Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 51


__ADS_3

kreeek


Terdengar pintu tahanan sementara dibuka oleh salah satu detektif pihak kepolisian.


"Denish, ada yang mencarimu!"


Denish bangkit dengan segera mengikuti detektif tersebut. Di dalam ruangan besuk tampak seseorang yang tengah duduk di sana. Pria dewasa tersebut menggunakan jas. Wajahnya sangat mirip dengan Bagas, ayah Denish.


"Om ... Akhirnya Om datang juga?"


"Apa yang terjadi? Kenapa usai pemakaman papamu malah jadi begini? Mamamu saat ini entah berada di mana."


"Om, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin segera menangkap mereka. Mereka lah yang membu nuh papaku!" Denish memohon pada, Bagus—kembaran Bagas— papanya.


"Kalau Mama, aku rasa dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Jangan biarkan Mama tahu jika aku sedang mendekam dalam penjara." ucap Denish lagi.


"Sekarang kamu tenang dulu! Hal yang perlu kita pikirkan saat ini adalah upaya agar kamu bisa segera bebas!" ucap Bagus tegas.


"Om akan menyewa pengacara terbaik untukmu, agar kamu bisa bebas dan mencari mamamu!"


Pada mata Denish tersirat amarah yang sangat menggebu. Tangannya tergenggam tak sabar ingin membalas segalanya dengan segera.


"Aku harus menghancurkan tempat itu. Dia harus mengganti nyawa dengan nyawa." ucap Denish matanya nanar mengingat wajah Dokter Hardan.


*


*


*


"Bapak ... kenapa Bapak jadi gagah dan muda lagi?"


"Buk? Kamu terlihat sangat cantik?"


Mereka berdua saling menggenggam tangan lalu berpelukan. Antonie mengembalikan tubuh dua manusia lanjut usia ini pada usia tiga puluh tahunan. Mereka saling meraba pipi, wajah, dan serempak melihat ke arah Antonie. Tubuh yang sebelumnya terbungkuk, kali ini sudah tegak kembali.


"Apa yang kamu lakukan kepada kami?"


Antonie melebarkan senyumannya. "Kalian berdua bisa menikmati masa muda kembali." ucapnya.


Dalam genggaman Antonie saat ini sudah berisi sekeping emas seberat seratus gram. Antonie menyerahkannya ke dalam genggaman sang suami.


"Apa aku masih memanggil Mbah, ya? Hmmm ... sepertinya Mas aja yang lebih cocok." tukas Antonie.


Sang suami melihat apa yang diselipkan oleh Antonie ke dalam genggamannya. "Ini?" matanya berbinar melihat benda bewarna kuning bercahaya itu.


"Ambil lah! Buka usaha dan hidup lah dengan bahagia." ucap Antonie lagi.


Kedua pasien pertama di Rumah Sehat ini memandang Antonie. "Kami lah yang seharusnya membayarmu. Namun, kenapa kamu yang malah membayar kami?" Sang suami menyerahkan kepingan emas itu kembali.


"Ambil lah, Mas. Moga dengan ini bisa membuka usaha yang baik dan lancar. Ini tidak banyak, tapi cukup sebagai modal usaha."


Antonie mendorong tangan yang menyerahkan kepingan emas tersebut.

__ADS_1


"Ambil lah!"


"Tapi—"


"Kalian jangan mengkhawatirkan aku. Tapi satu yang aku minta, jangan mengatakan kepada siapa pun bahwa Mas dan Mbak ini kembali muda karena aku."


Mereka berdua mengangguk mantap. "Terima kasih. Kami tidak tahu bagaimana lagi cara membalas budi baikmu."


"Jadi lah bahagia. Bagiku itu sudah cukup." Antonie mengantarkan dua pasiennya menuju pintu keluar.


"Sekali lagi terima kasih." ucap sang istri.


"Ya, sama-sama, Mbak." ucapnya kepada wanita yang tadinya dipanggil Mbah Uti.


"Tuan." System mulai memberi aba-aba.


"Selamat, Anda mendapatkan reward kembali." ucap System.


Dalam genggamannya muncul emas tiga keping dengan ukuran masing-masingnya seratus gram. "Lhooh? Ini buat apa?"


"Karena Dewa menyukai kebaikan Anda."


"Enggak ah, aku masih memiliki hasrat untuk balas dendam. Hatiku masih belum murni." Tiba-tiba System hening tidak memberi jawaban.


kreeeek


Antonie langsung memutar tubuhnya melihat ke arah samping. Di sana sudah ada gadis berpakaian putih layaknya dokter berdiri di menatapnya.


"Berani sekali ya buka praktik di sebelah rumah sakit Papa." Sonya menepuk tangannya beberapa kali.


"Emangnya kamu memiliki izin praktik? Apa kamu memiliki sertifikasi dalam bidang kedokteran?" kali ini Sonya berkacak pinggang.


"Ooh, itu ... Apakah semuanya berarti? Lalu bagaimana jika kenyataannya orang-orang yang memiliki itu semua begitu gampang membuat nyawa manusia melayang."


Antonie teringat semua yang dilakukan oleh gadis ini. "Apa kamu masih teringat pada seorang pemulung yang mati konyol karena kebodohanmu?"


