
"Ah, ya ... Terima kasih juga, dan Ibu ... Mbak, bisa menjalani hari dengan lebih baik lagi."
Wanita itu terlihat sumringah. "Ah, kalau dipanggil Mbak, sama anak muda seperti kamu, saya bisa lupa diri."
Antonie tersenyum tipis, dan melihat wanita dan banyangan tersebut di cermin. "Soalnya, terlalu muda jika saya panggil 'ibu' dan lebih cocoknya dipanggil Mbak, atau mungkin adek-adek?"
Wanita itu tertawa riang hingga menutup mulutnya terharu. "Sekali lagi terima kasih, sudah membantu saya."
Wanita itu melirik liontin yang terbuat dari emas, yang baru saja diberikan. "Semoga benda itu bisa sedikit membantumu, nanti."
Antonie memerhatikan liontin yang yang menggantung di lehernya. "Terima kasih, Mba."
Saat Antonie mengangkat wajahnya kembali, sosok yang tadi disembuhkannya sudah tidak ada. Ia melirik ke kiri dan ke kanan, mengecek lorong klinik yang menuju ke luar.
"Ke mana dia?"
[ Kita berdua sama-sama kecolongan. ]
"Maksudnya?"
[ Tadi energi murni yang ia miliki, benar-benar tidak tidak terasa. Namun, setelah ia menghilang, sisa energi yang ditinggalkan benar-benar besar. ]
[ Yang baru saja Anda sembuhkan hanyalah sosok dewi yang turun untuk menguji keterampilan Anda dalam menyembuhkan manusia. ]
[ Sepertinya dewa semesta yang memerintahkan untuk menjadi pasien terakhir Anda, menjelang tingkat lanjutan ini. ]
Antonie kembali memperhatikan liontin emas yang terpasang di lehernya. "Dewi, ya?"
[ Benar, Tuan. ]
Antonie tersenyum tipis, ia pun bersiap untuk kembali ke rumah di sambut oleh Liana yang sengaja menunggu kepulangannya.
Mata Liana menatap heran pada satu benda yang terbuat dari emas menggelantung di leher Antonie. Antonie menyadari arti tatapan itu. Dia segera melepaskan liontin tersebut dan menyerahkannya ke tangan Liana.
"Kamu mau? Buatmu saja!" Ia masuk dan segera membersihkan diri.
Sementara Liana melongo memegangi liontin tersebut. "Dia memberikan ini kepadaku?"
[ Sepertinya dia membaca isi hatimu karena ingin mencurinya. ]
"Hehehe, gitu ya? Hampir saja aku salah paham."
*
*
*
Pada hari yang telah dijanjikan, Liana sengaja menitipkan Leon kepada Riski. Liana sedang duduk menggunakan masker, topi, kaca mata hitam, dan bolero panjang berwarna hitam.
__ADS_1
Di balik surat kabar yang ia buka selebar mungkin, Liana memperhatikan Antonie sedang duduk kaku di samping Sonya.
"Katanya mereka ada empat? Kenapa yang datang sendirian?" celetuk Liana meremukkan bagian surat kabar yang ada di tangannya.
[ Aku yakin, Antonie mengetahui kehadiranmu. Jadi tidak perlu bersembunyi darinya! ]
"Ssst! Jangan berisik! Aku hanya memantau dari jauh."
Liana memperhatikan ekspresi wanita yang ada di samping Antonie. Wanita itu tiada hentinya mengurai senyuman mengajak Antonie berbicara. Akan tetapi, orang yang diajak berbicara seakan tak memberikan tanggapan sedikit pun.
"Good boy!" Senyum tipis memulas bibir Liana.
Akhirnya wanita itu memasang wajah kesalnya. Sonya merasa kecewa merasa dianggap bagai angin lewat. Ia memilih mengeluarkan ponsel melakukan siaran langsung.
Penampilan Sonya yang terlihat cantik, menuai bermacam komentar di VT-nya.
[ Pasti lagi kencan kan? ]
[ Udah ketemu pengganti yang selingkuh kemarin? ]
[ Boleh spil siapa yang ada di sampingnya? ]
Sonya tidak berani bersuara, meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Sonya mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera belakang pada Antonie.
[ Wooow, seperti tokoh anime! ]
[ Pantesan aja calon dokter terpikat! ]
Antonie melirik kelakuan Sonya. "Apa yang kamu lakukan?"
[ Wooww, suaranya menggetarkan hati! ]
[ Bu Dokter kenapa tak bersuara? Biasanya ramai tu. ]
[ Kalau memperkenalkan orangnya, aku akan kasih gift singa! ]
Sonya mengernyit. Ternyata pilihan untuk live salah. Akhirnya, Sonya melambaikan tangannya menutup live nya kembali. Ia tersenyum kikuk mendapat tatapan dingin itu.
