Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 95


__ADS_3

"Kalau begitu, aku mau mengecek ke dalam dulu." Angela berjalan ke dalam menuju ruang kerja Antonie.


Seperti dari informasi yang telah ia dapatkan lewat Rizki, tampak seorang pasien yang tertidur di atas brangkar. Ia tidak bisa melihat wajah sang pasien, karena ia menghadap pada dinding ruangan.


Setelah itu, Angela memeriksa bagian lain mengecek kebutuhan klinik kesehatan yang sangat sederhana ini. Tidak ada satu pun peralatan kesehatan yang digunakan oleh klinik ini.


Tidak hanya itu, biasanya klinik kesehatan membutuhkan bantuan ahli profesional lainnya dalam penanganan kesehatan dalam praktisi kesehatan. Namun, di sini tak ada perawat, tak ada dokter ahli bedah, tak ada dokter spesialis ini, spesialis itu, hingga membuat banyak ruangan pada bangunan ini kosong tidak terpakai.


Saat mengecek pelayanan yang dilakukan, tak satu pun pasien yang mendapat perawatan opname sebagai mana mestinya pasien di rumah sakit yang lain.


Angela pun tersenyum, membayangkan betapa berbedanya klinik ini dengan faskes lainnya. "Yang lain pasti kelimpungan menindak pasien yang bejibun." Ia teringat saat promo awal peresmian dulu. Namun, Antonie masih tenang menyikapi dan menyembuhkan semua pasien yanga ada.


"Ah, dia memang berbeda dengan yang lainnya." Angela bergumam pada dirinya sendiri.


Tanpa ia ketahui, ucapan kekaguman Angela itu, didengar oleh oleh Sonya. Sonya terbangun, setelah tidur sesaat saja. Ia masih menahan diri untuk tidak memutar badan.


Sonya sedang menebak-nebak siapa yang ada di ruangan ini. Namun, karena itu suara perempuan, Sonya tidak bisa membayangkan siapa yang ada di belakangnya.


"Kenapa, Mbak?" Suara Antonie mulai terdengar menyusul di belakang.


"Aah, tidak ... Hanya saja aku ingin menanyakan, apakah klinikmu ini membutuhkan alat kesehatan lain? Seperti CT scan, radio X-ray, termometer, tensimeter, timbangan, tabung oksigen, dan lain sebagainya?"


"Biasanya setiap praktisi kesehatan harus minimal menyiapkan peralatan yang sederhana. Tapi ini benar-benar beda." Angela terkekeh merasa ini benar-benar sesuatu yang sangat langka.


"Padahal, saya ingin sekali menyumbangkan CT scan untuk klinik ini, tetapi sepertinya itu tidak dbutuhkan di sini."


Sonya yang mendengar percakapan tersebut juga membenarkan apa yang diucapkan oleh wanita yang tidak dikenalnya itu. 'CT scan? Gilak, benda mahal itu mau disumbangkan percuma?'


Antonie melirik pada tubuh yang masih miring menghadap dinding. Lalu ia menatap Angela kembali mengulas senyumannya. "Tidak perlu, Mbak. Hingga saat ini, aku masih bisa bekerja tanpa alat. Tapi, tidak tahu saat saya lanjut usia, mungkin akan membutuhkannya."


"Jadi, apa kamu akan menerimanya?" Angela terdengar sedikit bersemangat.


"Saat ini tidak usah, Mbak. Mending ditawarkan kepada rumah sakit atau klinik kecil yang membutuhkan. Nanti, jika aku membutuhkannya, akan membelinya dengan uangku sendiri."


Angela mengerutkan keningnya kembali. "Lho? Bukannya kamu praktiknya gratisan aja? Kamu tidak akan mudah mengumpulkan dua belas miliar begitu saja. Karena kamu, tidak memiliki pemasukan tetap, kan?"


Antonie tersentak mendengar harga alat CT scan yang akan disumbangkan itu. Namun, ia yakin, bisa mengumpulkan uang tersebut dalam waktu yang tidak lama.

__ADS_1


"Tidak apa, Mba. Saat ini aku belum membutuhkan alat-alat tersebut."


Angela mengerutkan keningnya terlihat tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Angela.


"Mbak sendiri bisa lihat kan, di sini tidak ada alat pengukur berat badan, tinggi, tensi, suhu tubuh. Namun, ketepatanku dalam menghitung semua, bisa sampai pada batas akurasi yang tepat."


Angela melongo akan kepercayadirian Antonie. "Kalau begitu, coba kamu sebutkan berat badanku, suhu tubuhku, tinggi, tekanan darah, dan apa saja riwayat penyakitku sebelum mengenalmu."


Antonie duduk pada kursi kerjanya mempersilakan Angela untuk duduk. Dia menatap Angela dengan sedikit menelengkan kepala.


