie mendengar seseorang memanggil namanya. Dia merasa heran mengintari segala sisi di rumahnya.
__ADS_1
"Apa kamu mendengar seseorang memanggil-manggil namaku?" tanyanya pada Rizki.
Rizki yang sedang memasak sarapan mencoba berkonsentrasi mendengar suara yang dimaksud. "Ah, tak ada. Mungkin lu lagi berhalusinasi, Bang." Rizki melanjutkan aktivitasnya.
Namun, suara yang terus memanggil namanya terus terngiang dalam pikiran. Antonie menggeser bangku dan bergerak. "Aku pergi dulu."
"Mau kema—???" Rizki menghetikan ucapannya, orang yang diajak bicara sudah tidak ada.
Antonie saat ini berada di sebuah halaman rumah yang sedang ramai menyiapkan sesuatu. Dia memejam kan mata, melihat Liana sedang terikat, dan Leon duduk terpisah dengan kakaknya.
"Apa yang terjadi?"
[ Sepertinya dia tertangkap oleh orang yang dirampoknya. ]
Antonie menggelengkan kepala. Dia melihat alam sekitar yang asri. Pria itu menyimpulkan sendiri tengah berada di sebuah desa yang jauh dari kota tempat dia tinggal.
Gadis itu, tetap saja tak berubah. Padahal sebelumnya mengambil banyak emas yang aku simpan dengan baik.
Antonieeee, cepat tolong gue! Lu di manaaaa?
Liana hanya berteriak di dalam hati. Kali ini tubuhnya sungguh terasa tidak berdaya. Leon menangis terkurung pada sebuah kamar.
Antonie kembali berteleportasi, kali ini dia mengintip pada tempat Liana sedang dibersihkan dalam keadaan masih terikat. Antonie memalingkan wajahnya, melihat rezeki yang tak sengaja datang karena suara itu terus memanggilnya.
Liana menyadari Antonie telah datang, dia tidak bisa berbuat apa-apa menutupi tubuhnya yang saat ini sedang setengah telanjang karena dibersihkan oleh para pelayan.
"Sialan! Pergi! Apa yang lu lihat?" Liana langsung menyemburkan umpatannya.
Pelayan tersebut terheran dengan reaksi Liana yang berlebihan. "Tidak apa nona muda. Kita masih sama-sama perempuan kok." Dia terus mengusap tubuh Liana dengan handuk yang direndam dengan air hangat.
"Berandal! Cepat bantu gue! Jangan diam gitu aja?"
"Apa kamu tidak bisa meminta dengan cara yang lebih manis?" Antonie membelakangi Liana, menghindari pemandangan tersebut.
__ADS_1
Pelayan yang mengurus Liana terkejut karena tiba-tiba saja ada seorang pria di dalam kamar itu. Padahal, kamar tersebut sudah dipastikan dikunci dengan rapat.
"Siapa kamu? Kenapa kamu tidak sopan begitu?"
"Cepat lepaskan gueee!" Liana kembali berteriak.
Antonie menjentikkan jemarinya. Pelayan itu langsung rebah tak sadarkan diri. Sekali lagi menjentikan jemari, kali ini Liana sudah mengenakan pakaian.
"Kenapa pakaian ini?" Gadis itu kembali membentak Antonie, dan pria itu sudah berani memutarkan tubuhnya.
Tubuh Liana sedang terpasang kebaya pengantin yang disiapkan oleh pelayan tadi. Senyum tipis terurai pada bibir Antonie melihat Liana dalam kebaya cantik itu.
"Cepat lepaskan!"
Antonie menjentikkan kembali jemarinya dan tali yang tadi mengikat kaki dan tangan itu telah terlepas. Liana mencoba bangkit, tetapi dia meringis. Bahunya terasa sakit dan kembali mengeluarkan darah.
Antonie mendekat karena tadi sempat melihat luka pada bahu Liana. Dia membantu Liana untuk duduk, tanpa berkata apa-apa langsung meletakkan tangannya pada bahu Liana yang terluka.
Liana memperhatikan paras Antonie yang terlihat semakin tampan. Lalu kedua mata mereka bertemu, membuat hati Liana yang tadi penuh amarah terasa tak menentu.
Liana membuang mukanya, sementara Antonie terus melanjutkan tugas dalam menyembuhkan Liana. Setelah selesai, Antonie bangkit bergerak tanpa mengatakan apa-apa.
"Mau ke mana?" cegat Liana menahan Antonie.
"Aku akan menjemput Leon." Antonie menghilang beberapa waktu dan kembali membawa Leon yang tertidur.
Dari arah luar, terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. "Bagaimana? Calon istriku sudah siap?"
Juragan Beno membuka pintu, akan tetapi dia hanya melihat dua pelayan yang tak sadarkan diri tertidur di lantai.
"KE MANA GADIS ITU?" teriak sang juragan dengan penuh amarah.
"Cepat periksa anak kecil itu!" perintahnya kepada anak buah yang kocar kacir berlari ke arahnya.
__ADS_1