
Pada esok hari, peresmian klinik penyembuhan milik Antonie diresmikan secara sederhana. Mengingat rumah sakit sebelah masih merasakan duka yang mendalam setelah kejadian tersebut.
Namun, ketika mengetahui klinik penyembuhan milik Antonie ini memberikan pelayanan gratis, ditambah lagi tidak memerlukan obat-obatan kimia, membuat masyarakat berbondong-bondong mendatangi tempat itu.
Sony berada pada sebuah mobil mewah, melewati klinik yang sedang ramai dikerumuni oleh masyarakat. Dia duduk di belakang memandangi klinik itu dengan wajah dingin. Tangannya mengepal menahan amarah yang membuncah.
Tanpa disangka, mata Sony menangkap kendaraan yang sangat dia kenal. Sebuah kendaraan merah, milik adik tirinya, tengah terparkir di pinggir jalan, di depan bangunan klinik.
[ Sepertinya adikmu sangat menyukai musuh beratmu itu. ]
Sony menatap ke arah kendaraan Sonya dan melewatinya memasuk area rumah sakit yang sedang lumpuh tak beroperasi.
Hanya terdengar hiruk pikuk klinik sebelah yang bisa didengar oleh Sony. Sementara rumah sakit yang dibangun sang ayah hanya menyisakan debu dan desiran angin yang menerpa wilayah ini.
Sony berencana akan membersihkan sisa-sisa bangunan ini seminggu kemudian. Saat ini dia memantau puing-puing runtuhan akibat ulahnya yang terlalu menggebu untuk menyerang Antonie.
Mengingat kekalahannya melawan Antonie malam itu, membuat Sony teebakar amarah dengan sendirinya. Salah satu puing bangunan bagian patahan pilar yang cukup besar, membuat Sony tertarik.
Dia menendang puing tersebut ke arah klinik. Sebuah dentuman yang membuat sedikit getaran membuat masyarakat yang ada di sana menjadi sedikit panik.
kraaaataaak
Sebuah suara retakan pun terdengar dari pagar setinggi tiga meter itu. Semakin lama retakannya menjadi semakin besar.
Antonie memberi peringatan kepada warga yang berada di sekitar pagar untuk segera menjauh. Namun, sepertinya terlambat.
braaaaakk
Pagar pembatas pecah lebih cepat dari yang diperkirakan. Antonie mengipaskan tangannya membuat dinding yang terbuat dari beton tersebut jatuh ke arah sebaiknya.
Sony menyeringai dengan mata mengelit tajam. Kali ini dia akan melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Menendang puing pilar yang berukuran cukup besar.
Dengan kecepatan cahaya, Antonie telah berdiri pada reruntuhan pagar itu. "Apakah benar kau praktisi kesehatan? Apa kau tidak lihat begitu banyak lautan manusia di sini?"
Sony seakan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Antonie. Dia kembali melakukan hal yang sala menendang puing pilar penyangga gedung. Namun, Antonie tidak membiarkan hal itu terulang kembali.
Antonie menghentakkan kakinya hingga membuat puing-puing itu kembali menjadi pasir. Hingga membuat Sony sekedar menendang pasir yang tidak bisa digerakkannya.
__ADS_1
Antonie menggantungkan jemarinya, hingga pasir-pasir yang berasal dari gedung yang hancur melayang. Antonie mengepalkan tangannya hingga membuat pasir-pasir itu membungkus tubih Sony mulai dari leher hingga telapak kakinya. Sony terguling tergeletak di atas tanah di antara sisa-sisa puing.
"Lepaskan!" teriaknya mencoba melepaskan benda yang mengikat tubuhnya itu.
Antonie kembali menghentakkan kakinya dan tinggi yang memagari dan membatasi antara dua wiayah kembali pada kondisi semula. Pagar itu utuh kembali.
Melihat atraksi yang diberikan Antonie, warga memberikan tepukan tangan yang sangat meriah kepada seseorang yang mereka panggil dengan dokter Antonie ini.
Antonie menjentikkan jemarinya membuat orang-orang itu memgedipkan mata. Saat itu pula mereka melengok ke kiri dan kanan melupakan kejadian yang baru saja mereka tonton dan kembali pada kegiatan antri menunggu giliran.
Bermacam penyakit yang ditangani oleh Antonie dalam kegiatan ini, akan tetapi belum satu keping pun emas yang dia dapat. Semakin sore, tenaga yang dimilikinya semakin terkuras. Akan tetapi, warga yang mendapat informasi dari yang telah mencoba, membuat pasien yang datang semakin banyak.
'Bagaimana ini? Apa aku hentikan saja? Aku sangat lelah.' Antonie menyeka keringatnya yang telah mengucur dengan deras.
[ Jika Anda mampu melampaui batas kekuatan selama ini, level power yang ada dalam diri Anda akan meningkat. ]
Sonya menyadari keadaan Antonie terus melemah dan dibanjiri keringat yang terus mengalir tiada henti.
Liana memperhatikan keadaan Antnonie lewat jendela. Tangannya telah memegang selembar tisu yang akan digunakan untuk menyeka keringat Antonie.