"Tinggimu seratus enam puluh senti meter, dengan berat empat puluh delapan kilogram, suhu tubuh tiga puluh enam koma satu derajat celcius. Saat ini tekanan darah agak sedikit di atas normal karena jantungmu semakin lama debarannya semakin kuat."


Angela mengatup bibirnya tidak memungkiri apa yang diucapkan Antonie. Karena bertatapan berdua seperti ini membuat jantung Angela berdetak semakin cepat.


"Coba hirup napas dengan dalam dulu, Mbak. Biar perasaanmu menjadi lebih tenang!" ucap Antonie lagi.


Angela tersenyum dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Antonie. Dia menghirup napas dalam-dalam, dan melepaskannya secara pelan.


"Bagaimana, Mbak? Sudah sedikit baikan?"


"Aku baik-baik saja, kok," sanggah Angela lagi.


'Dasar pria begok,' batin Sonya yang sudah tidak tahan oleh drama ini.


Antonie kembali melirik pada wanita yang terbaring di atas brangkar. Meski sedikit kesal, Antonie kembali mengabaikan Sonya, kembali fokus kepada Angela.


"Tekanan darahmu normal dan dulu riwayat penyakit yang pernah kamu alami, selain asma, ada riwayat sinusitis juga. Ini terjadi karena faktor keturunan."


Angela tersenyum mendengar Antonie cukup banyak bicara hari ini, tidak seperti biasanya. "Apa kamu memang begini terhadap pasienmu? Jauh lebih ramah dibanding diajak berbicara di luar."


"Entah lah, aku berusaha membuat pasien rileks saja bila sedang melakukan penyembuhan."


"Kalau begitu, aku akan ke sini sebagai pasien saja," ucap Angela kembali.


"Huwaaaahhh ... Siapa sih yang berisik amat?" Sonya menggeliat duduk di bangku merentangkan kedua tangannya.


"Eh, ada orang?" Sonya turun dari brangkar, duduk di bangku kosong di samping Angela, dan menyerahkan tangannya di hadapan Antonie.

__ADS_1


"Aku dalam keadaan tidak baik-baik saja, tolong periksa dan rawat aku juga!" Sonya melirik Angela.


Dia yakin mengenal wanita yang ada di sampingnya ini. Karena, saat di rumah sakit dulu, Sonya sering melihatnya keluar dari ruang kerja sang ayah.


"Bukan kah kamu anak Dokter Hardan?" tanya Angela.


"Waaah, ternyata ingat ya, Mbak? Iya ... Aku anak Dokter Hardan."


Angela merubah raut wajahnya yang tadinya sedikit merona, menjadi sayu. "Saya turut berduka cita atas kepergian Dokter Hardan. Kemarin saya tidak bisa hadir pada prosesi pemakaman karena ada pekerjaan di luar."


Sonya membuang muka dan fokus pada Antonie. "Nggak nanya!"


Angela tersentak mendapat perlakuan kasar dari putri Dokter Hardan. Hingga membuat Angela terdiam tak berkata-kata melihat reaksinya pada Antonie.


"Ayooo, aku mau disembuhin juga, aku merasa lagi flu berat, dan kepala pusing. Aku ingin diperiksa juga. Siapa tau debaran jantungku juga berada di atas normal."


Antonie menghela napas panjangnya. "Jika keadaanmu sudah lebih baik, kamu sudah boleh kembali ke rumahmu."


"Apa boleh aku tinggal di sini? Aku akan membantumu dalam merawat pasienmu." ucap Sonya dengan cepat


"Maaf, klinik ini tidak membutuhkan seorang yang tidak kopenten seperti kamu!"


...****************...


Halo-halo ... Kali ini Author akan membawakan karya romansa fantasi buat pecinta romansa dibalut dalam fantasi.


Napen: Lichalika


Judul: Ranjang Panas Siluman Ular



blurb:


Seorang CEO muda, Frans Alvino dikutuk menjadi seekor ular karena Ia menyentuh sebuah benda keramat, yaitu sebuah patung ular, Ia tidak bisa kembali ke wujud semula sebagai manusia biasa, untuk membuat dirinya kembali sebagai manusia biasa, maka dia harus memiliki seorang anak dari wanita normal.


Tak ada satupun wanita yang mau menjadi ibu dari anak Frans yang ternyata adalah seekor ular jantan. Mereka takut bayi mereka akan terlahir menjadi seekor ular juga.

__ADS_1


Nasib membawa Frans pada seorang gadis bernama Lisa, gadis yang memiliki phobia terhadap ular, justru mengandung benih darinya yang saat itu sedang dikutuk menjadi ular, lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Lisa akan tetap melahirkan anak ular? Dan apakah Frans bisa kembali ke wujud nya semula sebagai manusia?


__ADS_2