
"Siapa ya?" Fanya menyandarkan diri pada daun pintu memainkan kuku tidak memedulikan dua orang yang datang. Salah satu dari mereka terlihat cukup terkejut.
"Kamu itu kalau tidak salah Fanya, korban kecelakaan yang koma itu kan?"
Fanya mulai serius melihat siapa yang berbicara, karena tidak semua orang yang mengetahui bagaimana latar dia sebelum ini.
"Katakan padaku! Sebenarnya kamu siapa? Apakah kita saling mengenal atau ada sesuatu di balik ini semua?"
Pria itu mulai gugup. Dia teringat kejadian pada ruang bawah tanah ketika akan melakukan bedah pengambilan organ milik gadis ini.
Sementara dari dalam rumah terlihat seseorang dengan raut penasaran mendengar suara tamu yang baru saja hadir. Berta pun melangkah kan kakinya menuju pintu tersebut.
"Denish?" ucap Berta tertegun atas kehadiran putra kandungnya.
Denish melihat sang ibu telah berada di hadapannya, langsung mendekat pada wanita yang telah melahirkannya.
"Aku sangat merindukan Mama." wajah Denish terlihat mengharu-biru dalam pelukan sang ibu.
"Bagaimana dengan misimu, Denish? Kamu telah menyelesaikannya dengan baik?"
"Mi-misi?" tanya Denish dengan sedikit kebingungan.
Berta melepaskan pelukannya. "Iya, Mama dengar kamu sedang melaksanakan misi kemanusiaan. Mama bangga padamu. Kamu pasti akan menjadi dokter yang hebat." Berta mengacak rambut putranya itu.
Denish tidak datang sendirian ke rumah singgah ini. Ada seseorang mengenakan masker dan menutup kepalanya dengan hoodie jaket yang dia kenakan.
"Dia adalah detektif swasta yang membantuku menemukan keberadaan Mama." ucap Denish menjawab raut heran sang ibu.
"Oke, pekerjaan saya sudah beres. Kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan lainnya." ucap pria misterius itu.
Denish pun menyalami orang tersebut dan detektif itu pergi. Denish langsung menggandeng dan menarik sang ibu untuk pergi. "Ayo kita pergi, Ma."
Fanya mengerutkan kening menajamkan matanya. "Siapa yang mengizinkan kamu membawa Mama begitu saja?" Fanya serta-merta menggandeng Berta di tangan yang lain.
"Mama tidak boleh pergi. Kalau Mama pergi, lalu kami bersama siapa?" rengeknya.
Berta merasa geli melihat reaksi gadis muda ini. "Kemarin kamu malah marah-marah terus sama Mama?"
"Habis kan aku tidak kenal sama Mama? Aku pikir semua wanita yang menjadi ibu itu sama seperti dia." rajuknya.
"Mama?" Denish memasang wajah heran melihat gadis ini terlalu akrab ikut memanggil Mama kepada ibunya.
Berta menarik lengan Denish. "Kenalkan! Mulai saat ini kamu memiliki saudara. Bukan hanya Fanya saja. Kamu juga memiliki dua saudara baru yang telah menolong Mama selama kamu tidak ada."
Rizki berlari kecil mendengar ucapan Mama Berta langsung melihat ke arah Denish. Denish kembali terkejut, dia kembali teringat akan wajah pria muda ini. Wajah saat dia membantu dokter untuk memperban bagian tubuhnya usai mengalami kecelakaan hebat.
Dia menatap Rizki dan Fanya secara bergantian. "Kalian berdua adalah pasien yang hilang dari rumah sakit." ringisnya menunjuk Fanya dan Rizki secara bergantian.
Rizki dan Fanya saling bertatapan. Rizki mencoba mengingat semua yang terjadi, tetapi tak satu pun keluar dari ingatannya. Sementara Fanya hanya tahu bahwa jiwanya telah berada di tempat lain. Tiba-tiba turun kembali ke bumi karena Antonie membangunkannya dari tidur yang panjang.
Di dalam kamar, Antonie sudah duduk di tepi ranjang. Kakinya telah terjuntai ke atas lantai. Dia menguap panjang menggaruk dada yang gatal karena tidak mandi selama hampir 48 jam.
kruuucuuuk
__ADS_1
Ah, ya ... belum makan lebih dari dua puluh empat jam.
