
"Maaf, klinik ini tidak membutuhkan seorang yang tidak kopenten seperti kamu!" ucap Antonie dingin.
Angela refleks menahan senyumnya mendengar ucapan Antonie barusan. Sonya menyadari senyum tipis yang tertahan di bibir wanita di sampingnya ini.
"Berani sekali kamu menertawakan aku?" rutuknya melirik dengan wajah tajamnya.
Angela yang tadinya dalam keadaan tersenyum, merubah raut memasang wajah datar. "Lalu, masalah bagimu jika aku tertawa? Kau pikir, ini rumah sakit bapakmu? Aku tidak akan takut oleh gertakan kekanakanmu!"
Angela mendorong bangkunya kebelakang. Setelah itu menarik tas dan tersenyum tipis kepada Sonya. Pandangannya teralih kepada Antonie. "Baik lah, aku akan ke sini lagi saat aku menjadi pasien saja."
Angela melirik Sonya. "Aku pergi dulu."
"Ya, hati-hati," jawab Antonie.
Angela meninggalkan lokasi dan pergi meninggalkan Antonie dan Sonya. Antonie menatap gadis di hadapannya dengan tatapan dingin.
"Baik lah, kami di sini tidak membutuhkanmu. Kamu boleh pergi."
Sonya mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya. Dia segera bangkit dan bergerak mendekati Antonie yang duduk di kursi kerjanya. Sonya berlutut menarik tangan Antonie.
"Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menunjukkan kemampuanku kepadamu. Bagaiamana pun juga, beberapa waktu ke depan, aku akan menjadi dokter juga."
Antonie menarik tangannya. "Kamu terlalu percaya diri. Tak akan ada yang mau menjadikanmu sebagai dokter kecuali di rumah sakit milik ayahmu sendiri."
Amar bangkit melirik Sonya. "Sekarang, rumah sakit itu telah tiada. Jadi ... kamu bisa memikirkannya sendiri."
Raut Sonya berubah seketika. Amarahnya meledak dengan begitu saja. Ia yang diabaikan bangkit, menyibak rambut yang telah kuyu menutupi wajah. Ia berjalan cepat mengejar Antonie yang telah meninggalkannya.
"Eh, kamu! Jangan sok hebat ya! Baru segini saja kamu sudah sombong! Oke! Kau akan lihat nanti di mana aku akan menghancurkan klinik kecil yang tak ada orang ini! Cam kan itu!"
Sonya melangkah mendahului Antonie, dan berhenti. "Kau jangan ke-GR-an! Ah, ya ... Asal kamu tahu, perlakuanku terhadapmu beberapa waktu terakhir memang karena menyukaimu."
Sonya mendengku melirik tajam. "Namun, mulai detik ini aku akan memperingatkanmu, tunggu lah pembalasan dari seorang perempuan yang telah kau sakiti! Aku tidak akan main-main karena ini! Cam kan itu!"
Sonya berjalan cepat meninggalkan tempat ini. Kakinya hanya menggunakan sendal jepit.
[ Sepertinya, baru saja terjadi sesuatu dengannya. ]
"Ya, aku rasa juga begitu."
Setelah kepergian Sonya, satu per satu pasien datang dengan keluhannya masing-masing. Hingga akhirnya pasien mulai bertumpuk kembali membuat Rizki kelimpungan meminta manusia-masia paruh baya untuk tenang menunggu antrian.
Kali ini, Liana yang bertugas membawakan makan siang untuk dua rekannya itu. Berbeda dengan Rizki, Liana memilih membeli makanan yang akan di diberikan untuk mereka.
"Lebih enak masakan gue sih, tapi dari pada perut gue kelaparan, ya terpaksa gue habisin," celetuk Rizki dengan mulut yang penuh.
Antonie hampir tersedak mendengar racauan Rizki. Melihat apa yang terjadi, tidak sesuai kenyataan. Liana mendengkus dan merebut nasi yang ada di hadapan Rizki.
"Kalau lu nggak mau, buat gue aja! Gue masih laper."
__ADS_1
Rizki mengerutkan kening dan mengambil makanannya lagi. "Ih, ini jatah buat gue. Lu tadi belinya kurang banyak."
Liana mencabik dan melanjutkan makan. Di sampingnya, Leon juga sedang makan masih mengenakan seragam sekolah.
"Gimana tadi pelajarannya, Cah?" tanya Rizki iseng.
Namun, Leon ridak mengubris Rizki, terus melanjutkan menikmati makanannya.
"Hey, bocah! Gue bicara sama elu, jawab dong? Nanti gue nggak mau jemput lu lagi kalau songong kayak gini."
Leon melirik Rizki sembari menggigit ayam gorengnya. "Panggil yang bener dulu, baru Leon jawab."
"Pfffttt, Antonie hampir menyemburkan makanan yang ada di mulutnya mengenai wajah Liana."
Beberapa butir nasi yang nyembur di wajahnya, diseka dengan wajah penuh keheranan. "Kenapa dengan dia?" tanya Liana kepada Rizki.
Rizki mengedikkan bahu. "Emangnya dia kenapa?"
