
"Nah, bekal buat Bang Antonie sudah siap nih. Gue mau ke klinik dulu ya?"
Namun, Fanya hanya diam terlihat merenungkan sesuatu saat melihat Berta, orang yang tidak mau diajak bicara. Dia seakan de javu pada masa disik sa oleh wanita yang dipanggilnya Ibu.
Meski tidak mendapat jawaban, Rizki pun mengintip seseorang yang berada di dalam kamar. "Ma, aku pergi ke tempat Bang Antonie dulu." pamitnya.
Berta yang tadinya juga sedang menyandarkan diri pada dinding usai masak berdua dengan Rizki dan makan bersama, menurunkan kaki dari ranjang tersebut.
"Mama ikut." Langsung bersiap mengambil sesuatu yang dirasa perlu lalu keluar mendekati Rizki.
"Fanya, kamu mau ikut ke tempat Antonie?" tanya Berta yang melihat Fanya memeluk kakinya di pojok ruangan.
Fanya tidak menjawab, bangkit dan masuk ke kamarnya. "Rizki, aku di sini saja." teriaknya dari dalam.
"Oke." ucapnya ringan.
Berta mendengar Fanya tidak mau ikut berpikir ulang. "Kalau begitu Mama tidak jadi ikut. Mama menemani Fanya saja di sini." ucap Berta dan Rizki mengacungkan jempol lalu pergi.
Berta mengetuk pintu kamar Fanya, tetapi tak ada jawaban. Berta mencoba menarik gagang pintu kamar Fanya, dan terdengar suara pintu itu terbuka. Ternyata, Fanya tidak mengunci pintu tersebut.
Fanya menatap ke arah seseorang yang baru saja masuk. "Kenapa masuk sini? Kamar Tante itu ada di sebelah! Bukan di sini!" teriaknya.
"Tante ingin bicara denganmu. Tante penasaran akan sesuatu hal, kenapa kamu begitu membenci Tante?" tanyanya lagi.
Fanya melipat kedua tangan di dada membuang muka. "Bukan urusan Tante! PERGI SANA! Mengganggu aja!"
Lalu Fanya memilih keluar dari kamarnya, merasa jengah akan kehadiran seseorang. Berta menatap Fanya memegang dadanya. Lalu memilih masuk ke dalam kamar menahan debaran jantung yang semakin kuat setelah mendapat bentakan barusan.
Di sini dia tidak memiliki apa pun. Persediaan obat-obatannya pun dia tidak memilikinya. Dia mengalami gangguan kecemasan karena trauma masa muda. Namun, semenjak menikah dengan Bagas, kecemasan itu semakin berkurang dan jarang kumat. Bagas, mendiang suami selalu bersikap lembut kepadanya.
Namun, bentakan Fanya barusan berhasil membuat jantung berdegup tidak karuan. Berta memilih duduk mengistirahatkan dirinya meminum air yang ada di atas nakas.
Dia berusaha memahami ada sesuatu yang dialami gadis belia itu. Berta menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Hal itu dilakukannya beberapa kali.
Setelah merasa lega, Berta memilih membaringkan diri memikirkan tentang anaknya yang sedang melakukan misi kemanusiaan. "Semoga kamu sehat-sehat saja, Denish. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu adalah kebanggaan Mama." monolognya.
duuugh
__ADS_1
"Aaaaagghhh ...."
Berta dikagetkan oleh suara benturan keras dan teriakan seorang gadis. Dia segera bangkit tergopoh mencari sumber suara. Fanya baru saja berteriak, tetapi batang hidungnya tak terlihat di mana pun.
"Fanya, kamu di mana?"
Namun suasana hening. Berta teringat tadi Fanya berjalan ke arah kamar mandi. Berta kembali tergopoh mengecek kamar mandi, ternyata pintu kamar mandi tertutup. Berta mencoba mendorong dan tidak bisa dibuka. Pintu tersebut terkunci dari dalam.
"Fanya, kamu baik-baik saja?"
Namun, tak ada jawaban dan suasana hanya hening dan sepi. Berta mulai mendorong pintu kamar mandi yang vynil itu. Makin lama dorongan ibu paruh baya ini semakin kuat.
Lalu, Berta mundur beberapa meter dan kembali mencoba mendobrak pintu tersebut.
braaak
Akhirnya pintu itu terbuka. Dia mendapati Fanya sedang pingsan dalam kamar mandi. Sepertinya Fanya baru saja terpeleset dan kepalanya terbentur.
