
"Cepat periksa anak kecil itu!" perintahnya kepada anak buah yang kocar kacir berlari ke arahnya.
Para anak buah berbondong-bondong pindah lokasi. Juragan walet itu ingin memanfaatkan Leon sebagai tawanan, tetapi harapannya sirna saat mendapat kabar bahwa Leon juga tidak ada di tempat.
"Kenapa bisaaa? Bukan kah semua pintu dan jendela tertutup rapaaaat?" Juragan Beno berteriak tak karuan. Karena gagal mendapat istri baru dan sarang walet pun hilang.
Pada sebuah tempat, Rizki dikejutkan atas kemunculan yang tiba-tiba Antonie dengan dua orang yang tak asing lagi baginya. Bibir Rizki terulas senyuman jahil melihat seorang gadis cantik menggunakan kebaya pengantin yang mewah.
"Bang, Lu mau nikahin dia?" celetuk Rizki memainkan alisnya naik turun.
Rizki telah menyelesaikan acara memasaknya. Antonie meletakkan Leon pada kamar yang kosong. Setelah itu menuju ruang makan tanpa bersuara sedikit pun.
"Cuy, lu betah amat bicara sama tembok?" celetuk Liana.
Antonie melirik lewat ujung mata dan memilih tidak mengubris ujaran Liana. Dia segera mengisi piring dengan makanan yang dimasak oleh Rizki.
Rizki tertawa kecil lalu bertopang dada. "Jadi, kakak cantik ini mau menikah dengan siapa?"
"Bukan urusan lu! Kira-kira di sini ada baju ganti yang bisa gue pakai?"
Rizki teringat bahwa pakaian Fanya masih lengkap berada di lemari. "Ambil saja di kamar Fanya. Pilih aja mana yang lu mau!"
Liana langsung menuju kamar Fanya yang sudah diketahuinya. Dia langsung memilih pakaian yang sekiranya cocok dan kembali keluar ingin minta makan juga.
Namun, ternyata Antonie sudah tidak ada di tempat. Liana duduk di bangku mengambil piring yang ada dan memasukan makanan itu tanpa permisi dan canggung. Rizki hanya menggelengkan kepala terkekeh akan kelakuan gadis itu yang sebelah dua belas gak ada otak persis dengan dirinya.
"Kakak?" Leon mengucek mata keluar dari kamar tadi. Dari belakang Leon, Antonie muncul. Leon dibangunkan kembali oleh Antonie setelah sengaja dibuat tertidur. Dia tidak mau Leon menyadari keanehannya.
Antonie berbisik menyuruh Leon menuju ke tempat kakaknya. Leon menganggukan kepala berlari kecil duduk di sebelah Liana. Liana langsung mengambilkan makanan untuk sang adik.
"Lu kok pinter bener masaknya? Nanti ajarin gue ya?" ucap Liana.
Rizki tersentak dengang permintaan Liana. "Emang lu mau tinggal di sini juga?"
Liana melirik pada Antonie yang terlihat sedang bersiap untuk keluar. Antonie membuat Liana seolah tak ada. Hal ini membuat gadis itu sedikit kesal, karena dia masih ingin berbicara dengan pria yang menurutnya tampak semakin tampan itu.
"Lirik-lirik terus, suka ya?" celetuk Rizki, membuat Liana melayangkan tampolannya dengan refleks.
__ADS_1
"Ogah gue suka sama dia!" elaknya lagi kembali melanjutkan mengisi perutnya.
"Aku ke klinik dulu. Kalo sudah beres semua, kalian boleh nyusul." Setelah mengucapkan itu Antonie berlalu meninggalkan orang-orang itu.
"Dia hemat banget ngomongnya? Lu betah gitu lama-lama sama dia?" sungut Liana merasa diabaikan.
"Mungkin karena gue jug laki-laki, gue nggak ambil pusing. Yaaa, dia emang gitu gak banyak omong. Dia lebih suka aksi dibanding banyak bicara."
Liana kembali melirik ke arah jejak yang ditinggalkan. "Dia mau apa ke klinik? Apa dia sedang sakit?"
"Bukan! Gue sendiri juga heran dia mau apa di rumah sakit." celetuk Rizki lagi.
