Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 64


__ADS_3

Maaf ya, jika ceritanya gak sesuai ekspektasi abang-abang semua. Ini ceritanya masuk kategori lomba Super System. Kita udah kirim kerangka kepada editor, dan tidak ada pembu**nuhan. Jika tidak berkenan, cerita ini boleh ditinggal saja. Cerita ini tentang Healer, bukan Kil****, kecuali dia pengguna Demon System, atau Killeerr System.


...****************...


"Bersiap lah, Tuan. Sesaat lagi akan datang serangan mendadak dari sebelah!" System mulai memberi peringatan.


Peringatan System membuat Antonie membangun perisai kuat yang tidak terlihat oleh mata orang awam pada sekeliling klinik tersebut. Antonie memanggil Rizki untuk menjaga orang tua Fanya ini yang masih terlelap dalam tidurnya.


Antonie keluar kembali menggunakan topeng yang sama saat melawan Demon System. Dia melompat ke atas bangunan bersiap menanti orang tersebut. Sementara Sony, sudah berdiri di atas pagar tinggi yang membatasi gedung rumah sakit, dan bangunan klinik.


"Hahaha, ternyata kau memiliki nyali yang besar juga."


Antonie hanya melipat kedua tangannya tanpa mengubris apa yang diucapkan oleh Sony. Hal ini tentu membuat Sony semakin naik pitam.


"Kau jangan merasa lebih daripada aku! Ingat! Kemarin kau hanya sedang beruntung. Kali ini aku tak akan membiarkan keberuntungan berpihak kepadamu lagi."


Sony kembali mengeluarkan pedang iblis yang sama. Namun, konsentrasinya buyar. Ibunya sedang mencari dirinya masalah kecelakaan yang menimpa sang ayah.


"Sony? Sony? Kamu ke mana? Padahal baru sesaat ditinggal, kenapa tidak ada lagi?"


Pedang yang ada di tangan Sony menghilang. Kepalanya sudah bergeser melirik ke gedung rumah sakit. "Kali ini ternyata kau masih beruntung. Namun, setelah ini tak ada lagi kata ampun bagimu."


Antonie memperhatikan lawannya yang sudah berada di pucuk bangunan rumah sakit dalam diamnya. "Bagaimana System? Apakah aku harus melatih fisik lagi?"


"Sebenarnya tidak perlu, Tuan. Anda bisa melakukan segala hal tanpa memperdalamnya terlebih dahulu. Namun, tak buruk juga jika Anda melakukannya."


Antonie kembali turun dan ternyata di sana, Rizki sedang memasang wajah ketakutan menghadapi wanita yang baru saja bangun dari tidurnya. Kedua tangan wanita itu sedang mencekik Rizki.


"Tolong gue, Bang. Dia ini kenapa?" ringis Rizki.


"Kamu mau macam-macam sama saya ya? Kenapa anak-anak zaman sekarang semakin banyak yang tidak ada otaknya? Saya ini punya anak seusia kamu dan kamu mau macam-macam hah?"


Antonie berdehem, membuat mata wanita itu menatap nyalang pada Antonie. "Kamu yang tadi? Kenapa saya dibawa ke sini?"


"Bagaimana keadaan Tante? Apakah masih merasa sesak atau sakit?"


Wanita itu tercenung, dia baru menyadari bahwa kondisinya terasa jauh berbeda dengan sebelumnya. Lalu dia melihat kedua tangannya, tampak sedikit lebih berisi. Pernafasannya pun terasa lebih lega dibanding biasanya.


"Apa yang terjadi pada saya?" ucapnya bingung.


"Tante sudah keluar dari masa sulit yang selama ini membelenggu. Mulai hari ini hentikan lah kebiasaan buruk itu. Hidup lah dengan sehat."


Namun, alis wanita tersebut mengernyit. Dia melipat kedua tangan dan memasang wajah angkuh. "Kamu siapa memerintah aku seperti itu?"


Antonie hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala. "Ternyata keras kepala Fanya langsung turun dari ibunya."


