
"Siapa kau berani mengganggu istirahatku?"
"Aagh ... aaagghh a-aampuuun."
Antonie mengerjapkan mata dan baru benar-benar tersadar setelahnya. Antonie melepaskan genggaman dan duduk. "Maaf, apa yang Bapak lakukan?"
Tangan pria tadi bergetar dengan rintihan, dan wajah mengernyitnya merasakan sesuatu yang menyakitkan dari tulang belulangnya.
Antonie kembali menggenggam tangan pria itu.
"Ja-jangan ... A-aampun!" rintihnya.
Antonie menggenggam tangan tersebut, semakin lama matanya yang menyipit mulai terbuka secara perlahan. Rasa sakit karena tulangnya remuk, perlahan mulai reda dan benar-benar hilang.
"Ma-maaf kan saya," sesal pria itu.
"Kenapa Bapak bisa masuk ke sini? Bukan kah pendaftarannya telah ditutup?"
Bola mata pria itu memutar bola matanya. "Saya ingin Dokter mengobati penyakit yang saya derita."
Antonie selalu gelagapan setiap kali dipanggil dengan sapaan 'dokter' karena kenyataannya dia tidak pernah mengenyam pendidikan setinggi itu.
"Apa yang Bapak keluhkan?"
Pria itu kembali melirik ke kiri dan kanan seakan, memastikan tidak ada yang mendengar keluhan kesehatan yang dialami selain Antonie.
"Begini, Dok ... hmmmm—"
"Bapak punya kendala pada bagian itu?" Antonie melirik pada bagian inti kelelakian pria itu. Tanpa mengatakannya secara langsung, pria tersebut menunjukkan tanda mengalami impotensi yang diperkirakan semenjak tiga bulan terakhir.
Sang pasien terkejut karena Antonie bisa mengetahui masalah pada pria tersebut. "Hubunganku dengan istri tidak harmonis karena ini. Dia mengatakan bahwa akhir-akhir ini aku tidak bisa membuatnya bahagia."
Pria itu tertunduk dan lesu. "Jadi karena itu aku seperti memaksa untuk bisa diobati hari ini juga. Aku ingin membuktikan pada istri bahwa aku ini juga bisa membahagiakannya."
Antonie mengangguk memahami perasaan pria itu. "Setelah saya atasi kendala Bapak nanti, saya harap Anda bisa mengubah perilaku tidak sehat yang dijalani setiap hari. Cobalah mengurangi rokok dan hentikan meminum alkohol. Tidak hanya itu, obesitas juga menjadi faktor penunjang lain yang membuat Anda menjadi begini."
"Hal ini bisa menjadi penunjang penyakit berbahaya lainnya seperti diabetes melitus."
Pria itu memegangi perut, menundukkan kepalanya, dan mengangguk. "Iya, saya mengerti."
"Jadi, setelah kendala yang Anda alami teratasi, mulai lah menjalani hidup sehat."
Dengan sedikit tenaga yang telah didapat meski beristirahat beberapa menit, Antonie melakukan proses besar kepada pasien ini. Hal yang pertama dilakukannya adalah menyembuhkan bagian kelelakian miliknya. Semakin waktu, pria tersebut semakin merasa nyaman dan nafasnya yang tadinya terasa berat, karena jantungnya bekerja cukup keras, kini sudah terasa begitu ringan.
Setelah itu, Antonie menyiapkan sebuah tabung kaca selinder yang cukup besar di tangannya. Antonie meletakkan telapak tangannya pada perut tersebut. Antonie melakukan operasi sedot lemak tanpa pissau bedah.
Antonie melihat semua yang ada di dalam rongga tubuh pasiennya ini.
__ADS_1

"Maaf ya, Pak. Ini akan sedikit sakit. Tapi akan saya perbaiki lagi."
Antonie menusukkan telunjuknya pada perut pasiennya ini. Pria itu tersentak merasak nyeri yang luar biasa dan terkejut pada tindakan yang tidak biasa ini.
"Apa yang kamu lakukan? Aku sudah sembuh." rintihnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Antonie menggerakkan tangan bagai menarik sesuatu dari dalam lubang yang dia buat pada perut pria itu. Dari lubang itu keluar sesuatu yang sangat kental, sedikit kemerahan karena bercampur dengan darah.
Antonie segera menampung cairan kental itu masuk ke dalam tabung kaca silinder yang disiapkannya tadi. Cairan tersebut terus mengisi ruang pada tabung yang ada pada tangannya, membuat perut yang tadinya kencang dan membulat semakin susut dan mengerut.
Semakin lama, cairan yang merupakan timbunan lemak itu alirannya menjadi semakin kecil hingga tinggal tersisa dalam bentuk tetesan. Antonie menyudahi dengan menarik sisa-sisa lemak tersebut hingga benar-benar habis.
Antonie mengembalikan kondisi yang telah dilubangi ke bentuk semula. Setelah itu, mengencangkan bagian kulit yang kendur hingga menjadi rata tanpa bekas. Pria tersebut tampak tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Antonie.
Setelah semua selesai, Antonie menutup tabung silinder yang berisi lemak milik pasiennya ini. Pasien tersebut memandangi dirinya pada cermin yang ada di dalam ruangan itu. Kedua tangan meraba wajah dan perutnya yang terlihat sangat berbeda dengan yang tadi.
"Apa benar ini aku?" tanyanya pada bayangan dalam cermin.
"Ya, ini adalah Anda. Jika Anda bisa menjaga kesehatan dan diri dengan baik, maka seperti ini lah Anda sesungguhnya."
