
"Maaf ... ada apa ya, Mba? Saya Ketua RT di wilayah ini." ucap Pak RT kepada Angela.
Angela pun menyalami Pak RT. "Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud buruk kok. Hanya saja saya ingin mencari orang yang sudah menolong saya. Dia tinggal di rumah ini. Nama saya Angela."
Pak RT pun tersenyum dan mengajak Angela untuk ke rumahnya. Setelah mereka duduk bersama, Angela menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Antonie kepadanya.
"Setelah itu, saya dinyatakan sehat tanpa kendala apa pun, Pak. Makanya, saya ingin sekali membalas segala kebaikan yang diberikan Antonie tersebut."
Pak RT tersenyum mengangguk menatap istrinya. Setelah itu, Pak RT pun menceritakan apa yang sudah dilakukan oleh Antonie. Pak RT pun merasa tak memiliki kendala berarti lagi setelah disembuhkan oleh Antonie.
"Warga sekitar sini, rata-sata sudah ditolong oleh Antonie. Selain itu, Antonie tidak pernah pamrih dalam menolong masyarakat. Dia tidak pernah mau menerima upah atas jasanya."
Sejenak Pak RT menyeruput kopi yang disiapkan oleh sang istri. "Ayo, Mba. Diminum dulu teh nya." tawar Pak RT.
"Tau nggak, Mba? Dulu banyak warga yang memberikan ayam peliharaan mereka sebagai upah jasa Antonie. Namun, ayam-ayam itu malah diberikan kepada orang lain." ucap istri Pak RT.
"Padahal bila diserahkan kepada saya, pasti akan saya bantu untuk memasak ayam-ayam tersebut untuknya." gumam Bu RT kembali.
"Ssst! Antonie itu orangnya baik. Gak kayak Ibuk. Dia merasa ada yang lebih membutuhkan, makanya dikasih saja ke orang lain." terang Pak RT
Istri Pak RT hanya memanyunkan bibirnya. "Bagaimana pun kan eman-eman, Pak?" celetuknya kembali.
"Tapi, Antonie bersama anak-anak angkatnya sedang pergi keluar, Mbak." terang Pak RT.
"Oh, begitu. Saya hanya ingin memastikan keberadaan dia, Pak. Dia tidak mau mengatakan identitasnya sama sekali. Saya merasa sangat berhutang budi kepadanya." ucap Angel.
Pak RT mengangguk membenarkan. "Saya pun baru pertama kali menemukan orang seperti dia. Padahal, dia sudah beberapa waktu ini menjadi warga saya. Namun, baru mengenalnya setelah dia menyelamatkan nyawa saya."
Lalu perbincangan pun terjadi dalam beberapa saat. Setelah itu, Angela pamit untuk kembali dan menjanjikan akan kembali lagi nanti.
*
*
*
__ADS_1
Di rumah sakit dalam sebuah ruang pemeriksaan beberapa orang tengah sibuk menggendong balita yang sedang menangis. Balita itu didiagnosis oleh dokter menderita atresia bilier.
Sang ayah dari balita tersebut, tampak menggunakan jas rapi dan berdasi duduk di hadapan sang dokter. Sang ibu terus bolak-balik menggendong anak yang terus menangis merasa tidak nyaman pada tubuhnya.
"Bagaimana, Dok? Apa sudah menemukan hati yang cocok bagi anak kami? Kami berdua sudah tidak sanggup mendengar tangisan Cya." ucap sang Ayah, pada Dokter Bagas yang menangani Cya.
"Maaf, Pak. Namun, hingga saat ini kami belum mendapat donor hati yang cocok bagi putri Bapak." ucap Dokter Bagas.
"Tolong carikan dengan segera Dok. Saya akan membayar berapa pun itu asalkan anak saya bisa mendapatkan hati yang bisa didonorkan kepada anak saya."
Dokter Bagas tersenyum tipis. "Baik lah, Pak. Kami akan mengusahakan semua dengan secepatnya."
Setelah keluarga pasien itu keluar dari ruangan, Dokter Bagas segera menghubungi orang-orang suruhannya.
*
*
*
"Tenang lah, Bu. Di sini tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan. Ceritakanlah kepadaku, apa yang membuat Ibu terlihat takut seperti itu?"
Lalu Bu Tasnim menceritakan apa yang dilihatnya dengan sedikit terbata-bata. Saat dia sedang berpindah lokasi dari tempat satu ke tempat lain, dia melihat beberapa orang yang turun dari sebuah mobil yang cukup besar.
"Orang-orang itu menggunakan pakaian seba hitam hingga kepala juga ditutup dengan sesuatu bewarna hitam."
