Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 77


__ADS_3

*Maaf ya kakak readers semua. Lama up nya. Namun, jangan khawatir, aku janji pasti selesai kok. 😇🙏*


"So-Sony, kamu di mana?" rintih Dokter Hardan kesakitan memegangi dadanya.


Dadanya terasa sangat sesak, mendapati rumah sakit yang dibangun dengan susah payah menjadi hancur perkeping keping.


Antonie akhirnya merasa tidak tega bergerak menerobos pasien, dokter, perawat, security, dan petugas-petugas yang tiba-tiba bersatu dalam satu tempat.


Hingar bingar di antara mereka, tak sedikit yang menyampaikan keheranan akan keajaiban yang mereka rasakan. Kenapa mereka yang tadinya berlarian dalam keadaan panik malah tiba-tiba berada di luar?


Antonie sudah berada di sisi Dokter Hardan. Mengecek keadaan Dokter Hardan yang mendadak mengalami serangan jantung. Kondisinya terlihat sangat lemah. Antonie melirik kiri kanan, semua tengah, sibuk dengan pemandangan dan pengalaman yang tak terduga ini.


"Siapa pun yang membuat kita semua keluar dari sana, dia adalah titisan dewa kehidupan."


Setelah memastikan tak ada yang memperhatikan aksinya, Antonie bersiap akan memulai melakukan penyembuhan. Namun, sebelum sempat menyentuh Dokter Hardan, tanpa diduga datang sebuah hantaman yang dari arah tak terduga.


Tubuh Antonie pun terpental menabrak beberapa pasien yang berkerumunan di sana. Pasien yang tadinya telah cukup lemah, menjadi semakin lemah.


"Awaaas kaaaau!" Kali ini tendangan dari Sony telah berhasil ditangkap oleh Antonie.


Dengan erat, Antonie menggenggam kaki milik Sony dan menahan setiap serangan yang dilancarkan oleh musuhnya itu. Kiri, kanan, depan belakang mereka dikelilingi oleh pasien-pasien dengan kondisi yang berat.


Dengan terpaksa Antonie menarik Sony mengudara menuju tempat yang sedikit sepi lalu dengan sekuat tenaga menarik Sony kebelakang dan dihempaskan kembali ke bumi.


Suara tumburan terdengar begitu keras bagai membelah bumi ini. Antonie membalas serangan yang diberikan oleh Sony dengan pukulan dan tendangan secara bergantian. Sony berjibaku menahan dan menangkis serangan tanpa senjata itu.


Sony ....


Indera pendengaran Sony seakan mendengar sesuatu yang tidak biasa.


"Apa kau tahu, bahwa ayahmu sedang sekarat? Setidaknya kau beri aku waktu lima menit saja, maka ayahmu bisa kuselamatkan!"


Antonie memusatkan kekuatan pada tangannya memberi serangan terakhir. Antonie melompat dan memberi pukulan dari udara tepat mengarah bawah tengkuknya. Sony jatuh tersungkur mencium tanah.


Sony ....


Suara itu kembali terngiang pada indera pendengarannya. Di antara sadar dan tidak sadar, dia melihat bayangan sang ayah dengan wajah ketakutan ditarik oleh bayangan hitam dengan tombak panjang yang di ujungnya ada bilah arit tajam melengkung dengan panjang.


Sony ....

__ADS_1


"Daddy!"


Tangan Sony ingin menggapai bayangan yang terus menjauh itu. Bayangan tersebut semakin lama semakin menghilang.


"DADDY ...."


Antonie telah berdiri di sisi tubuh Dokter Hardan. Kepalanya tertunduk dengan tangan tangan terkepal dengan kuat. Dokter Hardan telah pergi, tetapi tak ada yang menyadarinya. Mereka yang ada di sana, tengah sibuk dengan diri sendiri serta keselamatan mereka sendiri.


Sebuah sapu tangan putih, tiba-tiba muncul pada tangan Antonie. Antonie menutupi bagian wajah Dokter Hardan dengan kain putih itu.


Antonie memangnggil beberapa orang tenaga kesehatan dan security untuk mengurus jenazah Dokter Hardan. Setelah itu, Antonie pergi meninggalkan lokasi itu disambut oleh Liana, Rizki, dan Leon.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Liana menyambut kedatangan Antonie dengan wajah harunya.


Antonie melirik Liana yang tumben berubah drastis. Namun, dia memilih tidak mengomentari reaksi Liana.


"Aku lelah, aku mau istirahat. Jangan bangun kan aku dengan apa pun berita yang muncul! Aku akan bangun sendiri jika tubuhku telah kembali pulih."