Namun, Angela telah lebih dahulu masuk ke dalam ruangan itu menyeka keringat pada dahi dan leher Antonie menggunakan sapu tangan yang dimilikinya. Angela memasang senyuman manis membuat Liana meremukan tisu yang telah tersedia di tagannya.
"Apa aku mengganggu pekerjaanmu?"
Antonie menggeleng tipis mengambil air minum yang ada di atas meja lalu meneguknya. "Aku akan melanjutkan pekerjaan."
Angela mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya. Dengan wajah kecewa, Angela keluar dan menutup pintu. Dia berjalan melewati Liana yang bersidekap dada memasang senyum tipis melihat reaksi yang diberikan terhadap Angela.
"Loh? Kamu kan yang waktu itu?" Seorang perempuan muda datang berdiri tepat di hadapan Liana.
"Siapa lagi ini?" Suara sinis Liana membuat Fanya mengerutkan kening.
"Eeh, kamu ya? Seharusnya aku yang mengatakan demikian? Udah ditolong, malah menggorong Kak Antonie." Fanya mendorong Liana dan menahan pundak Liana hingga ke dinding.
Liana meronta melepaskan diri membuat Fanya terjatuh. "Lu itu seratus kali lebih awal berani mencoba melawanku!" Dengan bersidekap dada, Liana menuju keluar, menarik Leon pergi meninggalkan tempat itu.
Liana melewati sebuah kendaraan berwarna merah. Di dalamnya tampak seorang gadis yang tengah bingung dengan perasaannya. Sonya selalu memikirkan Antonie. Dia merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Antonie.
__ADS_1
Antonie terus berupaya melawan lelah dan terus mengeluarkan tenaganya hingga semua energi yang dimiliki benar-benar terkuras habis. Antonie memberi pesan kepada Rizki, untuk menutup pendaftaran dan menyuruh pasien yang tersisa untuk pulang.
"Aku benar-benar lelah. Aku istirahat dulu. Semoga esok kondisiku sudah oke dan bisa melanjutkan aktivitas ini."
Antonie merebahkan diri di atas brangkar, sesaat kemudian telah terdengar dengkuran halus yang teratur.
Rizki menggaruk pelipisnya kebingungan melihat Antonie yang terlelap dalam kurun waktu yang cepat itu. Fanya membuka pintu ruang kerja tersebut.
"Eh, lu Fan? Kapan datang?"
"Udah sejak tadi sih. Tapi tadi aku di luar aja ngurus-ngurus yang belum dapat jatah." Fanya melirik Antonie yang sudah lewat dalam lelap. Lalu melirik kiri kanan dan sekeliling ruangan itu.
"Emasnya mana? Kan banyak banget yang disembuhin."
Rizki mengkedikkan bahu. "Gue juga heran, tumben-tumbennya ga ada emas akhir-akhir ini. Apa Bang Antonie udah kehilangan wangsit?"
"Waag, sayang sekali. Seharusnya udah punya emas yang banyak sih. Tapi malah dapat lelah doang." celetuk Fanya menyelimuti Antonie.
Lalu mereka keluar membubarkan kerumunan masysrakat yang masih tersisa.
"Maaf ya, Bapak Ibuk ... Orangnya sudah kelelahan, dan saat ini tidak bisa memberi pelayanan."
"Waduh, Nak? Saya ingin sekali terbebas dari penyakit ini. Namun, saya tidak memiliki biaya untuk pengobatan di rumah sakit." ucap salah satu pria tua, dengan rambut yang telah memutih keseluruhan.
"Aaag, kenapa pilih kasih sekali? Seharusnya dituntaskan semuanya!" ucap pria bertubuh tambun, dengan tinggi menjulang mengamuk membanting kursi-kursi plastik yang telah kosong.
"Sabar, Om! Esok pagi, pelayanan dibuka kembali."
"Saya merasa sakitnya sekarang! Mau disembuhin saat ini juga!" Dia mencoba masuk semakin ke dalam.
Rizki menanaha pria itu, tetapi didorong kasar oleh calon pasien tersebut. Rizki meringis karena hempasan yang didapatnya cukup keras.
Angela pun datang menenangkan kekacauan itu. "Sabar, Pak! Saya harap Anda bisa menjaga sikap! Bagaimana pun orang yang melakukan penyembuhan ini adalah manusia juga! Tentu memiliki batas yang tak bisa disamakan dengan dewa!"
Namun, pasien itu terus mendorong masuk membuat Angela terpental dan jatuh. Calon pasien terus meringsek masuk melihat Antonie yang terlihat tidur di atas brangkar.
"Oh, jadi ini orangnya? Malah molor di saat semua sudah lelah menunggu di luar?" Pria itu hendak menarik Antonie. Namun, tangan Antonie telah menahan genggaman pria itu.
__ADS_1
Antonie membuka matanya. Antonie menggenggam tangan itu semakin lama semakin membuat pria bertubuh tambun mengernyit mengikuti arah tangannya yang hampir remuk dalam genggaman Antonie.
"Siapa kau berani mengganggu istirahatku?"