
Antonie melepaskan tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Antonie memutar tubuh menata gadis itu.
[ Sepertinya tanpa berbuat banyak, Anda telah mendapatkan hati gadis itu. ]
[ Apakah Anda akan melanjutkan balas dendam kepadanya? ]
'Tentu saja. Aku tak akan bisa melupakan semua yang telah dilakukannya kepadaku.'
"Sonya?" Sebuah suara membuat semua yang ada di klinik melirik ke arah suara.
Di sana berdiri seorang pria muda, satu wanita paruh baya dan dua gadis muda. Sonya melirik pria yang memanggil namanya.
"Denish?" Sonya memperhatikan empat orang yang baru saja datang.
'Siapa lagi ini?' Liana terlihat semakin bingung.
"Mama?" Rizki mengejar Berta yang membawa satu buket bunga.
Berta melirik kiri kanan. "Mama pikir acara pembukaannya hari ini? Ternyata belum ya? Atau, Mama ketinggalan?"
"Oh, ditunda Ma. Soalnya gedung sebelah sedang mengalami musibah. Rasanya tidak enak mengadakan pembukaan."
Sementara itu, antara Sonya, menatap sinis pada seseorang yang telah lama tidak ditemuinya. "Jadi, kalian semua saling mengenal?"
"Sonya, bagaimana kabarmu? Sudah lama Tante tidak mendengar kabarmu. Semenjak Denish menjalankan misi kemanusiaan, Denish tidak pernah lagi melanjutkan praktik dokternya di sana." Berta menatap ke bagian sebelah yang sudah rata dengan tanah.
"Denish menjalankan misi kemanusiaan?" Sonya mengulang dalam bentuk tanya sembari melemparkan senyum sinis kepada Denish.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan semua kebenarannya kepada Tante. Hanya saja, aku merasa tidak yakin dan akan menyakiti Tante."
Antonie menepuk pundak Sonya. Sonya tersentak dan menggelengkan kepala. "Ah, aku harus kembali." Sonya dengan gerakan cepat meninggalkan klinik, membuat semua orang kebingungan.
Antonie melirik Denish, Dara, dan Cika secara bergantian. Dia masih ingat dengan dua perempuan yang ikut serta dengan Mama Berta ini.
'Mereka berempat sudah lengkap.'
[ Apa yang Anda rencanakan? ]
Antonie tak bergeming menatap ketiga orang itu dengan sinis termasuk Denish. Meskipun Denish adalah anak dari Mama Berta, tetapi rasa marah saat mengingat apa yang mereka lakukan kepadanya masih belum pupus juga.
Sementara, Cika tak henti menatap Antonie. Dia menyadari tatapan dingin milik Antonie. Tatapan itu sangat mirip dengan hantu yang dia lihat di rumah sakit dulu. Entah kenapa, dia merasa Antonie adalah orang yang dulu, dibedah dengan asal oleh mereka. Tubuh Cika menggigil dan bergetar hebat.
"Kamu kenapa Cika? Kamu sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat."
__ADS_1
"Ternyata, calon dokter bisa sakit juga." ucap Antonie tanpa ekspresi.
Cika ambruk, terduduk lemas. Kepalanya terasa berat tidak sanggup untuk mengangkatnya. Dia kembali menatap Antonie, tetapi langsung menundukan kepalanya.
"Cika, kamu kenapa?" Dara mencoba menarik Cika yang seakan kehabisan daya taknsanggup untuk bangkit.
"Di-dia itu—"
"Apa kamu mengenal Antonie, Cika?" tanya Mama Berta yang merasa Cika begitu aneh.
"Di-dia ...."
Antonie menatapnya dengan lurus. Namun, sebuah tepukan di pundaknya membuat pria berkaca mata itu tersentak.
"Tatapannya, Boss? Hebat bener sampai bikin anak orang meleyot?" Liana terlihat kesal akan aksi tatap-tatapan yang dilakukan pada seseorang yang terlihat lemas.
"Kamu urus saja urusanmu! Jangan ikut campur dengan urusanku!"
"Huh!" Liana mendengkus kesal menuju pojokan duduk pada sebuah bangku.
Leon mendekati sang kakak duduk pada bangku yang ada di sebelahnya. "Kakak kenapa?"
Liana tidak menjawab, hanya memperhatikan gelagat Antonie yang menurutnya menjadi aneh semenjak wanita berpakaian serba hitam tadi hadir.