Wanita tersebut sangat terkejut mendengar nama Fanya. "Kamu kenal Fanya di mana? Sejak kapan? Apa hubunganmu dengan dia? Awas ya kalau kamu mempermainkan dia?!"


Rizki menepuk jidatnya menggelengkan kepala. "Tante, dia ini—"


Antonie mencegat Rizki melanjutkan ucapannya. "Ya, belum terlalu lama, dan hubungan kami bukan seperti apa yang Tante pikirkan."

__ADS_1


"Lalu kalian berdua ini siapa bagi Fanya?" wanita itu terus memberondong dengan pertanyaan.


"Sepertinya nanti Tante akan tahu sendiri. Untuk saat ini lebih baik kalian berdua berbaikan!" Antonie pun keluar dari klinik tersebut dan meninggalkan Rizki bersamanya.


Antonie memilih langsung teleportasi menuju lokasi di mana Fanya berada. Fanya terlihat sedang merenung duduk memandangi air di sebuah danau buatan. Dia kembali teringat masa kecilnya yang sangat suram bersama wanita itu.


"Kenapa kamu pergi begitu saja?"


Fanya tersentak mendengar suara Antonie. Dia telah menyadari kelebihan Antonie akhirnya memilih diam memandangi danau kembali. Antonie duduk di sampingnya turut merenung memandangi danau yang sama.


Setelah beberapa waktu hening tanpa suara, akhirnya Fanya memulai untuk berbicara. "Kenapa diam saja?"


"Karena kamu hanya berdiam diri. Aku tak tahu harus mengatakan apa."


Fanya tersenyum kecut lalu dia hening kembali. Setelah sepuluh menit sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, Fanya mulai bersuara lagi.


"Ibuku bernama Franda. Seperti yang aku katakan, aku hanya lah anak yang tidak diharapkan. Aku hadir sebagai anak tanpa hubungan pernikahan. Kata Ibu, aku sangat mirip dengan pria yang menghamilinya. Setiap melihat wajahku, Ibu bagai melihat laki-laki baj*ngan itu."


Fanya hening beberapa waktu untuk menata hati "Aku—"


"Sudah, aku tak menanyakan masa lalumu. Aku hanya menunggumu di sini." sela Antonie merebahkan diri tidur di atas rerumputan hijau menopang kepala dengan kedua telapak tangan.


Fanya kembali memeluk kedua kakinya. "Aku tahu kamu pasti sudah menyelamatkannya."


Antonie tak bergeming, saat ini pikirannya berputar tentang Sony, pengguna Demon System. Antonie memang masih belum mengetahui jelas bagaimana teknik bela diri itu sebenarnya. Karena selama ini, System lah yang membantunya dalam segala hal.


Dia harus segera melatih fisik dan ilmu kedokteran yang masih baginya begitu awam. Dia ditugaskan sebagai Dewa Penyembuh, tentu harus tahu masalah mengenai kesehatan mulai dari yang terkecil hingga masalah terbesar.


"Tentu saja, Tuan. Nanti setelah masalah Fanya, kita akan menemui-Nya."


"Kak? Denger apa yang aku bilang nggak sih?" Fanya menepuk lengan Antonie.


Antonie kembali duduk. "Kamu bilang apa?"


"Tuh kan? Aku dikacangin."


"Aku bertanya, wanita itu saat ini ada di mana?"


"Klinik, ada Rizki juga di sana." ucap Antonie singkat.


"Antar aku ke rumah singgah aja. Aku tidak mau bertemu dengannya. Males banget." Fanya mengernyitkan keningnya.


Antonie bangkit dan menarik Fanya. Antonie sama sekali tidak menyembunyikan apa pun mengenaik kelebihannya di hadapan Fanya. Fanya diajak teleportasi, tetapi ternyata malah sampai ke klinik. Fanya protes setelah menyadari bahwa saat ini sudah berada di dalam klinik.


"Kamu harus bicara dengan ibumu!"