Antonie segera menarik handuk yang digantung di jendela menaikkan kacamata tergantung ke kepala. Setelah itu dia bergerak keluar dari kamar menuju kamar mandi. Tanpa menengok kiri kanan Antonie fokus menuju ke belakang.
Sepintas Denish melihat Antonie, yang lewat. Bulu roma langsung berdiri dan rona wajah yang tadi penuh kebingungan melihat Rizki dan Fanya, kini berubah menjadi pucat pasi.
Rizki dan Fanya turut melihat apa yang sedang dilihat oleh Denish, tetapi mereka tidak melihat siapa pun juga. Berta pun mulai heran melihat tingkah putranya yang sedikit aneh.
"Denish, kamu kenapa?"
Denish langsung merangkul lengan ibunya menyembunyikan wajah di balik bahu sang ibu. Dia merasa arwah pemulung yang mati dan dibuang begitu saja, mulai menghantui dirinya.
"Ma, ayo kita pergi." rajuknya menarik sang ibu.
"Hei kamu? Tahu sopan santun nggak sih? Main pergi begitu saja tanpa pamit pada tuan rumah. Bagaimana pun juga Mama Berta tinggal di sini karena kebaikan Kak Antonie. Jadi mesti bilang sama dia dulu dong?" Fanya bersidekap merasa dada tidak setuju.
Berta membenarkan apa yang dikatakan oleh Fanya. "Ayo masuk dan duduk dulu. Kamu juga bisa berkenalan langsung dengan orang yang sangat baik kepada Mama itu."
Dengan perasaan ragu, Denish masuk ke dalam rumah singgah. Matanya liar melirik kiri dan kanan merasa waswas jika tiba-tiba ada penampakan. Denish memilih duduk di sofa, sementara Rizki langsung ke dapur menyiapkan minuman.
Berta mengecek ke kamar apakah sang tuan rumah telah bangun atau belum. "Lho? Orangnya sudah tidak ada lagi." ucap Berta menutup pintu.
Rizki yang berada tak jauh dari kamar mandi mendengar suara guyuran air. "Sepertinya dia sedang mandi." ucap Rizki menghindangi teh hangat kepada mereka semua.
"Nanti, Mama jangan kaget bila melihat bagaimana cara dia makan usai hibernasi panjang ini. Satu penanak nasi penuh bisa ludes tak berbekas." canda Rizki.
"Kamu mandi tetap pakai kaca mata?" Melihat Antonie keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk. Fanya membuang muka, ini adalah bagian yang tidak enak tinggal bersama dua pria di rumah yang sama.
Antonie melihat seseorang yang duduk di samping Berta. Mereka saling bertatapan. Denish begitu ingat siapa laki-laki ini. Dia adalah orang yang duduk di atas mobil Sonya dan mencium Sonya di hadapannya.
Antonie memilih masuk ke dalam kamar. "System, kenapa tidak mengatakan padaku bahwa dia ada di sini?"
"Mohon maaf, Tuan. Anda tadi terlihat begitu lapar. Sebaiknya Anda fokus saja untuk mengisi energi!"
Antonie memakai pakaian dengan segera. Lalu mohon diri dengan sejenak untuk sekedar mengisi perut. Tatapan Denish maaih tidak putus sama sekali terhadapnya.
Tidak sampai lima menit, Antonie telah menghabiskan semua makanan yang disiapkan Rizki di bawah tudung saji. Setelah itu, Antonie menyiapkan diri memikirkan apa yang akan dia tanyakan.
"Dia masih teringat bahwa Anda adalah orang yang mencium Sonya. Saat itu mereka memiliki hubungan khusus." terang System.
Antonie menyiapkan diri dengan segala apa yang akan ditanyakan. Lalu dalam diam tanpa ekspresi dia bergabung duduk bersama. Antonie melihat Denish melihatnya dengan tatapan tak percaya.
"Kamu sudah selesai makan?" tanya Berta.
"Sudah, Ma." jawabnya singkat.
"Waaah, ternyata apa yang dikatakan oleh Rizki itu memang benar. Kamu makan dengan sangat lahap." Berta melirik Rizki sejenak.