*
*
*
Pagi ini, Sony berdiri di puncak bangunan rumah sakit untuk memantau sebuah bangunan yang masih kosong. "Klinik itu sebentar lagi beroperasi?" Senyum sinis terulas pada bibirnya.
Dengan begini aku bisa membalasnya kapan pun aku mau. Cepat lah datang, aku akan membuat perhitungan denganmu.
Sementara, Angela yang tengah sibuk dengan urusannya di negeri sakura. Ada panggilan lewat online masuk, tetapi tidak memiliki foto profil membuat Angela memilih menolak panggilan itu.
Antonie menyadari panggilannya ditolak, mengirim pesan yang menyatakan bahwa dirinya lah yang menghubungi.
Meski dalam rapar bersama direksi kantor utama, saat mengetahui panggilan tersebut berasal dari Antonie, Angela segera meminta izin keluar untuk menghubungi Antonie.
Wajah Angela terlihat merona, membuat semua yang ada di sana heran. Angela yang dikenal tertutup tak banyak bicara jika tidak terlalu penting, tiba-tiba saja terlihat cerah.
Angela keluar dari ruang rapat dan segera melakukan panggilan. Saat melakukan panggilan, ada sedikit kekecewaan di dalam hati Angela. Ternyata orang yang ada di seberang panggilan hanya sekedar menanyakan kapan kembali.
"Baik lah, setelah semua selesai, saya akan kembali. Mungkin esok atau lusa. Saya akan usahakan secepatnya."
Panggilan usai, Angela memasang wajah cemberut kembali ke ruang rapat. Dilla sang sekretaris melihat raut atasannya ini terlihat aneh.
Malam hari Angela menyiapkan perlengkapan untuk kembali. Keesokan hari.
__ADS_1
"Jadi yang menelepon tadi itu, si Antonie itu? Sampai-sampai Ibu memaksakan semuanya selesai hari ini juga?"
Dilla yang sedikit paham akan perasaan Angela, masih tidak percaya atas apa yang dilakukan atasannya ini. Hingga membuat pimpinan utama keheranan melihat Angela yang memaksa untuk memadatkan agenda.
Saat ini, Liana sedang memeriksa segala perkakas yang dimiliki Antonie di klinik. Pada sebuah lemari, dia menemukan berbagai surat penting dan kepemilikian klinik ini.
Antonie segera merebutnya. "Yang ini jangan kamu ambil! Klinik ini untuk masyarakat tidak mampu. Apa kamu masih tega mencurinya dan tidak kapok dengan apa yang sudah kamu alami?"
"Tak ada yang namanya kapok dalam kamus hidupku. Kemarin itu hanya sebuah kesialan belaka."
Antonie hanya menggelengkan kepala bersiap untuk kembali. Dia mendapat pesan bahwa Angela kembali esok pagi. Jadi mungkin esok siang akan mengadakan peresmian, sekaligus trial bagi masyarakat yang memiliki keluhan kesehatan.
Antonie meletakkan kembali surat-surat penting itu. Kali ini dia memberikan segel hingga tidak bisa disentuh siapa pun. Karena dia tahu, seberapa pun akan dilarang, Liana pasti tetap akan mengambilnya.
Tangan Liana bergerak begitu saja membuka lemari itu. Namun, dia tersengat listrik saat mencoba membukanya.
"Kau?" rutuknya.
"Ya, silakan berusaha lebih keras lagi!" Antonie bergumam meninggalkan ruangan itu, membiarkan Liana sendiri sedang memutar otaknya.
Tiba-tiba, sebuah hentakan tenaga besar datang dan semakin dekat.
[ Bersiap lah, Tuan. Pasang perisai untuk melindungi tempat ini! ]
Antonie menghentakkan kakinya, sehingga perisai menyelubungi klinik itu dengan seketika.
buuum
Terderngar suara benturan hebat membuat bumi terasa bergoncang. Antonie, Rizki, Liana, dan Leon berlari ke arah luar.
Terdengar suara retakan yang semakin lama terus sambung menyambung.
krak
kratak
kratak
__ADS_1
praaaaang
Perisai itu pecah, membuat Antonie refleks melindungi Liana bersama Leon. Liana menengadahkan wajahnya menatap pria berkaca mata itu. Perasaannya kembali menjadi kacau dengan debaran jantung yang sangat hebat.