"Aku? Bodoh? Pemulung itu yang bodoh mulung sembarangan!"


Mendengar ucapan Sonya barusan membuat tangan Antonie seakan bergerak ingin menceeekik leher Sonya. Namun, dia masih berusaha untuk mengendalikan akal sehatnya.


'Laki-laki sejati, tidak akan main tangan dengan wanita,' batinnya.


"Ooh, jadi pemulung itu yang bodoh? Lalu bagaimana denganmu?"


Sonya bersidekap dada. "Aku, hidup ini suka-suka aku. Apa pun yang aku lakukan, tak pernah ada yang menyalahkanku. Namun, di dunia ini begitu banyak orang bodoh yang memang pantas dihilangkan."


"Biar kan yang tersisa hanya orang-orang hebat! Hingga peradaban di bumi hanya diisi oleh orang-orang yang mampu bersaing dengan kejamnya dunia."


Antonie berusaha menahan dirinya. Sudah beberapa kali genggaman terbuka dan tertutup dengan urat-uratnya bagai keluar dari kulit.


Dia masih berusaha menahan diri memikirkan cara paling epik untuk membalas dendam pada gadis sombong ini.


"Lalu, menurutmu aku ini bagaimana?" Antonie mendekati Sonya membelai rambutnya, tetapi wajahnya dingin dan kaku.

__ADS_1


"Apa aku sejenis orang yang pantas dihilangkan juga?"


"Performa ketampanan ditingkatkan sepuluh kali lipat." ucap System tanpa diminta.


Membuat wajah Antonie bagai bercahaya di mata Sonya. Sonya terpukau merasa pria yang pernah sembarangan menciumnya, tiba-tiba menjadi sangat tampan. Teringat beberapa pertemuan singkat yang baginya begitu berkesan, hingga membuat dia begitu penasaran.


"Membalas wanita jahat, adalah membuatnya jatuh cinta padamu, Tuan." seloroh System di dalam benaknya.


"Tersenyum lah, Tuan. Dia pasti akan langsung jatuh cinta pada Anda!"


Antonie yang masih merasa panas, merasa kesulitan tiba-tiba disuruh merubah ekspresinya dengan tersenyum. Namun, Sonya masih terpukau pada bias pesona yang dibuatkan oleh System untuk pria yang menggunakan kaca mata ini. Antonie kembali memainkan rambut Sonya.


"Kamu sebenarnya sangat cantik." bisiknya.


Sonya mengerjapkan mata lalu menggelengkan kepala. Setelah itu, mendorong Antonie tanpa mengatakan apa pun dan pergi dan sang pria membiarkan tidak mencegah sedikit pun.


Lalu Antonie melakukan senam mulut membuka dan menutup mulutnya mencoba melakukan berbagai ekspresi. Tersenyum, melongo, tertawa, dan marah.


"Kenapa tiba-tiba menyuruhku membuatnya jatuh cinta?" rutuknya sembari bergerak masuk ke dalam Rumah Sehat.


"Tersenyum di hadapannya terasa begitu berat."


Lalu, Antonie merebahkan tubuh pada salah satu brangkar dalam ruangan tersebut. Mengeluarkan tiga keping emas yang didapatnya hari ini.


"System, berapa banyak emas yang diambil gadis pencuri itu?"


"Dia berhasil membawa tiga puluh keping emas seberat seratus gram, dua puluh keping emas seberat sepuluh gram, dan sisanya beberapa keping emas satu gram. Dia sudah menjualnya dan uangnya sudah pindah ke dalam buku tabungannya." terang System dengan rinci.


"Apa perlu kita pindahbukukan, Tuan? Itu hanya masalah gampang."


Mata Antonie mengawang teringat pada gadis pencuri itu menangis saat saat memeluk Leon. "Dia pasti sangat menyayangi adiknya. Biarkan saja. Emasnya udah tidak bisa aku urus juga gara-gara terlalu banyak."


"Anda menyukainya?"


*


*


*


"Haatttciiiim ..." Liana mengusap hidungnya.


"Kakak flu?" tanya Leon yang dipenuhi bekas air mata. Leon menangis tersedu saat mengetahui bahwa kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi di dunia.


Mereka berdua sedang berada di makan kedua orang tuanya. Mereka akan berpamitan kepada mendiang Papa dan Mama menjelang keberangkatannya menuju Desa kelahiran sang ibu yang berada di tempat yang sangat jauh.


"Tidak, Kakak sehat aja kok." Liana membelai kepala Leon.


Liana mengeluarkan sebuah botol kecil. Di dalamnya berisi berlian langka yang berhasil ditemukannya karena bantuan System Pencuri. Dia berubah pikiran memilih mengubur berlian itu di atas pusara sang Ibu.


'System Pencuri mengatakan benda ini memiliki nilai mistis yang sangat tinggi. Sepertinya aku tidak boleh menjualnya begitu saja.'


Liana mulai menggali lobang di dekat batu nisan. "Ma, aku titip simpan di sini ya? Walau aku tidak tahu kapan akan mengambilnya." Liana menimbunnya dengan tanah.

__ADS_1


__ADS_2