"Rada aneh aja gue liatnya. Rasanya gue gak pernah melihat dia tersenyum atau pun tertawa."
"Ooh, dia lagi happy tuh. Hari ini banyak banget yang datang," jelas Rizki menggulung bungkusan makanan yang telah kosong.
"Pasien?" Liana memastikan.
"Pasien ada, bukan pasien juga ada. Yang pasti di antara mere—" Rizki menghentikan ucapan karena Antonie menatapnya kembali dengan datar.
"Eh, Bang. Wajahnya bisa dikondisikan nggak sih?" Rizki melempar bungkusan kosong yang sudah digulung menjadi bentuk bola.
Antonie mempercepat memasukkan makanan-makanan itu ke dalam mulutnya. Di dalam kepalanya juga sedang berpikir tentang seseorang yang pertama hadir.
Ada kelegaan di dalam hatinya saat merasakan, dicari oleh sang ayah. Meskipun hanya sebentar, setidaknya suatu saat nanti ia bisa bertemu kembali dengan keluarganya.
*
*
*
Pada akhir minggu, Antonie mengajak Liana, Rizki, dan Leon singgah kembali pada panti asuhan yang telah membesarkannya itu. Kali ini, Antonie mengantarkan uang dengan jumlah yang sangat besar membuat Liana terperangah.
'Hey, Sistem bodoh ... Apa kamu tidak mengetahui keuangan yang dimilikinya akhir-akhir ini?' tanya Liana di dalam hati.
[ Dia menyimpan emas yang ia miliki di tempat yang tak bisa diketahui. ]
'Emangnya di mana sampai tak terdeteksi olehmu'
[ Sudah lah! Dia itu bukan lawanmu! Jangan jadi manusia serakah yang menggunting di dalam lipatan. ]
'Paling tidak aku kan mengambil satu aja sebagai tanda jadi misi? Aku tak perlu keluar lagi.'
__ADS_1
Antonie melirik Liana, dia mendengar perkataan di dalam hati Liana meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh System pemandu milik gadis itu.
"Eheeemm ... Bunda bisa merenovasi Panti Asusan ini menjadi baru kembali. Bunda juga bisa menambahnya ke atas membuatnya menjadi beberapa lantai. Nanti tinggal mengatakannya kepadaku. Aku akan menyediakan semuanya untuk Bunda."
Bunda Wulan yang terlihat sangat muda itu tertawa menutup mulutnya. "Waah, sekarang kamu sudah menjadi pria kaya raya ya? Berarti kamu sudah sangat mapan. Apakah kamu sudah memiliki calon?"
Bunda Wulan melirik pada Liana. Liana menyugar rambutnya dengan senyum tipis di bibirnya. Entah kenapa pertanyaan Bunda Wulan itu bukan membuat perasaannya menjadi tenang, akan tetapi membuat dia menjadi kesal.
Karena wanita yang kembali muda itu, benar-benar mengikuti style anak muda zaman sekarang.
...Tampilan Bunda Wulan ...
...Liana...
Tampilan Bunda Wulan benar-benar membuat Liana iri. Apa lagi menurutnya, Bunda Wulan seakan tebar pesona pada Antonie.
Ponsel Bunda Wulan berdering, dan ia langsung mengangkatnya dengan semangat.
"Wah, Pak Zahn mau ke sini?"
" ... "
"Oh, udah di depan? Ayo masuk saja. Ada kejutan yang menanti Anda di sini."
Bunda Wulan pun tak segan menampilkan keceriaannya di hadapan mereka. "Kalian datang pada waktu yang sangat tepat," ucapnya lagi.
Lalu, seseorang terlihat mematung berdiri di pintu masuk. Bunda Wulang segera menyambut pria paruh baya itu.
"Ini lah dia! Orang yang membuatku seperti ini. Dia baru saja menyumbangkan dana yang sangat besar untuk renovasi total panti asuhan ini."
...****************...
Yuhuuu... Nah ... Tiap bagian akhir cerita Author akan menampilkan cerita milik sahabat author juga ya. Masih bertema fantasi.
Napen: ingflora
Judul Karya: Siluman Putri Duyung
blurb:
Miriam adalah putri duyung berambut merah yang pekerjaan sehari-harinya membantu seorang dukun untuk menolong langganannya. Setelah menolong, mereka akan jadi budak siluman.
Sampai suatu hari, Miriam tak sengaja menolong manusia yang tenggelam karena percobaan pembunuhan. Alih-alih mengoda pria itu, Miriam jatuh cinta padanya hingga berniat jadi manusia. Hades putra duyung yang menyukainya, tak rela karena dengan itu Miriam harus menjual jiwanya pada Penyihir siluman ular laut yang licik dengan perjanjian 30 hari harus bisa membuat pria itu jatuh cinta atau jiwanya akan jadi milik Penyihir siluman ular laut itu. Sanggupkah Miriam memenuhi tantangan itu?
__ADS_1
Hades pun berjuang untuk menyelamatkannya.
Akankah Miriam mendapatkan cinta Max, si bule tampan dan kaya itu atau menerima cinta Hades yang mencintainya apa adanya?