Super God System: HEALER

Super God System: HEALER
BAB 30


__ADS_3

Antonie mulai memikirkan bagaimana cara agar dia bisa menjual emas tersebut dengan aman. Dia teringat pada sosok pencuri yang menggunakan System seperti dirinya.


"Bagaimana caranya System?"


"System menyarankan agar Tuan jangan membawa benda berharga dan uang tunai setiap keluar dari rumah. Namun, dia memiliki System bertaraf teknologi canggih. Bisa jadi dia bisa melacak keberadaan Anda dengan System yang dia punya." terang System kembali.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan?"


"Upgrade System!"


Antonie tercengang. "Bagaimana cara untuk meng-upgrade System? Aku baru tahu System juga harus di-upgrade."


"Anda harus bisa mengobati penyakit yang tidak bisa dideteksi medis, tetapi banyak yang mengidapnya."


Kepala Antonie bekerja dengan seketika memikirkan apa yang diucapkan oleh System. "Emangnya ada penyakit yang seperti itu?"


"Silakan Anda cari sendiri, dan jika Anda menyembukahkannya tanpa bantuan System, maka Anda berhasil meng-upgrade God System: Healer tahap pertama!"


"Hah? Itu baru pertama? Jadi harus berapa kali aku melakukan upgrade System?" Namun, tak ada sahutan lagi terdengar olehnya.


"System, kemana harus aku cari orang yang penyakit yang tidak bisa dideteksi oleh medis? Apa aku bisa mengobati yang demikian?"


System tidak menjawab membuat kepala Antonie terasa senut-senut, memikirkan teka-teki yang diberikan oleh System. Akhirnya Antonie menggaruk kepalanya merasa geram.


"Aaagghhh ...." erangnya di dalam kamar.


"Kenapa, Kak?" tanya Fanya mengintip membuka pintu kamar Antonie.


"Bikin gue kaget," ucap Rizki.


"Aaah ... Aku pusing gara-gara tadi malam bantu orang bersalin. Sepertinya aku butuh healing dulu." ucap Antonie keluar dari kamarnya.


"Ikuuuut." ucap Fanya sedikit memohon.


"Gue juga, siapa tahu dapat bahan makanan jenis baru." ucap Rizki.

__ADS_1


Antonie tak menolak, tetapi tidak menerima juga. Antonie pun membagi uang kepada kedua adik angkatnya ini. Kepada Rizki dia memberi uang sebesar enam ratus ribu Rupiah.


"Lima ratus untuk bahan belanjaan, dan seratus buat uang saku!" ucap Antonie.


Kening Rizki berkerut. "Gue cum dapat seratus doang?"


"Ya!" ucap Antonie singkat. Setelah itu menyerahkan seratus ribu kepada Fanya.


Fanya seketika memasang muka bebek. "Rizki dapat enam ratus, kenapa aku cuma segini?" sungutnya.


"Mau atau tidak?" tanya Antonie.


Melihat gaya Antonie yang terasa sedikit aneh, membuat Fanya tergidik dan sedikit tidak berani. Dengan segera dia mengambil uang yang terjulur untuknya, meski masih memasang muka manyun.


"Mulai hari ini, kita harus berhati-hati! Aku tak berharap kita bertemu dengannya, hanya saja aku tidak tahu nanti akan bagaimana jika dia kembali berhasil mencuri emas dariku."


Rizki menegakan kepalanya kepada Antonie. "Ada yang berhasil mencuri emas-mu, Bang? Bukannya memang tak bisa?"


Antonie tak bisa menceritakan dengan lebih lanjut karena dia merasa bahwa mereka tidak akan mengerti apa yang sedang terjadi, dan apa yang dia pikirkan.


Lalu mereka semua bergerak memilih naik busway seperti biasa karena mereka memang tidak memiliki kemdaraan pribadi. Ketika pintu bus akan tertutup, seorang perempuan berpakaian mini berlari masuk ke dalam bus tersebut.


Penampilannya itu sungguh membuat semua orang yang menggunakan jasa transportasi umum ini terperangah, apalagi kaum lelaki, tak terkecuali Rizki.



Wanita tersebut berjalan mendekat pada Antonie dan memilih duduk di samping pria berkaca mata itu. Melihat hal ini membuat Rizki sumringah, menggeser duduk ke sisi lain wanita seksi tadi.


"Haaai!" sapa Rizki.


Namun, gadis itu tidak menanggapi Rizki sama sekali. Netranya terus liar memandang Antonie yang sibuk memperhatikan pemandangan di luar. Meski dicueki seperti itu, Rizki tidak menyerah. Rizki mengulurkan tangannya.


"Nama gue Rizki." Mengulurkan tangannya. Akan tetapi, dia masih belum ditanggapi juga.


"Mbak?" Akhirnya Rizki memberanikan diri memanggil gadis muda nan seksi itu.

__ADS_1


Namun, saat dipanggil, gadis yang membuat dia tertarik itu menatap wajahnya dengan sangat sinis. Seketika Rizki berdiri dan bergelantungan pada gagang yang tersedia dengan wajah kesal.



Hal ini membuat Fanya terkekeh atas apa yang dialami oleh Rizki. "Emang enak?" sindir Fanya setengah berbisik.


Gadis itu kembali menatap mata Antonie yang tidak melirik dia sama sekali. Antonie bangkit memilih berdiri seperti Rizki. Di dalam kepalanya masih terngiang teka teki yang diucapkan System, untuk menyembuhkan sebuah penyakit yang tidak terdeteksi oleh dunia medis.


Namun, gadis itu hendak ikut berdiri di samping Antonie. Akan tetapi Fanya menarik gadis itu kembali. "Kita duduk aja, Kak. Biar kan kaum pria berdiri di sana."


Gadis itu mendorong tangan Fanya dengan kasar. Namun, dia masih belum bersuara kembali menilik Antonie dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas kembali.


Fanya merasakan gelagat yang mencurigakan. Sementara Antonie terlihat sedang memikirkan sesuatu, tidak menyadari bahwa kedua gadis ini sedang meributkan sesuatu di hadapannya.


ziiiiiiiiing


Sebuah suara ultrasonik yang hanya bisa didengar oleh Antonie, membuat kuping Antonie terasa sakit. "System memperingatkan agar Anda lebih berhati-hati, Tuan! Ada tanda-tanda bahaya yang datang dari arah jam enam!"


Antonie langsung melihat pada arah yang dimaksud oleh System. Antonie baru menyadari ada seorang gadis tak dikenal duduk di samping Fanya.


Antonie menilik gadis itu dengan segera. Dengan otomatis lensa kaca mata menyamakan gadis di samping Fanya dengan seseorang yang pernah menyerangnya. Gadis yang menggunakan hodie, sang pencuri emas beberapa waktu lalu.


Antonie menyunggingkan senyum miringnya duduk di bangku yang ditinggalkannya tadi. Dia menatap tajam pada gadis itu dan menarik tangannya yang sudah berhasil mengambil sesuatu dari pakaian Antonie secara ajaib.


ding


ding


[Nona, cepat lari! Dia tidak mudah untuk dimanipulasi!]


"Aaah ... Sial! Ternyata pesona gue tak mempang untuknya!" rutuk gadis itu mendorong Fanya.


Antonie segera menangkap Fanya agar tidak terjatuh. Gadis pengguna System itu berlari ke arah depan, dan melompat lewat jendela kecil di bagian kiri bis.


Namun, dengan senyum sinis, Antonie membiarkan gadis itu pergi.

__ADS_1


__ADS_2