
INI ADALAH LOKASI PENGUBURAN SECARA TAK LAYAK WARGA YANG HILANG SELAMA INI. SILAKAN UNTUK DIUSUT ULANG. RSHK LAH YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB!!!
Warga yang berada di sekitar tempat tersebut merasa merinding dengan seketika membaca pengumuman itu.
"RSHK? Apa Rumah Sakit Harapan Kita?" tanya salah satu warga yang berkerumun.
"Gilak, pantasan aja gue kayak ada yang minta-minta tolong kalau lewat sini." ungkap yang lain.
RT setempat melaporkan hal tersebut pada pihak yang berwajib. Setelah itu terjadi lah pembongkaran lokasi yang membuat masyarakat ricuh. Kericuhan ini membuat pihak jurnalistik tergelitik untuk mengusut dan memberitakan masalah ini.
Rumah Sakit Harapan Kita seketika menjadi ramai dan dikerumuni oleh pihak masa yang membutuhkan informasi. Para pencari berita ingin bertemu pimpinan rumah sakit, tetapi tak ada yang berani muncul.
Dalam ruang direksi, Dokter Bagas menundukan wajahnya menggenggam kedua tangan. Sementara Dokter Hardan duduk di kursi putarnya membelakangi Dokter Bagas.
"Setelah semua rusak, semua organ yang akan dijual hilang, kali ini lokasi penguburan mereka pun telah terungkap."
Dokter Bagas masih menundukan kepala. Dia tak menyangka semua akan jadi seperti ini. Saat mereka semua bangun, tak satu pun ada yang mengingat semua kejadian itu.
Mereka sangat terkejut saat melihat ruang bawah tanah itu hancur lebur ditambah seluruh organ di tempat penyimpanannya hilang tak berbekas.
"Apa kamu bisa mengatakan apa yang telah terjadi di bawah sana?" tanya Dokter Hardan dingin tak bergerak.
Dokter Bagas hanya bisa menciut. Seperti apa pun dia berusaha mengingat semuanya, tetapi tak satu jawaban yang muncul.
"Lalu, siapa orang yang menancapkan palang itu di lokasi pembuangan?"
Dokter Bagas masih tak bergeming. Kepalany bagai mengeluarkan asap, tetapi masih tak tahu harus berkata apa.
"Apa yang akan kau lakukan jika semua ini telah terjadi?" bentak Dokter Hardan dengan sedikit ke
"Ehm ...," Dokter Bagas hanya menggaruk pelipisnya. Dia sendiri merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Kemari lah!" ucap Dokter Hardan dingin.
Dokter Bagas bergerak cepat berdiri di samping pimpinan rumah sakit ini. Setelah itu dia kembali menundukan kepala.
__ADS_1
"Bersihkan!" titah Dokter Hardan.
Dokter Bagas mengeluarkan sapu tangan mahalnya lalu berjongkok mengelap sepatu yang tidak kotor itu.
Dokter Bagas dikejutkan oleh sebuah bantalan yang tiba-tiba saja ditempelkan di kepala Dokter Bagas. Dokter Bagas menahan senyum. Dia mengira Dokter Hardan sedang mengajaknya bercanda.
pisssuung
Suara tem bakan nyaris tak terdengar. Dokter Bagas ambruk dengan mata membulat, sudut bibirnya mengeluarkan da rah. Dokter Bagas, telah kehilangan nyawa.
Sang pelaku membuka peredam bunyi yang dipasangkan pada ujung se na pan. Lalu dia melempar bantalan yang digunakan untuk meredam suara sekali lagi. Setelah itu, dia melakukan panggilan.
"Cepat bawa dia dan ambil organ miliknya!"
Tak beberapa lama, beberapa orang membawa jasad Dokter Bagas ke sebuah ruangan yang ada di samping ruang Dirut. Sementara yang lain bekerja membersihkan bekas da rah milik mendiang Dokter Bagas.
*
*
*
Ibu Denish terlihat sedih, semua makanan telah menjadi dingin, tetapi tak satu pun ada yang tersentuh.
"Ma, ayo kita makan dulu. Mungkin saja Papa memiliki pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggal." ucap Denish menggenggam tangan ibunya yang terus terlihat gusar.
Berta—ibu Denish hanya menggelengkan kepala. "Papa kamu tidak pernah tanpa kabar seperti ini."