"Antonie, kamu mengenal Denish kan? Kan kamu yang mengatakan bahwa Denish tengah mengemban misi kemanusiaan. Denish pun bilang saat ini semua sudah selesai. Karena itu lah dia sudah bisa kembali mencari Mama.
Denish mengerutkan keningnya kembali. Dia sama sekali tidak mengenal Antonie. Yang dia ingat hanyalah pria yang berani mencuri ciuman pada Sonya secara paksa.
Namun, setidaknya dia merasa bersyukur. Seseorang bernama Antonie sudah menjaga sang ibu, selama menghilang beberapa waktu terakhir ini.
__ADS_1
Antonie diam tak bergeming. Dia tidak mungkin berlaga seperti benar-benar mengenal Denish. Sementara anak Mama Berta adalah target balas dendamnya atas kemantian seorang Antonie, sang pemulung miskin.
"Apa Anda lupa, Tuan. Anda mendapat System karena mereka juga." System memberi peringatan.
"Benar sekali, Ma. Kami memang cukup dekat. Aku bersyukur bahwa Antonie ini lah yang menyelamatkan Mama. Aku pikir Antonie yang mana." Denish mengulurkan tangannya, pura-pura akrab.
Antonie menyambut jabatan tangan itu, tetapi dengan perasaan yang cukup canggung. Meskipun System memperingatkan, tetapi dia masih belum bisa membuang rasa dendam dalam hatinya. Tanpa disadari, tangannya mengalirkan listrik begitu saja.
zzzztttt
"Aaaw!" Denish melepaskan jabatan tangan dan mengipaskan tangannya yang terasa kebas setelah mendapat sengatan listrik.
Ini orang punya dendam apa kepadaku? Kenapa tatapannya dingin begitu? Seharusnya, aku yang marah. Dia mencium pacarku tepat di hadapanku, meskipun hanya sekedar permainan. Apa perasaanku saja tangannya seperti mengeluarkan arus listrik tadi?
"Denish, kamu kenapa?" Berta mengagetkan putranya yang merenung panjang.
"Oh, tidak ma. Aku tidak kenapa-napa." ucapnya. Dia kembali melirik Antonie yang tak putus memandangnya dengan nyalang dan dingin.
"Apa kabar Antonie? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa." ucap Denish pura-pura akrab.
"Baik," ucap Antonie singkat.
"Begini, anak Mama sudah datang menjemput. Mama mau izin pamit untuk kembali ke rumah kami." ucap Berta lagi.
*
*
*
Pada sebuah rumah yang tidak terlalu luas, terlihat seorang anak kecil sedang bermain di samping seorang pria yang tidur dengan wajah babak belur. Tubuh pria itu ditutupi selimut.
Pakaiannya telah dilepaskan karena mengeluar aroma yang tak sedap. Namun, celana pria itu masih terpasang dengan baik, karena tidak mungkin Liana membuka celana pria asing ini.
Liana baru saja kembali setelah mencari obat-obatan yang dirasa cocok pada apotek yang berlokasi cukup jauh dari rumahnya. Tidak hanya itu, Liana juga membelikan pakaian ganti bagi pria yang tidak dikenalnya ini.
"Makasi ya, Dek. Udah bantu Kakak buat jaga Om ini." Liana mengacak rambut Leon yang datang menyambutnya. Liana langsung mendekati pria yang terlihat meringis dalam tidurnya.
Sepertinya, dia begitu kesakitan.
Liana mulai menempelkan jel lidah buaya pada bagian lebam tubuh milik pria yang tidak dikenal. Saat jemarinya menyentuh luka dalam tersebut, pria itu terdengar meringis.
Hmmm ... kalau bukan karena kasihan, mungkin dia gue biarkan tidur di jalanan. Ternyata, gue masih cukup manusiawi.
Setelah menyelesaikan pengolesan obat-obat tersebut, Liana pun bergerak beranjak. Namun, tangan pria itu menggenggam pergelangan tangan Liana dengan sangat erat. Liana mengernyitkan dahi kesakitan.
...****************...
Yuhuuu... author masi izin promo ya buat para readers semua. Kali ini Author mau memperkenalkan karya teman Author yang membawa cerita tentang System juga. Kuy ... Kepoin langsung cari Napen atau judulnya.
Napen: chibichibi@
Judul: Sistem Kurir Mendadak Kaya
__ADS_1