
Antonie dan Rizki tercenung mendengar penjelasan Edward. Karena mereka sama-sama tahu, bahwa Antonie tidak memiliki apa pun untuk itu. Dia hanya bermodal nekat dengan keahlian penyembuhan karena paksaan Angela.
[ Katakan saja Anda memiliki segalanya! ]
'Apa kamu yakin, System?'
[ Tentu saja, tapi persediaan emas Anda akan berkurang sangat banyak. ]
Antonie tidak memedulikan hal itu. Hanya saja, dia sedikit merasa sangsi karena tidak menempuh pendidikan panjang itu sama sekali.
[ Anda jangan merasa khawatir, semua bekal ilmu kesehatan sudah berada di dalam kepala Anda. ]
"Tentu saja saya memiliki semua." Akhirnya Antonie mengucapkan itu semua.
Edward terlihat menghela nafas lega, berbeda dengan Rizki. Karena, semua itu terasa tidak nyata. Rizki sangat memahami bahwa saudara angkatnya ini tidak memiliki itu semua.
"Baik lah, setidaknya jika ada yang meminta saat terjadinya sidak, semua sudah terkendali."
Semua surat dan izin praktik pun diserahkan. Klinik kesehatan Antonie telah siap untuk diresmikan.
"Jadi kapan rencananya Klinik ini diresmikan?" tanya Rizki sembali melihat kepergian Edward sang pengacara.
"Tunggu sang pemilik dulu. Kita di sini hanya sebagai tenaga fungsional. Sementara yang punya belum datang, tentu kita belum bisa apa-apa."
"Kalau ada yang datang meminta untuk diperiksa?" tanya Rizki kembali.
"Ya, dibantu dulu. Namun masih dalam status tutup."
Rizki teringat akan pernyataan Antonie tadi yang menyatakan bahwa saudara angkatnya ini memiliki semua surat penting, dia ingin menanyakan. Namun, sebelum ditanya, Antonie sudah mencegat Rizki terlebih dahulu.
"Pokoknya aku sudah punya. Kamu tidak perlu menanyakan keaslian atau keabsahan semuanya. Selagi bisa digunakan, anggap saja itu asli."
Antonie membuka lemari yang awalnya masih kosong. Ternyata, semua surat resmi tergeletak begitu saja di dalam lemari tersebut.
Antonie melihat namanya, tiba-tiba tertulis nyata dengan gelar dokter di depannya, bahkan tertulis dalam sertifikat profesi, dia memiliki banyak ijazah dalam segala bidang dan spesialis.
Ini beneran aku?
[ Namun, saat ini Anda memiliki hutang yang banyak karena stok emas yang Anda miliki sudah habis karena telah membeli mobil. ]
__ADS_1
[ Anda tidak akan mendapat emas dalam beberapa waktu ke depan, hingga berhasil menyembuhkan seribu pasien. ]
Antonie menelan saliva menghitung berapa waktu yang harus dia jalani dalam penyembuhan baru mendapatkan emas kembali. Namun, setidaknya saat ini dia memiliki sedikit tabungan sisa pembelian mobil yang bisa digunakan untuk konsumsi hingga beberapa waktu ke depan.
Rizki menajamkan matanya melihat apa yang dipegang Antonie secara tiba-tiba. Dia merebut dan membacanya sendiri.
"dokter Antonie Candra Buana?" Rizki mengerutkan keningnya melirik Antonie yang membuang muka. Dia sengaja tidak melihat ke arah Rizki.
"Sejak kapan ini, Bang?"
Antonie mengabaikan pertanyaan Rizki dan merebut surat-surat penting yang muncul secara ajaib itu. Antonie menyimpannya kembali dan berencana akan memasukannya ke dalam pigura.
"Bang, bisa buatkan buat gue juga nggak? Enak nih bisa punya ijazah kayak gitu meski kita gak kuliah dan sebagainya."
"Tidak bisa!" Antonie menjawab dengan cepat.
Rizki hanya bisa memasang wajah kesal, dia tidak bisa banyak meminta dan sebagai adik yang diangkat, tentu harus menjaga kerahasiaan yang dimiliki Antonie.
*
*
*
Leon memerhatikan Liana terlihat putih pucat pasi dan meringis kesakitan. Leon mencoba memeriksa kening Liana ternyata terasa sangat hangat.
