
"Anda tenang saja, Tuan! Semua telah siap tersedia di dalam dompet Anda. Akan tetapi, emas yang Anda miliki hilang sebanyak tujuh keping ukuran masing-masingnya seratus gram." ucap System.
'Waduh? Hilang? Kok gitu?' batin Antonie berdialog di dalam hati.
"Anggap saja ini semua merupakan hubungan timbal balik. Jika Anda berhasil menyembuhkan seseorang, maka System akan membayar upah kepada Anda."
"Sebaliknya, jika System memberikan sesuatu yang tidak Anda dimiliki, maka Anda harus membayar upah kepada System."
tok
tok
tok
Tampak polisi mulai mengetuk jendela kendaraan yang masih tertutup. Antonie pun membuka pintu keluar dari mobil. Di sana sudah terlihat polisi bersikap hormat sejenak sejenak padanya.
"Selamat pagi. Kami dari pihak Kepolisian, melakukan Razia Berkala demi kelancaran dan ketertiban berlalu lintas." Antonie menganggukan kepalanya.
"Apa kami boleh memeriksa kelengkapan surat kendaraan dan pengendara?" tanya sang polisi, yang namanya tertulis pada name tag, AGUS.
Meski sedikit ragu Antonie membuka dompetnya. Tiba-tiba saja dompet yang sebelumnya tidak memiliki STNK dan SIM, kini terselip dua benda itu secara gaib. Antonie menyerahkan semua kepada pihak kepolisian. Setelah memastikan semua lengkap, polisi menyerahkan kembali milik Antonie dan berpindah pada pengendara lain.
"Huufftt ... Terima kasih System."
Antonie masuk kembali pada kendaraan yang menjadi tontonan semua orang. Rizki dan Fanya yang sempat merasa khawatir, turut merasa lega karena Antonie tidak mendapatkan masalah.
"Ah, ternyata lu hanya menakut-nakutin kami aja, Bang." sungut Rizki.
"Iya, nih. Jantungku berasa mau copot karena deg-degan." tambah Fanya.
Antonie tersenyum tipis, lalu singgah ke area bawah kolong jembatan. Antonie pura-pura mengambil makanan dari dalam bagasi mobil, padahal dia mengeluarkan kantong berisi makanan itu dari cincin sakti yang ada pada jempolnya.
"Emangnya kapan ditarok di sana, Bang? Kok tadi gue gak lihat?" tanya Rizki heran.
"Tadi, waktu kamu masih tidur." jawab Antonie asal segera membawa makanan-makanan itu kepada para jalanan yang tinggal di wilayah itu.
Rizki menggaruk kepala semakin bingung. "Kalau gue masih tidur, berarti gue belum masak. Tapi, bukannya sisa makan malam sudah ludes semua?" Rizki mengejar Antonie dan Fanya yang sudah menjauh.
Warga sekitar sana yang melihat pembagian makanan gratis, segera berbondong mendekat. Antonie meminta System untuk memperbanyak jumlah makanan yang tadinya hanya sedikit.
__ADS_1
Hal ini membuat Rizki merasa heran saat mengambil makanan dari kantong yang tidak terlalu besar, tetapi isinya tidak habis-habis juga. Setelah semua warga mendapat jatah masing-masing, baru lah kantong tersebut, kosong berbekas.
Rizki menelengkan kepala semakin heran memeriksa ukuran kantong itu. Semua masyaralat yang tinggal di sana terlihat bahagia melihat masing-masingnya mendapatkan makanan.
"Gue yakin, gue gak pernah masak sebanyak ini, tapi kok bisa mencukupi untuk semua ya?"
Antoie dan Fanya memilih tidak mengubris kebingungan Rizki. Mereka memilih masuk mobik dan segera tancap gas menuju lokasi pembelian ponsel. Setelah selesai, masing-masing mereka memegang satu benda dengan logo strauberi gigit.
"Dulu hape kita yang hilang cuma merek negeri tiongkok ya? Ternyata kalau berangkat sama big boss beneran malah mendapat ini." Rizki berlaga menutup kaca mata hitamnya.
Namun, berbeda dengan Fanya yang menanggapi itu semua dengan gaya biasa saja. Hanya saja, tatapan gadis itu saat ini terpaku pada satu sosok yang terus dilihatnya tanpa berkedip.
Antonie pun melirik ke arah mana pandangan Fanya. Ternyata, Fanya menatap seorang wanita yang terlihat begitu kurus, terlihat terbatuk dengan sapu tangan bewarna merah.