"Iya, tapi Mama makan dulu gih. Siapa tahu Papa sampai kelupaan karena saking sibuknya. Kalau Mama sakit, aku bisa menjadi sedih. Aku suapin ya?" ucapnya lembut kepada wanita yang melahirkannya.
Berta menganggukan kepala, menerima suapan dari putra semata wayangnya. "Bagaimana praktik kedokteranmu di sana? Lancar? Atau memiliki kendala?"
"Semua lancar, Mama tidak perlu mengkhawatirkanku." ucap Denish kembali menyuapkan ibunya.
Sebenarnya, di dalam hatinya sendiri merasakan gelisah yang tidak menentu. Tiba-tiba saja dia terbangun bersama sang ayah di ruang bawah tanah, tempat dia terbiasa belajar bersama sang Ayah. Namun, semua bagian ruangan itu rusak tak bersisa. Dia tidak mengingat apa pun yang terjadi.
__ADS_1
Semenjak berpisah dengan sang ayah yang hendak menemui atasan, tak ada lagi kabar dari pria yang dipanggilnya dengan Papa. Saat dihubungi untuk pulang bersama pun, tak ada jawaban dari Dokter Bagas.
Namun, melihat Berta—ibunya yang terlihat khawatir duluan, Denish tak berani berkata apa-apa. Dia khawatir akan menambah beban dalam pikiran sang ibu.
Pemberitaan mengenai rumah sakit itu pun berakhir karena sang pimpinan telah membayar mahal awak media untuk menghentikan pemberitaan mengenai hal tersebut.
Sementara, keluarga yang merasa kehilangan mulai berdatangan ke lokasi pembongkaran makam-makam itu dengan isak tangis dan haru.
Mereka datang jauh-jauh dari kampung halaman demi memastikan, apakah di sana ada keluarga tercinta yang jauh-jauh ke kota untuk mencari uang bagi mereka.
Antonie berdiri menundukan kepala saat berada di sana. Dia menyayangkan, semua ini luput dari perhatiannya.
"Jika saja, aku sudah mendapatkan System semenjak dulu, mungkin semua ini tak akan terjadi." monolognya.
Hal ini membuat orang yang berdiri di samping Antonie melongok bingung menunjuk diri sendiri. "Aku juga." jawabnya.
Antonie melirik pada seorang yang mengajaknya bicara. Dia hanya menganggukan kepala lalu pergi meninggalkan tempat itu. Melewati orang-orang yang menangis di sekitar sana.
Ada yang mencari ayahnya, ibunya, suami, istri, anak, saudara, dan kerabat lainnya yang menghilang tanpa kabar. Antonie melompat langsung sampai di rumah sakit yang sudah cukup sepi. Tak ada lagi awak media yang mengantri.
Hanya saja, rumah sakit itu tengah dipenuhi oleh tim penyidik yang mencari jawaban kebenaran tentang kecurigaan yang tertulis dalam pengumuman yang dibuat oleh Antonie.
Saat melangkahkan kakinya menelusuri lorong tersebut, Antonie ditarik kasar oleh seseorang. Namun, Antonie mengibaskan tangan itu hingga membuat orang yang mencul tiba-tiba terpental hingga membentur dinding.
"Aaagghhh ...." Terdengar suara ringisan dari seorang wanita, yang tak lain adalah Sonya.
Antonie mengulas senyum sinis, lalu mempercepat langkah tanpa memedulikan wanita itu. Wanita yang membuatnya tiada, tetapi ... Berkat dia, Antonie mendapat sesuatu yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.
'Sebenarnya aku membencinya. Namun, berkat dia aku bisa mendapatkan System Dewa yang luar biasa.' ucapnya menghilang menuju suatu tempat. Karena dia ingin memeriksa sesuatu yang lain.
Sonya bergerak meski tubuhnya terasa sakit. Dia merasa ingin membuat perhitungan dengan pria tadi. Akan tetapi, pria yang tadi mendorongnya telah menghilang. Sonya mengedarkan pandangan mencari pria itu. Mata Sonya membulat karena merasa bingung.
Antonie sudah berada di lantai bawah tanah. Di sana tampak seseorang sedang berdiri dengan muka masam. Alis matanya terlihat bergetar kesal, memperhatikan para pekerja yang membersihkan tempat itu. Di sisi lain, ada beberapa orang yang terlihat masuk dari sebuh pintu.
"Bagaimana?" tanya pria berjas putih berdiri memantau semua yang ada.
__ADS_1
"Beres, Boss ... tak akan ada yang tahu keberadaan jasad Dokter Bagas."