Denish melirik ke bagian sebelah klinik. Rahangnya terlihat mengeras. Namun, dia merasa sangat puas atas kematian Dokter Hardan.
'Kematian terlalu bagus untuknya. Seharusnya dia disiksa secara perlahan dan isi organ yang dimilikinya diambil seperti apa yang telah dia perbuat. Namun, paling tidak dendam untuk Papa telah terbalas.'
Antonie mendengar apa yang diucapkan oleh Denish di dalam hati. Dia tersenyum tipis.
'Lalu bagaimana dengan dendamku kepada kalian berempat?'
Denish langsung menatap Antonie. Dia merasa sikap Antonie begitu aneh. Namun, pria berkaca mata itu memilih masuk ke dalam setelah pamit kepada Berta.
"Mama, aku rasa tak akan bisa lebih dekat lagi dengan Antonie seperti yang Mama minta. Dia antara aku dan dia memiliki daya yang saling bertolak belakang. Jika Mama memaksaku untuk terus dekat dengannya, maka akan ada yang hancur di antara kami berdua."
Berta mengerutkan keningnya tak memahami apa yang diucapkan oleh Denish. "Apa susahnya sih untuk saling menyapa dan bicara. Kamu itu calon dokter lho? Harus bisa menerima karakter dalam bentuk apa pun."
Denish memilih diam tidak menentang apa yang diucapkan oleh sang ibu. Memang benar dia ingin sekali bersikap baik kepada orang yang telah menolong ibunya di saat dia tak ada, tetapi pria berkaca mata itu membangun dinding yang sangat tinggi di saat dirinya ingin berbicara.
"Kenapa dengan Cika?"
Dara memapah Cika yang terlihat tak berdaya. Seluruh tulang yang ada pada tubuhnya seakan menjadi rapuh dan tak sanggup memapah dirinya.
__ADS_1
"Di-dia itu ... Dia itu ...."
"Dia siapa?" tanya Dara mulai gemas dengan Cika yang tidak jelas semenjak tadi.
"Di-dia itu, sangat mirip dengan—" Cika kembali membungkam mulutnya.
Ada wajah Antonie mengawasinya dari dalam menatap Cika dingin.
"Aku mau pulang, aku mau pulang, aku mau pulang!" Cika merengek menarik Dara untuk segera meninggalkan tempat itu.
Antonie seakan menikmati reaksi Cika, mengulas senyum tipis, dingin, dan tanpa ekspresi.
"Iya, sebaiknya kita pulang. Lagian di sini tidak ada apa-apa karena peresmiannya dibatalkan." Denish sudah mendahului langkah dibanding yang lain.
"Mama mau di sinu dulu. Mama kangen dengan mereka."
Denish terlihat sedikit keberatan jika harus meninggalkan ibunya ini dengan mereka. "Nanti saja kita kembali lagi, Ma. Acaranya kan tidak jadi?"
"Iya, tidak apa. Mama hanya ingin ngobrol dan bantu-bantu mempersiapkan segalanya. Kalian pulang lah duluan."
Antonie kembali keluar. "Biar aku yang mengantarkan Mama Berta pulang." ucapnya lagi.
"Aduh Antonie, kamu seperti menghipnotis Mama. Sebenarnya siapa orang tuamu sih? Punya anak secakep ini?"
"Kalau Mama punya anak perempuan, pasti sudah Mama jodohkan."
Angela tersenyum menggelengkan kepala melihat wanita paruh baya itu menggoda laki-laki yang selalu masuk dalam pikirannya. Sementara Liana memasang wajah julidnya di pojok sana, disambut dengan tawa yang diberikan oleh sang adik.
"Kalau begitu kamu pergi dulu, Ma. Aku mau mengantar Cika untuk pulang dan beristirahat."
Mama Berta melambaikan tangan kepada tiga orang itu. "Nah, kira-kira apa yang bisa Mama bantu?"
Liana bangkit dan mendekati Berta itu. "Angkat aku jadi anaknya, Bu. Biar Ibu bisa menjadikan Antonie sebagai menantu."
*
*
*
Di atas pusara, tinggal Sony sendirian menggenggam tanah hitam yang masih gembur itu.
"Awas kau! Jika bukan karena kau, semua ini tak akan terjadi. Aku pastikan, God Systemmu akan jadi milikku!"
__ADS_1