Dari arah sebuah ruangan, terdengar gerakan langkah seseorang. "Akhirnya kamu muncul juga!" Wanita yang ternyata bernama Franda itu menarik Fanya masuk ke dalam salah satu ruangan.


Wajah Fanya terlihat cukup ketakutan. "Ammpuun, Bu." ringisnya menutup mata dengan kedua tangannya menggelengkan kepala.


Franda langsung memeluk tubuh Fanya erat hingga membuat gadis itu sesak. Fanya mematung merasa semakin takut.

__ADS_1


"Akhirnya aku menangkapmu." bisiknya.


"Sudah, Tante jangan menakut-nakuti Fanya terus. Akui saja bahwa Tante itu sayang dan sangat merindukan dia. Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama." gumam Rizki.


"Diam kau! Anak kecil seperti kamu tau apa?" rutuknya merasa semakin kesal.


"Sudah, ibu dan anak itu harus saling menyayangi. Bukan saling membenci." ucap Antonie menengahi.


"Sekarang kamu ikut pulang denganku!" Franda menarik pergelangan tangan Fanya untuk keluar dari tempat ini.


"Nggak mau. Aku tidak mau tinggal sama Ibuk!" Fanya meronta berhasil melepaskan diri.


Namun, pintu klinik tertutup begitu saja dan terkunci. "Kak Antonie?" rutuknya.


"Tante, aku tahu sebenarnya Tante sangat merindukan Fanya. Jangan berpura-pura terus seperti itu. Selesaikan lah masalah antara kalian, dan jadi lah ibu dan anak yang rukun."


Franda memasang wajah tegas. Dia berlalu meninggalkan ruang kerja Antonie mengejar Fanya. "Sekarang kita harus bicara."


*


*


*


Malam hari di rumah singgah, hanya tinggal Antonie dan Rizki saja. Fanya dibawa pulang oleh sang ibu membuat suasana rumah ini menjadi semakin sepi.


"Tidak ada lagi yang bersihin rumah." celetuk Rizki di meja makan.


"Itu si Fanya apa nggak apa sama ibunya?" tanya Rizki kembali.


"Tidak apa, kita tunggu saja kabar baik setelah ini." Antonie bangkit telah selesai makan menuju ke kamarnya.


"Aku mau istirahat, kamu jangan ganggu aku!" Antonie bergerak menuju kamar dan mengunci pintu kamarnya itu.


Dia segera duduk bermeditasi di lantai yang sudah dialasinya dengan tikar. Setelah berhasil tingkat konsentrasi tinggi, jiwa Antonie terlepas dari raganya.


"Tolong antarkan aku mememui Dewa Semesta." pintanya pada System.


Antonie pun berpindah dimensi kembali ke tempat di mana dia bertemu dengan Dewa yang telah memberikan kaca mata System kepadanya. Di dunia yang sepi itu, tak terlihat apa pun bahkan siapa pun.


"Ada apa kau mencari-Ku?"


Antonie dikejutkan oleh sosok yang tib-tiba berada di sampingnya. "Dewa aku—"


Dewa menggantungkan satu telapak tangan, dan memainkan jenggot dengan tangan yang satu lagi.


"Apa kamu tidak puas dengan segala yang sudah kamu miliki selama ini?"


Antonie tersentak segera menangkupkan kedua tangannya. "Maafkan aku Dewa. Aku bagai orang yang tidak tahu diri yang hanya bisa meminta dan meminta. Kali ini, izinkan hamba meminta agar diberi kemampuan beladiri yang bermanfaat agar bisa menyelamatkan orang lain juga."


Dewa menganggukan kepala mengusap jenggotnya dari atas hingga ke bawah. "Sebenarnya kamu tidak perlu datang ke sini untuk meminta pada-Ku. Kamu bisa melakukan segala hal dengan kaca mata yang kamu miliki. Kecuali jika kaca mata itu aku ambil kembali, dan kamu tidak usah turun lagi ke bumi."

__ADS_1


__ADS_2