Antonie menepuk pundak Fanya, dan gadis itu sangat terkejut. Fanya menepis tangan Antonie yang berada di pundaknya. Fanya berlari meninggalkan mereka.
"Fan, lu mau ke mana?" protes Rizki ikut mengejar gadis itu.
Sementara Antonie melihat kondisi wanita itu tampak menahan sakit. Antonie mendekat padanya, menanyakan keadaan. Namun, wanita itu malah marah-marah meminta Antonie untuk menjauh.
"Pergi! Jangan mendekat! Biarkan saya mati tanpa ada yang melihat!"
Perempuan dengan kisaran usia akhir angka tiga puluh tahunan tersebut mendorong Antonie dengan kasar.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Sekotak rokok dengan pematik nya kini telah berada di dalam genggaman. Dengan perasaan kesal, dia menarik satu batang rokok, menjepitnya di bibir, dan membakar ujungnya.
Antonie merebut rokok tersebut beserta kotaknya. Tentu saja wanita tersebut langsung naik pitam dan memukul bagian perut Antonie. Antonie bagai tak merasakan apa-apa bergerak memadamkan api rokok dengan tangannya sendiri, lalu mengeluarkan semua isi rokok dari dalam kotak berpindah pada bak sampah.
"Berani sekali kamu pada orang tua!" rutuk wanita itu.
Antonie tidak bergeming, hanya menarik wanita itu mengikuti dirinya menuju tempat di mana Fanya dan Rizki berada. Namun, wanita itu terus memberontak mencoba melepaskan cengkraman tangannya.
"Lepas! Kamu sangat tidak sopan! Apa kamu tidak tahu aku ini siapa? Bersiap lah mendekam di penjara!" ancamnya.
Namun, saat melihat sebuah wajah muda, sedang mematung melihat dirinya, membuat wanita itu berhenti dan tidak melawan lagi.
Fanya kembali berlari, tetapi wanita dewasa yang terlihat tidak sehat ini turut berlari mengejar Fanya. Meski sedikit terengah, Fanya berhasil ditangkap.
"Mau kabur ke mana lagi kau?" ucapnya. Fanya menangis mencoba melepaskan diri.
__ADS_1
"Seperti apa yang aku katakan, jika kau lari dari rumah, aku tak akan pernah mencarimu. Namun, jika dalam masa pelarian aku melihatmu, maka bersiap lah! Masuk ke neraka yang lebih pedih! Kau tak akan bisa lari la—"
bruuuk
Wanita itu ambruk, dia terlihat tidak sadarkan diri. Tubuh Fanya bergetar hebat karena rasa takut yang besar. Wanita yang melahirkannya itu, tergolek tak berdaya di kaki Fanya.
Fanya pun melangkah mundur dalam gerakan kaku. Lalu dia berbalik melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.
*
*
*
Orang-orang yang terjebak di bawah tanah mulai merasakan dehidrasi hebat.
"Too~~looong."
Posisi mereka saat ini merebahkan diri, karena sudah tidak kuasa saat kepala mereka harus terus tertunduk.
"Ha~~uus, gue hauuus." rintihnya.
"Mungkin selama hidup gue memiliki banyak dosa yang sangat banyak. Bahkan gue sudah mendorong pengemis tua waktu berobat dulu. Mungkin ini adalah ganjaran diberi Tuhan kepada gue. Meskipun, gue hanya melakukan apa yang menjadi tugas sebagai seorang pengaman." ucap security kedua.
"Kemarin gue juga ngusir dua orang tua yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Berarti ini hukuman Tuhan buat gue juga." tangis security pertama.
Security ketiga yang paling muda hanya diam tak bergeming. Kepalanya terasa sakit luar biasa, jantungnya berdetak dengan sangat kencang tak beraturan. Nafasnya terasa sangat sesak, dan dia tidak bisa mengatakannya kepada semua orang yang ada di sini.
Dokter Hardan juga merebahkan diri bersandar pada kedua telapak tangan. Matanya mulai sayu dan denyut jantungnya begitu cepat dan hebat. Dia menyadari betapa buruknya keadaan mereka yang mengalami dehidrasi karena sudah tiga hari tidak meneguk air sama sekali.
Dokter Hardan memilih diam tanpa berkata apa-apa, karena jika dia bicara dan marah mendengar keluhan para security ini, maka energinya akan semakin berkurang.
Sementara Sony, dia tidak sadarkan diri dengan percikan listrik pada tubuhnya.
...****************...
Halooo ... Promo lagi ya kakak ...
Napen: HARYANI
__ADS_1
Judul: Wanita Bahu Laweyan