
"Dulu aku ingin meninggal saja Kak, ingin ikut dengan kedua orang tuaku yang telah pergi lebih dahulu. Namun, sekarang udah enggak lagi. Aku ingin hidup. Aku kasihan pada kakakku yang sudah bersusah payah mencari uang untuk perawatanku." Leon menundukan wajahnya, semburat kesedihan membayangi wajah arwah cilik ini.
"Tapi, tadi malam ... Ada seseorang yang mengatakan bahwa giliranku sebentar lagi. Aku tahu apa yang dilakukan oleh mereka pada pasien seperti aku. Mereka membuat keluarga pasien yang tidur lama sepertiku kebingungan."
"Setelah itu, keluarga pasien akan lama kembali ke rumah sakit. Keluarga pasien pontang panting mencari uang untuk bayar rumah sakit itu. Saat keluarga tidak kembali dalam seminggu, maka alat-alat yang melekat itu dilepaskan."
"Mereka dibawa ke bawah rumah sakit ini. Aku takut, Kak mereka akan melakukan hal yang sama padaku. Tadi malam dokter mengatakan biaya perawatan di kamarku jadi 25 juta per malam."
"Apakah uang 25 juta itu banyak, Kak?"
Bocah arwah itu menceritakan panjang lebar apa yang dia ketahui selama ini. Namun, dia tidak bisa mengatakan pada Liana, kakaknya. Baru kali ini lah dia bisa bercerita, ada manusia yang bisa mendengarkannya.
"Jika untuk sebagian orang, uang dengan angka segitu, nilainya sangat lah banyak." ucap Antonie.
Leon melipat kedua kakinya ke dada, lalu memeluk kakinya menyandarkan kepala pada lututnya itu. "Aku hanya bisa menyusahkan kakak." tangis Leon terisak.
Antonie mengusap bahu Leon yang bergetar itu. "Apa kamu mau, jika aku membantumu untuk bangun kembali?"
Leon menegakkan kepalanya sejenak. Lalu menyandarkannya kembali pada lutut itu. "Kakak tak akan bisa. Orang rumah sakit saja tidak bisa menyembuhkanku." tangisnya.
"Kakak sering mengatakan, jika aku bangun, dia akan membawaku kembali ke kampung halaman tempat ibu kami dilahirkan. Aku takut, bukan sampai di kampung halaman Ibu, tapi malah organ tubuhku diambil oleh orang-orang itu."
Antonie bangkit membelai rambut arwah bocah laki-laki itu. "Kamu tunggu sebentar ya?" Antonie berjalan dan terlihat menghilang.
Leon tersentak terkejut melihat pria yang baru saja ditemuinya. Leon berlari mengikuti arah Antonie. Dia mengikuti Antonie yang ternyata menuju ruangan tempat tubuhnya yang dipenuhi peralatan.
Antonie hendak mengangkat tubuh Leon, tetapi dihalangi oleh seorang wanita.
"Apa yang akan lu lakukan pada adik gue?" bentaknya.
Antonie meletakan tubuh Leon kembali. Ternyata yang menjadi kakak arwah bocah itu adalah gadis yang akhir-akhir ini selalu mencari masalah dengannya. Mata Antonie lebih fokus pada arwah bocah yang berdiri menengadahkan wajah menatap sang kakak.
duuugh
Perempuan muda yang selalu memainkan kakinya ini melayangkan tendangannya begitu saja ke arah kepala Antonie, tetapi tangan Antonie sudah terlebih dahulu menangkisnya.
__ADS_1
"Lu mau nyulik anak yang sedang sakit?" bentaknya mengganti kaki untuk menyerang. Antonie masih dengan tangkas memblokir serangan dari Liana.
Liana menarik Antonie keluar dari ruangan itu. Dia berjalan beberapa langkah dan melirik pria yang ada di belakangnya.
"Lu mau apa sama adik gue?"
"Aku hanya mau me—"
"Lhooh? Ternyata orang yang saya tunggu-tunggu akhirnya muncul juga." Dari sisi lain telah berdiri seorang gadis menggunakan pakaian putih bersidekap dada memasang mata yang tajam.
Antonie menyunggingkan senyum tipisnya. Ingatan ditabrak, diperlakukan dengan tidak manusiawi dibuang pada pembuangan akhir masih membekas dalam pikirannya.