Berta menepuk-nepuk pipi Fanya, tetapi tidak ada respon. Lalu dia mencoba menempelkan telinga di dada Fanya, masih terdengar detakan jantung yang berdetak sangat cepat. Berta mengecek kembali bagian tubuh yang lain, beruntung tidak ada luka luar yang ber da rah.
Berta terlihat cukup panik, dia hanya sendirian di sana. Orang-orang di rumah singgah ini tak satu pun yang memiliki ponsel, jadi dia bingung harus menghubungi siapa.
"Fanya, bertahan lah! Tante akan membawamu ke klinik terdekat!"
Berta mengangkat tubuh Fanya dan bertanya kepada Pak RT di mana lokasi berobat yang paling dekat. Lokasi klinik Antonie terlalu jauh jika mereka harus ke sana. Fanya membuka mata setengah sadar. Dia menyadari seseorang sedang menggedongnya, lalu dia menutup mata kembali.
Pak RT menunjuk rumah bidan yang ada di sekitar sana. Kebetulan orang yang dibutuhkan ada di lokasi dan Fanya langsung dibaringkan di sana.
Beberapa waktu mendapat perawatan, Fanya mulai sadar dan dia langsung mencoba untuk bangkit, tetapi dia tidak bisa bangkit karena tubuhnya terasa sakit seluruhnya.
"Kamu tenang dulu, istirahat aja dulu!" ucap Berta.
"Tante? Tante yang mengantarku ke sini?" tanyanya tertatih sembari menahan sakit.
"Syukur lah kalau kamu baik-baik saja." ucap Berta mengusap tangan Fanya.
Seketika Fanya merasa bersalah teringat akan keakuannya kepada Berta. Namun, mulutnya masih membisu tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
__ADS_1
*
*
*
Sementara di tempat lain Rizki merasa sedikit heran melihat suasana klinik terasa begitu sepi. Lalu dia mengetuk pintu tersebut karena pintu klinik dalam keadaan terkunci.
"Apa dia udah pulang ya?" Rizki melihat rantang yang seakan sia-sia dibawakannya.
Rizki pun memutar tubuh dan terdengar kunci pintu klinik dibuka. Saat melihat orang asing berada di dalam klinik tersebut membuat Rizki langsung menyerang Antonie yang berada dalam tubuh dan wajah aslinya.
Rizki langsung menarik pakaian pria asing itu dan langsung memberikan ancaman dengan sebuah pukulan. "Heh, lu siapa? Lu mau mencuri di sini, hah?"
Rizki memasang wajah garangnya dengan gigi tertau dengan rapat. "Lu salah tempat kalau ingin mencuri! Cari tempat lain dulu sanah!" ucapnya geram.
Antoni mendorong Rizki dan membuat pria muda itu terdorong ke belakang beberapa langkah. Antonie membelakangi Rizki dan memasang kaca matanya. Setelah itu kembali memutar tubuh.
"Ini aku!" ucap Antonie menggeliat dengan setengah menguap.
"Ini lu, Bang? Tadi itu lu, Bang?" Rizki kembali mendekat dengan wajah tak percaya.
"Iya." ucap Antonie melihat rantang makanan yang dibawa Rizki.
"Kebetulan aku sangat lapar." Antonie langsung mengambil rantang tersebut dan membawanya ke dalam segera menyantapnya.
"Ayo makan!" tawar Antonie lagi.
"Gue tadi udah sama yang lain di rumah. Hmmm ... Kira-kira mereka berdua aman nggak ya di sana?" gumam Rizki mengingat kelakuan Fanya yang selalu dingin pada Mama Berta.
Antonie memejamkan mata, di dalam penglihatannya terlihat kepala Fanya sedang diperban. "Apa terjadi sesuatu pada Fanya saat aku tidak di rumah?"
Rizki mengerutkan keningnya. "Dia baik-baik saja kok. Tadi dia tiduran di kamar aja."
Antonie memejamkan matanya lagi melihat Fanya ditemani oleh Berta di suatu tempat. Rizki penasaran dengan kaca mata yang digunakan Antonie. Dia teringat apa yang diucapkan Fanya, begitu persis dengan yang dilihatnya tadi. Rizki menarik kaca mata tersebut.
...VISUAL SONY...
__ADS_1