"Kakak sakit? Kakak? Kakak?" Leon menggucang tubuh Liana membuat sang kakak semakin meringis.
Liana tidak bisa mengeluarkan pelurunya sendiri, hal ini membuat dia memendam rasa sakit sendirian. Bagian luka yang tadinya telah diperban, kembali mengalirkan darah hingga menembus ke pakaian Liana.
Hal ini tentu membuat Leon yang melihat darah yang mengir begitu banyak, menangis ketakutan. Dia berlari ke rumah yang ada di sebelah meminta tolong kepada tetangga.
Tetangga yang masih keluarga dari ibunya berbondong membawa Liana menuju bidan terdekat. Peluru tersebut dikeluarkan, baru lah Liana merasa sedikit lega.
Berita yang menggemparkan mengenai Liana mendapat luka tembak terdengar hingga ke telinga juragan walet. Dengan nafas memburu, juragan walet segera mendatangi rumah Liana.
Melihat gadis pencuri itu terlihat sangat cantik, membuat sang juragan walet memiliki rencana lain. Dengan seringai di wajahnya dia mengancam Liana.
"Aku tahu kamu lah yang mencuri sarang walet itu. Aku tidak mau tahu bagaimana caramu bisa masuk ke dalam gedung itu. Yang aku tahu, kamu harus mengembalikan barang yang kamu curi itu!"
__ADS_1
Liana tidak mau mengaku bahwa dia lah yang mencuri. "Gue baru jadi warga desa ini. Jangan mengada-ada!"
Juragan Walet kembali menyeringai. "Sudah lah! Kamu tidak akan bisa mengelak! Apa kamu mau kupenjarakan? Cepat serahkan sarang walet itu!"
Liana melirik adiknya yang ketakutan melihat wajah sangar milik juragan walet. Dia juga merasa sangat tidak suka bila adiknya mengetahui apa pekerjaannya.
"Lu ngomong apa sih, Om?"
Juragan walet itu menatap Liana dengan mata tajamnya. Satu kaki naik ke atas ranjang di mana Liana masih terbaring karena nyeri bekas tembakan masih belum hilang. Juragan itu menarik dagu lancip milik Liana.
"Kamu ini sungguh sangat menantang. Aku semakin suka padamu."
Liana menepis tangan pria itu, merasa tak sudi dan jijik. Namun juragan itu semakin semangat menarik dagu Liana membuat gadis yang tengah kesakitan itu menendang tangan juragan walet.
"Jangan macam-macam kau tua bangka!"
Pria bertubuh tambun itu semakin semangat melihat perlawanan sang gadis pencuri. Dengan kasar dia menarik Liana tak memedulikan tangan gadis itu terluka berat.
"Ayo kita menikah, aku akan memberikan semua yang aku miliki termasuk kandang walet itu kepadamu. Kau akan jadi kaya raya! Namun, kamu harus rela menjadi istri yang kelima!"
Liana meringis kesakitan dengan rasa nyeri yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat seakan seluru tenaganya tersedot karena bekas tembakan itu mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Liana jatuh tak sadarkan diri.
"Kakaaaaaak!"
*
*
*
Liana terbangun pada sebuah rumah asing yang tidak dikenalinya. Kedua tangan dan kakinya terikat membuat dia tidak bisa bergerak. Netra Liana melirik ke kiri dan ke kanan, tetapi tak tampak wajah sang adik.
"Leon? Leon?"
Suara Liana terdengar oleh anak buah juragan walet. Dia melaporkan kepada sang tuan besar bahwa calon istri kelimanya sudah bangun dari tidur yang lelap.
Rumah itu terlihat cukup ramai, sedang menyiapkan sesuatu. Tak lama, beberapa pelayan datang membawa sesuatu ke dalam ruangan itu.
"Selamat pagi, Nona Cantik. Seperti yang sudah direncanakan, hari ini adalah pernikahanmu dengan Juragan Beno. Oleh karena itu, kami hadir untuk mempersiapkanmu akan hari pernikahan yang istimewa ini."
__ADS_1
Alis mata Liana mengernyi mendengar ucapan pelayan tersebut. "Siapa yang mau menikah? Gue gak mau menikah!" teriaknya.