Rizki memasang sikap hormat. "Siap, Boss!"


*


*


*


Rizki yang memandangi bangunan di samping klinik itu bersidekap dada. "Aneh sekali, bangunan yang terlihat kokoh dan megah seperti itu, ternyata bisa runtuh begitu saja meski tak ada gempa. Ck ck ck."


Liana turut prihatin melihat rumah sakit yang tidak berbentuk itu. Bagaimana pun, Leon telah berada di sana lebih kurang selama satu tahun. Baginya, pelayanan di rumah sakit itu adalah yang terbaik dibanding rumah sakit yang lain.


Liana melihat dokter yang biasa menangani Leon. Liana berlari kecil mengejar dokter itu. Namun, dokter wanita tersebut terlihat ketakutan dengan mata terus melirik ke kiri dan ke kanan.


"Oh, oh, kamu ... kakaknya Leon, sudah lama kita tidak berjumpa." Akan tetapi, raut wajah dokter itu penuh ketakutan.


"Dokter, apa yang terjadi? Kenapa rumah sakit ini bisa hancur berkeping seperti ini?"


"Oh, ooh ... mungkin karena—" Dokter itu melirik ke kiri dan kanan, kembali terlihat ketakutan.


" Saya rasa ini adalah hukuman. Rumah sakit ini memang tak layak lagi beroperasi."

__ADS_1


Mata dokter itu membulat melihat Leon berlari kecil ke arah Liana. "Ini Leon kan?"


Dengan wajah cerah Liana merangkul Leon. "Iya, Dok. Ini adik saya yang sudah Anda tangami selama satu tahun itu. Terima kasih ya, Dok."


Sang dokter tercengan, lalu menghembuskan nafas dengan panjang. "Syukur lah dia selamat. Saya pikir dia—"


"Kenapa dia, Dok?"


"Oh, tidak ... saya merasa bersyukur jika Leon benar-benar telah sembuh. Jaga lah dia baik-baik."


Liana tersenyum dan mengangguk. "Baik, Dok. Terima kasih atas selama ini."


Dokter itu menepuk bahu Liana beberapa kali. Ada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi terasa sangat berat di lidahnya. Namun, dokter itu memilih untuk bungkam, dan berjanji akan menjadi praktisi kesehatan yang lebih baik di kemudian hari.


Liana kembali ke klinik. Dia mendapati Antonie berbicara santai dan sangat akrab dengan wanita yang terlihat anggun dan berkelas itu. Dengan sengaja, dia berdiri di antara mereka dengan memasang wajah tak bersalah.


"Hmm, sepertinya seru sekali. Ngobrolin apa ya?"


"Aku ke dalam dulu. Mau mengecek kelengkapan dokumen." ucap Antonie cuek pamit dan pergi.


Liana mengerutkan keningnya merasa keberadaannya tidak dianggap oleh pria berkaca mata itu. Liana pun bersidekap dada mengangkat satu alis melirik Angela.


"Jadi, tadi itu obrolin apa ya, Mba?"


Angela berusaha memasang senyuman tulus. "Ya, sesuatu tentang persiapan pembukaan klinik ini. Akan tetapi, terpaksa ditunda karena musibah yang dialami oleh gedung rumah sakit."


Liana mendengarkan dengan setengah hati. Namun, dia kembali melirik Angela yang cantik dan sangat terawat. Sejenak Liana memandangi dirinya pada pantulan kaca di jendela. Tentunya perbandingan mereka sungguh sangat berbeda.


"Mba, umurnya berapa sih? Kok bisa cantik gitu?"


Angela tertawa sembari menutup mulut. "Aku rasa aku adalah manusia paling tua di antara kalian semua yang ada di sini. Hal ini membuatku merasa membicarakan masalah umur menjadi sesuatu yang saru.


ckiiit


Sebuah mobil yang cukup sporty berhenti tepat di depan bangunan klinik ini. Seorang berpakaian hitam muncul dengan wajah sedihnya. Tanpa permisi gadis berpakaian serba hitam itu masuk ke dalam klinik mencari seseorang.


Saat melihat Antonie sedang menyiapkan sesuatu, gadis itu memeluk Antonie dari belakang.


"Apa benar kamu lah yang melaporkan keadaan daddyku kepada pihak rumah sakit?"

__ADS_1


Liana dan Angela yang menyaksikan kelakuan wanita berpakaian serba hitam itu, mengerutkan kening mereka.


__ADS_2