Ibu itu melanjutkan ceritanya, tiba-tiba dia merasa terkejut dengan sendirinya lalu menutup mata karena ada perasaan takut.
Dia merasa orang-orang itu akan melakukan hal yang sama padanya saat dia tidur nanti. Oleh karena itu, dia tidak bisa tidur sama sekali semenjak beberapa waktu terakhir.
"Aku masih memiliki keluarga di kampung halaman. Aku ke sini bukan untuk dihilangkan. Aku ingin mengumpulkan biaya untuk anak-anakku." tangisnya dalam rasa takut yang mendalam.
Antonie menepuk-nepuk pundak Ibu tersebut. "Apa Ibu mau pulang ke kampung halaman lagi?"
Bu Tasnim kembali meneteskan air mata. "Sejak setahun lalu aku ingin pulang kampung. Ingin bekerja mengolah kebun yang ada di sana. Namun, hingga saat ini aku tak bisa mengumpulkan uang meski sekedar untuk ongkos saja." isaknya.
__ADS_1
"Ibu jangan mengkhawatirkan hal itu. Aku akan membelikan tiket untuk Ibu. Mungkin lebih baik Ibu membersihkan diri mengenakan pakaian yang bagus. Setelah ini, kita akan ke stasiun dan aku pastikan ibu akan selamat sampai bertemu dengan anak-anak Ibu."
Antonie mengajak Bu Tasnim membeli beberapa pakaian yang layak. Setelah itu membelikan pakaian buat anak-anaknya yang sudah menunggu lama tanpa kabar di kampung halaman.
Sementara, Fanya menemani Rizki membeli bahan dapur dan segala hal yang dibutuhkan. Setelah semua dirasa cukup, Antonie menyuruh mereka pulang duluan ke rumah.
"Kalian tidak mau kejadian waktu itu terjadi lagi, bukan? Oleh karena itu, kalian harus langsung pulang ke rumah singgah kita."
Kedua adik angkat Antonie menganggukan kepala. Sementara Antonie mengantarkan Bu Tasnim ke pemandian umum. Saat Bu Tasnim keluar dengan pakaian barunya, Antonie mengacungkan jempol.
"Wah, anak-anak Ibu pasti akan sangat bangga memiliki Ibu yang seorang wanita kuat." ucap Antonie.
Bu Tasnim tersenyum, berhasil melupakan segala kecemasannya. Akhirnya, dia tidak merasa takut lagi akan ancaman diculik oleh orang-orang yang tidak dikenal.
Dia tidak perlu mengemis lagi demi mengumpulkan uang mengumpulkan biaya pulang. Setelah membeli tiket kereta yang kebetulan akan berangkat, Antonie menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman Bu Tasnim.
"Tidak usah dihitung, langsung simpan dengan baik!" perintah Antonie.
Bu Tasnim menganggukan kepala, kali ini dia bisa tersenyum dengan lepas. Semua yang ditakutkannya telah sirna.
Tak beberapa lama, terdengar suara pengumumuman pra-keberangkatan kereta menuju provinsi tempat Bu Tasnim berasal. Bu Tasnim dengan wajah haru memeluk Antonie dengan perasaan yang sangat Bahagia.
"Terima kasih, Nak Antonie. Jika tidak ada kamu, mungkin Ibu akan menjadi salah satu orang hilang yang tak akan pernah tahu rimbanya."
Antonie pun mengusap punggung Bu Tasnim dan menganggukan kepala. "Mulai hari ini, Ibu bisa menjalani hidupan bahagia bersama keluarga. Semoga uang itu, bisa cukup untuk modal usaha di sana."
Air mata Bu Tasnim terlihat mulai terjatuh. "Terima kasih. Orang tuamu pasti orang yang baik. Mereka pasti bangga memilikimu. Selain memiliki wajah yang tampan, kamu juga sangat dermawan."
Wajah Antonie berubah datar. Lalu Bu Tasnim segera menaiki kereta dan kereta pun mulai melaju. Bu Tasnim melambaikan tangannya kepada Antonie.
Setelah kereta itu pergi, Antonie merasa hatinya menjadi panas. "Orang tua? Malah mereka ingin aku mati saat baru berada di dunia fana ini." gumamnya kembali menggenggam tangan penuh amarah.
Tak jauh dari stasiun, ada sekelompok orang yang tengah memantau situasi dan keadaan. Mereka melihat anak kecil tengah bermain dengan balon tanpa ada orang dewasa di sisinya.
"Sepertinya, dia cocok!"
__ADS_1