Pria itu mendekati Antonie dan menggenggam kedua tangan Antonie. "Terima kasih. Terima kasih sudah membuat aku menjadi orang yang baru. Mulai hari ini aku akan menjadi orang yang lebih baik lagi."
Lalu dia mencoba merogoh sesuatu dari kantongnya. Dia menemukan sebuah dompet. Dia mengeluarkan beberapa kartu identitas dan surat penting lainnya.
"Tapi?" Antonie mendorong dompet tersebut kembali kepada pemiliknya. Namun, pria itu mendorongnya kembali kepada Antonie dan segera keluar dari ruangan ini.
"Sekali lagi terima kasih." ucapnya terharu dan beranjak.
Antonie melirik dompet yang ada di tangannya. Dia membuka pintu lemari, seketika jatuh bermacam bentuk dompet yang telah tidak sanggup ditampung oleh lemari itu. Semua orang yang disembuhkannya melakukan hal yang sama.
Sementara orang-orang yang berada di luar terperangah melihat orang berbeda keluar. Semua orang melongo mengucek mata melihat fenomena yang luar biasa ini.
Hal ini membuat pasien yang tadinya hendak membubarkan diri menjadi ricuh ingin disembuhkan juga. Rizki, Fanya, dan Angela mulai kewalahan menenangkan mereka.
Antonie muncul dengan wajah dinginnya. Antonie menghitung jumlah pasien yang tersisa. Semua tinggal lima orang. "Semua calon pasien yang tersisa akan saya bantu. Akan tetapi, tidak menerima lagi pasien yang baru datang."
Mendengar pengumuman dari Antonie tadi, membuat pasien-pasien yang tersisa menjadi sedikit lega.
Seperti apa yang dikatakan, Antonie menyelesaikan semuanya. Setelah menyudahi, Rizki, Fanya, dan Angela terduduk dengan tubuh terasa begitu lelah.
"Aku tidak menyangka Kak Antonie bisa menyembuhkan orang hingga sebanyak itu." ucap Fanya.
"Iya, biasanya atu-atu doang," timpal Rizki.
Sementara Angela hanya tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh remaja yang menuju dewasa ini.
__ADS_1
'Mereka adalah saudara-saudara yang disayangi Antonie. Mereka sangat dekat.'
"Akhir-akhir ini kamu tidak terlihat? Kamu ke mana Fanya?" tanya Angela mencoba beramah tamah kepada Fanya.
Namun, Fanya kembali memainkan kuku. Gadis muda itu tidak tertarik menanggapi Angela. Rizki menyikut Fanya agar menjawab pertanyaan yang diberikan untuknya. Fanya membalas sikutan Rizki dengan membesarkan matanya.
"Oh, tidak apa, Rizki. Mungkin dia belum memercayaiku," ucap Angela masih memasang senyuman.
"Akhir-akhir ini Fanya bersama ibunya, Mbak. Jadi, sudah tidak tinggal bersama kami lagi."
"Ooh, begitu."
Antonie kembali muncul dengan matanya yang sayu dan keringat sudah kembali membanjirinya. Angela kembali ingin menyeka keringat Antonie, tetapi ditepis dan Antonie mengambil sendiri tisu yang berada di atas meja.
"Aduuuh, anak ganteng? Kecapekan ya?" celetuk Rizki memijit bahu Antonie.
Antonie membuka kaca mata dan memijit area di bawah matanya. Fanya mengerutkan kening melihat perbedaan saat terakhir kali melihat Antonie sangat berbeda saat tidak menggunakan kaca matanya.
"Kak? Sejak kapan jadi ganteng beneran? Oplas ya?"
Antonie melirik Fanya. "Oh, Fan? Sejak kapan di sini?"
"Asyeeem, aku sudah di sini semenjak tadi tau nggak? Rencana aku mau datang kemarin. Tapi, Rizki bilang gak jadi, aku batal datang. Aku tadi yang ngurus bagian luar."
Antonie menananggapi dengan wajah ngantuknya. "Ooh, terima kasih ya?" Antonie menyadari ada yang hilang. Dia mulai melirik kiri kanan, mengendarkan pandangan ke sekeliling lokasi.
"Liana dan Leon di mana?"
Fanya dan Rizki mengendikkan bahu. "Dia marah-marah tak jelas, lalu pergi membawa Leon."
Angela sedari tadi merasa tidak dianggap, akhirnya menghela nafas panjang. "Baik lah, sepertinya pembukaan hari ini lumayan lancar. Semoga masyarakat yang datang ke klinik ini semakin banyak. Aku mau pulang dulu."
Antonie berdiri berjalan ke arah Angela. "Terima kasih banyak, Mbak Angela. Padahal kamu sedang sibuk, tapi malah buru-buru ke sini untuk acara peresmian. Semoga segala amal atas sumbangan untuk gedung ini, diberi balasan yang setimpal oleh Tuhan Yang Maha Esa."
"Aamiin." Angela kembali memberikan senyumannya.
"Aku pulang dulu. Semoga klinik ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Terutama masyarakat yang kurang mampi." Angela mengambil tas dan mencari kunci mobilnya.
Antonie teringat akan uang yang diberikan pasien. "Mbak—" Namun, Angela tidak mendengar panggilan Antonie.
"Kenape, Bang?"
"Itu uang dari masyarakat yang maksa memberi uang mau kita apakan?"
"Emangnya Kakak tak butuh uang apa?" tanya Fanya.
Antonie menggeleng. "Uang hanya materi yang gampang didapat, dan gampang juga hilangnya."
__ADS_1
"Sini uangnya! Serahkan semua padaku!" ucap seorang wanita yang mengagandeng anak kecil dari arah jalan.