Kebenciannya bertambah saat mengetahui bahwa wataknya itu tak ada beda dengan sang pemilik rumah sakit ini. Antonie berjalan mendekati gadis itu melirik kiri dan kanan.
"Bagaimana rasanya sendiri, Nona Sombong?" Antonie memainkan rambut milik Sonya, lalu pergi.
"Eh tu—" Sonya melongo tidak menemukan pria itu lagi. "Kemana dia?"
Sonya melirik ke arah Liana, tetapi ternyata Liana sudah masuk ke dalam kamar rawat adiknya. Dengan perasaan geram, Sonya menghentakkan kakinya melangkah melanjutkan pekerjaannya.
Rasa penasaran besar menggelayuti hatinya. 'Sebenarnya dia siapa? Kenapa dia datang dan pergi sesuka hati bagai hantu begitu?'
"Mana mantanku yang kamu rebut?" tanya Sonya dengan sebelah mata.
Namun, Cika dan Dara hanya terus berlalu bagai tidak melihat dan mendengar siapa pun yang baru saja berbicara. Sonya menggenggam jemarinya dan menautkan gigi karena merasa geram.
Di tempat lain, di atas udara, seseorang yang memiliki aura kelam sedang bertanya jawab dengan sesuatu.
"Baik lah ... Apa yang akan kita lakukan setelah ini." seringai di wajah Sony memancarkan ambisi yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Huwwwwaaaa ...." Anak kecil yang duduk di bangkunya menangis melihat kelamnya diri anak sulung Dokter Hardan ini.
*
*
__ADS_1
*
Antonie melirik gedung yang ada di sebelahnya. "Si pencuri itu kakak Leon. Jadi dia mencuri karena membutuhkan uang yang sangat banyak." gumam Antonie berbicara pada diri sendiri.
Seseorang menyentuh pundak Antonie. "Ada apa? Kamu dari sebelah kan?" ucap Angela membuyarkan lamunan Antonie.
"Oh ... Ya, ini sudah sore kan?" Antonie mengalihkan pembicaraan melihat Fanya sedang berjalan melangkah mendekati mereka.
"Kak, semua udah beres. Tinggal bikin nama Rumah Sehat ini aja, biar orang-orang tahu bahwa ada tempat berobat gratis di sini." ucap Fanya.
"Kalian pasti capek banget kan? Kamu beli makan dulu untuk semua." titah Antonie.
"Ayo ... Siapa yang mau ikut denganku?" tanya Angela menyela.
Namun yang ditanya tak menjawab, yang menjawab malah seseorang yang berasal dari dalam. Rizki berlari kecil mendekati Angela.
"Aku saja yamg ikut, Mbak." tawar Rizki penasaran ingin menaiki kendaraan mewah milik Angela.
Angela mengangguk dan segera menuju kendaraannya diikuti oleh Rizki. Antonie kembali memikirkan cara untuk membawa raga Leon agar keluar dari rumah sakit itu secepatnya.
"Jika dibiarkan terlalu lama, maka akan membuat Leon mati konyol dengan organ tubuh diambil oleh manusia-manusia yang tidak memiliki hati itu." gumam Antonie lagi.
"Ya, Anda bisa mencari celah, Tuan. Misalnya pada malam hari, Anda bisa membawa dia secara diam-diam."
"Ah, ya ... Bener juga." Antonie menepuk keningnya merasa otaknya terlalu lama berpikir.
Lalu Berta datang mendekat, ikut melongok pada gedung yang ada di sebelah mereka. "Bagaimana kabar Denish ya?"
Antonie menganggukan kepalanya memegang bahu Berta. "I-ibu ... Boleh aku panggil Ibu?" tanya Antonie.
"Denish biasa memanggil saya dengan Mama. Jika kamu mau, boleh memanggil saya dengan Mama juga." ucap Berta.
"Ma-mama, baik lah ... Aku memanggil Mama juga, karena selama ini aku ingin memanggil seseorang dengan panggilan itu."
Berta mengusap rambut Antonie. "Tentu, biar anakku bertambah, siapa pun boleh memanggilku dengan Mama." Berta melirik pada gadis yang selalu saja jutek semenjak kedatangannya.
__ADS_1
"Kamu juga boleh memanggilku dengan Mama!"
Namun, Fanya menghentakan kakinya meninggalkan obrolan mereka berdua. "Hah? Mama? Nggak sudi!"