"Hehe, aku punya akun tok tok. Biasanya kalau nggak ada kerjaan, aku live dulu."
Antonie menatap dingin pada benda itu. Ia memejam kan mata dan siluet bayangan akan masa lalu wanita itu muncul di dalam benaknya.
Sonya menabraknya karena sibuk melakukan live. Mata Antonie menatap ponsel yang tergeletak di atas meja selama beberapa saat.
"Hai, maaf lama nunggu ya?" Terdengar suara seorang pria, Antonie beralih pandang pada sumber suara.
"Denish." Antonie berdiri sejenak menyilakan ketiga orang itu duduk.
Sonya memasang wajah tak peduli kembali mengambil ponselnya. Dia kaget saat memegang ponsel itu hingga menjatuhkannya. Benda pipih itu terasa sangat panas. Sonya mencoba menyalakannya, ponsel menyala sejenak dan mati begitu saja.
__ADS_1
"Loh? Perasaan ini benda tadinya baik-baik saja!" Sonya sibuk bergumam pada diri sendiri membolak-balikkan ponsenya.
Sementara semua telah duduk, masih ada satu orang lagi yang masih berdiri mematung. Semburat wajahnya terlihat beku menatap pria berkaca mata itu.
"Ke-kenapa dia ada di sini?" tanya Cika sedikit bergetar.
Bayangan di kepalanya kembali terlintas akan bayangan hantu orang yang mereka tabrak sempat mengganggunya dulu. Baginya, pria berkaca mata di hadapannya ini lah hantu itu.
"Maaf, Cika. Kami tidak memberitahukanmu akan bertemu dengannya. Ayo duduk lah!" Dara membujuk Cika untuk duduk di sampingnya.
Cika menggelengkan kepalanya cepat. "Aku pulang aja!" Cika memutar tubuhnya ingin beranjak, tetapi ditahan oleh Dara.
"Tunggu sebentar, kita lihat dulu apa yang akan dia katakan!" ucap Dara menenangkan.
Antonie menyunggingkan senyum tipis. Sebenarnya ia berharap semuanya akan seperti itu jika dihadapkan untuk bertemu dengannya. Namun, kenyataannya tidak begitu. Tak satu pun ada yang mengenal dirinya selain Cika.
"Duduk lah!" ucap Antonie dingin.
Cika tersentak oleh perintah suara berat milik Antonie. Akhirnya Cika duduk meskipun perasaannya kalut dan takut.
"Jadi kenapa kami beetiga dikumpulkan seperti ini?" tanya Denish menyilangkan kakinya menatap Antonie dan Sonya secara bergantian.
Antonie merogoh benda dari kantong dalam pakaiannya. Lalu menjatuhkan benda itu di atas meja. Mereka mengambil satu per satu dari lembaran foto itu.
Tiga dari tjga orang tertegun melihat apa yang ada pada lembaran foto tersebut. Denish, Dara, dan Cika serempak manatap Antonie, setelah itu menatap Sonya. Sonya terlihat santai tanpa beban sama sekali.
"Emangnya dia siapa?" tanya Sonya kembali dengan cuek.
"Apa kalian pernah melihatnya? Dia telah menghilang selama tiga bulan tampa kabar."
"Jadi karena kamu mencurigai kami?" tanya Sonya, suaranya terdengar dingin.
"Ya. Di mana dia?"
Sonya menyilangkan kakinya melempar lembar foto itu, ia mengedikkan bahu dan mengernyitkan wajahnya. "Entah lah. Kenapa kamu menanyakan kepadaku? Coba tanya mereka!"
Antonie kembali tersenyum tipis melirik Sonya di ujung matanya. Sementara ketiga orang tersebut menatap tajam mengerutkan kening ke arah Sonya.
"Emangnya dia siapa bagimu?" tanya Denish.
"Entah lah, mana kami tahu jika kau tak mengatakannya. Kami ini bukan lah Tuhan yang maha tahu!" ucap Denish kembali.
"Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi tak kunjung menemukannya. Aku berjanji, jika ada yang menemukannya untukku, jika ia pria, maka akan aku jadikan sebagai saudara. Aku akan membagi apa pun yang aku miliki padanya."
Antonie lalu bergantian melirik tiga perempuan yang menanti kelanjutan ucapan Antonie.
"Jika yang menemukan dia seorang wanita, aku akan jadikan ia sebagai istriku."
Telinga Sonya dan Liana langsung berdiri tegak. Liana menyibak surat kabar yang ia gunakan tadi menurunkan kaca mata hitam yang melekat.
__ADS_1